Translate

Showing posts with label Online Sales Assistant. Show all posts
Showing posts with label Online Sales Assistant. Show all posts

Wednesday, September 16, 2020

Semakin Screen to Screen Selling

Sudah genap hampir 6 bulan bagi kita semua untuk melakukan pekerjaan dari rumah (Work from Home). Meskipun di Juni kita sudah kembali bisa bekerja di kantor, bergantian atau membagi tim kita (split team). Namu sekarang, kembali kita harus menjalaninya, terutama untuk sektor-sektor di luar non-essential.

Yang paling rumit tetap ada di proses penjualan (sales), dimana selama ini mengandalkan pertemuan, meeting, diskusi dan umumnya bertatap muka, sekarang harus diganti dengan cara lain.

Selain karena kondisi dan kemampuan daya beli menurun drastis, tetap saja merupakan tantangan bagi orang sales untuk tetap bisa mendapatkan peluang (lead), mengolahnya dengan berbagai cara, dan melakukan atau mendapatkan pekerjaan (closing).

Untuk sales yang bergerak di B2C (business to customer), yang biasanya memang menggunakan pendekatan tatap muka, harus dan dipaksa berubah, semua menjadi online. Semua yang biasanya menggunakan pendekatan pameran, expo, personal touch, semua dipaksa melakukannya secara online. Ada yang hilang disini, tapi inilah yang terjadi. 

Bagi sales B2B (business to business), kelihatannya tidak banyak pengaruh, karena sebagian besar, pola marketing dan sales melalui online sudah banyak dilakukan sebelumnya. Hanya saja, sebelumnya tetap ada pertemuan, meeting, diskusi dan ujicoba (proof of concept) yang tadinya bertemu dengan klien, sekarang hampir jarang dilakukan pertemuan. 

Inilah masa Screen to Screen selling. Dimana kita menjual dengan cara dari layar ke layar. Layar smartphone sales ke layar smartphone klien. Banyak diskusi, mendengar suara dan melihat mata serta gerak tubuh, menjadi sangat terbatas. Tidak bisa kita melihat klien kita lagi sekarang dengan mudah. Keterbatasan ada di layar yang kita lihat.

Bagaimana sales bisa berkembang dengan pola ini ?

Inilah yang harus disiapkan seorang sales, pola Screen to Screen Selling, untuk tiap bidang dan produk mungkin ada pendekatan tersendiri, tapi ini yang bisa dipersiapkan. 

1. Mendapatkan lead.

Untuk bisa mendapatkan lead, pola online sekarang banyak dilakukan. Gunakan website, sosial media dan marketplace untuk kita yang bergerak di B2C. Website harus dipasang chat yang bisa diakses dan dijawab langsung oleh para sales. Setiap kali ada orang yang mampir ke website, harus disapa. Mirip seperti kita yang membuka stand pameran, expo, booth, counter. Bedanya sekarang online. Gunakan berbagai tools yang ada, mulai dari Zoho SalesIQ, dan beragam web-chat engine yang bisa dipasang. Ada yang gratis atau berbayar. Tapi yang jelas, harus ada yang menunggu dan menyapa siapa pun yang datang.

Demikian juga dengan sosial media. Maksimalkan kehadiran bisnis kita di berbagai platform yang ada. Sesuaikan dengan target kita. Instagram, Facebook, Whatsapp, Twitter, hingga TikTok sekarang sangat cocok untuk bisnis anda. Untuk B2B, jangan alergi dengan sosial media. Semua konsumen anda juga punya sosial media, dan mereka mengikuti anda dari sosial media.

2. Olah Peluang

Setiap lead yang masuk, bisa kita gali. Apakah mereka hanya ingin tahu, atau memang ada kebutuhan. Inilah peran sales, memperjelas peluang yang ada. Bila mereka hanya ingin tahu, bertanya-tanya, anggap ini peluang edukasi. Ingat sekarang, sales bukan hanya menjual, tapi juga mengedukasi. 

Sekarang kalau mereka 'serius' ingin tahu produk dan jasa anda, maka sales harus bergerak aktif. Tidak bisa seperti sebelumnya. Pasar berubah saat ini. Mereka bisa memilih produk dan jasa yang mereka anggap informatif, membantu mereka. Bukan melulu soal harga yang murah. Bahkan 'rating' pun , pengalaman orang lain menggunakan produk dan jasa menjadi pertimbangan mereka. 

Sales harus bisa terus melakukan aksi tindak lanjut (follow-up), dengan beragam media. Bisa via telepon, whatsapp, email dan video conference. 

Bagi sales B2B, sangat penting untuk bisa memastikan dengan data yang lebih lengkap. Mulai dari profil perusahaan, datasheet, brosur, pengalaman perusahaan, daftar pengguna (customer reference) harus disiapkan, dan harus siap dikirim baik dengan email atau whatsapp.


