Translate

Friday, January 30, 2026

Offline Workshop *BOOK WRITING WORKSHOP* Dengan Bantuan AI Semua Orang Bisa Menjadi Penulis Buku

Offline Workshop
*BOOK WRITING WORKSHOP*
Dengan Bantuan AI Semua Orang Bisa Menjadi Penulis Buku



Latihan lengkap dari ide mentah sampai ke hasil akhir:
bawa pulang final draft buku Anda sendiri.

*TANGGAL, WAKTU, TEMPAT*
Hari/Tanggal: *Sabtu, 7 Februari 2026*
Waktu: *09.00 – 16.00 WIB*
Tempat: *Sofyan Hotel Cut Meutia Cikini Menteng Jakarta*
Jl. Cut Mutia No.9, Cikini, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, 
DKI Jakarta 10330. 

Rp750.000,- per peserta
Sudah termasuk makalah pelatihan, 1x lunch dan 2x coffee break, 
sertifikat dari lembaga terakreditasi, dan pendampingan via group WA selama 7 hari.

*Anda diundang !!!*
Daftar di sini: https://s.id/bw0702 
Informasi lebih lanjut (WA): +62 811-186-363

Peserta dibatasi maksimum 30 orang, _early birds get the seats_.

------------------------------------------------
*SIAPA YANG WAJIB MENGIKUTI WORKSHOP INI*
Workshop ini dirancang untuk:
* Dosen, guru, trainer, coach
* Profesional dan praktisi industri
* Mahasiswa S1, S2, dan S3
* Penulis pemula dan content creator
* Siapa saja yang ingin meninggalkan legacy pemikiran melalui buku

------------------------------------------------
*KENAPA ANDA PERLU IKUT*
Menulis buku bukan lagi hanya untuk akademisi atau penulis profesional.
Di era Artificial Intelligence, siapa saja bisa menulis buku — asal tahu metodologi, struktur, dan cara memanfaatkan AI secara cerdas dan etis.

Buku adalah _personal intellectual legacy_.
Buku adalah _credibility builder_.
Buku adalah _amplifier of impact_.

Jika Anda punya ide, pengalaman, atau keahlian yang ingin diwariskan, 
inilah saatnya menuliskannya secara sistematis dan profesional.

------------------------------------------------
*NARASUMBER*
Workshop ini dibawakan oleh praktisi yang sudah berpengalaman menulis dan menerbitkan buku sejak era teknologi konvensional, digital, hingga AI-driven writing:
* *Earlando* – Information Designer, https://about.me/adysubagya 
* *Sandy Kusuma* – Work & Human Systems Architect, https://s.id/sandykusuma 
* *Hari Dewanto* – Visual Designer & Infographic Designer, https://www.wiradata.site/trainers/hari-dewanto 
Ketiganya menggabungkan pengalaman literasi, teknologi, desain, dan AI untuk membantu peserta menghasilkan draft buku yang siap dikembangkan ke tahap penerbitan.

------------------------------------------------
*APA YANG AKAN ANDA DAPATKAN*
Dalam workshop ini, Anda akan:
* Menemukan dan memformulasikan ide buku yang kuat
* Menyusun struktur dan outline buku profesional
* Belajar teknik menulis cepat dengan bantuan AI
* Memahami etika dan strategi AI-assisted writing
* Mendapat template dan workflow penulisan buku
* *Membawa pulang final draft awal buku Anda sendiri*

------------------------------------------------
*CATATAN PENTING*
* Kuota sangat terbatas (maks. 30 peserta)
* Peserta diprioritaskan berdasarkan urutan pendaftaran dan pembayaran
* Laptop sangat dianjurkan dibawa untuk praktik langsung
* Daftar sekarang dan mulai perjalanan Anda sebagai penulis buku.

------------------------------------------------
*PENYELENGGARA*
IAM (Indonesia Artificial Intelligence Movement) bekerjasama dengan:
CMC (Cybermedia Canter),
Aptiknas (Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional),
IAIS (Indonesia Artificial Intelligence Society), 
dan didukung oleh: Earlando forum, Cafe Therapy, dan fastTrack Digital Hub.
Organized by: Tujuh Legenda.




Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027
Founder DCM Group  www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Community Marketing Services www.521talenta.com
Join B2B Community  www.indobitubi.com


Wednesday, January 28, 2026

Acara Ngopi APTIKNAS: Unlocking New Revenue Streams & Scaling Your Business with AWS - 12 Feb 26

  🎯 Exclusive for APTIKNAS Members


Helios Informatika Nusantara bersama AWS dan APTIKNAS mengundang Bapak/Ibu dalam NGOPI (Ngobrol Pintar) untuk membahas strategi nyata dalam membuka peluang bisnis baru melalui ekosistem cloud dan partner.



☕ Brewing Success: Unlocking New Revenue Streams & Scaling Your Business with AWS


🗓 Thursday, 12 February 2026

⏰ 3.00 – 6.00 PM (Open Registration: 2.00 PM)

📍 First Crack Coffee

Jl. Bumi No.10, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan


👉 Secure your seat now – scan the QR code / click link to register.

https://s.id/REG-APTIKNAS-AWS-12FEB


Dapatkan insight menarik:

* AWS & partner ecosystem untuk dorong revenue

* Go-to-market & co-sell lintas industri

* Insight langsung dari AWS & Helios leaders

* Exclusive networking sesama decision makers


🎁 Join & get the chance to win doorprizes!

Sunday, January 25, 2026

Labor Market Report – Building a Future of Work That Works (Jan 2026)

Labor Market Report – Building a Future of Work That Works (Jan 2026):


1. Perlambatan hiring global bukan karena AI

Dokumen ini menegaskan bahwa melambatnya rekrutmen global lebih disebabkan faktor makroekonomi (suku bunga, ketidakpastian ekonomi), bukan karena AI menggantikan pekerjaan. AI justru menciptakan lebih banyak jenis pekerjaan baru dibanding yang digantikan, terutama di bidang teknologi dan infrastruktur digital .

Implikasi Indonesia:
Pasar kerja Indonesia tidak perlu takut "AI menghilangkan pekerjaan", tapi perlu fokus menyiapkan talenta baru.


2. AI menciptakan jenis pekerjaan baru (bukan job lama)
Sejak 2023–2025, AI menciptakan +1,3 juta pekerjaan baru global, seperti:

  • Data Annotator
  • AI Engineer
  • Forward-Deployed Engineer / AI Integrator
  • Data Center Technician & Engineer

AI infrastructure (terutama data center & cloud) menciptakan >600 ribu pekerjaan baru secara global .

Implikasi Indonesia:
Sangat relevan dengan:

  • Data center Indonesia (Batam, Jakarta, Jawa Barat)
  • Industri IT, cloud, cybersecurity, OT/industrial IT
  • Program vokasi & sertifikasi non-S1

3. Skill-based economy menggantikan degree-based economy
Dokumen menekankan:

  • Banyak pekerjaan baru tidak membutuhkan gelar S1
  • Fokus bergeser ke AI literacy + human skills (adaptability, problem solving, komunikasi)
  • Internal mobility & reskilling jauh lebih efektif daripada rekrutmen baru

Implikasi Indonesia:
Cocok dengan:

  • SMK, politeknik, bootcamp, komunitas IT
  • Sertifikasi berbasis skill (bukan ijazah)
  • Upskilling internal di BUMN, manufaktur, enterprise

4. Data center & AI infra = peluang besar untuk emerging market
Hiring tumbuh kuat di negara berkembang (India, UAE). AI engineering talent 8x lebih mobile lintas negara, artinya:

  • Negara yang siap skill & ekosistem akan menang
  • Indonesia punya peluang jadi talent supplier & AI infra hub, bukan hanya user


5. Entry-level job belum "dibunuh" AI
Dokumen secara eksplisit menyebut:

  • Entry-level hiring tidak terdampak AI secara signifikan
  • Penurunan hiring bersifat siklus ekonomi, bukan disrupsi AI

Implikasi Indonesia:
Narasi "AI bikin fresh graduate susah kerja" tidak sepenuhnya benar. Masalah utamanya adalah mismatch skill, bukan AI.


