Translate

Showing posts with label LINKEDIN. Show all posts
Showing posts with label LINKEDIN. Show all posts

Sunday, June 13, 2021

Kembangkan Sayap Branding Anda

 Dalam dua tahun ini , saya banyak muncul di berbagai seminar dan webinar , karena saya punya target membangun personal branding. Menurut saya ini sudah sangat diperlukan oleh para entrepreneur Indonesia saat ini. Dan ini sangat penting untuk dibangun oleh anda, apapun bidang anda.

Slide Presentasi Fanky - Koleksi Pribadi

Kadang orang bingung harus memulai dari mana. Kalau saya kebetulan target marketnya adalah B2B, maka saya banyak menggunakan LinkedIn sebagai sosial media utama untuk komunikasinya. 

Dan ini yang saya terus lakukan hingga sekarang. Pertama, tentukan strategi dan tujuan dari personal branding kita. Ada yang ingin memperkuat nama perusahaannya, ada yang ingin memperkuat nama brand nya. Ada yang mau perkuat nama asosiasi, ada yang mau perkuat jabatan, apa saja. Itulah fokus anda membangun personal brand. 

Kedua, gunakan kata kunci. Dalam membangun brand, terutama melalui sosial media dan Internet, pasti ada kata kunci yang harus selalu dikaitkan dengan materi kita. Bisa saja itu gambar, artikel, posting tertentu tapi pastikan semua ada kata kunci, keywordnya.

Ketiga, tambah koneksi terus menerus. Kalau saya, sesuai dengan target B2B, maka LinkedIn yang digunakan untuk membangun jaringannya. Maka target minimal 10 koneksi per minggu, ada target follower kalau di sosial media lainnya. Pastikan dalam waktu singkat jumlah koneksi anda bertambah. Saat ini saya baru memiliki 24ribu koneksi, masih jauh dari target.

Keempat, sampaikan bahan viral anda di media yang mudah diakses. Kalau market B2B salah satunya adalah SlideShare. Slideshare dulu dimiliki LinkedIn juga, tapi per Agustus 2020 pindah ke Scribd. Keduanya punya target yang sama, memaksimalkan kekuatan (brand) dari konten. Atau dikenal juga dengan konten marketing.  Dan gabungannya merupakan digital library paling besar saat ini, ada 140 juta pengguna di kedua platform ini.

Kelima, bagikan artikel, informasi bermanfaat di sosial media kita, usahakan kita bisa menjadi acuan, narasumber dari informasi tertentu. Ini yang saya bangun dengan tema-tema seperti  ukm, smartcity, robotik, artificial intellegence, industry 4.0, society 5.0 , smart manufacturing. Ini juga yang menjadi kata kunci yang saya kembangkan terus.

Maka lihat kan, tidak sulit bukan mengembangkan sayap personal brand anda. Dan yang harus segera dilakukan adalah memulainya.


sumber: https://www.kompasiana.com/startmeup/60c58a67d541df476520b962/kembangkan-sayap-branding-anda

Tuesday, October 04, 2016

#StartSMeUP - divisi baru menyambut era transformasi digital



Semua perlu awal baru, semua perlu semangat baru, dan ini mungkin juga menjadi awal yang baru untuk kami. Bedanya kami menjadikannya menjadi sesuai yang jelas. Menjadi sesuatu yang berguna.

Untuk itulah divisi baru ini kami siapkan. Menyambut era digital, era transformasi digital. Kami merapatkan diri bersama dengan jutaan profesional yang membantu banyak perusahaan, banyak orang untuk pindah, menggunakan dan mendapatkan keuntungan dengan digital.

Anyway, tetap kami harus fokus. Dan fokus kami akan kami selaraskan dengan fokus perusahaan, fokus dan jati diri perusahaan dan pemilik perusahaan, tapi juga fokus ini harus selaras dengan fokus yang terjadi di luar sana. Fokus pemerintah dan negara yang sedang giatnya menggarap segmen usaha kecil menengah (UKM), atau kami singkat menjadi Small Medium Enterprise (SMe).  Kami ingin membantu mereka 'naik kelas', membantu mereka 'up'. Dan ini semua kami rangkai menjadi satu konsep #startSMeUP.

