Translate

Saturday, March 31, 2018

Punya karyawan millenial , siaplah berubah

Berganti tahun, sekarang tim yang ada di kantor kami (yang baru berusia 12 tahun), mulai dimasuki oleh anak anak muda kita, atau sering disebut dengan Millenials.

Mereka memang bersemangat masuk ke dalam tim kami, dengan berbagai alasan mereka. Dan inilah yang kami harus sesuaikan.

Biasanya kami menghitung berdasarkan absensi, sekarang berdasarkan prestasi. Biasanya kami menghitung pencapaian mereka berdasarkan banyak pekerjaan, sekarang berdasarkan kualitas pekerjaan. Biasanya mereka harus kerja ontime, sekarang mereka meminta sangat fleksibel terkait waktu. Akh, banyak hal yang harus saya rubah juga pada waktu menjadi leader mereka.


Saya berusaha menyesuaikan dengan beberapa cara. Dan hal diatas menjadi salah satu panduan saya. Artikel Gallup membantu membuka mata saya membantu mereka bekerja lebih baik.

Pertama, mereka akan sangat fokus kepada keberadaan mereka, tujuan mereka ada. Oleh karena itu, membantu mereka menjelaskan pentingnya mereka, tujuan yang mereka bisa capai, itu menjadi fokus utama pada bulan-bulan pertama mereka masuk ke tim kami. Jadi bukan melulu gaji fokus utama mereka.

Kedua, memastikan skill dan kemampuan mereka berkembang menjadi lebih utama. Dulu kita fokus kepada pencapaian pekerjaan, tanpa peduli mempersiapkan mereka. Sekarang terbalik, fokus kepada peningkatan skill mereka dan arah pengembangan mereka menjadi sangat penting. Kami harus merelekan mereka terus menerus dilatih dan dipersiapkan, otomatis budget training harus dipersiapkan lebih baik.

Itu dia juga sebabnya, mereka sangat mudah pindah kerja, karena mereka selalu mencari tempat terbaik untuk mengembangkan diri mereka.

Ketiga, gaya saya tidak bisa lagi jadi BOSS, tapi BOS (Buat Orang Senang), Jadi saya harus membimbing mereka, dekat dengan mereka dan bersahabat. Pola komunikasi pun berubah, santai dan membantu mereka nyaman.

Keempat, annual review memang kami lakukan, tapi per 3 bulan kita tetap evaluasi, dan memastikan itu bersama dengan mereka. Tidak bisa lagi sendirian, mereka dilibatkan, diajak bicara dan dibantu.

Kelima, seringkali kita menganalisa kelemahan mereka, dan fokus kesana, tapi sekarang harus terbalik juga. Kekuatan mereka lah yang dimaksimalkan. Tidak semua orang punya kemampuan yang kita harapkan, tapi tetap kita bisa memaksimalkan kekuatan skill mereka.

Keenam, pekerjaan bukan lagi pekerjaan, memastikan pekerjaan adalah life mereka adalah penting. Mereka puas di pekerjaan, mereka akan bagikan ke banyak orang. Mereka nyaman, mereka akan bertahan. Kehidupan adalah semata tentang nyaman dan senang untuk mereka.

Tapi tetap saja ,  ada beberapa hal dasar yang pada waktu mereka masuk bergabung, kami rasakan kurang. Yaitu skill dasar, kemampuan dasar yang harus dimiliki mereka, terutama karena mereka akan berkarir di bidang TIK. Saya tahu dan sadar, sekolah dan universitas yang selama ini ada, tidak menyiapkan mereka untuk bekerja di perusahaan. Gap skill selalu terjadi di dunia TIK yang cepat bergerak. Itulah sebabnya saya bergabung dalam KPTIK, dengan harapan bisa memberikan masukan untuk pengembangan SDM TIK Indonesia. Memang gayung belum bersambut, masukan-masukan KPTIK menjadi angin saja bagi kementrian terkait. Tapi kita harus tetap semangat.

Nah, silahkan tentukan tantangan anda masing-masing dalam mengelola mereka bekerja bersama anda.


Guru TIK masih perlu ?

Membaca berita ini, "Kemendikbud Masih Siapkan Alternatif Permintaan Guru TIK"

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/01/29/p3bd8f423-kemendikbud-masih-siapkan-alternatif-permintaan-guru-tik

Kembali saya bertanya, mengapa negara kita masih lambat sekali mengadoptasi TIK, dan bahkan terkesan ragu mengajarkannya kepada anak-anak kita?

TIK kembali dianggap hanya sebagai pelengkap, dimana padahal sudah lebih dari 50% masyarakat Indonesia mengakses Internet. Internet yang adalah bentuk 'real' dari TIK.
Padahal target pemerintah kita menjadi negara berbasis Digital Economy di tahun 2020.

Tapi mengapa tetap saja, lebih rumit atau malas mengubah kurikulum sekolah ketimbang menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi saat ini, dimana TIK menjadi dasar dari berbagai aktifitas saat ini.

Lalu, pertanyaan apakah Guru TIK masih perlu ?

Semua merasa perlu, tapi tidak mau memaksimalkan potensi untuk membantu, memastikan guru TIK bisa berkembang dengan baik. Oleh karena apa? Karena kita tidak punya masterplan TIK Nasional.

Tidak ada pendekatan komprehensif yang menyatakan dengan jelas kepentingan adanya guru TIK yang menjadi basis dari pendidikan TIK untuk anak-anak kita. Anak-anak kita dibiarkan belajar dengan sendirinya, cenderung liar dan menyerap apa saja yang bisa mereka serap.

Lalu kemanakah kerja kementrian terkait selama ini? KPTIK (Komite Penyelaras TIK) telah mengingatkan ini jauh-jauh hari, dan semakin kesini, semakin tidak jelas. Semua tidak sadar, bahwa smartphone yang telah menjadi teman keseharian warga Indonesia perlu dukungan sumber daya manusia yang besar. Dan semoga kita semua cepat sadar.

Monday, March 26, 2018

EGO IS YOUR ENEMY

EGO IS YOUR ENEMY
(Menjadi leader yang baik dengan mengendalikan  ego anda sendiri)

Hari Sabtu saya mendapat undangan dari seorang Direktur Pertamina untuk menghadiri konser David Foster di Solo. Konsernya keren, penyanyinya hebat, akustik dan tata lampu sangat bagus. But the real man in the show was David Foster sendiri. Dia tampil di belakang pianonya, membiarkan penyanyi-penyanyinya "take the stage" dan menjadi bintang, membuat penyanyi-penyanyi itu yang mendapatkan tepuk tangan penonton, sementara dia enjoy memainkan jari-jarinya yang piawai di piano hitamnya.
Mungkin David Foster memang tidak mendapatkan tepuk tangan yang meriah, mungkin memang penyanyinya yang dipuji-puji.
Tetapi David Foster memang menyadari bahwa "menyanyi" memang bukan strength nya. Dan pada konser itu dia pun bilang ke penyanyinya di depan ribuan penonton ...." I cannot sing like that, that s why I need you!"

David tahu bahwa memang harus ada kerjasama antara David dan penyanyi-penyanyinya sesuai dengan strength mereka masing-masing. Penyanyi dengan kemampuan vokalnya. David Foster dengan kemampuannya mencipta lagu dan aransemen. That's team work! That's leadership!

Namanya Dini, lulusan sekolah tinggi perhotelan terbaik di negeri ini. Teman-temannya sudah banyak yang menjadi General Manager di hotel-hotel ternama di Jakarta dan Bali. Pada awalnya Dini pun memulai bekerja di beberapa hotel internasional.
Tetapi kemudian Dini menyadari bahwa strengthnya adalah pada kemampuannya untuk men-support dan mendidik anak-anaknya. 
Seperti David Foster yang kemudian memilih untuk bermain piano di belakang dan membiarkan penyanyinya bersinar terang, Dini pun kemudian berhenti bekerja, mensupport suaminya , menjadi coach suaminya, memberikan feedback pada suaminya, dan juga mendidik anak-anaknya, baik secara akademis dan karakter.
Sekarang suaminya menjadi Director di sebuah perusahaan Perancis, dan anak-anaknya berprestrasi bagus , anak yang pertama bahkan sudah independent dan mendapatkan beasiswa di Amerika.
That's teamwork! That's leadership!

Jack Welch pernah berkata,"Before, your focus was to grow yourself. When you are a leader your focus is to grow yourself!"
Saya menulis di buku kedua saya,"Lead Differently", pada saat anda karyawan fokus anda adalah bagaimana anda perform sebaik mungkin, pada saat anda menjadi leader, fokus anda adalah bagaimana membantu orang lain agar perform sebaik mungkin. Di sinilah anda harus menurunkan ego anda.
Seandainya David Foster tidak menurunkan ego nya, dan dia terus menerus ingin menjadi penyanyi (agar dipuji-puji penonton), mungkin dia tidak akan sesukses sekarang.
Seandainya Dini tidak menurunkan ego nya, dan terus menerus berkarier, mungkin itu bukan strengthnya, mungkin kariernya setengah-setengah, mungkin suaminya tidak akan menjadi Director, dan mungkin anak-anaknya tidak berprestasi sebagus sekarang!