Kesimpulan untuk Market Indonesia

📌 AI bukan ancaman tenaga kerja Indonesia, tapi peluang besar
📌 Tantangan utama Indonesia adalah:

  • Kesiapan skill (AI literacy + practical skill)
  • Integrasi AI ke proses bisnis (AI integrator, bukan hanya developer)
  • Ekosistem data center, cloud, dan OT–IT convergence

📌 Negara/organisasi yang cepat reskill, bukan sekadar rekrut, akan unggul.


Akses dokumen: https://drive.google.com/file/d/1q5EMMjVTK5zPCghX0qJk6Bk1yKyrcilq/view?usp=drivesdk

Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027
Founder DCM Group  www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Community Marketing Services www.521talenta.com
Join B2B Community  www.indobitubi.com


Balckrock : AI as main driver in investation 2026


Dokumen ini menegaskan bahwa *tema AI tetap menjadi penggerak utama pasar pada 2026*, namun *peluang investasi bergeser dari fokus sempit mega-cap* menuju *pendekatan yang lebih luas: "in, around, and beyond AI"* untuk menciptakan risk-taking yang lebih resilien. Ditekankan bahwa terdapat disonansi antara sentimen investor yang semakin hati-hati dan arus dana global yang justru mencetak rekor, sehingga strategi portofolio perlu menyeimbangkan pertumbuhan, pendapatan, dan ketahanan (resilience). Pendapatan (income) diposisikan sebagai sumber return utama di tengah spread ketat dan volatilitas suku bunga, sementara diversifikasi harus melampaui diversifier tradisional karena korelasi saham–obligasi menjadi kurang andal. Kesimpulan utamanya adalah bahwa portofolio 2026 harus dirancang secara aktif dan selektif, mengombinasikan AI, aset alternatif, pasar privat, serta manajemen risiko yang adaptif, agar mampu bertahan dan tetap menangkap peluang di lingkungan pasar yang kompleks dan terfragmentasi.


Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027
Founder DCM Group  www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Community Marketing Services www.521talenta.com
Join B2B Community  www.indobitubi.com


Friday, January 23, 2026

Enterprise AI in 2030

Dokumen ini menegaskan bahwa *pada 2030 AI tidak lagi sekadar mendukung bisnis, tetapi menjadi inti dari model bisnis itu sendiri (AI-first enterprise)*, di mana keunggulan kompetitif tidak berasal dari penggunaan AI generik, melainkan dari teknologi yang dirancang khusus sesuai logika, data, dan nilai unik setiap organisasi. Ditekankan bahwa produktivitas berbasis AI akan membiayai transformasi industri berikutnya melalui "AI-first flywheel" yang menghubungkan efisiensi, investasi, dan pertumbuhan pendapatan baru. Laporan ini juga menyatakan bahwa portofolio multi-model AI, orkestrasi *agentic AI*, dan *digital twins* akan menjadi arsitektur utama perusahaan masa depan, sementara *quantum computing* diposisikan sebagai pergeseran seismik berikutnya yang akan membuka kelas masalah baru yang tidak terjangkau komputasi klasik. Secara keseluruhan, dokumen ini menegaskan bahwa perusahaan pemenang 2030 adalah organisasi yang membangun inovasi berkelanjutan ke dalam DNA operasionalnya, menggabungkan manusia dan mesin secara strategis, serta menjadikan AI sebagai aset yang tidak terpisahkan dari strategi dan penciptaan nilai jangka panjang.


Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027
Founder DCM Group  www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Community Marketing Services www.521talenta.com
Join B2B Community  www.indobitubi.com


Thursday, January 22, 2026

APTIKNASTALK: PROFIT FROM EXHIBITION, STILL VALID IN 2026 ?

  APTIKNASTALK: PROFIT FROM EXHIBITION, STILL VALID IN 2026 ?

Anda sering ikut berbagai exhibition (EXPO), namun merasakan kurang maksimal

Tidak mendapatkan manfaat dari ikut jadi peserta EXPO, sering jadi kendala, padahal EXPO adalah cara terbaik untuk memperkenalkan usaha dan produk Anda. Itu sebabnya anda harus ikut dalam TALK ini yang mengupas kendala, tantangan dan solusi untuk bisa mempersiapkan next EXPO di tahun ini.

Kita bahas bersama pengurus APTIKNAS dan Mike Gunawan (LiveLife) dari pengalamannya membimbing perusahaan yang ikut EXPO.