Konsep ini akan kami fokuskan kepada penggunaan layanan pelanggan, atau dikenal dengan customer relationship management (CRM), dan penggunaan sosial media, khususnya LinkedIn yang menjadi salah satu kekuatan B2B dan para profesional dunia.

Semua ini akan kami siapkan menjadi bentuk pelatihan, workshop, public seminar. Kami akan menyiapkan diri kami dan orang terbaik di perusahaan kami untuk fasih menggunakan CRM, LinkedIn dan membagikannya ke sebanyak mungkin yang bisa kami bagikan.

Selamat mulai mengikuti kami #StartSMeUP.

Wednesday, September 28, 2016

How to Optimize Your LinkedIn Profile - Tina Nugraheni

How to Optimize Your LinkedIn Profile

September 26, 2016

As a recruitment consultant, I was frequently asked how to optimize profile in LinkedIn, and then with help from our PR specialist, Cameron Bates, I decided to write something about it. This articles originally appeared in our company blog https://www.monroeconsulting.com/about-us/monroe-blog/six-things-executive-recruitment-consultants-look-for-in-a-linkedin-profile
Executive recruitment consultants have a number of tools at their disposal when it comes to identifying potential candidates for job openings with leading national or multinational companies. One of these tools is business-oriented social networking service LinkedIn, which can be a good way of identifying professionals, particularly mid-level executives, who may suit a job opening.
LinkedIn is not a silver bullet for job applicants – the recruitment process is a complicated one for the uninitiated – but it can be an important first step in searching or applying for a new job. Getting noticed on LinkedIn at the beginning of any recruitment process was important, which could be enhanced by following these five steps: 

1) Details matter. Complete your LinkedIn profile
You can’t beat qualifications and experience, particularly experience with a respected company and a proven history of success in your role. It is therefore imperative that this information is highlighted on any LinkedIn profile and that your profile is as complete as possible. There are no shortcuts here. As recruiters, we want more than just your current and previous job titles and basic information about the job function. A fantastic feature on LinkedIn is that it measures how complete your profile is, so aim for 100 percent completion. This is something that recruiters note and is a definite positive. And don’t forget to include filling in your contact information. Often the recruitment process progressives rapidly, so please add your mobile number. A day wasted replying to an email could be the difference between being considered for a job opening, or being added to a growing pile of discarded candidates.

2) Projects, achievements, certification
Don’t leave out the pertinent information (good stuff) on your LinkedIn profile. As touched on above, a proven history of success in a particular job is a major consideration for recruitment consultants. There is no better way for a job candidate to demonstrate their competency or passion for their work than by listing key projects they have been involved in, their responsibilities and their achievements. Don’t be modest, but also don’t overstate your accomplishments either. Professional recruitment consultants are good at what they do and will ask you to elaborate on this during an interview. Your referees will also often be asked to back up your claims.
3) Recommendations
Endorsements from previous managers or colleagues are one thing, written recommendations are another. If you have left a previous job under good terms, then there is absolutely no harm in asking your former superiors or business owners for a reference that highlights your capabilities and strengths, as well as your record with the company. It’s a great way to get a recruitment consultant to sit up and notice your LinkedIn profile, particularly if you are being recognised for your contribution in a positive way.

4) Network and connections
Having an amazing LinkedIn profile counts for not much if it’s not being read. Having a solid number of connections, particularly within your industry or job function, will help you get noticed much more quickly. Without overdoing things and risk turning LinkedIn into a popularity contest, a good network is a good gauge of your professional standing among your peers. This is particularly important for jobs that require a candidate to demonstrate that they possess a good network of professional business contacts. Sales and business development jobs are two obvious examples. Connect and stand out from the crowd.
In the same vein, be extremely careful with your posts and comments. LinkedIn is a social media site for business professionals and you will be judged on everything. This could be the difference between a successful new career opportunity or being bogged down in your current work environment. It really is a no-brainer. Stay away from negative posts or comments and focus on the positive. Remember that as your network expands, so too does the number of people reading your posts.
Another area to exercise discretion on LinkedIn is openly expressing interest or applying for jobs. Your current employer might not be overly impressed if he or she discovers that you are actively searching for a new career opportunity. This is one sure-fire way to burn a bridge that you may need again in the future. 
Are you making the most of LinkedIn’s groups? Our recruitment company, Monroe Indonesia, has a number of industry-orientated groups that are available for our many thousands of members to post highlights about the latest events and trends in their respective sectors. I moderate ‘Indonesian Technology Professionals’ for example. It’s a good place to stay informed and get noticed.

