Translate

Monday, June 29, 2009

Cisco Certified Architect introduced

Cisco Raises the Bar with Highest-Level IT Networking Certification: Cisco
Certified Architect New Certification Resides Above CCIE to Validate
Competency and Experience in Support of Growing Innovation in Network
Infrastructure Architecture

SAN JOSE, Calif., June 29, 2009 – Responding to strong customer and market
demand to recognize the architectural expertise of network designers, Cisco
today introduced the Cisco Certified Architect, the highest level of
accreditation achievable within Cisco® Career Certifications.
Key Facts/Highlights:

- Advanced technologies such as Cisco Unified Communications, Cisco
TelePresenceTM and mobility are converging and increasing the
opportunities for innovation and collaboration while adding to the
complexity of enterprise networks.
- According to IDC, "With many existing certifications focused on point
technologies, architect-level certifications bring together project
management, business needs analysis, and IT elements into a true solutions
framework and validate a candidate's ability to address planning, design,
interoperability, and connectivity issues." *
- Gartner reported in its 2008 IT market compensation study (U.S. based),
that "IT organizations continue to have difficulty in finding skilled IT
professionals, especially enterprise architects, network architects, project
managers and Web application programmers." **

Cisco Certified Architect:

- The Cisco Certified Architect certification recognizes the
architectural experience and competency of network designers who can support
the increasingly complex networks of global organizations and effectively
translate business strategies into evolutionary technical strategies.
- Cisco channel partners play a critical role in enabling customers to
deploy advanced new technologies supported by professionals with the skills
required to use these innovative solutions.
- The certification stands above the expert-level CCIE® certification in
terms of difficulty, with an emphasis on expertise in network infrastructure
architecture and a proven ability to work with executive-level customers to
ensure that business requirements are incorporated into successful designs.

Certification Process:

- The Cisco Certified Architect certification will be administered as a
board exam.
- Candidates will propose and defend an architecture solution to a set of
business requirements, and the candidates will be asked to modify their
proposals "on the fly," based on additional requirements presented by the
board.
- Prerequisites include a CCDETM certification, approximately 10 years of
industry experience, and acceptance into the program via an application
process.

Friday, June 12, 2009

Homo Homimi Lupus vs Angelus

Homo Homimi Lupus aertinya,manusia memangsa manusia.

Beberapa tahun yang lalu kita dihebohkan berita si Sumanto memakan
bangkai manusia.Katanya semakin tua usia yang meninggal rasanya
semakin gurih.Didaerah Tapanuli sewaktu penjajahan Belanda diberitakan
bahwa orang Batak memakan manusia kulit putih.Kabar ini tersebar luas
ke masyarakat bahwa  suku batak disebut kanibal.

Dalam dunia kerja,politik,perilaku ini juga banyak berlaku dimana demi
mencapai ambisi,maka manusia seringkali  berusaha menghancurkan
sesamanya dengan memfitnah,merusak nama baik.Biarlah orang lain
korban,asal karierku meningkat,demikian si empunya ambisi berujar.

Kalau dipikir manusia itu sama dengan serigala,sangat mengerikan bila
manusia memiliki sifat demikian.Apa jadinya kehidupan ini bila kita
semua berperilaku seperti serigala? Ityu berarti kita hidup di suatu
tempat dengan jutaan serigala.Serigala yang mengemudi mobil,serigala
yang duduk dikantor,serigala yang berdasi dan jalan-jalan di Mall.Jadi
dimana-mana kita temukan serigala.

Tetapi ada ada kebalikan dari sifat tersebut diatas yaitu Homo Homini
Angelus,artinya,manusia menjadi malaikat terhadap sesamanya.Dalam hal
ini kita berupaya ingin menjadi malaikat terhadap sesama.Kita selalu
mau sempurna.Untuk kelihata sempurna,kita memakai topeng muka
malaikat.ampak saleh dan suci,taat dan rajin ke gereja.Orang lain
kelihatan duniawi,kita kelihatan berwajah sorgawi.Dalam bertutur kata
nama Allah selalu dibawa-bawa.Padahal sifatnya sama dengan
serigala,memangsa sesama dengan cara yang lebih halus.Segala cara
ditempuh agar lita seperti malaikat atau setengah Allah.

Manakah yang akan kita pilih? Menjadi serigala atau menjadi malaikat?
tentu jangan menadi serigala.kalau begitu apakah kita memilih menjadi
malaikat? Itu juga jangan.mana mungkin kita menjadi malaikat? Untuk
apa pura-pura jadi malaikat?

