Translate

Tuesday, May 12, 2026

Observability, Lebih Dari Monitoring

 Observability is a commonly used buzzword in the IT industry these days. Many companies use this term to sell their products and solutions to their customers. Though this idea could be a great selling point to many IT companies who are looking to modernize their infrastructure, it would be a challenge for these companies if they are unfamiliar with the true meaning of observability and how it will benefit their businesses moving forward.

So, what is observability? How did we get here from just the simple “monitoring”?

Observability is a distributed system’s capability to have its internal state be defined, derived, and understood based on an external source of data. This means that an observable system, such as a complex service provider network, is one that can have its status defined and understood by operators, senior management, and even customers at any given time based on the output data provided by external tools.

The more observable a network is, the quicker and more accurate one can arrive at the root cause of an existing issue.

With monitoring, the operators gather and rely on a set of data from multiple tools and provide reactive resolution. But with observability, the tools are just components that play a part in deriving the state of a system. The key here is the operators and how they can combine the output data and proactively provide the current state of a system.

No alt text provided for this image

For a complex, distributed system to be observable, these three pillars are key: logs, metrics, and traces. These three pillars are as important as the other and we cannot consider observability without one of all three.

3 Observability Pillars

1. LOGS

Logs are timestamped records of events that happened within the network.

Logs tell you discreetly what happened and when it happened. They provide detailed information about an event and are often presented in plaintext.

Logs are easy to generate, and most infrastructure components can provide logs that can be gathered and stored on a server or over the cloud. They are also straightforward in terms of the information it provides. The challenge for logs as a standalone set of data is that it does not provide you the high-level visibility of the network and that due to the amount of information that is contained in each log, indexing can be quite difficult.

2. METRICS

Metrics are the representations of various numerical data gathered from multiple components within the network.

With metrics, operational health, and performance data can be gathered from multiple sources and could be used as key performance indicators (KPI) of a network’s behavior. These data can be presented graphically to help in the mathematical and predictive analysis of the network’s behavior. Trends can be seen just from the metrics and alerts can be set whenever certain data exceeds or goes lower than a set threshold. Furthermore, dashboards can be customized for metrics in a way that one can view the overall stats within the network, and then dive deeper into a particular data.

Below is a sample dashboard from Accedian wherein several metrics are presented. With this, one can see the overall network health but can also navigate between other dashboards in each section to see more details of the network. For operators, this would help them in faster issue resolution.

No alt text provided for this image

3. TRACES

Traces can present the complete end-to-end path of a flow as it traverses throughout the network. With traces, an operator can pinpoint where an issue is happening.

In a complex, distributed system like that of a service provider, the ability to pinpoint where each traffic is coming from is critical to obtain valuable insight into a network. Having visibility of the entire paths of a flow is not just useful in debugging or troubleshooting, but it can also help prepare for capacity planning.

To read the full article, please check:

https://www.l2x.tech/observability-what-is-it-and-how-do-we-get-there/

Sunday, May 03, 2026

BPK PENABUR Bandung: *Kami Mendunia, Bukan Jago Kandang*

BPK PENABUR Bandung:
*Kami Mendunia, Bukan Jago Kandang*

Albertus. M. Patty

Ada satu penyakit lama pendidikan kita yang tampaknya sangat sulit disembuhkan: bangga pada kandang sendiri.

Sementara dunia di luar pagar sekolah bertransformasi seperti meteor, banyak institusi pendidikan lebih sibuk memoles kandangnya: mengecat pagar, memegahkan gedung, mengganti slogan, dan memotret seragam yang rapi, dan lebih memikirkan 'cuan' seolah itu ukuran keberhasilan institusi pendidikan masa depan.

Lalu datanglah sesuatu yang agak “mengganggu kenyamanan”: Young Change Maker Summit (YCMS) 2026 yang diselenggarakan oleh BPK PENABUR Bandung.

Mengganggu? Ya, karena acara ini diam-diam menampar paradigma lama pendidikan Indonesia.
YCMS bukan bazar ide.
Bukan festival poster ilmiah.
Bukan lomba presentasi PowerPoint dengan animasi terbang kiri-kanan.

YCMS ini arena gagasan yang berkeringat. Di sana, pelajar diminta memikirkan masalah nyata, ciptakan solusi nyata, membuat prototipe nyata, dan membangun dampak nyata. Dari event ini para pelajar dituntut melahirkan berbagai kreatifitas dan inovasi.

Ada inovasi tentang trotoar penyerap air, sistem kualitas udara pintar, hingga solusi mikroplastik berbasis biochar. Para pelajar ini tidak sedang belajar menjadi penghafal rumus. Mereka sedang dilatih dan difasilitasi menjadi arsitek masa depan. Ya, mereka difasilitasi menjadi kreator dan sutradara masa depan.