Kegiatan online di Jumat, 30 Jan 2026, Jam 16-17 WIB.

Daftar di : https://s.id/APT30Jan26


Kami tunggu kehadirannya

Thursday, January 01, 2026

OUTLOOK EKONOMI POLITIK INDONESIA 2026

*BRIEF UPDATE*
_BDS Alliance_
*Rabu, 31 Desember 2025*

*OUTLOOK EKONOMI POLITIK INDONESIA 2026*

Tahun 2025 memberi satu sinyal keras dalam lanskap ekonomi Indonesia: mesin penerimaan negara sedang tersendat. Pajak, khususnya yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi seperti PPN dan PPh Badan, melemah. Di saat yang sama, pemerintah merancang 2026 sebagai belanja besar dengan defisit terjaga. Pendapatan ditargetkan Rp 3.147,7 triliun, belanja Rp 3.786,5 triliun, defisit Rp 638,8 triliun atau 2,48% PDB, dengan target pertumbuhan 5,4% dan inflasi 2,5%.

Di sinilah soalnya: RAPBN 2026 mengandaikan ekonomi dan penerimaan membaik, sementara data 2025 justru menunjukkan pelemahan di pos-pos pajak kunci. Konsekuensinya, 2026 sangat mungkin menjadi tahun penuh tarik-menarik: antara ambisi belanja dan program prioritas, dengan ruang fiskal yang ketat dan efisiensi belanja pemerintah serta ekstensifikasi pajak yang seluruh dampaknya makin dirasakan publik, khususnya yang paling rentan.

*Konteks Makro 2026: Janji yang Harus Diuji*
Secara politik, angka-angka makro RAPBN 2026 terlihat rapi dan menenangkan: pertumbuhan 5,4%, inflasi terkendali, defisit di bawah 3%. Narasinya jelas: negara ingin tampil ekspansif sekaligus disiplin. Namun secara ekonomi-politik, publik seharusnya membaca angka-angka ini sebagai target, bukan kepastian.

RAPBN berdiri di atas dua prasyarat utama: (i) aktivitas ekonomi — terutama konsumsi dan transaksi — benar-benar pulih dan (ii) penerimaan pajak memenuhi target, bukan hanya lewat pertumbuhan ekonomi, tetapi lewat kepatuhan dan administrasi. Masalahnya, data 2025 memberi lampu kuning pada prasyarat kedua.

*Data 2025: Peringatan yang Tidak Bisa Diabaikan*
Hingga November 2025, realisasi penerimaan pajak Rp 1.634,43 triliun (78,7% dari target Rp 2.076,9 triliun). Lebih mengkhawatirkan lagi, secara tahunan penerimaan pajak netto mengalami kontraksi: 
– PPh Badan turun 9%: indikasi laba sektor usaha melemah atau setidaknya tidak setangguh asumsi awal. 
– PPh Orang Pribadi dan PPh 21 turun 7,8%: sinyal pasar kerja formal dan pendapatan upahan belum benar-benar kuat. 
– PPN dan PPnBM turun 6,6%: karena PPN adalah barometer transaksi, ini menunjukkan konsumsi dan aktivitas ekonomi sehari-hari belum sepenuhnya pulih.

Memang ada pos pajak yang tumbuh — PPh Final, PPh 22, PPh 26 — tetapi secara ekonomi-politik, ini tidak cukup menutup lubang dua mesin utama penerimaan: PPN dan PPh Badan. Implikasinya jelas: target pajak 2026 bisa dipasang tinggi, tetapi realisasinya hampir pasti bergantung pada dua hal yang tak popular: pengawasan lebih ketat dan perluasan basis pajak. Artinya, 2026 berpotensi menjadi tahun di mana intervensi negara dalam urusan kepatuhan pajak makin terasa oleh warga dan dunia usaha.

*Arah Fiskal 2026: Belanja Besar, Ruang Gerak Terbatas*
Secara resmi, postur RAPBN 2026 terlihat kokoh. Namun defisit 2,48% PDB yang "terjaga" tidak otomatis berarti fiskal lapang. Kualitas ruang fiskal ditentukan oleh seberapa ketat belanja rutin, seberapa efektif belanja prioritas, dan — yang paling menentukan — apakah pendapatan benar-benar masuk sesuai target.