Terus ada yang bertanya , apakah reward bagi seorang leader kalau harus menurunkan ego-nya?
Well, dengan berfokus menjadi composer, ternyata David Foster juga terus menerus sukses, terkenal dan keliling dunia.
Dengan menurunkan ego-nya, Dini juga menikmati menjadi istri dan ibu yang baik, keliling dunia bersama anak-anak dan suaminya, dan menikmati hidupnya!
Saya tidak mengatakan semua wanita harus mengorbankan kariernya, kalau memang itu yang anda inginkan, kalau memang itu strength anda dan karier anda bisa mencapai puncaknya, go ahead. Semua orang harus menyadari potensinya yang berbeda  beda, dan menjalankan passionnya sesuai dengan stength yang berbeda-beda.

Pada saat saya sendiri menurunkan ego saya, dan waktu saya menjadi HR leader, saya juga selalu mendevelop anak buah saya, ternyata dua atau tiga tahun kemudian, saya selalu berhasil mendidik orang yang menggantikan saya, dan saya bisa melangkah ke jabatan berikutnya yang lebih baik. Everbody wins. Everybody is happy!

Itulah pentingnya bagi seorang leader untuk menurunkan ego-nya agar dia bisa mengembangkan bisnisnya, mengembangkan timnya dan mengembangkan dirinya.
Judul artikel ini saya copy dari judul buku "Ego is the enemy" yang dikarang oleh Ryan Holliday.
Di buku itu diajarkan berapa teknik untuk menurunkan ego kita agar meningkatka  leadership  capability kita.

Tetapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, inilah lima hal yang kita bisa lakukan sebagai seorang leader ....

a) IDENTIFYING THE TALENTS

David Foster ahli dalam menemukan penyanyi muda yang akan berbakat. Dia menemukan Celine Dion saat masih  berumur 18 tahun, dan menggemblengnya menjadi penyanyi hebat. Dia juga menemukan Josh Groban, Michael Buble ...dll.

Sebagai leader anda harus mampu mengenali calon-calon leader di
perusahaan yang bisa anda gembleng menjadi leader yang lebih hebat lagi.

b) PUSH THEIR LIMITs

Pada biografi Celine Dion, di halaman 86, Celine Dion menceritakan betapa Celine membenci David Foster karena memaksanya latihan berulang-ulang. Bahkan ada lagu yang sulit banget "All by myself" yang nadanya sangat tinggi, dan Celine Dion harus menyanyikannya delapan kali berturut-turut dalam sehari.
Pada konser kemarin ada juga tampil Anggun, penyanyi Indonesi yang sudah mendunia.
Dan Anggun pernah bercerota bagaimana ayahandanya (Bapak Darto Singo) mendidiknya dan melatihnya dengan tangan besi dan disipilin yang tinggi.

Talent-talent anda tidak akan pernah berkembang dalam suasana yang nyaman. Anda harus berani mengeluarkan mereka dari zona nyaman, menggembleng mereka dengan tangan besi dan disiplin. Dalam cerita wayang Gatotkaca harus direbus di kawah Candradimuka sebelum bisa terbang. Ok, sebagai leader anda tidak usah memasak air mendidih dan merebus talent anda di dalam panci besar. Tetapi tetap anda harus mendidik mereka dengan effort luar  biasa.
Katakan pada talent talent anda, extra ordinary people adalah ordinary people yang mengerjakan hal-hal yang "extra". Tanyakan,
what are the extra things that they will do?

c) EXPOSE THEM to PUBLIC

Setelah menggembleng mereka, tampilkan mereka ke public.
David Foster mengembleng penyanyi-penyanyinya dan kemudian menampilkan mereka ke public.
What do you do to your talents?
Sebagai leader jangan sampai anda menjadi satu-satunya yang tampil di depan CEO, di depan Board of Directors dan di depan management team yang lain.
Tampilkan anak buah anda juga dong. Tapi sebelumnya didik mereka, latih mereka, dan berikan feedback ke mereka setelah itu.

d) BALANCING REWARD and EFFORT

Perjalanan mendidik talent talent adalah perjuangan berat dan perjalanan panjang seperti marathon. 
Kita harus menjaga stamina. Balance-kan antara effort dan reward.
Recognize their hard work. Praise for their extra effort. And reward them regularly, not only in the end of the destination.

e) PROMOTE THEM, and IDENTIFY your next TALENTs

Kadang-kadang ada waktu di mana talent-talent kita sudah ready? What you should do? Promote them!
Suruh mereka menggantikan anda dong, supaya anda bisa melangkah ke posisi berikutnya yang lebih baik. Saya pernah melakukan hal ini di tiga perusahaan yang berbeda (Nokia, Telkomsel dan Citibank). 
Tentu saja ini terjadi karena proses untuk men-develop mereka sudah berjalan dan mereka sudah ready.
Kalau mereka belum ready? Ya didik mereka dulu dong!
Kalau mereka sudah ready , tapi anda belum dapet posisi baru gimana dong? Ya promosikan mereka ke jabatan lain selevel tapi di bagian lain (lateral career move).
Kasihan kalau mereka sudah maju karena digembleng dengan kerja keras, tapi gak dipromosi juga.
Kalau mereka pergi dari team anda, terus bagaimana dengan pekerjaan yang ditinggalkan? Cari talent lain, develop lagi dong. David Foster bisa mendidik puluhan penyanyi baru, you have to do the same thing!

Dan ternyata ada kesamaan antara teknik melatih penyanyi (bagi David Foster), teknik mendidik anak (bagi Dini) dan teknik mengembangkan talent di bisnis kita.

Jadi ingat ya, sebagai seorang leader , lakukan kelima hal ini untuk mendidik dan mengembanhkan talent talent anda.

a) IDENTIFYING THE TALENTS
b) PUSH THEIR LIMITs
c) EXPOSE THEM to PUBLIC
d) BALANCING REWARD and EFFORT
e) PROMOTE THEM, and IDENTIFY your next TALENTs


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Fanky Christian
Director
PT. DAYA CIPTA MANDIRI SOLUSI
mobile: 62-812-1057533 / 0881-8857333
skype: fankych1211
   

Sunday, March 25, 2018

5 tahapan untuk memulai dan optimalkan proyek #IoT

DNA

DNA
Delightful
Nice
Advice

1. Karakter

Karakter yg baik adalah "merek" terbaik dalam hidup kita.

Orang yg memiliki karakter baik akan jauh lebih dikenal daripada mereka yang hanya menggunakan barang-barang bermerek.

Untuk memiliki karakter yang baik tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.

Kita hanya perlu memperbaiki *emosi kita memperbaiki kualitas diri, berpikir positif, dan memperkaya batin*

Maka semua *perkataan, sikap, dan perilaku kita akan berubah menjadi baik*.

2. Tidak KEPO
Jangan mempedulikan orang lain secara berlebihan dan jangan terlalu mengurusi urusan orang lain

Di dunia ini, akan selalu akan ada orang yang membuat kita sedih, cemburu, dan marah.

Namun itu sebenarnya bukan karena mereka yg jahat, tapi karena *kita yg terlalu mengambil hati omongan, sikap, dan perilaku mereka*

Untuk memiliki hidup yang tenang, maka pertama-tama harus belajar untuk tidak ambil pusing.

Kalau kita tidak ambil pusing dengan apa mereka katakan atau lakukan, maka kita tidak akan merasa tersakiti.

Kalau kita tidak ambil pusing, maka kita tidak akan merasa marah.

Sekalinya kita menyimpan dendam karena perkataan atau perbuatan buruk mereka pada kita, kita sudah kalah.

Orang yang tidak ambil pusing, selamanya tidak akan terkalahkan.

3. Belajar cuek
Orang yg hidupnya "cuek", mudah merasa bahagia, sedangkan orang yang hidupnya terlalu waspada, mudah merasa khawatir.

Ini karena orang yg waspada selalu melihat kenyataan

*Semakin melihat kenyataan, maka akan semakin khawatir*

Sedangkan orang yang hidupnya "cuek"

Walaupun sederhana dan sulit, namun akan lebih terasa lebih bermakna.

4. Tidak mudah menyerah

Walaupun jalan panjang dan berliku, namun jika dijalani selangkah demi selangkah dengan pantang menyerah pasti akan tiba di garis akhir.

Walaupun jalan pendek dan lurus, jika kita tidak mulai melangkah, tetap tidak akan tiba di garis akhir

Jangan menjadikan masalah kita di hari kemarin menjadi batu sandungan kita di hari ini.

Orang yg mengikuti jalan orang lain adalah orang yang meremehkan kemampuannya sendiri.

Keserakahan adalah kemiskinan yg paling hebat, sedangkan bersyukur adalah kekayaan yg paling nyata.

Setelah merasakan dingin, baru tahu apa artinya kehangatan matahari.

Orang-orang yg sudah mengalami kesulitan dalam hidup baru bisa memahami betapa berharganya hidup.

5. Melatih kesabaran  dan ketekunan

*Hilangkan ketidaksabaran,
kurangi kemalasan.

*Ubahlah sifat yang mudah marah dan tidak tahan godaan*

Cungkillah mata yang mudah tertarik pada apapun

Jahitlah mulut yang suka membicarakan gosip.

*Lakukanlah apa yg harus kita lakukan dengan tenang*

*Bekerjalah dengan keras jika itu memang harus*.


