Translate

Monday, September 14, 2020

Ketika hidupmu bahagia, itu bahaya..

Kalimat itu dilontarkan Pdt Tong dalam salah satu khotbahnya. Apa maksudnya? Apakah sebenarnya bukankah itu yang dicari manusia dari waktu ke waktu, bahagia.

Saya pun merasakan itu. Ketika pandemi datang masuk, kami merasa cukup 'aman' karena kondisi cash flow yang terjaga. Meskipun kekuatiran meliputi, kami berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mungkin kami merasa aman, meskipun tidak bahagia atau senang. Fokus kami kepada bagaimana kami bisa berhemat dan melewati masa pandemi yang mungkin panjang ini. 

Lalu ketika masalah besar menerpa di pertengahan Juni, kami mulai ragu. Ragu akan masa depan kami, ragu akan kelanjutan usaha kami. Karena kami merasa, uang berapapun tidak akan cukup. Kami kembali bertanya, mengapa ini terjadi ? Mengapa kami tidak bisa sedikitpun merasa tenang, bahagia, atau senang?

Ternyata, dalam hidup manusia, memang tidak pernah ada bahagia itu. Bahagia itu bukan pada kehidupan kita sebagai manusia, tapi ada hal lain yang Tuhan mau ajarkan kepada kami. 

Semenjak Juni itu, hampir tidak pernah saya bisa tidur dengan tenang. Makan dengan enak, hingga semua Tuhan bukakan jalan satu demi satu. Dia membantu saya melewati masa-masa ini, dan ternyata bukan hal pandemi Covid-19 yang membuat saya kuatir, tapi masalah lain ini. Hingga satu titik dimana saya berkata menyerah kepada Tuhan, dan membiarkan tangan kuasa Tuhan menyelesaikan semua permasalahan ini.

Hal ini menjadi lebih tenang lagi, karena saya 'berhasil' mengampuni orang-orang yang terlibat dalam masalah ini, dan membiarkan semuanya berjalan menurut kehendak Tuhan. Saya tahu, masalah ini belum selesai dan mungkin akan meledak suatu saat, kami semua sedang menunggu 'nasib' , atau istilah saya adalah kehendak yang Tuhan inginkan. 

Uang yang tadinya menjadi fokus kami, kami kembalikan kepada Tuhan, bila Dia menginginkan semua ini hilang, maka hilanglah. Kami hanya berharap kemurahan Tuhan, agar kami bisa melewati semua ini, dan tetap bisa makan minum dengan cukup. Hal yang sama saya tekankan ke tim yang ada. 

Mungkin banyak orang bilang saya gila dan tidak berpikiran seperti banyak orang, yang berusaha melarikan diri dari masalah. Saya malah menghadapinya dan bahkan berusaha sangat siap, apakah itu membuat saya bahagia, saya senang? Tidak, jelas tidak. Tapi yang saya bisa rasakan saat ini ketenangan di tengah kekuatiran. Sama seperti murid-murid Tuhan Yesus yang mendadak merasakan ketenangan danau setelah badai hebat berkecamuk. Itulah bahagia yang sejati.

Maka, bila dalam hidup kita, kita senang-tenang saja, tidak ada masalah, maka itu tandanya bahaya. Kita akan terjerumus dalam hal-hal yang fana, yang sebenarnya tidak akan kita bawa dalam kerajaan Sorga kelak, dimana sesungguhnya bahagia itu berada.

Saat ini kami hanya bisa menanti, dan berserah, serta menjalani semua. Tapi pandemi Covid-19, masalah besar ini, tidak membuat kami takut dan kuatir terus menerus. Kami menjalaninya bersama Tuhan yang hidup. Itulah hal yang pertama yang kami rasakan, jangan takut. 

Semua masalah ini, semakin mendekatkan kami kepada Tuhan , sang pemilik hidup. Dan kami dibentuk, dari satu masalah ke masalah lain, ini semakin menguatkan iman kami. 

Hal yang selalu saya ingatkan kepada tim adalah tetap bersyukur, tetap bersemangat dan tetap sehat. Bersyukur akan membuat jiwa kita berserah, tahu bahwa hidup kita bukan milik kita, ada yang lebih kuasa dari hidup kita, dari masalah kita. Bersyukur akan membuat kita bersemangat menjalani hidup, meskipun sulit. Dan semangat hidup + bersyukur akan membuat pikiran kita , jiwa kita sehat, maka otomatis tubuh fisik kita sehat. 

Tidak lupa, kita harus mau dan sanggup berdoa setiap saat, setiap hari. 

Maka, bersyukurlah bila hidup kita banyak masalah, dan tetaplah bersemangat mengisi hidup, berdoalah, dan rasakan kesehatan yang Tuhan berikan.