3. Gunakan CRM

Semua peluang yang didapat dari Screen to Screen selling ini tidak bisa lagi ada di catatan buku sales. Tidak bisa lagi hanya ada di smartphone sales. Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci 'closing' seorang sales dan perusahaan tentunya. Sehingga gunakanlah sistem Customer Relationship Management (CRM). Anda bisa gunakan dari versi gratis yang ada (vTigerCRM), Bitrix24, dan beragam sistem banyak tersedia. Hanya saja, sangat disarankan berbasis cloud. Tidak dipasang di server kantor on-premise. Semua ini agar bisa diakses oleh tim sales dengan cepat. Paksa mereka gunakan sistem CRM, sehingga semua proses sales terdata, tercatat dengan baik. 

4. Pastikan Closing.

Inti dari sales, ya 'closing'. Memastikan mereka telah mempelajari produk, mencoba produk, bahkan mendapatkan pengalaman dari customer lain, semua bisa dilakukan dari layar anda. Baik layar komputer, laptop, ataupun smartphone. Screen to screen Selling yang paling banyak sekarang ini dilakukan adalah dengan menggunakan video conference. Dan ini sangat membantu. Semula mungkin seorang sales hanya bisa 3-4 meeting per hari, dengan online video conference bisa sangat banyak, mungkin 7-10 e-meeting. Aturannya tetap sama, lead banyak, akan mengerucut menjadi peluang, mungkin hanya beberapa yang closing. Tapi kalau tidak yang closing, maka tentu perusahaan akan lebih pusing kan. Yang menjadi kendala di masa pandemi ini, biasanya adalah budget. Anggaran perusahaan konsumen banyak ditahan, dialihkan untuk menjaga kesehatan perusahaan secara jangka panjang. Maka seorang sales harus bisa meyakinkan konsumen tentang pentingnya produk dan jasa mereka. Meskipun hanya melalui layar.

Apakah anda merasa sales anda tidak siap melakukan ini ? Siapapun tidak siap. Karena sebelumnya kita sangat nyaman dengan pertemuan offline, meeting di cafe, diskusi  berjam-jam bersama konsumen. Mendadak semua harus berubah. Tapi sales adalah profesi yang paling bisa menyesuaikan dari jaman ke jaman. Dan inilah saatnya, seorang sales harus berubah, menjadi semakin screen to scren selling. 

 

Wednesday, April 04, 2018

Omzet turun, pedagang Tanah Abang jual beli via online

Sejak maraknya penjualan lewat media social dan online, pedagang di Pasar Tanah Abang mulai merasakan penurunan omzet dagangannya. Sehingga untuk menyiasati hal itu, pedagang Blok B Pasar Tanah Abang melakukan terobosan dengan jual beli online.



“Pedagang di sini merasakan penurunan omzet sekitar akhir 2017. Selain banyaknya online shoping juga penutupan jalan semakin menambah turunnya omzet. Tapi kami tidak putus asa untuk melakukan ivonasi sehingga muncul ide melakukann jual beli online,”papar Bevi Linawaty, Property Manager Pasar Tanah Abang Blok B di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (2/4).

Perdagangan online ini rencananya dari  lantai  3 sampai lantai 5 A. “Kita ingin pedagang omzetnya tambah. Jangan sampai tutup,” ucapnya.



Untuk pedagang diadakan pelatihan berjualan online seperti membuat media sosia dan website. “Kita buat Kios Kreatif  bagi pedagang yang  ingin  upload foto-foto buasananya di media sosial. Awalnya dibimbing,  jika sudah mampu diharapkan bias upload foto sendiri,” paparnya.



Bagi pengunjung juga diberi kemudahan mengakses dengan dipasang wifi dari lantai basement sampai  lantai 5  blok B. (Dody/SiK)

sumber: http://m.elshinta.com/news/141452/2018/04/02/omzet-turun-pedagang

Kegiatan Launching Kiosk Kreatif dan Online Sales Asistant (OSA) di Blok B Tanah Abang

Seiring dengan salah satu target dari APTIKNAS, yaitu membina Digital Agent.  Digital Agent adalah anak-anak milenials kita yang dibina dan dipersiapkan untuk menjadi tenaga muda handal di dunia digital.

Karena sebagian besar pengusaha TIK yang bergabung di dalam APTIKNAS adalah pengusaha retail, maka layanan Digital Agent yang dikembangkan juga untuk mendukung kegiatan retail, dan khususnya e-commerce yang sedang marak saat ini.