5) A LinkedIn profile picture paints a thousand words
If you didn’t know this already, simply Google “worst LinkedIn profile pictures” to bring yourself up to speed. Your profile picture is often the first thing people will notice and it is important to make a favourable first impression. This is no different to how you would present yourself in a first business meeting. Use images that match and enhance the information in your job description. It’s probably best to avoid pictures with you holding a glass of beer or wine in a crowded bar, particularly if you are applying for jobs in more conservative countries. There is, however, one thing worse than this – not having a profile picture at all.

6) Writing a LinkedIn profile
To many recruiters, poor writing, bad grammar and spelling mistakes on your LinkedIn profile are cardinal sins. And it’s a definite strike-out if you are being looked at for your writing, social media or marketing skills, as prominent examples. If English is a second language, make sure you get a competent English-speaking friend or native speaker to help you out. Also avoid using industry jargon wherever possible as well as cringe-inducing descriptions of yourself like “rock star.” In general, do not forget to complete a well put together summary that allows you to really showcase yourself and your skills. Whatever you do, don’t leave this blank.
So, are you now going through your LinkedIn profile again? see where is missing part?
Written by
Tina NugraheniTechnology Division Head at Monroe Consulting Group

Sunday, September 25, 2016

LinkedIn: Profesional Indonesia Terbuka Terhadap Tawaran Pekerjaan

LinkedIn: Profesional Indonesia Terbuka Terhadap Tawaran Pekerjaan

Ditulis pada 17 July 16
LINKEDIN, jaringan profesional online terbesar di dunia, hari ini merilis laporan tahunan ketiga yaitu Studi Talent Trends 2016. Studi ini menguak fakta bahwa hampir semua profesional di Indonesia, atau sebesar 93%, mengaku terbuka terhadap berbagai kesempatan yang menawarkan pekerjaan baru dan dan tertarik untuk menindaklanjutinya.
Di dunia ekonomi yang serba digital, keberadaan platform sosial memang telah mengubah cara orang dalam mengakses informasi, termasuk mengenai lowongan kerja. Studi Talent Trends 2016 oleh LinkedIn menganalisis lebih dalam tentang bagaimana pergerakan digital dapat mempengaruhi kandidat profesional di Indonesia menanggapi kesempatan-kesempatan kerja yang ada.
Menurut hasil studi, 45% dari kalangan profesional di Indonesia mengatakan bahwa  pemicu utama mereka meninggalkan pekerjaan yang digeluti saat ini adalah kurangnya peluang untuk meningkatkan karier. Masih dari survei yang sama, 37% dari mereka menginginkan pekerjaan yang lebih menantang. Kedua angka tersebut memperlihatkan meningkatnya ambisi para profesional di Indonesia untuk mendapatkan peran yang lebih menantang, demi pengembangan karier.
Selain kedua faktor di atas, faktor lainnya yang membuat mereka mereka keluar dari pekerjaan mereka adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan kompensasi yang layak bagi kontribusi yang diberikan. Hal ini tercermin dari data yang memperlihatkan bahwa 36% dari profesional di Indonesia mengungkap ketidakpuasan mereka terhadap kompensasi dan tunjangan yang mereka terima, dan juga penghargaan serta pengakuan atas prestasi kerja.
Hal menarik lainnya yang diungkap oleh studi ini terkait dengan informasi yang ingin mereka ketahui dari sebuah perusahaan. Hasil studi mengungkap bahwa 59% kalangan profesional Indonesia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut soal budaya dan nilai perusahaan tersebut. Informasi ini ternyata dinilai lebih menarik daripada informasi tentang tunjangan dan kesejahteraan (53%), serta lokasi kantor (51%). Hal ini menggambarkan bahwa kandidat memprioritaskan “software” / apa yang terjadi di dalam, alih-alih “hardware” / apa yang terlihat dari luar tempat kerja. Hal itu juga menandakan keinginan kalangan profesional Indonesia untuk fokus ke pengembangan jangka panjang, serta lingkungan kerja yang kondusif guna meningkatkan karier mereka.
“Studi Talent Trends dari LinkedIn merupakan indikasi dari kemapanan kalangan profesional Indonesia. Hasil studi mengungkap bahwa mereka menginginkan perkembangan karier dan tantangan kerja. Kalangan ini juga menginginkan perusahaan yang memiliki nilai budaya yang kuat. Hal ini konsisten dengan kondisi global dimana platform sosial mengubah cara akses menuju informasi serta kesempatan di luar batas,” ujar Feon Ang, Director of Talent Solutions untuk Asia-Pacific di LinkedIn.
“Untuk menarik kandidat profesional terbaik di Indonesia, perusahaan harus mengutamakan brand perusahaan yang kuat dan terhubung dengan aspirasi kandidat profesional yang dinamis ini. Di LinkedIn, kami mendorong karyawan untuk berbagi cerita mengenai budaya dan nilai yang dimaksud,” tutupnya. 
SUMBER: http://www.biskom.web.id/2016/07/17/linkedin-profesional-indonesia-terbuka-terhadap-tawaran-pekerjaan.bwi