Have a Nice Day 😊

CARA BLOKIR YOUTUBE PORNO

*CARA BLOKIR YOUTUBE PORNO* 
Perlu disampaikan ke anak2 kita, seluruh orang tua yang memiliki putra putri yang masih gadis belum dewasa, 
*Narkoba* memang merusak otak, tetapi _*PORNOgrafi*_ tidak kalah dalam merusak otak anak. Bagaimana _*memblokir konten porno di youtube*_ pada gadget android anak..??? Karena kadang tampilan video porno suka muncul sendiri, dan bisa saja tanpa sengaja anak-anak melihatnya!

*Cara memblokirnya*:

1. Buka youtube,

2. Pilih tiga titik di pojok kanan atas

3. Pilih _setting/ setelan , lalu pilih umum/general,

4. Pilih *restricted mode* / _mode terbatas_

5. Selesai

*Restricted mode* akan menfilter video2 yg memiliki konten tidak layak bagi anak maupun dewasa.

Segera lakukan di gadget anak mereka/cucu kita, karena pornografi sangat berbahaya bagi mereka,

_TAMBAHAN_ ..

Selain you tube, sebaiknya dilakukan filter juga untuk *Play Store* Android supaya anak2 tidak menginstall aplikasi/game yang tidak baik sesuai umurnya.

Caranya:

1. Cari menu *Settings* di Play Store.

2. Lalu pilih submenu *Parental Controls*

3. Lalu geser tombol *On* ke posisi kanan.

4. *Set content restrictions for this device* pilih sesuai umur yang diinginkan...

MOHON BANTU SHARE, karena
*PUTRA PUTRI KITA ADALAH MASA DEPAN KITA.*
Kita wajib:MENYELAMATKAN GENERASI MASA DEPAN.

Mohon di Share, agar semakin banyak orang tua yang tahu😊. 
Terima kasih.

#cybersecurity di sekolah

Penggerak #DigitalTransformation

Apa itu #FOG COMPUTING ?

Artificial Intellegence #AI untuk pemimpin bisnis

10 prediksi #IoT di 2018

Peluang Artificial Intellegence #AI

10 manfaat #cloud

Friday, March 23, 2018

Mempermasalahkan Hutang RI

Mempermasalahkan Utang

1) Perhatian politisi dan beberapa ekonom mengenai kondisi utang beberapa bulan terakhir sungguh luar biasa. Dikatakan luar biasa dikarenakan isue ini dibuat dan diperdebatkan seolah-olah Indonesi sudah dalam kondisi krisis utang sehingga masyarkat melalui media sosial juga ikut terpengaruh dan sibuk membicarakannya. Sebagai menteri keuangan dan pengelola keuangan negara, perhatian elit politik, ekonom dan masyarakat terhadap utang tentu sangat berguna untuk terus menjaga kewaspadaan agar apa yang dikhawatirkan yaitu terjadinya krisis utang, tidak menjadi kenyataan. Namun kita perlu mendudukkan masalah, agar masyarakat dan elit politik tidak terjangkit histeria dan kekhawatiran berlebihan yang menyebabkan kondisi masyarakat menjadi tidak produktif. Kecuali kalau memang tujuan mereka yang selalu menyoroti masalah utang adalah untuk membuat masyarakat resah, ketakutan dan menjadi panik, untuk kepentingan politik tertentu. Upaya politik destruktif seperti ini sungguh tidak sesuai semangat demokrasi yang baik dan membangun.

2) Mari kita mendudukkan masalah utang dalam konteks seluruh kebijakan ekonomi dan keuangan negara, karena utang adalah salah satu instrumen kebijakan dalam pengelolaan keuangan negara dan perekonomian. Utang bukan merupakan tujuan dan bukan pula satu-satunya instrumen kebijakan dalam mengelola perekonomian. Dalam konteks keuangan negara dan neraca keuangan pemerintah, banyak komponen lain selain utang yang harus juga diperhatikan. Dengan demikian kita melihat masalah dengan lengkap dan proporsional. Misalnya sisi Asset yang merupakan akumulasi hasil dari hasil belanja pemerintah pada masa-masa sebelumnya. Nilai asset tahun 2016 (audit BPK) adalah sebesar Rp 5.456,88 triliun. Nilai ini masih belum termasuk nilai hasil revaluasi yang saat ini masih dalam proses pelaksanaan untuk menunjukkan nilai aktual dari berbagai asset negara mulai dari tanah, gedung, jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit jdll. Hasil revaluasi asset tahun 2017 terhadap sekitar 40 persen asset negara menunjukkan bahwa nilai aktual asset negara telah meningkat sangat signifikan sebesar 239% dari Rp. 781 triliun menjadi Rp.2648 triliun, atau kenaikan sebesar Rp 1867 Triliun. Tentu nilai ini masih akan diaudit oleh BPK untuk tahun laporan 2017. Kenaikan kekayaan negara tersebut harus dilihat sebagai pelengkap dalam melihat masalah utang, karena kekayaan negara merupakan pemupukan asset setiap tahun termasuk yang berasal dari utang.

3) Mereka yang membandingkan jumlah nominal utang dengan belanja modal atau bahkan dengan belanja infrastruktur juga kurang memahami dua hal. Bahwa belanja modal tidak seluruhnya berada di Kementrian Lembaga Pemerintah pusat, namun juga dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Dana transfer ke daerah yang meningkat sangat besar, dari Rp 573,7 Triliun (2015) meningkat menjadi Rp 766,2 Triliun (2018) sebagian (25 persen) diharuskan merupakan belanja modal, meski belum semua pemerintah daerah mematuhinya. Yang kedua, dalam kategori belanja infrastruktur, tidak seluruhnya merupakan belanja modal. Karena untuk dapat membangun infrastruktur diperlukan institusi dan perencanaan yang dalam kategori belanja adalah masuk dalam belanja barang. Oleh karena itu pernyataan bahwa tambahan utang disebut sebagai tidak produktif karena tidak diikuti jumlah belanja modal yang sama besarnya adalah kesimpulan yang salah. Ekonom yang baik sangat mengetahui bahwa kualitas institusi yang baik dan efisien dan bersih adalah jenis "soft infrastruktur" yang sangat penting bagi kemajuan suatu perekonomian. Belanja institusi ini dimasukkan dalam kategori belanja barang dalam APBN kita.

4) Selain melihat neraca, dalam melihat utang perlu untuk juga melihat keseluruhan APBN dan keseluruhan perekonomian. Bila diukur dari jumlah nominal dan rasio terhadap Produk Domestik Bruto, defisit APBN dan posisi utang pemerintah terus dikendalikan (jauh) dibawah ketentuan UU Keuangan Negara. Defisit APBN tahun 2016 yang sempat dikhawatirkan akan melebihi 3 persen PDB, dikendalikan dengan pemotongan belanja secara drastis hingga mencapai Rp 167 triliun. Langkah tersebut telah menyebabkan sedikit perlambatan pertumbuhan ekonomi. Demikian juga tahun 2017, defisit APBN yang diperkirakan mencapai 2.92 persen PDB, berhasil diturunkan menjadi sekitar 2.5 persen. Tahun 2018 ini target defisit pemerintah kembali menurun menjadi 2.19 persen PDB. Pada kurun 2005-2010, pada masa saya menjabat Menteri Keuangan sebelum ini, Indonesia berhasil menurunkan rasio utang terhadap PDB dari 47% ke 26%, suatu pencapaian yang sangat baik, dan APBN Indonesia menjadi semakin sehat, meski jumlah nominal utang tetap mengalami kenaikan.

5) Demikian juga dengan kekhawatiran mengenai posisi keseimbangan primer, pemerintah dalam berbagai penjelasan dan siaran pers, TELAH menyatakan akan menurunkan defisit keseimbangan primer, agar APBN menjadi instrumen yang sehat dan sustainable. Buktinya pada tahun 2015 keseimbangan primer mencapai defisit Rp 142,5 T, menurun pada tahun 2016 menjadi Rp.125,6T, dan kembali menurun pada tahun 2017 sebesar Rp.121,5T. Untuk tahun 2018, pemerintah mentargetkan keseimbangan primer menurun lagi menjadi Rp.87,3T. Tahun 2019 dan kedepan kita akan terus menurunkan defisit keseimbangan primer untuk mencapai nol atau bahkan mencapai surplus.

6) Kebijakan utang dalam APBN juga ditujukan untuk membantu membangun pendalaman pasar keuangan dan obligasi di dalam negeri. Jadi utang tidak hanya sebagai alat menambal defisit belanja pemerintah, namun juga sebagai alternatif instrumen investasi bagi masyarakat Indonesia. Kita melihat jumlah investor ritel yang membeli Surat Berharga Negara meningkat setiap tahun sejak diterbitkannya SBN ritel tahun 2016, yaitu sebesar 16.561 investor ritel dalam negeri, dan mencapai 83.662 investor ritel pada 2016. Secara jumlah total, investor ritel pemegang SBN telah mencapai 501.713. Bahkan investor individual ini ada yang berusia dibawah 25 tahun ( sekitar 3 persen, hingga diatas 55 tahun). Ibu rumah tangga juga telah mengenal dan berinvestasi pada surat berharga negara yang mencapai sekitar 13-16 persen. Kita masih perlu mengembangkan terus pendalaman pasar dan meningkatkan partisipasi masyarkat dalam pembelian obligasi negara maupun korporasi. Pasar keuangan yang dalam dan tebal akan menjadi salah satu pilar menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Ini juga untuk menjawab mereka yang merasa khawatir dengan proporsi asing dalam pembelian obligasi (SBN) kita. Oleh karena itu pemerintah terus melakukan diversifikasi instrumen utang, agar partisipasi masyarakat luas dapat terus ditingkatkan.