Salah satu anggota APTIKNAS, PT Daya Cipta Mandiri Solusi mengembangkan layanan StartSmeUp (www.startsmeup.id) yang merupakan layanan pendampingan UMKM, khususnya dalam penggunaan sosmed dan e-commerce.

Gayung bersambut dari pengelola Blok B Tanah Abang yang tengah mencari mitra untuk membantu para tenant nya memaksimalkan potensi mereka terkait dengan sosial media dan e-commerce. Selain itu juga BUKALAPAK telah hadir memberikan pelatihan untuk para pemilik kiosk, yang sebagian besar adalah pedagang fashion.

Selain itu juga ada PT POS Indonesia yang membuka kiosk khusus untuk membantu para pedagang mengirimkan paket pesanan dari dunia online e-commerce.

Berikut foto kegiatannya.

Bu Bevi selaku Pengelola Blok B Tanah Abang Jakarta

Penyerahan Piagam Kerjasama - Pengelola Blok B Tanah Abang, PT Pos Indonesia, PT Daya Cipta Mandiri Solusi (Startsmeup.id) dan Bank Rakyat Indonesia.

Penyerahan kaos kerja Online Sales Asistant ditandai dimulainya layanan StartSmeUp untuk membantu para pemilik kios di Blok B Tanah Abang. Disaksikan oleh Ketum APTIKNAS Bapak Soegiharto Santoso (Hoky)


Lokasi Kiosk Kreatif di Lantai 5 Blok B Tanah Abang


Pemotongan tumpeng tanda dimulainya operasional Kiosk Kreatif kepada penanggung jawab Bpk. Iman.

Kerjasama dan kolaborasi Online Sales Asistant antara APTIKNAS (StartsmeUp) - Bank Rakyat Indonesia - BUKALAPAK - PT POS INDONESIA dan PT Samsung Indonesia. Semua bahu membahu membantu UMKM naik kelas dengan TIK.

Fasilitas Komputer - Proyektor di area Kiosk Kreatif

Manekin siap digunakan di salah satu ruangan dalam Kiosk Kreatif.


Dengan adanya Kiosk Kreatif didukung Online Sales Asistant maka para pemilik Kiosk di Blok B Tanah Abang siap go online. Informasi selengkapnya layanan OSA dapat dilihat di www.startsmeup.id

Sunday, March 04, 2018

Gunakan kemampuan Multiple User Profile pada Chrome Browser

Berapa banyak dari kita yang menggunakan Chrome browser ? Tapi apakah kita tahu tentang fitur multiple profile yang dimiliki Chrome.


Dengan menggunakan Chrome browser, maka kita bisa mengakses login user profile di pojok kanan atas.  Fungsi ini sangat membantu bagi kita yang mengelola banyak email dan akun sosial media.


Tiap user profile dapat menggunakan spesifik satu gmail akun, sehingga kita bisa memiliki banyak user profile. Tiap-tiap user profil dapat untuk kegunaan :
- email , dengan gmail.
- akun sosial media facebook, twitter, instagram, linkedin
- aplikasi web lainnya

User profile juga dapat disupervisi melalui email gmail lainnya, sehingga memudahkan kita bisa memonitor aktiftas login user profile yang dimaksud.

Dengan menggunakan fitur ini, kami melatih agen Asisten Bisnis Online kami untuk menggunakan chrome browser. Chrome browser dapat dengan mudah dipasang di laptop / komputer berbasis windows, atau menggunakan Chromium untuk Linux.

Untuk menghemat biaya lisensi, kami menggunakan linux Ubuntu atau Lubuntu (hanya untuk komputer dengan spesifikasi rendah), dan kemudian memasang chromium. Rata-rata tiap agen OSA memasang hingga 10 user profile untuk mengelola banyak akun.

Selamat mencoba.