LinkedIn Berdayakan Pengembangan Karier Melalui Personal Branding

LinkedIn Berdayakan Pengembangan Karier Melalui Personal Branding

Ditulis pada 05 August 16
DI berbagai negara, termasuk Indonesia, lanskap industri tenaga kerja akan mulai didominasi oleh generasi millennial. Berdasarkan data dari studi Talent Trends Study  tahun lalu, generasi millennial akan menguasai 50% dari industri tenaga kerja global di tahun 2020. Dan, generasi millennial membawa dinamika tersendiri kedalam lanskap industri dengan berbagai karakteristik dan keunikan yang mereka bawa.
Salah satunya adalah karakteristik dimana mereka lebih aktif dalam mengejar kesempatan kerja di banding dengan generasi lainnya. Berdasarkan data dari 2016 Talent Trends Study oleh LinkedIn, 32% millennial menerima kesempatan interview di dua hingga tiga perusahaan lainnya. Jumlah persentase ini melampaui persentase generasi sebelumnya: 14% untuk generasi x dan 10% untuk generasi baby boomer. Menariknya sepertiga dari mereka menemukan pekerjaan melalui media sosial. Kondisi ini dan ditambah dengan pasar persaingan terbuka menyebabkan persaingan untuk suatu kesempatan menjadi semakin menantang.
Persaingan ini juga terjadi di kalangan perekrut. Di LinkedIn Media Forum: The State of Millennials Pambudi Sunarsihanto, Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia (PMSM) Indonesia, mengatakan bahwa walaupun begitu banyak tersedianya kandidat, untuk bisa mendapatkan kandidat berkualitas terbaik mereka harus berlomba antar satu sama lain dan kanal digital sebagai cara yang mereka manfaatkan untuk “menjemput bola”.
Berkaca kepada karakteristik generasi millennial dan kebutuhan di industri, personal branding menjadi benang merah yang dapat menjembatani kedua hal tersebut. Personal branding menjadi sinyal yang dapat mempertemukan perekrut dan kesempatan karier dengan profesional yang sesuai dengan kebutuhan serta kekuatan masing-masing pihak, terlebih lagi jika personal branding ditampilkan di platfrom yang memang menjadi wadah para profesional di dunia.
Menurut data dari Your Story @Work yang dilakukan oleh LinkedIn baru baru ini mengungkap bahwa 78% pembuat keputusan dalam proses rekrutmen selalu melihat profil LinkedIn milik kandidat mereka dan 73% dari para pembuat keputusan tersebut percaya bahwa kesan yang dibangun oleh seorang profesional di duniaonline sama pentingnya dengan kesan di dunia nyata.
Melihat dari sisi mata perekrut, di sela-sela diskusi Pambudi mencontohkan bagaimana personal branding di mata perekrut. Pambudi mengatakan jika seseorang menunjukan bahwa ia bisa berbahasa inggris, maka ia bersaing dengan ratusan ribu orang yang memiliki kemampuan sama. Namun, jika seorang profesional juga dapat menampilkan karya-karyanya, menunjukan kemampuan, dan menceritakan pengalamannya maka jumlah profesional yang menjadi kompetitornya akan akan berkurang – karena orang yang memiliki kemampuan setara atau lebih semakin sedikit. Singkatnya personal branding memungkinkan seseorang untuk menampilkan keunikan, karakteristik, sehingga menambah nilai jual di mata perekrut dan membuka peluang profesional tersebut untuk terhubung dengan lebih banyak kesempatan yang ada. Senada dengan Pambudi, menurut saya ini adalah salah satu tujuan dari personal branding – membantu seseorang terhubung dengan berbagai kesempatan yang ada.
LinkedIn sebagai jaringan profesional terbesar di dunia, memberdayakan generasi millennial dalam pengembangan karier, memberikan kanal bagi mereka untuk dapat membangun personal branding secara online dan terhubung dengan berbagai kesempatan. LinkedIn membantu millennial untuk bisa belajar, membangun jaringan profesional, tergabung dalam sebuah komunitas profesional, dan menampilkan kemampuan, pengalaman, serta prestasinya kepada profesional di seluruh dunia.