7) Bagi mereka yang menganjurkan agar pemerintah berhati-hati dalam menggunakan instrumen utang, maka anjuran itu SUDAH SANGAT SEJALAN dengan yang dilakukan pemerintah. Langkah pengelolaan APBN dan penyesuaian memang dilakukan secara bertahap dan hati-hati, agar perekonomian tidak mengalami kejutan (shock) dan mesin ekonomi menjadi melambat. Pilihan-pilihan kebijakan ini dievaluasi secara cermat oleh pemerintah, karena ekonomi Indonesia harus dikelola dengan hati-hati dan seimbang, mengingat tujuan-tujuan yang hendak dicapai sangat beragam, yaitu : pengurangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, penciptaan kesempatan kerja, perbaikan program pendidikan dan kesehatan, membantu infrastruktur dasar, meningkatkan penelitian dan pengembangan, membangun alutsista, memperbaiki kesejahteraan prajurit-polisi dan pensiun dll. Selain itu kita masih dihadapkan resiko ketidakpastian global akibat kebijakan perang dagang yang dilakukan Amerika Serikat dan kebaikan suku bunga oleh The Fed serta kondisi geopolitik dunia.

8) Setiap langkah penyesuaian untuk mencapai satu tujuan, selalu berakibat pada tujuan yang lain. Ini yang dikenal sebagai "trade-off". Namun pemerintah terus malakukan penyesuaian untuk mencapai tujuan pembangunan dan terus menjaga APBN terap sehat,kredibel dan berkelanjutan (sustainable). Langkah konsisten dan hati-hati dari pemerintah ini telah menghasilkan kepercayaan yang makin kuat terhadap APBN dan perekonomian kita. Hal ini dikonfirmasi oleh peringkat Invetasi dari lima lembaga pemeringkat dunia (S&P, Moodys, Fitch, JCR, R&I). Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang memiliki Undang-Undang yang menjaga disiplin APBN (fiscal responsibilitas rules) dan konsisten menjalankannya. Disiplin fiskal pemerintah Indonesia ditunjukkan dengan kepatuhan terhadap besaran defisit dan rasio utang terhadap PDB. Beberapa negara yang juga memiliki legislasi untuk menjaga disiplin fiskal seperti Eropa Barat dan Brazil, telah beberapa tahun melanggar disiplin aturan mereka. Dengan demikian perhatian dan keinginan berbagai partai politik dan ekonom agar Indonesia terus menjaga disiplin fiskal adalah positif dan baik bagi reputasi dan kredibilitas ekonomi Indonesia. Pengelolaan APBN yang hati-hati dan baik menghasilkan perbaikan dalam bentuk menurunnya imbal hasil (yield) Surat Utang Negara berjangka 10 tahun dari 7,93 % pada Desember 2016, menurun menjadi 6,63% pada pertengahan Maret 2018. Ini prestasi yang tidak mudah, karena pada saat yang sama justru Federal Reserve Amerika melakukan kenaikan suku bunga pada akhir Desember 2016, dan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga tiga kali pada tahun 2017.

9) Disiplin fiskal tidak berarti kita menjadi ketakutan dan panik atau bahkan menjadi alergi terhadap instrumen utang. Kita harus tetap menjaga instrumen tersebut sebagai salah satu pilihan kebijakan dalam mencapai tujuan pembangunan. Utang bukan satu-satunya instrumen kebijakan. Ada instrumen lain yang sangat penting seperti pajak dan cukai dan penerimaan bukan pajak, ada instrumen belanja dan alokasinya, ada kebijakan perdagangan dan Invetasi, ada kebijakan ketenagakerjaan, kebijakan pendidikan dan kesehatan, kebijakan desentralisasi dan transfer ke daerah dll. Semua instrumen kebijakan tersebut sama pentingnya dalam pencapaian tujuan pembangunan, mempengaruhi kesejahteraan masyarakat dan menciptakan keadilan. Semua kebijakan ini juga harus sama-sama bekerja secara efektif dan keras untuk mencapai tujuan nasional. Oleh karena itu pemerintah melakukan reformasi perpajakan dengan serius, karena pemerintah sadar bahwa pajak merupakan tulang punggung negara. Pemerintah juga serius dalam memperbaiki iklim Invetasi, agar Invetasi dan daya kompetisi ekonomi dan ekspor kita meningkat. Hasilnya skor kemudahan Invetasi kita sudah semakin baik dan Indonesia menjadi tempat investasi paling menarik di dunia. Kita tetap harus waspada dengan kecenderungan kebijakan perdagangan yang proteksionis dari Amerika Serikat yang dapat menciptakan perang dagang yang berbahaya. Juga kebaikan suku bunga di Amerika Serikat berpotensi menimbulkan volatilitas. Semua kondisi ini dipertimbangkan secara matang dan hati-hati agar perekonomian Indonesia tetap dapat bertahan tumbuh tinggi, kemiskinan menurun dan kesenjangan menurun dan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur kita makin membaik.

10) Banyak langkah-langkah tersebut, termasuk pembangunan infrastruktur dan perbaikan pendidikan dan kesehatan serta jaminan sosial, baru akan menuai hasil pada jangka menengah. Misalnya, perbaikan kurikulum pendidikan, baru akan terlihat saat anak-anak menyelesaikan proses pendidikan (12 tahun untuk SMA dan Vokasi dan 16 tahun untuk hasil pendidikan tinggi). Kritikan bahwa banyak yang dilakukan pemerintah tidak memberikan hasil memuaskan saat ini, jelas tidak mempertimbangkan mengenai berapa lama proses suatu kebijakan dan proses konstruksi infrastruktur baru akan menuai hasil. Pemerintah setuju dengan anjuran bahwa kita perlu meningkatkan efektivitas kebijakan, mempertajam berbagai pilihan dan prioritas kebijakan dan memperbaiki tata kelola serta proses perencanaan, dan terus memerangi korupsi - agar setiap instrumen kebijakan dapat menghasilkan dampak positif yang nyata dan cukup cepat.

11) Oleh karenanya, hanya menyoroti instrumen utang tanpa melihat konteks besar dan upaya arah kebijakan pemerintahan jelas memberikan kualitas analisa dan masukan yang tidak lengkap dan bahkan dapat menyesatkan. Kita juga tidak akan mampu melihat permasalahan dan potensi ekonomi Indonesia. Lebih buruk, kita dapat mengerdilkan pemikiran dan menakut-nakuti masyarakat untuk tujuan negatif bagi bangsa kita sendiri. Itu bukan niat terpuji tentunya.

12) Sekali lagi, apa yang disampaikan oleh berbagai pihak yang peduli mengenai utang pada dasarnya TELAH dan SEDANG dilakukan oleh pemerintah. Sebagai Menteri Keuangan - saya berterima kasih atas berbagai analisa, masukan san bahkan kritikan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan keuangan negara dan memperbaiki kebijakan pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan sesuai cita-cita kemerdekaan kita. Mari kita bersama-sama menjaga keuangan negara secara konstruktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat secara berkeadilan. APBN uang kita semua.

Menkeu SMI

Tuesday, March 20, 2018

REAL LEADERS DON’T USE PPT

REAL LEADERS DON’T USE PPT
(Pemimpin sejati gak pakai slides)

Sore itu saya baru menyelesaikan sesi olahraga bersama Board of Directors yang lain di sebuah stadion di Rawamangun.
Pada saat menunggu driver saya, handphone pun berbunyi.
“Apakabar Pam”, kata seorang teman saya, seorang HR Director di sebuah BUMN ternama, sebut saja namanya Indra.

Beberapa minggu sebelumnya Indra minta tolong saya untuk presentasi tentang “Leadership in the disruptive era” untuk 100 leaders di perusahaannya.
Beberapa hari sebelum acara itu, Indra bertanya,”Slide nya Pam mana ya?”
Saya menjawab,”No slides! Real leaders dont need slides”

Saya meminjam istilah itu dari judul buku Christian Witt,”Real Leaders Dont Do PowerPoint”. Saya sangat setuju dengan kalimat itu, meskipun saya belum membaca buku itu.

But anyway, bukankah sebuah presentasi dari leader itu mestinya digunakan untuk
CONNECT
ENGAGE
MOTIVATE
audience nya (seringkali followernya).
 Berarti, bukankah, akan jauh lebih baik apabila seorang leader itu juga fokus pada menatap audience nya, melakukan contact mata dan connection, dan bukannya melihat pada slide nya ?

Itulah mengapa pada saat saya melalukan sharing session di depan 100 talent di perusahaan di mana Indra menjadi Director HR, saya tidak menggunakan slide satu pun.
Saya menghabiskan waktu saya untuk sharing concept atau topic intinya, kemudian mendengarkan dan menjawab pertanyaan mereka, tanpa satu slide pun!

Indra menceritakan bahwa sesi itu sangat disukai oleh para peserta.
Dan kebetulan minggu depan Indra akan mempersentasikan Talent Strategy di perusahaan itu. Indra pun bertanya tentang bagaimana untuk mempersiapkan presentasinya (tanpa slide!).