Sebaiknya menurut saya kita harus menjadi Homo Homini Homo artinya
menjadi manusia terhadap sesama
manusia.berperikemanusiaan,berperasaan,berbudi,bermurah hati,seperti
orang samaria yang baik hati menolong orang yang luka-luka akibat
dirampok penyamun.

Jadi sebetulnya kita tidak perlu berusaha menjadi malaikat atau
setengah Allah.Cukuplah kita menjadi sesama terhadap manusia.Homo Homi
Homo bukan Homo Homini Lupus.

Selamat melayani dan Tuhan memberkati.

Salam dari saya

Walsinur.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Transformasi Skill Seorang Network Engineer - Himawan Nugroho

Gue lagi iseng nulis sambil nunggu Jum'atan. Walaupun sudah sering ditulis
di blog masih banyak orang yg suka mengirim email ke gue untuk menanyakan
bagaimana cara untuk memulai karir di networking, clueless ttg proses karir
di networking spt apa, dan sebagainya. Di bawah ini gue tuliskan proses
transformasi skill seorang network engineer, yg tentunya versi gue :)
berdasarkan apa yg gue amati dan lakukan sendiri. Kalo mau dijadikan bahan
perdebatan, silahkan. Cuma kalo boleh saran sih, daripada berdebat,
mendingan lakukan saja garis karir spt yg mau dilakukan, dan suatu hari
nanti bisa menulis versi masing-masing dari hal seperti ini.

Dan gue hubungkan dgn program sertifikasi dari Cisco hanya untuk memberi
gambaran kesetaraan antara skill dgn sertifikasi.

Thanks God It's Friday.

Regards,
Himawan Nugroho
Triple CCIE #8171 (RS, Sec, SP)
Network Consulting Engineer, Cisco Advanced Services
Next Generation Network Solution practices team
World Wide Service Provider for Europe and Emerging Market

Transformasi Skill Seorang Network Engineer

Level I Configurator
Semua orang mulai dari sini. Sebutan lain adalah Conf T engineer, karena di
level ini engineer baru bisa melakukan konfigurasi router tanpa mengerti
terlalu dalam konsep di belakangnya. Di level ini juga sebenernya ada 2
golongan: golongan pertama yg ingin melakukan konfigurasi router tapi gak
ngerti harus ngapain dan paling sering ngirim pertanyaan satu kalimat ke
milis "bagaimana sih caranya mengkonfigurasi MPLS?". Golongan kedua adalah
mereka yg ketika ingin mengkonfigurasi paling tidak mencoba mencari di
website dan Internet terlebih dahulu command-command spt apa yg harus
dimasukkan.

Kalo mau dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin golongan kedua
di level ini setara dgn CCNA

Level II Troubleshooter
Ini level yg lebih maju karena selain tahu dimana mencari informasi tentang
bagaimana cara mengkonfigurasi router/network device, mereka juga tahu
konsep dan cara kerja dari produk atau sistem tsb. Karena sebelum bisa
menyelesaikan masalah di suatu sistem, kita harus tahu dulu bagaimana sistem
itu bekerja di saat normal, dan melakukan langkah-langkah troubleshooting
secara sistematis. Bagaimana dgn mereka yg kalo troubleshoot selalu tembak
langsung "pasti masalah network", "harus restart dulu", "pasti gara2 produk
vendor ini" tanpa investigasi dulu? Gue gak mengkategorikan mereka di level
ini, mungkin masih berada di level sebelumnya atau malahan termasuk golongan
pertama di level I.

Kalo dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin level ini setara
dgn CCNP dan sertifikasi yg setara

Level III Specialist
Sampai di level ini, si network engineer mulai merasakan ketertarikan pada
satu bidang saja dari scope network engineering. Jadi kalo untuk level I dan
II mungkin berangkatnya dari hal yg umum seperti Routing dan Switching, di
level ini sudah ada perasaan untuk mendalami satu bidang misal security,
voice, wireless dan sebagainya. Ini bukan level specialist murni karena
biasanya dikerjaan sehari-hari tetap harus melakukan routing/switching sbg
dasar tapi kemudian sudah fokus dan mampu mengerjakan teknologi lain yg
lebih spesifik.

Kalo disetarakan dgn sertifikasi Cisco, ini mungkin CCIE. Engineer yg
mengejar CCIE di track Routing & Switching pun bisa dikategorikan di sini,
karena toh mereka fokus untuk mendalami scope di track tersebut.