Hal ini bukanlah konsep semata. Mohamad Ario Adimas, seorang millennial yang kini telah menjabat sebagai Division Head Integrated Marketing Communication Indosat Ooredoo, telah membuktikannya dengan menceritakan tentang kisahnya dalam memanfaatkan LinkedIn untuk pengembangan kariernya.
Senada dengan Dimas, hal yang sama juga dialami oleh millennial lainnya di seluruh dunia. Berdasarkan hasil 2016 Talent Trends Study dari LinkedIn, 64% dari generasi millennial mengatakan bahwa LinkedIn berdampak positif terhadap karier mereka. Persentase ini di atas generasi sebelumnya, karena hanya 56% dari generasibaby boomeryang mengatakan hal demikian dan 21% generasi millennial menemukan pekerjaan melalui LinkedIn (hanya 16% dari generasi baby boomer yang mengatakan demikian).
Merangkum semua hal diatas, millennial memiliki keuntungan di tengah ketatnya persaingan. Karena kanal digital sudah menjadi bagian sehari-hari dalam kehidupan mereka, sepatutnya hal tersebut juga dimanfaatkan untuk pengembangan karier. Membangun personal branding di jaringan profesional seperti LinkedIn, dapat membuka kesempatan yang lebih besar bagi generasi millennial untuk bisa ditemukan oleh perekrut dan dipertemukan dengan berbagai kesempatan yang ada ditengah ketatnya persaingan. Karena, melalui personal branding pelaku industri dapat mengetahui keunikan dan nilai yang dapat ditawarkan oleh seorang profesional.
Tips dari LinkedIn dalam membangun personal branding di LinkedIn:
  • Optimalkan profil LinkedIn Anda
  • Terbitkan karya Anda di LinkedIn
  • Buatlah akun LinkedIn SlideShare, dan bagikan pemikiran Anda
  • Jalinlah hubungan yang bermanfaat
  • Tingkatkan feed pada halaman utama akun LinkedIn Anda, dengan mengikuti orang-orang yang bisa bermanfaat bagi perkembangan karier Anda.
Strategi untuk pengembangan karier menurut Mohamad Ario Adimas:
  • Memilih satu fokus keilmuan tertentu dan mendalami
  • Meng-ekspos dan memperlihatkan Setiap pencapaian ketika berkerja
  • Hadir di seluruh social media dan berbagi wawasan dengan materi yang konsisten dan sesuai dengan passion
  • Bergabung ke dalam komunitas yang mencerminkan dirinya, dan berkontribusi penuh didalamnya
  • Membuka diri untuk berbagi ilmu di beberapa forum yang sesuai dengan keahliannya.
  • Menampilkan semua pencapaian, testimonial, dan kemampuan di Linkedin agar dapat terhubung dengan lebih banyak kesempatan. (FRANK KOO, Head of Southeast Asia, Talent Solutions, LinkedIn)
sumber: http://www.biskom.web.id/2016/08/05/linkedin-berdayakan-pengembangan-karier-melalui-personal-branding.bwi

Monday, August 05, 2013

9 Tips untuk Entrepreneur gunakan LinkedIn


9 Pro-Tips for Entrepreneurs on LinkedIn


LinkedIn is more than a handy way to sort through connections and make introductions — it's also a powerful platform to supercharge your content marketing efforts (even if you're not a LinkedIn Influencer just yet).
To find out exactly how other founders are using the network to get more eyeballs on their content, we asked a panel of successful entrepreneurs to share their best tips and tricks. Here's what they had to say:

1. Join Discussions in LinkedIn Groups

kelsey MeyerEvery time I write an article that is relevant to a specific audience, I start a conversation around the article in a LinkedIn group I'm associated with. I make sure to ask a question or pose a discussion topic with the article and not simply link to an article.