Saya pun menyuruh driver saya berbalik arah ke kantor Indra. Di sana saya disambut oleh Indra yang masih bekerja malam-malam bersama timnya.
Dan mulailah saya sharing tentang bagaimana membuat sebuah presentasi yang engaging dan connecting, tanpa menggunakan slides.

Pertama-tama, basic sebuah presentasi tetap berlaku, saya menamakannya 3C: Content, Context, Connection
Content: Kita harus sangat menguasai isi presentasi kita (WHAT we will present)
Context: adalah suasana yang mengelilingi dan menjadi alasan mengapa presentasi itu adalah relevant (WHY we need to send the message)
CONNECTION: adalah bagaimana kita akan membuat hubungan dua arah yang menarik dengan audience kita (HOW we will engage our audience).

Prinsip-prinsip di atas adalah prinsip yang berlaku buat sebuah presentasi pada umumnya, jadi pastinan bahwa anda memahami dan menjalankan prinsip tersebut.

Next... sekarang kita akan mengubah sebuah presentasi yang “biasa” (atau yang menggunakan slide), menjadi sebuah presentasi yang “engaging dan connecting” (tanpa  menggunakan slide!).
Kita ikuti lima langkah di bawah ini ...

a) CHOOSE YOUR CONTENT, based on the relevancy to audience

Pertama kali, pilih topik yang relevant dengan audience. Jangan memaksakan topik yang anda ingin sampaikan, tapi pilih berdasarkan apa yang audience anda ingin dengar.
Anda harus membuka presentasi anda dengan topik relevant ini. Setelah itu, anda bisa bridge ke topik topik lain.

b) BUILD YOUR STORY, CREATE your OWN MUSICAL

Banyak slide yang bagus, banyak content yang bagus. Itu seperti sebuah lagu yang sangat bagus. Tetapi pada saat anda berpresentasi, anda tidak hanya memainkan beberapa lagu dengan urutan acak. Anda hatus membuat cerita yang indah.
Mungkin ada yang melihat beberapa musical drama yang di filmkan seperti Sound of Music atau Laskar Pelangi (yang versi musical drama) .
Lihat bahwa di situ lagu-lagunya memang bagus. Tetapi sutradaranya memanng dengan pawai bisa menjahit antara satu lagu dengan lagu lain menjadi sebuah musical drama yang keren.
Pikirkan dan buat alur itu untuk sharing session anda.

c) OPEN with a BANG, CLOSE with a BIG BANG

Pernah melihat film James Bond? Adegan pertama pasti yang paling seru. Dan ini akan membuat penonton segera tertarik untuk menyimak.
Di tengah boleh boring dikit. Tapi di akhir harus ditutup dengan closing yang sangat keren, agar mereka bisa mengingatnya lama setelah itu.
Lakukan hal yang sama dengan presentasi anda. Sampaikan fakta atau prinsip yang mengejutkan, menarik atau sanggup memukau penonton anda.
Lanjutkan dengan sharing tentang topik topik lain yang perlu anda sampaikan!
Tutuplah presentasi anda dengan sebuah big bang, sebuah fakta yang keren dan mereka akan mengingatnya untuk jangka waktu yang lama!


d) WRITE YOUR CUE CARDs

Ok, ini kunci rahasianya. Anda memang tidak akan pakai slide. Tapi bagaimana anda akan membuat kartu-kartu kecil (kira kira sebesar ukuran buku paspor anda).
Dan di setiap kartu itu anda akan menuliskan (dengan spidol warna warni) materi utama yang akan anda sampaikan selama 3-5 menit.
Saya biasanya menyiapkan 10-20 kartu ini.
Pastikan tulisannya besar besar dan anda bisa melihatnya dengan selintas pandangan mata.
Kartu kartu ini akan membantu anda mengingat materi anda dan fokus kepada audience anda!

e) CONNECT with your AUDIENCE

Anda sudah memilih materinya,
menyiapkan alur ceritanya, membuat kartu kartu “contekannya”,  berarti tinggal satu lagi ya , just do your sharing session and create a maximum connection with your audience.
Tataplah mata  mereka, tersenyumlah bersama mereka, bacalah body language, tatapan mata, eye contact dan expresi wajah mereka, dan sesuaikan irama presentasi anda.

Jangan lupa untuk praktek, latihan, rehearsal dan repeat. Ini membuat anda akan semakin confident dalam presentasi anda.

Jadi ingat ya, untuk membuat sebuah presentasi yang “engaging dan connecting” (tanpa  menggunakan slide!),
Kita ikuti lima langkah di bawah ini ...

a) CHOOSE YOUR CONTENT, based on the relevancy to audience
b) BUILD YOUR STORY, CREATE your own MUSICAL
c) OPEN with a BANG, CLOSE with a BIG BANG
d) WRITE YOUR CUE CARDs
e) CONNECT with your AUDIENCE

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Monday, March 19, 2018

7 Skill STEM yang harus diajarkan ke anak kita

Just what skills do students need today to succeed in the future? We asked 7 leaders in STEM education what they think classroom teachers should focus on to prepare kids for jobs we haven’t even conceived of yet.
Many of our interviewees cited a diverse range of skills, but we challenged them to name at least one key ability they believe will be more critical than the rest in order to succeed in future STEM fields.
We were surprised by the equal mix of “soft” and more traditional academic skills mentioned, from creativity to statistics. Read on for more of what our experts had to say:

1. Statistics

“If I were to choose one specific discipline for students to study, it would be statistics, a course that can be applied across all STEM fields. You don’t need higher levels of calculus or physics for all STEM careers, but you do need statistics. A deep understanding of statistics means understanding probability and error rates, concepts that cut across almost any type of problem you want to solve in STEM.”
Gregg Fleisher, president, National Math and Science Initiative, Dallas, Texas 

2. Problem-Solving

“What binds together the STEM movement is the notion of modern skills. Employers talk about problem-solving. Society requires problem-solving. Doing your taxes requires problem-solving. Those are the types of skills that really matter. A practicing engineer will tell you, ‘I didn’t use the calculus I learned to solve problems on paper, but the way it taught me to solve problems and to think about problems was really important.’”
—James Brown, executive director of the STEM Education Coalition in Washington, D.C., and a nuclear engineer by training

3. Creativity

“Creativity can be simple and complex at the same time. We don’t always teach to think outside of the box. You’ve got to look at a problem from a different perspective sometimes. Teachers can nurture this by asking open-ended questions. In math and science, you can show different models so students get varying ideas of how it might look to bring together one idea. Or don’t show a model at all and leave it a little open-ended so they have to come up with a solution on their own. Ask: ‘Why do you think this is?’ Reflecting and explaining what they did to solve a problem can foster creativity and teach collaboration—another important skill.”
Jenny Nash, education specialist with LEGO Education in Boston, former middle school teacher and teacher-preparation instructor

4. Argumentation

“The act of arguing is using evidence to support a claim. In the STEM fields, this means using analytical and critical-thinking skills to look for patterns in data, trying to determine what those patterns mean, and then using that data to support a claim. This skill transfers across all disciplines. In an elementary school science class, for example, if you give students a lot of different experiences with noisemakers—everything from tuning forks to speakers to whoopee cushions—they have the experience of collecting data. And then they will be able to use that data to make the argument that sounds are caused by vibrations.”
—Eric Brunsell, associate professor of science education and director of the teacher education program at University of Wisconsin, Oshkosh

5. Intellectual Curiosity

“The days of coming into an organization and having the same role forever are over. Many people will have two-year stints and then are moved into a different role. That’s the nature of modern career paths. Beyond mastering content, individuals need to be innovators, learn from failures and keep moving on. You need to cut across disciplines and be able to ask the questions that help build connections. People need to be lifelong learners and be driven by an intellectual curiosity to try to figure things out.”
—Ted Wells, vice president and chief strategy officer at STEMconnector®, in Washington, D.C.

6. Data-Driven Decision-Making

“Students need to be able to make a decision not just based on what they think or feel, but on scientific data that supports the best solution. Everyone needs to know how to do this. It doesn’t matter whether you go on to a career in STEM or not—you need to know how to use data to make informed decisions in your life.”
Stacy Klein-Gardner, director of Center for STEM Education for Girls at Harpeth Hall School in Nashville, Tennessee. She is a biomedical engineer and on faculty at Vanderbilt University.

7. Flexibility

“People are now required to adapt quickly to new demands and new situations. They need quantitative skills to manipulate data well. They need to be able to communicate clearly. There is a broad set of skills that, I would argue, everyone needs. Just look at the sheer number of people in manufacturing who were skilled at what they did but who now need a whole new set of skills, often late in their careers, to be viable in the job market. They need to know statistics, technology, quality control. They need to understand programming and systems to ensure the automated production technology is operating correctly. The trick for teachers is to give their students authentic problems to tackle in school, problems that require students to draw on different areas of knowledge and skill.”
Claus von Zastrow, chief operating officer and director of research for Change the Equation in Washington, D.C.
source: https://www.weareteachers.com/important-stem-skills-teaching-kids/

6 Pilar untuk Digital Success

Sunday, March 18, 2018

TULISKAN BAB PERTAMA DI BUKU KEHIDUPAN ANAK-ANAK ANDA

TULISKAN BAB PERTAMA 
DI BUKU KEHIDUPAN ANAK-ANAK ANDA
(WRITE THE FIRST CHAPTER
OF YOUR CHILDREN's BOOK of LIFE)

Banyak sekali saya mendengar cerita tentang orang tua yang memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.
Ada teman saya yang memaksa anaknya kuliah kedokteran , karena dia dulu gagal masuk fakultas kedokteran. Ada yang memaksa anaknya menjadi IT engineer, karena ayahnya gagal masuk jurusan IT.
Dan walaupun ada yang akhirnya berakhir dengan baik, saya juga menemukan banyak di mana anaknya stress, sakit-sakitan, dirawat psikiater, atau ada juga yang akhirnya drop out. Ya iyalah, bagaimana orang bisa perform kalau gak punya passion di situ?