Sunday, February 25, 2018

Mengambil keuntungan dari Internet Indonesia

Bernas.id - Menarik membaca data yang baru saja dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengenai penggunaan Internet di Indonesia sepanjang tahun 2017. Data terbaru menunjukkan angka 143,26 juta pengguna Internet Indonesia, hampir 54,68%, angka yang seolah menunjukkan masyarat Indonesia sudah 'melek' Internet.
Tapi data ini diperkuat lagi dengan sebaran pengguna Internet yang ternyata 58,08% berada di Jawa, 19,09% di Sumatera, dan sisanya ada di daerah lain. Artinya infrastruktur jaringan Internet berada di 2 pulau ini maka pengguna Internetnya bisa bertumbuh dengan baik.
Sebaran usia juga menunjukkan data menarik, 75,5% di usia 13-18 tahun, 74,23% di usia 19-34 tahun, dan 44,06% di usia 35-54 tahun, tidak ketinggalan 15,72% di usia >54 tahun. Usia produktif sudah tahu dan mahir menggunakan Internet. Dengan jenis kelamin laki-laki mencapai 51,43% dan perempuan 48,57%. Data ini juga menunjukan target market yang bisa diraih di dunia Internet Indonesia.
Dari segi latar belakang pendidikan juga menunjukkan data menggembirakan, selain S2/S3 sejumlah 88,24%, S1 sejumlah 79,23%, SMA sederajat mencapai 70,54%, SMP mencapai 48,53%, dan yang menarik lulusan SD mencapai 25,1%. Semakin baik latar belakang pendidikannya, semuanya semakin mengenal Internet.
Sekarang dari segi perangkat yang digunakan, 25,7% masih menggunakan laptop untuk mengakses Internet, sedangkan 50,08% gunakan smartphone atau tablet. Penggunaan smartphone dan tablet memang meningkat pesat dalam kurun 5 tahun terakhir. Bahkan sekarang kemampuan smartphone melebihi spesifikasi laptop dalam beberapa hal.
Dari segi market kelas ekonomi atas menggunakan Internet hingga 93,1%, menengah 82,95%, bawah 58,55%, sangat bawah 21,72%, ternyata mereka semua menggunakan Internet sangat baik.
Berikutnya data penggunaan aplikasi berbayar saat ini hingga 11,41%, sedangkan yang berlangganan mencapai 6,29%. Aplikasi berbayar semakin mendapatkan posisi, dimana pengguna mulai terbiasa untuk membayar layanan aplikasi dan langganan aplikasi yang mereka rasakan manfaatnya.
Dari segi tempat sebagian besar masih mengakses dari area urban 72,41%, rural-urban 49.25% dan rural 48,25%. Usaha pemerintah yang giat menggelar jaringan Internet hingga ke area rural ini patut diapresiasi. Perangkat yang digunakan di area tersebut juga masih menggunakan smartphone sebesar 70,96%, rural-urban 45,42% dan 42,06% di area rural. Ini menunjukkan smartphone semakin menjadi pilihan untuk mengakses Internet.
Data awal menggunakan Internet juga menunjukkan data menarik, dimana tahun 2016-2014 menjadi awal tahun penggunaan Internet mereka sebesar 37,12%. Kita ingat tahun-tahun ini memang geliat perkembangan smartphone dan Internet sangat tinggi.
Sebagian besar Internet diakses menggunakan smartphone 59,31% di kabupaten kota, diikuti kedua perangkat (laptop dan smartphone) sebesar 38,31%. Dan penggunaan akses menggunakan laptop semakin menurun 0,65% saja. Data yang sama juga ditunjukkan di area lainnya. 
Nah, sekarang dari jenis aplikasi yang digunakan. Pertama adalah chatting 89,35%, sosial media 87,13%, search engine 74,84%, lihat video 69,64%, download video 70,23%, download gambar 58,77%, selebihnya artikel 55,3%, email 33,99%, beli barang 32,19%, pendaftaran online 16,97%, jual barang 8,12% dan terakhir akses perbankan 7,39%. 
Kalau urusan untuk manfaatnya, tetap 45,14% untuk mencari harga, membantu pekerjaan 41,04%, informasi pembeli 37,82%, beli online 32,19%, cari kerja 26,19%, transaksi perbankan 17,04% dan jualan online 16,83%.
Nah, sekarang kita lihat polanya. Sebagian besar sudah 'melek' Internet, tahu cara menggunakan Internet, dan tersebar di area urban dan rural-urban. Ini target ekonomi yang baik, dan kelasnya kelas atas hingga bawah. Sedangkan penggunaan smartphone menjadi titik penting, dimana aplikasi, website dan system yang kita punya harus bisa diakses dari smartphone. Untuk berbagai penggunaan, aplikasi kita harus ramah dengan smartphone, atau istilah teknisnya mendukung HTML5. 
Sekarang ini semua smartphone telah dilengkapi dengan browser yang mendukung HTML5, dan semuanya bisa digunakan dengan mudah. Aplikasi yang kita kembangkan minimal harus mendukung ini. Website yang kita punya harus mendukung HTML5, dan semua harus mudah diakses, dan ramah terhadap search engine, terutama Google dan Bing yang sekarang menjadi search engine yang paling banyak digunakan. 
Lengkapi diri kita, usaha kita dengan kemampuan ini. Menggunakan Internet untuk berbagai kepentingan, dan harus bisa diakses dari Internet dengan mudah. Salah satunya dengan menggunakan berbagai aplikasi yang membantu kita untuk memaksimalkan potensi kita di Internet.
Salam StartSmeUp! 
sumber: https://www.bernas.id/61847-mengambil-keuntungan-dari-internet-indonesia.html