2. Engage Employees With Email

Sandy GibsonLinkedIn is a person-to-person network. The key to an effective LinkedIn strategy is engaging your employees to share your content. Want to know how to get your employees to share to LinkedIn? Email them. Most of the working day (and night), they stare at computer screens and smartphones looking at emails that come in. If you can make an email that is simple and has a strong call to action, professionals are likely to share it. Since launching employee engagement programs for companies like PwC and Sun Life Financial, we've seen employees average five to 25 clicks every time they share to LinkedIn, with many popular employees averaging 50 to 180 clicks. Ask your advertising team how much they pay for cost-per-click ads on LinkedIn, and you can count the value (hint: it's $2 per click).

3. Use LinkedIn Product and Service Pages

Brett FarmiloeLinkedIn company pages all have built-in product and services pages that will amplify your business content. Within the pages, you can list details about all of your specific offerings, highlight customer recommendations for the product and add images to make these products really stand out. LinkedIn has also built in the number of impressions these products and services pages receive, so you can see how many people are researching your company and what your most popular services are.

4. Promote Your Brand With Groups

Nicolas GremionDr. Seuss reminded us, "There is no one alive who is you-er than you." LinkedIn helps you promote the you-er in you! One way we self-promote is by joining groups. By joining them — up to 50 at a time — you can expand your reach while sharing your expertise. For example, there are 746 groups under our target keyword "writer." One group has more than 13,000 members with more than 230 discussions happening. Joining several of these conversations helps strengthen your brand and boost your expertise. It's a great way to network!

5. Simply Create a LinkedIn Page

Darrah BrusteinWhen I launched a networking event in my city, I started all of the obvious social networking groups. To my surprise, the one that has picked up the most traction in members (almost 3,000) and poignant posts from users was the LinkedIn group. This has helped draw more people to the page, the event company, and it has helped create content for our other social media platforms.

6. Capitalize With Status Updates

Jay WuLinkedIn is often thought of as that place you go when you’re looking for a job. Savvy business professionals are now using it as a place to establish themselves as experts within their fields by creating and sharing authoritative content. One way to do this is to capitalize on LinkedIn’s content sharing ability. Through status updates, users can upload their business content to be shared to their networks and further establish the brand voice they’ve worked hard to build on their LinkedIn company and professional pages. By using LinkedIn to amplify their business content through their sharing platform, they can get content in front of the business professionals who find it most relevant and useful. When it’s useful, they gain clout and authority in their industry.

7. Share Content and Measure Engagement

Brent BeshoreI share one to two pieces of content on LinkedIn, and the engagement rates vary wildly. Most will receive one to two interactions, while a recent post received over 20 interactions. I'd peg LinkedIn's ability to amplify content below Facebook, slightly higher than Twitter and dramatically higher than Google+.

8. Gain Deeper Connections With Others

Manpreet SinghA person spends 10 to 14 percent of his lifetime working. Seeing how you spend those many hours helps you connect on a more personal level. Because my company is all about personalized interactions, I'm a careful study of the experiences and interests implicit in that old curriculum vitae. And, when I express that depth of interest in others, they respond in kind towards my business. For example, I once found an early story written by a contact through LinkedIn. It revealed her dreams and fears about pursuing writing as a career. She is now an editor. Because I followed her career and was able to share appreciation for her early work, I was able to get published, and a press hit followed.

9. Update Your Status on LinkedIn Rather Than Facebook

Andrew SaladinoPeople often forget that LinkedIn is a social network that can be leveraged just as much as Facebook, Twitter and Google+. For my company, we receive higher quality visitors to our website from a status update on LinkedIn than from other social networks because of the various groups and connections we've established.
Image: Flickr, Mars_Discovery_District
Scott%2520gerber-572
SCOTT GERBER
Scott Gerber is the founder of Young Entrepreneur Council, an invite-only organization comprised of the world's most promising young entrepreneurs. In partnership with Citi, the YEC recenty launched ...more