Pertanyaannya adalah sebenarnya apakah tugas dan kewajiban orang tua itu? Apakah memang kita harus mendidik mereka dengan menanamkan nilai-nilai luhur dan budi pekerti? Memberikan pendidikan karakter yang baik? Atau apakah orang tua juga berhak memaksakan kehendaknya agar anak-anak mereka memilih kuliah dan pekerjaan yang orang tua sukai (dan belum tentu sukai?).

Siang itu saya makan siang bersama seorang lelaki paruh baya yang sudah sukses mendidik anaknya. Sebut saja namanya Pak Bakti. Beliau adalah purnawirawan Jendral yang sekarang menikmati hari tuanya dengan menjalankan hobbynya dan banyak melaksanakan kegiatan amal. Anak-anaknya sudah sukses di mana-mana, dan pak Bakti juga sering dikunjungi cucu-cucunya, yang menambah kebahagiaannya.
Dan saya pun bertanya,"Apakah sebenarnya tugas orang tua itu?"
Pak Bekto menjawab dengan sangat bijak,"Ibaratnya kehidupan anak kita itu adalah sebuah buku, maka tugas orang tua adalah menuliskan bab pertama"

Ingat baik-baik, hanya menuliskan bab pertama. Mulai bab kedua dan seterusnya, biarkan mereka menuliskan bukunya sendiri.
Orang tua hanya memainkan peran sebagai pembaca yang baik, cuma baca, jangan menjadi penulis lagi, penyunting atau editor.
Satu-satunya yang orang tua lakukan adalah membaca buku kehidupan anak-anak itu.

Pak Bakti melaniutkan," Sekarang saya tinggal menikmati hidup dan melihat mereka berbahagia. Saya tidak mencampuri kehidupan mereka, karena memang mereka sudah saya biasakan untuk merencanakan dan menata kehidupan mereka. Itulah mengapa mereka harus menulis sendiri kehidupan mereka sejak bab kedua buku mereka."

Saya bertanya,"Sebagai
orang tua, bapak yakin bahwa mereka tidak akan berbuat salah? yang mungkin bisa mencelakakan mereka sendiri? atau mungkin merusak nama baik keluarga?"

Pak Bakti meneruskan,"Makanya kita sebagai orang tua harus menuliskan bab pertama dengan baik. Dan itu berarti mendidik mereka dengan nilai-nilai yang baik, membentuk karakter mereka, dan terutama memberikan contoh dan teladan yang baik. Kalau bab pertama sudah dituliskan dengan baik itu seperti rumah yang fondasi dan tiang bajanya sudah jadi. Setelah itu kita lepas, ya kalau salah-salah paling gentengnya bocor dan bisa ditambal, tapi rumahnya tidak runtuh kan?"

Wah keren sekali, saya sampai terkagum-kagum dengan betapa bijaknya beliau.
Tapi kalau dipikir-pikir benar juga kan? Kalau semua fondasi karakter anak-anak kita sudah kukuh , mestinya anak-anak itu sudah bisa dipercaya dan mengepakkan sayap mereka sendiri menerbangi dunia. Lepaskan mereka terbang, biarkan mereka mengarungi samudera, meraih mimpi mereka (bukan mimpi anda!).

Bagaimana kalau mereka berbuat salah? That's how they learn. They have to try. They have to experiment. And if they make mistake, they will learn and improve. And if they fail, they will do better next time. And if they fall , they will stand up again again.
Keteguhan dan ketegaran itulah yang diperlukan.
Mereka membutuhkan persistence dan perserverance. Mereka tidak membutuhkan orang tua yang selalu melindungi dan selalu mencampuri urusan mereka. Voila !

Terus bagaimana kita bisa menulis bab pertama? Bagaimana kita bisa mendidik, menanamkan nilai-nilai, dan membentuk karakter mereka?
Kita coba terapkan kelima langkah di bawah ini ,...

a) UNDERSTAND what ARE the VALUES that you want to build in your FAMILY

Pertama kali tentu saja kita harus mengerti nilai-nilai yang ingin anda tanamkan kepada anak-anak anda.
Apakah itu kejujuran, keberanian, courage, curiosity, creativity ....?
Atau apapun, tentukan 4-5 prinsip yang akan sangat penting untuk dianut dan dilaksanakan oleh anak-anqk anda. Sangat penting untuk menetapkan nilai-nilai itu agar anda bisa menerapkan dan mengajarkannya secara konsisten!

b) BE THE CHANGE you WANT TO BE

Setelah anda menentukan nilai-nilai itu, tentu saja orang tua harus memulai dengan melakanakan nilai nilai tersebut. Be the change you want to be. Any change will start by changing yourself!

Jangan berharap anak anak anda akan rajin membaca, kalau anda sendiri tidak rajin membaca.
Jangan berharap anak anak anda akan selalu jujur, kalau anda sendiri tidak selalu jujur.
Jangan berharap anak anak anda akan berani bereksperimen dan mengambil resiko, kalau anda sendiri tidak melakukannya.
Monkeys see, monkey do!
Your children will follow whatever you do!

c) SURROUND YOUR FAMILY with POSITIVE AURA

Bantulah anak-anak anda untuk berkembang dalam lingkungan yang auranya sangat positif.
Pilihlah sekolah, teman-teman mereka, lingkungan rumah, bahkan keluarga besar (om, tante dan sepupu) yang akan memberikan aura positive pada perkembangan karier mereka.

Kalau sekolah mereka tidak ber-aura positive? Pindah! Bayar lagi uang pangkal dan uang bulanan. Karakter dan masa depan anak anda lebih penting dariada uang itu.
Kalau lingkungan rumahnya tidak positive, pindah rumah!
Kalau om-om dan tante-tante mereka atau sepupu mereka tidak memberikan pengaruh positive pada mereka, jangan sering-sering mereka bertemu mereka. You need to protect your own children from any negative influence!

d) HELP THEM to CRAFT the DREAM of YOUR 
CHILDREN (not yours)

Bantu mereka membangun mimpi dan cita-cita mereka. 
Tanyakan apa hobby dan bidang yang mereka sukai.
Tanyakan cita-cita mereka?
(Jangan berkomentar apakah cita-cita mereka itu akan anda sukai atau tidak, we are talking about their dreams not yours)
Tell them how how great and how wonderful their life will be when they reach their dream.
Motivate them to work hard to achieve it.
Tanyakan pada mereka, apa yang anda bisa bantu ?

e) LET THEM FLY 

Setelah karakter mereka tumbuh dengan kuat dan mereka mempunyai cita-cita yang jelas, biarkan mereka terbang, pandangi mereka dari jauh, jangan mencampuri semua urusan mereka. Tanyakan kalau ada yang bisa anda bantu. Kalau tidak, biarkan mereka bereksperimen dengan kehidupan mereka, biarkan mereka kadang-kadang mengalami kegagalan, dan biarkan mereka bangkit kembali. Karena itulah yang akan menempa keteguhan dan ketegaran mereka!

Jadi ingat ya, sebagai orang tua , tugas anda bukanlah untuk mendikte dan mencampuri semua urusan anak anak anda. Tetapi untuk mendidik mereka, menanamkan nilai-nilai dan mengembangkan karakter mereka.
Dan anda bisa melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah di bawah ini ....

a) UNDERSTAND what ARE the VALUES that you want to build in your FAMILY
b) BE THE CHANGE you WANT TO BE
c) SURROUND YOUR FAMILY with POSITIVE AURA
d) HELP THEM to CRAFT the DREAM of YOUR CHILDREN (not yours)
e) LET THEM FLY

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Sunday, March 11, 2018

WHAT TO DO, IF YOU FAIL?

WHAT TO DO, IF YOU FAIL?
(Apa yang anda lakukan, ketika anda gagal)

Pagi itu saya sedang nyetir si saya sendiri menyelusuri jalan tol Jagorawi. Hari Sabtu pagi, biasanya saya hobby bangun jam 4 pagi dan memacu mobil hitam kesayangan saya dengan kecepatan 200 km/jam. Sesampainya di tujuan, saya mengecek handohone saya, ternyata seorang follower saya mengirimkan message. Sebut saja namanya Irma , yang tentunya  bukan nama sebenarnya.

"Pak Pam, apakah Pak Pam pernah gagal? Dan apa yang Pak Pam lakukan pada saat anda gagal?"
Wah pertanyaan menarik, jadi mari kita bahas yuk.
Tapi tunggu dulu, kita ngopi dulu. Saya pun menyeduh air panas dengan kopi dan  cream yang saya campur dengan madu pahit kesukaan saya.
Ok , kita mulai .....