Level IV Designer
Anehnya, dari level specialist untuk naik ke level berikutnya si network
engineer harus belajar hal yg general lagi. Istilah yg umum adalah Sistem
Integrator, dimana dibutuhkan kemampuan untuk menggabungkan beberapa produk
dari teknologi bahkan vendor yg berbeda. Ketika sudah mencapai level ini,
cap yg diberikan adalah Network Designer, karena sekarang sudah mampu untuk
membangun satu solusi infrastruktur dari routing switching, security, voice,
wireless dan sebagainya, sampai ke hal-hal yg berada di luar domain network
spt Operating System, Database, physical Data Center dan lain-lain. Jadi
ketika sudah mencapai level specialis spt CCIE, kemudian malahan belajar hal
yg umum agar bisa membangun suatu solusi infrastruktur yg komplit.

Sertifikasinya sudah tidak ada lagi, tapi mungkin ini bisa disetarakan dgn
CCIE yg sudah mempunyai pengalaman.

Level V Architect
Architect merupakan level Sistem Integrator II karena mempunyai kemampuan
untuk membangun solusi komplit, juga mengerti hal yg detil di solusi tsb
seperti misalnya arsitektur hardware dan detail cara kerja suatu protokol.
Ini penting untuk mengetahui keterbatasan dari implementasi protokol atau
fitur network yg akan mempengaruhi solusi infrastuktur itu juga. Architect
juga mengetahui standar dari suatu protocol dan memahami implementasinya yg
berbeda-beda di tiap vendor produk network, sehingga menguasai konstep
interoperability antara produk-produk dan vendor yg berbeda. Ditambah lagi,
architect mengerti korelasi antara bisnis dari customer dgn solusi
infrastruktur sehingga solusi yg dibangun berdasarkan kebutuhan untuk
membantu model bisnis customer.

Mungkin ini seperti CCIE yg sudah sering membaca standard dari suatu
protokol dan juga arsitektur hardware, dan berpengalaman dgn project multi
aspek baik dari sisi teknis maupun dari sisi non teknis.

Level VI Expert
Sesudah berada di level Architect, membangun solusi infrastruktur komplit yg
bisa melibatkan multi-vendor, juga mengerti model bisnis yg dijalankan
sehingga solusi yg dibangun bisa membantu customer, maka si engineer akan
melakukan transformasi di level tertinggi dgn menjadi spesialis lagi.
Spesialis dalam artian dgn beragam skill dan pengalaman yg sudah dimiliki,
expert akan berfokus pada satu atau beberapa teknologi saja, untuk
berkontribusi dalam mengembangkan teknologi tersebut. Para expert
berkomunikasi satu sama lain untuk mengembangkan standard di bidang
networking, menterjemahkan konsep suatu teknologi ke bahasa yg mudah
dimengerti oleh banyak orang, dan membagikan informasi tersebut ke orang
lain.

Memiliki berbagai sertifikasi sudah tidak relevan lagi. Yang paling penting
adalah pengalaman ektensif dalam melakukan semua hal-hal seperti yg sudah
disebutkan di atas, ditambah fokus ke satu atau beberapa scope teknologi
secara mendalam, ikut terlibat dalam mengembangkan teknologi tsb dan
membagikan informasi yg dimiliki ke orang banyak.

Expert level is something that must be earned.

--
A triple CCIE by skill, an engineer by heart.
A consultant by day, a backpacker by night.
A pioneer. A dreamer, a traveler, a blogger.

Thursday, June 11, 2009

Penilaian yang baik

Diringkas oleh: Dian Pradana

Ketajaman -- kemampuan untuk menilai segala tindakan dengan
bijaksana -- adalah salah satu karakter yang harus ada dalam
kepemimpinan rohani. Salomo memperlihatkan betapa hal ini sangat
diperlukan. Saat Tuhan mengatakan bahwa Ia akan memberikan segala
yang ia minta, ia meminta hikmat. Tanpanya, katanya, tidak ada raja
yang dapat memerintah rakyatnya dengan baik. "Dan Allah memberikan
kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang
luas seperti dataran pasir di tepi laut" (1 Raj. 4:29).

Seorang kepala adalah pemimpin kawanan domba yang mengerjakan
wewenangnya. Jika ia keluar dari jalur, kawanan dombanya akan
berjalan dalam kebingungan. Seperti mata merupakan cahaya bagi
seluruh tubuh, begitu juga gembala bagi kawanan dombanya: Kamu
adalah terang dunia (Mat. 5:14). Apakah tubuh akan dibimbing dalam
jalan yang lurus atau berkelok, itu tergantung dari mata --
penglihatannya jelas atau kabur.

Saat seseorang menerima tanggung jawab untuk memimpin orang lain, ia
layaknya kepala gereja dalam Perjanjian Lama, yang melayani Allah di
Bait Suci. Kepala gereja memakai "tutup dada pernyataan keputusan"
yang dihiasi dengan empat jajar permata. Empat jajar permata itu
merepresentasikan empat bidang yang di dalamnya seorang pemimpin
harus melakukan penilaian yang baik, agar mengerti apa yang harus
dilakukan dan bagaimana melakukannya.

MEMIMPIN BAWAHAN UNTUK TERUS HIDUP DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Sunday, June 07, 2009

Lebih Lambat , Lebih Baik

Makin cepat, makin baik. Lebih dini masuk sekolah, lebih pintar anak kita. Orang tua pun berlomba-lomba menyekolahkan anaknya seawal mungkin. Kalau umur lima atau enam tahun anak sudah masuk SD, sudah lancar membaca, berhitung, menulis, dan berbahasa Inggris, Mandarin atau bahasa asing lain—betapa mekar bangga dada orang tua!

Pandangan semacam ini terfokus pada salah satu aspek perkembangan anak saja. Kesiapan anak masuk sekolah ditakar hanya menurut kemampuan kognitifnya. Kecerdasan intelektualnya dijadikan tolok ukur utama kesuksesan pendidikannya. Perspektif ini mengandung ketimpangan.

Secara umum perkembangan manusia normal berlangsung secara stabil dan normal pula. Setiap anak akan melewati fase-fase pertumbuhan sesuai dengan tahapan usianya. Menurut penelitian pendidik Jean Piaget, anak melewati empat fase menuju kedewasaan. Pada fase awal (0-2 th), anak mempelajari cara berkomunikasi dan menyerap dasar-dasar kepercayaan melalui pengetahuan yang diterimanya. Pada fase prastudi (2-7 th), anak mulai memperluas wawasan dan pergaulan, mulai mengembangkan berbagai perlengkapan dasar yang ia perlukan dalam membangun kapasitas hidup. Pada fase belajar (7-11 th), anak bersemangat mencari tahu, mengembangkan segala aspek dirinya, baik rasional, emosional, maupun keterampilan. Mulai usia 11 tahun, anak memasuki fase dewasa, saat ia masuk ke tengah masyarakat dan menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan.

Pendidikan anak perlu memperhatikan fase-fase perkembangan tersebut. Kita tidak dapat mengarbit anak. Memang perkembangan kognitif anak biasanya jauh lebih cepat daripada kestabilan emosinya. Namun, ini bukan alasan untuk mempercepat memasukkan anak ke sekolah. Mengapa?

Pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan seseorang menjadi betul-betul dewasa, matang di dalam segala aspek pembelajaran dan kehidupan. Anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya, siap memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya.

Masalahnya, orang tua—didukung pula oleh kultur sekolah di negeri ini—lebih mengutamakan aspek kognitif, dengan mengabaikan atau menomorduakan aspek perkembangan lain dalam diri anak. Pendidikan atau belajar di sekolah berkutat pada mengetahui informasi, menghafalkan, mengerjakan ujian agar lulus UAN, namun sesudahnya gagap menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan. Kita sempat dikejutkan dengan kasus seorang juara Olimpiade Fisika Nasional yang gagal lulus SMU. Atau, kita menemukan orang yang cerdas, namun gagap dalam membina hubungan dengan orang lain. Ini baru contoh kecil kegagalan akibat pola pendidikan yang tidak holistik.

Pendidikan adalah pendalaman pengertian yang mengubahkan kehidupan. Hal ini melibatkan seluruh aspek pribadi anak, bukan hanya sisi kognitifnya, namun juga perkembangan rohani dan kesiapan mentalnya. Pada usia di bawah tujuh tahun, perkembangan kerohanian dan mentalitas anak belum siap. Ia, misalnya, masih perlu lebih banyak bermain, bukannya duduk berjam-jam menyimak pelajaran. Walaupun secara kognitif rasional anak itu sudah mampu, ia tetap membutuhkan waktu untuk mengembangkan kestabilan emosinya. Bila dipercepat, pertumbuhan emosionalnya menjadi kurang wajar. Pendidikan yang sehat, sebaliknya, akan memampukan anak menghadapi masalah yang berkaitan dengan ilmu yang dipelajari.

Dalam paradigma ini, anak terlambat masuk sekolah satu atau bahkan dua tahun lebih baik daripada lebih cepat satu atau dua tahun. Mereka itu akan memiliki kematangan pribadi yang kuat. Kematangan yang dipersiapkan (bukan karena anak malas masuk sekolah atau tidak dididik dengan baik) akan menghasilkan kesiapan secara menyeluruh bagi anak untuk berkembang menjadi manusia dewasa. Orang-orang yang berkembang matang seperti ini biasanya akan lebih bijaksana di dalam setiap langkah hidupnya. ***

Sumber: Sutjipto Subeno, ”Tujuh Tahun (Baru) Masuk Sekolah?”, Logos, Edisi 3, 2007.