Di titik ini, saya teringat gagasan Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind. Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan manusia bukan tunggal. Dunia tidak hanya membutuhkan anak yang pandai menjawab soal pilihan ganda, tetapi juga mereka yang mampu:
— mencipta
— berimajinasi
— membaca kompleksitas
— berkolaborasi
— menyelesaikan masalah nyata
Singkatnya: _creative intelligence matters_. Dan event YCMS sedang memupuk itu.

Yang lebih menarik, kehadiran Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Prof Stella memberi sinyal penting: negara melihat bahwa model pendidikan seperti ini bukan kegiatan pinggiran, melainkan arah masa depan. Apresiasinya terhadap inovasi dan visi besar Terhadap BPK Penabur Bandung sebagai penyelenggara memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mendorong pelajar lebih kreatif dan inovatif. 

*Mentalitas Inovator*
Prof. Stellla benar. Pada masa kini, sekolah seharusnya tidak sekedar menghasilkan lulusan yang pandai menjawab ujian karena bangsa membutuhkan orang yang kreatif dan inovatif yang mampu menjawab krisis dan perubahan yang sangat cepat. Institusi pendidikan harus bertransformasi. Bukan lagi mendidik generasi 'pengekor' yang berorientasi pada masa lalu, tetapi harus mendidik generasi yang berani berpikir dengan mentalitas inovator demi membangun masa depan yang baik bagi bangsa dan jagat raya.

Melalui event YCMS, BPK Penabur Bandung telah memilih jalan yang tepat. Dan itu patut dipuji.
Tetapi pujian saja tidak cukup.
BPK Penabur Bandung, dan tentu saja BPK Penabur secara umum, tidak boleh puas menjadi institusi elite lokal. Tidak boleh berhenti menjadi “yang hebat di negeri sendiri”. Sudah waktunya berpikir lebih liar, lebih besar, lebih global.

BPK Penabur butuh kaum visioner yang berani membangun forum inovasi Asia dan bahkan dunia, membuat kolaborasi riset lintas negara, mengundang ilmuwan dunia, dan mengirim inovator muda Indonesia ke panggung internasional.

Jadilah seperti burung elang. Ia tidak diciptakan untuk berputar-putar di halaman rumah. Ia diciptakan untuk langit yang luas. Dan pendidikan besar tidak lahir dari mental jago kandang, melainkan dari orang-orang yang memiliki keberanian untuk berkata:

*“Dunia bukan terlalu besar bagi kami; visi kami yang harus diperbesar.”*

Terbanglah semakin tinggi BPK Penabur. Tuhan memberkati.

Bandung,
2 Mei 2026 

Uploaded Image

Thursday, April 30, 2026

MANUFACTURING ACADEMY - DIGITAL SERIES WORKSHOP - 13 Mei 2026

  Digital Series Workshop continue again.. 

Let's grow your skills in digital transformation by Business Process Automation (BPA) and The Future of Manufacture, the role of AI in Modern Finance Operation. 



One day workshop to upgrade your knowledge of BPA and RPA, in 1 day. Don't missed it. 


Day: Wednesday, 13 May 2026

Batiqa Hotel, Jababeka


Moderate by Fanky Christian, Sekjen APTIKNAS, founder 521 Talenta Communities. 


Speakers:

- Naresh Makhijan, Addy Wibowo - PT OTI Transformasi Lintas Internasional

- Benarivo Abdullah, Aziz Ghozi - PT Glee Trees Indonesia..


Registration by WA - Emma +6281311916373 or https://qrco.de/MF26-ManuAcademy4


event ini khusus end user.


See you there..


#aptiknas #521talenta #digitaltransformation

Thursday, April 23, 2026

Shaping the Talent, Bridging the Skills Gap: Preparing Tomorrow’s Tech Workforce with CompTIA - 23 April 2026


Keseruan webinar hari ini membahas cara CompTIA membantu membangun talenta digital Indonesia.


CompTIA tech jobs landscape

CompTIA dengan pengalamannya menjabarkn apa saja perubahan yang terjadi di lapangan pekerjaan teknologi.




Yang menarik, ini bukan hanya terjadi di global. Bahkan juga di Indonesia.

Apa saja yang berubah, inilah prediksi CompTIA.