Pertanyaan pertama, apakah saya pernah gagal? Off course I did! Tentu saja saya pernah gagal, berkali-kali! Mungkin berpuluh-puluh kali.
Saya pernah gagal menjadi Juara Catur di kota kelahiran saya, meskipun saya berlatih keras. Saya pernah gagal waktu "menembak" adik kelas saya yang paling cantik waktu SMP, meskipun saya berjam-jam melatih kata-kata yang akan saya ucapkan.
Saya pernah gagal mendapatkan beasiswa ke negara yang saya inginkan, saya ingin ke Jerman, meskipun akhirnya saya "hanya" bisa pergi ke Perqncis.
Saya pernah gagal diterima di perusahaan yang saya inginkan!
Dan saya bisa menuliskan puluhan kegagalan saya.
Dan saya yakin suatu saat saya akan mengalami kegagalan lagi (so what?).
Mentor saya (waktu saya bekerja di Finlandia) pernah bercerita ke saya,"Bedanya yang sukses dan yang tidak, itu bukannya yang sukses tidak pernah gagal. Tetapi adalah bahwa yang sukses itu selalu mencoba dan mencoba lagi, bangkit dan bangkit lagi. Sementara yang lain akan menyerah dan gak mau mencoba lagi! Dan itulah yang memotivasi saya untuk selalu mencoba dan mencoba lagi, bangkit dan bangkit lagi!

Dan mentor saya waktu itu bercerita , bahwa kegigihan (atau bahasa kerennya Adversity Quotient) itu seperti keberanian kita mengayuh pedal sepeda sekencang-kencangnya pada saat kita lomba balapan sepeda.
(Saya dulu pengamat balapan sepeda Tour de France. Dan saya pernah mengikuti Miguel Indurain dengan Yellow Jersey, memulai startnya di Le Puy du Fou di Vendee, sampai menjadi juara dan finnish di depan Le Champs Elysee).
Pada sebuah balapan sepeda, kalau anda ingin melaju lebih cepat dari yang lain, anda harus mengayuh pedal lebih keras dari yang lain. Dan itu berarti anda harus berani mengambil resiko lebih besar dari yang lain. Dan itu  berarti resiko anda untuk jatuh juga akan lebih besar daripada yang lain!
Terus kalau anda jatuh gimana dong? Ya bangun lagi, pasang pantat di sadel dan mengayuh lagi sekencang-kencangnya!
That's it! Life is simple!
Dan itu berlaku bagi pembalap sepeda, karyawan yang membina kariernya (seperti saya dan anda-anda semua), dan juga para enterpreneur (yang harus mencoba membuka bisnis, mengambil resiko dan mungkin akan bangkrut atau tertipu!).
It all works with the same principle:
a) You try
b) You take the risk
c) If you fail, you get up and try again!

Pertanyaan kedua dari Irma,"Apa yang anda lakukan, ketika anda gagal?" 
Well, jawabannya mudah. Anda mencoba lagi!
Meskipun itu mudah diucapkan , tetapi sulit dilakukan.
Jadi saya akan cerita tentang kegagalan yang pernah saya alami dalam hidup saya.

Waktu saya di SMA, bapak saya bilang,"Nak, pilihanmu ada dua: kuliah di ITB atau mencangkul di sawah. Bapak gak punya uang untuk membiayai kamu kuliah swasta"
Damn it! Mencangkul di sawah? No way. Bagi yang pernah bersalaman tangan dengan saya, anda akan tahu bahwa tangan saya itu sangat halus. Dan saya tidak akan pernah membiarkan tangan-tangan halus saya menjadi kasar karena saya harus mencangkul di sawah di tengah teriknya matahari :-).
Oke berarti saya harus ke ITB, dan saya ingin masuk jurusan favorit saya di Teknik Informatika.

Maka saya pun belajar keras, bekerja keras, tidak pernah nonton TV, tidak pernah berolahraga (memang gak suka), dan tidak pernah pacaran (memang gak ada yang mau !).
Waktu klas 3 SMA ada program bebas test, saya mendaftar ke Teknik Informatika ITB. 
Gagal! Padahal saya sudah belajar keras.
Kecewa? Iya! Sedih ? Pasti!
Putus asa? Jangan!

Saya pun mengikuti tes masuk biasa untuk masuk ke perguruan tinggi.
Pertanyaannya, kalau kita gagal, apakah kita harus menurunkan cita-cita kita? Tidak! Persiapannya yang harus ditambah , maka saya harus belajar dan bekerja lebih keras lagi. Jadi saya tetap mendaftar ke Teknik Informatika ITB. 
Ternyata saya gagal lagi, dan saya "hanya" diterima di pilihan kedua saya di Teknik Industri ITB.
Padahal saya masih terobsesi untuk masuk ke Jurusan Teknik Informatika.
Saya pun mendaftar program beasiswa ke luar negeri untuk program Teknik Informatika.
Maka saya pun belajar dan bekerja lebih keras lagi (untuk itu saya bahkan sering membolos kuliah saya di ITB, untuk belajar sendiri).
Beberapa bulan kemudian, saya pun diterima dan mendapatkan beasiswa untuk program S-1 di Perancis dan di jurusan Teknik Informatika (finally!).

Jadi, kalau anda gagal , itu bukan berarti cita-cita anda harus direndahkan, itu berarti anda harus menambah kerja keras anda !

When you fail, 
it does not mean that 
you have to lower your dream.
It just means that
you have to work harder
and harder!

Sometimes it is not about how good you are. Sometimes it is about how much you want to achieve it!
Bayangkan kalau saya menyerah setelah gagal pertama kalinya,
mungkin sekarang saya masih di Magetan mencangkul
sawah di sana.

So my friend, it is perfectly ok to fail. You just need to get and keep trying again and again!
And if one day you will fail again (like I am sure that one day I will fail again), you just  need to get up again, learn from your mistake , improve yourself and try again!

Jadi bagaimana caranya untuk belajar dari kegagalan anda? Coba ikuti kelima langkah di bawah ini ....

a) LEARN FROM YOUR FAILURES

Langkah pertama bukannya menyesali, meratapi atau menangisi sebuah kegagalan. Tetapi belajar dari kegagalan itu.
Jadi sesaat setelah anda gagal, anda mengambil sebuah buku tulis kosong. Dan menuliskan apa kegagalan anda dan mengapa menurut anda , anda gagal!
Analisa dan pelajari hal itu. Ini akan sangat berguna di masa depan!

b) CREATE YOUR INVENTORY of YOUR OWN GOOD and BAD MOVES

Bikinlah daftar,
apa saya menurut anda yang sudah anda lakukan dengan baik, teruskan hal-hal ini
apa saja yang menurt anda , masih bisa diperbaiki lagi, dan bekerja keraslah untuk memperbaikinya

c) MOVE ON, LEARN and IMPROVE YOURSELF

Jangan seperti anak SMP yang diputuskan pacarnya dan gagal move on. 
And harus secepat mungkin Move on ... segera mencari apa yang bisa anda perbaiki dari diri anda sendiri.
Kalau anak SMP pacaran dan diputusin, kadang bisa salahnya dia , bisa salahnya (mantan) pacarnya.
When you grow up and  be an adult, take ownership, take responsibility and accountability. The only person that you can  blame is yourself!

So the only person that you have to improve is also yourself!
Learn hard, work hard on improving yourself.

Anggaplah anda sebagai patung  karya besar seorang seniman terkenal. You are never finnished, you are never perfect. There is always one area to improve yourself!

d) DO YOUR BEST IN YOUR NEXT EXPERIMENT

Ciptakan atau cari kesempatan berikutnya. Persiapkan dengan maksimal. Lalukan yang terbaik pada kesempatan berikutnya!
Jangan setengah-setengah. Kesempatan itu sulit didapatkan. Sekali anda bisa mendapatkan kesempatan itu  gunakan semaksimal mungkin!

e) BE PERSISTENT, JUST CONTINUE again and again, and YOU WILL ACHIEVE YOUR DREAM

Pada saat anda bekerja keras di kesempatan  berikutnya, bukan berarti anda pasti akan berhasil. Tidak ada yang pasti dalam dunia bisnis.
Anda harus keukeuh, tegar dan ulet. Keep trying again and again. Just try and try again, and I am sure that one day you will achieve your dream.
And if you never reach your drean (which is also ok sometimes), with all the preparation and hard work, I am sure you will get the 2nd  best or the 3rd  best.
In my case, saya gagal mendapatkan beasiswa ke Jerman, tapi karena saya belajar keras, tetap saja saya dengan belajar keras saya, akhirnya saya berhasil mendapatkan beasiswa ke Perancis, which is also OK!

Jadi ingat ya, untuk belajar dari kegagalan anda, memperbaiki diri dan mencoba lagi, Coba ikuti kelima langkah di bawah ini ....

a) LEARN FROM YOUR FAILURES
b) CREATE YOUR INVENTORY of YOUR OWN GOOD and BAD MOVES
c) MOVE ON, LEARN and IMPROVE YOURSELF
d) DO YOUR BEST IN YOUR NEXT EXPERIMENT
e) BE PERSISTENT, JUST CONTINUE, and YOU WILL ACHIEVE YOUR DREAM


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Saturday, March 10, 2018

SDM adalah Aset terbesar Organisasi kita

"SDM adalah Aset terbesar Organisasi kita"

Masalah selalu ada disekitar kita karena masalah itu bersifat menumbuhkan dan menguatkan bukan meenghancurkan atau menyakiti tetapi kita perlu tau dan mengerti esensi terdalam dari masalah yang kita hadapi.