Jika penerimaan pajak seret, menjaga defisit biasanya ditempuh lewat kombinasi umum: penundaan atau pemotongan belanja/efisiensi (yang sering terasa di layanan dan proyek), pembiayaan yang lebih agresif, atau optimasi kas dan akuntansi antar-pos yang tidak selalu terasa sebagai perbaikan nyata bagi publik.

Pemerintah juga menekankan belanja yang lebih tepat sasaran melalui perbaikan data dan _targeting_. Secara prinsip, ini benar. Namun di lapangan, _targeting_ bukan sekadar soal desain, melainkan kerja politik-administratif: sinkronisasi data, koordinasi pusat-daerah, pengawasan kebocoran, dan respons cepat atas keluhan warga. Seluruh kapasitas pemerintah dan bukan hanya niat kebijakannya akan diuji di 2026.

*Apa yang Mungkin Dirasakan Publik*
Publik tidak akan membaca tabel APBN, tapi mengalami hidup sehari-hari. Negara sudah hampir pasti akan lebih aktif: mengejar kepatuhan pajak, pemeriksaan berbasis risiko diperluas, dan menertibkan administrasi. Ini bisa berarti layanan perpajakan lebih modern/baik, atau jika ternyata bermasalah, friksi kepatuhan meningkat. Apalagi jika layanan publik memburuk (khususnya perlindungan sosial), yang bisa memicu ketegangan sosial. Persepsi keadilan pajak jadi penentu.

Di sisi harga dan daya beli, pelemahan PPN di 2025 adalah sinyal yang patut diawasi. Jika tekanan harga pangan dan energi muncul, pemerintah menghadapi dilema klasik: menahan harga lewat subsidi yang mahal bagi fiskal, atau membiarkan penyesuaian pasar yang mahal bagi legitimasi sosial. Publik tidak menilai APBN dari angka defisit, tetapi dari harga kebutuhan pokok dan ketersediaan kerja (artinya, apakah roda usaha berputar).

Soal lapangan kerja, target makro boleh optimis. Tapi penurunan PPh Badan dan pajak tenaga kerja menunjukkan pemulihan ekonomi belum merata. Ada sektor yang pulih cepat, ada yang belum, dan kesenjangan itu sangat nyata bagi warga.

*Risiko dan Skenario 2026*
Skenario paling mungkin: "stabil tapi ketat". 
- Ekonomi tumbuh moderat, tapi penerimaan pajak di bawah target;
- Pemerintah menjaga defisit dengan pengetatan belanja (efisiensi anggaran);
- Dorongan kepatuhan pajak yang lebih agresif; dan 
- Fokus pada program-program yang paling politis. 
Publik merasakan 2026 sebagai tahun "jalan terus, tapi berat".

Skenario lebih berisiko: "program besar, tekanan sosial besar" 
- Belanja dipaksa tetap tinggi saat pajak seret;
- Proyek-proyek tertunda; 
- Muncul/menguat friksi pusat-daerah karena TKD turun; dan 
- Tekanan biaya hidup bagi masyarakat. 
Narasi "APBN sehat" akan kalah oleh pengalaman nyata hidup warga.

Skenario optimistis: "pemulihan ekonomi"
- Ekonomi dan transaksi bisnis pulih; dan
- Laba usaha meningkat. 
Data 2025 menunjukkan ini tidak mungkin terjadi.

*Membaca 2026 dengan Kepala Dingin*
Pesan utamanya sederhana: RAPBN 2026 memberi sinyal optimisme, tetapi data 2025 menunjukkan fondasi penerimaan yang rentan. Maka 2026 sangat mungkin menjadi tahun di mana negara mendorong kepatuhan pajak lebih keras, memilih prioritas belanja lebih tajam (ada yang diutamakan, ada yang ditunda) dan mempertaruhkan legitimasi pada hal-hal paling dekat dengan warga: harga kebutuhan pokok, bantuan yang tepat sasaran, dan kesempatan kerja.

Ini bukan alasan untuk pesimis, tetapi justru agar kita waspada. Karena pada akhirnya, ekonomi politik bukan soal angka di kertas anggaran, tapi soal siapa menanggung beban penyesuaian dan siapa menikmati hasilnya. (*)