Silahkan tonton ulang di : https://www.youtube.com/live/J7Blg-AXrM0?si=p1Xz7E6GLi2ih3Ht


Dapatkan kesempatan harga khusus APTIKNAS member, silahkan kontak DPP (dppaptiknas@gmail.com) / +62 823-1262-9962



Saturday, March 28, 2026

NAVIGASI DIGITAL MINGGU INI: STRATEGI KETAHANAN (RESILIENCE)

Kondisi ketegangan geopolitik (seperti konflik USA-Iran di 2026) berdampak langsung pada rantai pasok semikonduktor, biaya logistik laut, dan nilai tukar Rupiah. Bagi , efisiensi hardware saat ini bukan lagi sekadar "beli yang murah", melainkan strategi ketahanan (resilience).

Berikut adalah langkah taktis melakukan efisiensi hardware di tengah kondisi "ekonomi perang":

1. Perpanjang Siklus Hidup dengan Upgrade Strategis

Daripada melakukan pengadaan unit baru (CAPEX besar) yang harganya sedang melambung karena kurs dan kelangkaan chip, optimalkan aset yang ada:

* Maxing Out: Tambah RAM dan ganti HDD ke SSD Enterprise untuk server-server lama.

* Repurposing: Gunakan server lama yang masih layak untuk fungsi non-kritikal atau sebagai backup node.

* Manfaat: Menunda pembelian unit baru hingga 12-24 bulan ke depan sampai jalur logistik global lebih stabil.

Article content

2. Konsolidasi melalui Virtualisasi Tingkat Tinggi

Banyak perusahaan masih menjalankan server dengan utilitas di bawah 30%. Di tengah krisis, ini adalah pemborosan energi dan hardware.

* Strategi: Lakukan konsolidasi server fisik menggunakan hypervisor yang handal. Gabungkan beberapa beban kerja (workload) ke dalam satu mesin high-spec.

* Dampak: Mengurangi jumlah unit fisik yang perlu dirawat, menghemat ruang rak (rack space), dan menurunkan biaya listrik secara drastis (OPEX).

Article content

Kenali market nya :

  • VMware (Masih Dominan, tapi Tertekan): Masih memegang sekitar 45-50% pangsa pasar korporasi besar (Enterprise) dan Perbankan. Namun, perubahan model lisensi menjadi subscription-only membuat banyak klien mulai mencari alternatif.
  • Microsoft Hyper-V (25%): Menjadi pilihan utama bagi perusahaan yang sudah terikat ekosistem Azure dan Windows Server karena integrasi yang seamless dan biaya yang dianggap lebih masuk akal.
  • Open Source & KVM-based (Proxmox, Sangfor, Nutanix) (20-25%): Ini adalah segmen dengan pertumbuhan tercepat. Proxmox sangat populer di kalangan UMKM, Startup, dan ISP lokal. Nutanix (AHV) dan Sangfor mengambil porsi besar di sektor pemerintahan dan manufaktur yang menginginkan Hyper-Converged Infrastructure (HCI).

3. Implementasi DCIM (Data Center Infrastructure Management)

Gunakan solusi monitoring seperti DCM Monitoring untuk melihat kesehatan hardware secara presisi.

* Predictive Maintenance: Ganti komponen (seperti kipas atau power supply) sebelum rusak total. Di masa perang, mencari spare part mendadak jauh lebih mahal dan lama (inden) daripada stok terencana.

* Thermal Tuning: Atur suhu ruangan server agar tidak terlalu dingin (over-cooling). Setiap kenaikan 1°C yang aman pada suhu ruangan DC bisa menghemat biaya listrik secara signifikan.

Article content


4. Prioritaskan Perangkat dengan TKDN Tinggi

Dalam kondisi gangguan logistik global, produk global akan mengalami keterlambatan pengiriman (lead time bisa 6-12 bulan).

* Strategi: Alihkan pengadaan ke perangkat IT rakitan lokal atau merek yang memiliki persentase TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi.

* Keuntungan: Stok lebih tersedia di pasar domestik, dukungan purna jual lebih terjamin, dan membantu kedaulatan industri IT nasional sesuai semangat APTIKNAS.

5. Shift ke Model "As-a-Service" (Hapus Risiko Kepemilikan)

Jika pengadaan hardware fisik terlalu berisiko secara finansial karena kurs dolar:

* Strategi: Gunakan layanan IaaS (Infrastructure as a Service) dari penyedia lokal (Local Cloud).

* Alasan: Kita tidak perlu memikirkan depresiasi alat, kerusakan hardware, atau biaya impor. Biaya berubah menjadi bulanan (Rupiah tetap), dan risiko kerusakan fisik ditanggung penyedia layanan.

"Efisiensi hardware tahun 2026 bukan soal pelit belanja, tapi soal cerdas mengelola. Di tengah perang, Hardware adalah aset strategis yang langka. Siapa yang bisa menjaga aset lamanya tetap produktif dan beralih ke solusi lokal, dialah yang akan bertahan (survive)."

Mana yang anda pilih ?