Sambutlah masalah hidup kita dengan tenang dan bersyukur karena masalah itu telah dan akan membahagiakan masa depan kita, kita hanya perlu komitmen menyelesaikan semuanya dengan bijak.

Sama seperti hidup kita, Organisasi dimana kita tinggal juga dikelilingi sejumlah masalah dan itu pasti datang setiap saat pada waktunya, tinggal kita mempersiapkan amunisi Sumber Daya yang kita miliki untuk menghadapi dan menyelesaikannya, dan Sumber Daya yang paling penting yang harus kita siapkan adalah SDM kita karena mereka investasi dan asset terbesar yang kita miliki.

Siapkan SDM kita untuk menyongsong masalah apapun yang kemungkinan terjadi karena mempersiapkan SDM handal mengatasi masalah sama dengan mempersiapkan Organisasi kita menjadi semakin besar, Profesional dan berkembang karena kekuatan Organisasi kita sangat ditentukan kekuatan SDM yang kita miliki.

Fajar Riadi DS
(Human Capital Specialist)

Friday, March 09, 2018

Peran Orang tua sebagai pemimpin


PARENTs as LEADERS
(Peran Orang tua sebagai pemimpin)

Pada saat saya launching buku saya yang kedua (LEAD Differently), tiba-tiba ada seorang peserta wanita yang bertanya,"Pak Pam , apakah teori kepemimpinan dalam bisnis bisa juga diterapkan dalam keluarga di mana orang tua harus memimpin anaknya?"
Pertanyaan keren ini diucapkan oleh Ibu Dita , yang pada hari itu memakai baju hijau tosca yang pas dengan hijab yang dipakainya.

Tentu saja bisa diterapkan. Karena memang tugas orang tua adalah memotivasi dan mengembangkan (developing) anak-anaknya (seperti halnya tugas leader untuk motivate and develop the talents in the company).Dan tujuan akhirnya adalah tercapainya business objective (long term financial success) bagi perusahaan dan tercapainya career aspiration karyawannya.

Dan tentunya bagi keluarga juga sama bahwa tujuan kita mendidik anak-anak kita adalah agar anak-anak kita juga mencapai cita-cita mereka, mendapatkan pekerjaan dan karier yang bagus yang mereka inginkan, sehingga mereka juga bisa financially independent (seriously, masak kita mau anak-anak kita gangguin kita masalah keuangan selamanya?).
Which is the same concept dengan business and people leadership kan?

Terus bagaimana menerapkannya? Prinsip utama seorang leader adalah memindahkan fokus dari "performing by himself" menjadi "helping others to perform!"
Analogy nya adalah seperti memindahkan focus dari pemain bola (yang jago) menjadi pelatih sepakbola.
Dan ini berarti mengecilkan ukuran "EGO" yang kita miliki (dan ini sulit kan?).

Menjadi orang tua juga sama, bapak-bapak dan ibu-ibu.
Kalau dulunya anda selalu sibuk memikirkan tentang anda sendiri (karier anda, performance anda di pekerjaan, penampilan anda!) sekarang fokus anda berpindah kepada anak-anak anda (bagaimana mereka perform di sekolah mereka, bagaimana mereka mempunyai hobby yang positive, bagaimana mereka mengembangkan kreativitas mereka dan terutama bagaimana kita mendidik mereka untuk menjadi manusia berkarakter mulia!).
Susah kan? Ya memang susah, kalau gak mau hidup susah, jangan jadi orang tua, jomblo aja seumur hidup, lebih gampang kok!


And please jangan bilang bahwa menjadi orang tua jaman NOW itu susah! Memangnya anda pernah menjadi orang tua jaman tahun 60-an atau tahun 80–an dan bisa membandingkannya? Jangan mengecilkan beratnya perjuangan BONYO kita (baca orang tua kita) untuk mendidik kita bro (and sis!). It was extremely challenging.

Orang tua mestinya mengerti bahwa ada saatnya mereka berhanti fokus dari pemain ke pelatih. Ada masa di mana mereka harus memusatkan fokus mereka pada mendidik anak-anak mereka, dan bukan hanya fokus pada pengembangan ego dan pengembangan karier mereka sendiri!
Berapa banyak orang tua yang karier nya sukses tetapi pendidikan anaknya berantakan ?
Ini adalah kegagalan mereka sebagai leader (dalam keluarga!)

Makanya saya sangat menghargai orang tua yang mampu menyeimbangkan pengembangan karier mereka dan masih juga focus pada bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka!
Atau kepada ibu-ibu rumah tangga yang memilih untuk tidak bekerja dan ingin focus pada mendidik anak-anak mereka (asalkan benar-benar mendidik anak, dan bukannya arisan dan reuni SMA setiap hari :-)
Mereka itu mampu memindahkan fokus dari "performing by themselves" menjadi "helping others to perform", dari "memikirkan prestasinya sendiri" menjadi "membantu anak-anaknya untuk berprestasi!"
Hebat! Dan itulah definisi dari seorang leader!
Berarti anak-anak yang prestasinya bagus itu sebagian  besar lahir dari orang tua yang leadershipnya sangat bagus!

Pertanyaan yang harus kita tanyakan apabila anak-anak kita tidak berprestasi, bukannya memarahi dan menanyakan mengapa mereka tidak berprestasi, tetapi adalah apakah kita adalah leader yang baik yang mampu memotivasi dan men-develop mereka atau tidak? JLEB! JLEB! JLEB!

Terus bagaimana dong, untuk menjalankan tugas kita sebagai leader di keluarga kita agar mampu memotivasi dan men-develop anak-anak kita?

Coba kita ikuti kelima langkah di bawah ini ....

a) SPEND TIME WITH THEM (both QUANTITY and QUALITY)

Yang pertama adalah spending time dengan anak-anak anda. Usahakan anda benar benar melalui waktu yang berharga ini untuk menjalankan tugas anda sebagai orang tua (dan leader) yang baik.
Jangan bersembunyi di balik alasan "Yang penting quality time, bukan quantity!", well it is stupid! You have to do both: quantity and quality time! 

b) GIVE THEM GOOD EXAMPLES

Sebagai seorang leader, tentunya anda diharapkan menjadi role model dan contoh yang baik bagi anak anak anda.
Kalau anda mengharapkan anak anak anda rajin membaca, apakah anda juga rajin membaca buku? (jangan jangan anda nyuruh anak anak anda membaca, padahal anda sibuk di handphone anda membaca 12 WhatsApss group teman-teman anda di kampus dulu?).
Kalau anda menyuruh mereka rajin belajar, apakah anda juga masih sering belajar!
Berikanlah contoh dan teladan yang baik.
Jangan berkata,"Saya kan sudah belajar dulu waktu saya masih sekolah"
Well, sayangnya anak-anak anda gak punya mesin waktu (time-machine) yang bisa mengantarkan mereka ke masa silam yang membuat mereka bisa melihat betapa papa-mamanya rajin belajar (pada waktu itu). 
Mereka membutuhkan contoh yang baik yang mereka bisa lihat, SEKARANG!!!

c) HELP THEM to CRAFT THEIR OWN DREAM (not YOURS)

Tanyakan pada mereka bidang apa yang mereka suka. Tanyakan pada mereka cita-cita mereka apa.
Ini akan lebih mudah untuk memotivasi mereka. Jangan memaksakan sebuah karier atau pekerjaan buat mereka karena apa yang anda suka.
Ini tentang mereka! Kehidupan mereka! Masa depan mereka! Biarkan mereka memilih masa depan mereka sendiri!

Kemudian, gambarkan kepada mereka betapa indah dan menyenangkan hidup mereka apabila mereka mencapai mimpi mereka (setelah bekerja keras untuk mencapainya!).
Ajak mereka bertemu atau berkenalan dengan orang-orang yang sudah sukses dan mencapai cita-citanya!
Motivasi mereka terus menerus, tanpa henti, tanpa lelah dan tanpa jenuh.
Kuncinya adalah pada keuletan anda, keukeuh, persistence and perserverance dalam memotivasi mereka.

d) DONT be AFFRAID to GIVE THEM FEEDBACKS both POSITIVE and NEGATIVE

Jangan takut, jangan segan, jangan ragu-ragu untuk memberikan feedback ke mereka.
Sampaikan pujian pada saat mereka benar benar melakukan sesuatu yang positive.
Tetapi juga sampaikan kiritikan (bukan kemarahan) pada saat mereka melakukan yang negative.
Tanyakan apakah kalau mereka terus menerus melakukan itu, apakah mereka akan bisa mencapai mimpi dan cita-cita mereka?

e) REWARD them for their EFFORT, consistently

Terakhir, jangan lupa untuk me-reward mereka, celebrate, dan memberikan hadiah kepada merek atas usaha dan kerja keras yang mereka lakukan, bukan hanya hasilnya, tapi terutama usaha dan kerja kerasnya!

Jadi ingat ya, sebagai leader yang baik di keluarga kita, yang (semoga) mampu memotivasi dan mendidik anak-anak kita, coba lakukan kelima hal ini .....
a) SPEND TIME WITH THEM (both QUANTITY and QUALITY)
b) GIVE THEM GOOD EXAMPLES
c) HELP THEM to CRAFT THEIR OWN DREAM (not YOURS)
d) DONT be AFFRAID to GIVE THEM FEEDBCKS both POSITIVE and NEGATIVE
e) REWARD them for their EFFORT, consistently

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto