Hari - hari ini, luar biasa... meskipun sepertinya melambat, padahal saya sedang berlomba.
Berlomba dengan waktu. Suatu hal yang biasanya memang saya kerjakan, tetapi ini, beda!
Sekarang ini saya berlomba dengan waktu, dengan investasi yang saya lakukan, saya gambling, dalam 3 bulan, it must be something!
Sudah hampir 1 bulan, DCM berjalan, proyek baru beberapa, tapi opportunity, khususnya bidang SMS luar biasa. Dan "salto" nya saya ini tidak percuma. Ada beberapa calon klien besar yang interest dengan apa yang sedang saya kerjakan sekarang ini. Bahkan masih ada yang blm sempat terpegang. Tapi anyway, saya cukup senang.
Dan kembali ini menimbulkan semangat, semangat juang yang mungkin kemaren sempat hilang, karena saya tahu, pasti Tuhan kasih jalan, kok. Dan apa yang saya istilah gambling ini, mudah-mudahan tidak gambling, tetapi gamblang. Jelas dan terarah.
I hope so. Memang tidak mudah merintis usaha baru dalam waktu yang cepat ini, 3 bulan sudah harus dapat client, bahkan mengembalikan pinjaman pula, tapi pasti bisa. Saya percaya itu ada.
Thankz. God.
Saya hanya seorang yang berpikiran sederhana, mencoba memahami dunia penuh kerumitan, mensyukuri setiap langkah yang diberkati, mendoakan harapan dan berharap hidup saya membuat banyak orang merasa sungguh hidup..
Translate
Friday, June 17, 2005
Wednesday, June 08, 2005
Entrepreneur Indonesia
Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan tidak sengaja dengan salah satu rekan perjuangan. Saya pikir istilah rekan perjuangan ini lebih tepat, karena sebenarnya kami sama-sama memiliki keinginan besar untuk membuat lingkungan yang lebih membuat entrepreneur-entrepreneur muda Indonesia dapat bermunculan, tumbuh dan berkembang.
Adapun beliau adalah pemimpin redaksi majalah Entrepreneur Indonesia, sebuah majalah yang secara khusus bagi segmentasi entrepreneur. Kami berbicara dan berdiskusi tentang beberapa hal, adapun pertanyaan saya yang pertama adalah berapa banyak oplah majalah tersebut.
Kami menyadari beberapa hal yang sebenarnya melandasi perjuangan kami, betapa kami rindu untuk melihat entrepreneur tumbuh subur di Indonesia, sementara kami berbincang, di luar sana, para pelaku entrepreneur, baik dari skala kecil, mulai dari si Amir - penjual koran, si Anto - penjual Aqua di lampu merah, si abang kita yang mulai mengangkut barang kakilimanya dengan bis untuk berjualan di jatinegara, si Akong yang keluar masuk toko berjualan obat, si Umar sang makelar mobil di tebet, si tono yang kerjanya membantu mengurus aneka surat-surat, semuanya punya tujuan satu - menghidupi diri dan keluarganya dengan kemampuan yang mereka miliki - meskipun sangat kecil.
Jadi tidak ada bedanya, yang berkemeja rapi di belakang meja, mencari peluang bisnis, memikirkan ide, menjual, menghitung profit, ataupun yang berkeringat deras menunggu jualannya laku, menukarkan uang kembalian, menghitung profit dan memikirkan ide2 pengembangan usahanya sambil menghisap rokok. Kami semua bertujuan sama.
Inilah Indonesia, dengan keragamannya, dengan berbagai suku bangsanya, semuanya berusaha, berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah kita semua memang dipersiapkan untuk menjadi entrepreneur ?
Apakah kita cukup bangga bertitelkan "wiraswastawan" ? Apakah orangtua, keluarga kita cukup bangga memiliki keluarga seorang "wiraswasta" ? Apakah sekolah dan lingkungan kita mendukung dan mempersiapkan kita untuk menjadi seorang wiraswasta / entrepreneur ? Apakah kita memang sekolah dan kuliah untuk menjadi seorang wiraswasta / entrepreneur, sementara dalam visi dan misi mereka seolah telah menjadi kewajiban utk mencetak entrepreneur..
Hampir semua jawaban di atas, saat ini, masih TIDAK. Kita kadang lebih bangga memiliki titel karyawan, berlindung di balik nama besar perusahaan kita, semakin kita bekerja di perusahaan yang besar, maka semakin bangga lah kita. Demikian juga dengan orangtua dan keluarga kita, seolah menjadi kebanggaan apabila keluarganya bekerja di bank ternama, perusahaan terkenal dunia, dan ini memang wajar. Kita memang tidak dipersiapkan khusus dalam sekolah dan kuliah kita, banyak di antara kita, keluar dan bingung untuk menjadi apa, kita bingung harus bekerja di mana, tidak pernah terpikir (mungkin jarang) apa yang bisa kita kerjakan.
Inilah yang harus kita rubah, pola pandang kita kepada sang Wiraswasta, sang Entrepreneur. Kebanyakan para wiraswasta & entrepreneur ini "jadi" karena kepepet, karena lingkungan. Sudah saat nya kita rubah. Kita rubah pola pendidikan kita, bagaimana sedini mungkin, anak-anak SD memikirkan cara menjual apa yang bisa mereka hasilkan, apa yang bisa mereka kelola, demikian seterusnya. Kita harus membuat inkubator, dan saat ini inkubator yang paling mudah kita mulai adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan berperan dalam membentuk jiwa enterepreneur inilah yang harus kita rumuskan. Istilah kami dalam perbincangan sore itu adalah kita tidak hanya menjadi BROKER, kita harus jadi PLAYER, seorang player tahu bagaimana harus bertindak, bagaimana strateginya, bagaimana next-stepnya, ide seorang player harus cemerlang.
Nach, celakanya, selama ini kita dididik menjadi broker, menjual sebagai perantara, negeri ini dikuras dijual ke orang, padahal banyak sekali yang bisa kita kelola sendiri, kita "play" sendiri. Ini - mata harus terbuka untuk melihat ini, karena selama ini kita menutup mata kita dan menggampangkan diri kita hanya untuk menjadi BROKER bukan PLAYER. Mulailah dengan lingkungan kita sendiri, apa yang bisa kita buat untuk membentuk PLAYER ini muncul. Lihatlah anak Anda, keluarga Anda, apakah mereka memiliki potensi ?
Dorong dan dorong terus mereka untuk mengembangkan apa yang mereka kuasai dengan baik - tujuannya agar mereka menjadi PLAYER di bidang mereka - memiliki kompetensi.
So, didiklah PLAYER, kembangkan dan dorong pertumbuhan PLAYER, bukan BROKER.
Negara kita ini sangat membutuhkannya. Sudah saatnya kita bertindak lebih nyata.
Maju Entrepreneur Indonesia !!
Adapun beliau adalah pemimpin redaksi majalah Entrepreneur Indonesia, sebuah majalah yang secara khusus bagi segmentasi entrepreneur. Kami berbicara dan berdiskusi tentang beberapa hal, adapun pertanyaan saya yang pertama adalah berapa banyak oplah majalah tersebut.
Kami menyadari beberapa hal yang sebenarnya melandasi perjuangan kami, betapa kami rindu untuk melihat entrepreneur tumbuh subur di Indonesia, sementara kami berbincang, di luar sana, para pelaku entrepreneur, baik dari skala kecil, mulai dari si Amir - penjual koran, si Anto - penjual Aqua di lampu merah, si abang kita yang mulai mengangkut barang kakilimanya dengan bis untuk berjualan di jatinegara, si Akong yang keluar masuk toko berjualan obat, si Umar sang makelar mobil di tebet, si tono yang kerjanya membantu mengurus aneka surat-surat, semuanya punya tujuan satu - menghidupi diri dan keluarganya dengan kemampuan yang mereka miliki - meskipun sangat kecil.
Jadi tidak ada bedanya, yang berkemeja rapi di belakang meja, mencari peluang bisnis, memikirkan ide, menjual, menghitung profit, ataupun yang berkeringat deras menunggu jualannya laku, menukarkan uang kembalian, menghitung profit dan memikirkan ide2 pengembangan usahanya sambil menghisap rokok. Kami semua bertujuan sama.
Inilah Indonesia, dengan keragamannya, dengan berbagai suku bangsanya, semuanya berusaha, berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah kita semua memang dipersiapkan untuk menjadi entrepreneur ?
Apakah kita cukup bangga bertitelkan "wiraswastawan" ? Apakah orangtua, keluarga kita cukup bangga memiliki keluarga seorang "wiraswasta" ? Apakah sekolah dan lingkungan kita mendukung dan mempersiapkan kita untuk menjadi seorang wiraswasta / entrepreneur ? Apakah kita memang sekolah dan kuliah untuk menjadi seorang wiraswasta / entrepreneur, sementara dalam visi dan misi mereka seolah telah menjadi kewajiban utk mencetak entrepreneur..
Hampir semua jawaban di atas, saat ini, masih TIDAK. Kita kadang lebih bangga memiliki titel karyawan, berlindung di balik nama besar perusahaan kita, semakin kita bekerja di perusahaan yang besar, maka semakin bangga lah kita. Demikian juga dengan orangtua dan keluarga kita, seolah menjadi kebanggaan apabila keluarganya bekerja di bank ternama, perusahaan terkenal dunia, dan ini memang wajar. Kita memang tidak dipersiapkan khusus dalam sekolah dan kuliah kita, banyak di antara kita, keluar dan bingung untuk menjadi apa, kita bingung harus bekerja di mana, tidak pernah terpikir (mungkin jarang) apa yang bisa kita kerjakan.
Inilah yang harus kita rubah, pola pandang kita kepada sang Wiraswasta, sang Entrepreneur. Kebanyakan para wiraswasta & entrepreneur ini "jadi" karena kepepet, karena lingkungan. Sudah saat nya kita rubah. Kita rubah pola pendidikan kita, bagaimana sedini mungkin, anak-anak SD memikirkan cara menjual apa yang bisa mereka hasilkan, apa yang bisa mereka kelola, demikian seterusnya. Kita harus membuat inkubator, dan saat ini inkubator yang paling mudah kita mulai adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan berperan dalam membentuk jiwa enterepreneur inilah yang harus kita rumuskan. Istilah kami dalam perbincangan sore itu adalah kita tidak hanya menjadi BROKER, kita harus jadi PLAYER, seorang player tahu bagaimana harus bertindak, bagaimana strateginya, bagaimana next-stepnya, ide seorang player harus cemerlang.
Nach, celakanya, selama ini kita dididik menjadi broker, menjual sebagai perantara, negeri ini dikuras dijual ke orang, padahal banyak sekali yang bisa kita kelola sendiri, kita "play" sendiri. Ini - mata harus terbuka untuk melihat ini, karena selama ini kita menutup mata kita dan menggampangkan diri kita hanya untuk menjadi BROKER bukan PLAYER. Mulailah dengan lingkungan kita sendiri, apa yang bisa kita buat untuk membentuk PLAYER ini muncul. Lihatlah anak Anda, keluarga Anda, apakah mereka memiliki potensi ?
Dorong dan dorong terus mereka untuk mengembangkan apa yang mereka kuasai dengan baik - tujuannya agar mereka menjadi PLAYER di bidang mereka - memiliki kompetensi.
So, didiklah PLAYER, kembangkan dan dorong pertumbuhan PLAYER, bukan BROKER.
Negara kita ini sangat membutuhkannya. Sudah saatnya kita bertindak lebih nyata.
Maju Entrepreneur Indonesia !!
Tuesday, June 07, 2005
Interesting Experience ..
Seharian keluar kantor tidak membuat aku lelah di malam harinya, dengan berbekal tidur sedikit, aku kunjungi beberapa tempat, dan memang masih banyak yang harus aku kejar.
Meeting demi meeting aku lalui, dan selalu, ide-ide baru keluar dengan sendirinya dalam diskusi-diskusi kami. Dengan mantap, next-step selalu menjadi agenda terakhir pembicaraan saya dengan beberapa client dan rekan, sesekali menyeruput cafelatte yang ada di depanku.
Percakapan menarik mengenai bisnis mobile content dan masa depan bisnis tersebut di Indonesia seolah menghiasi pikiran saya hari ini. Harapan untuk mencapai hal yang lebih baik lagi sedikit banyak timbul dalam ide-ide dan konsep-konsep yang kami bicarakan hari ini, dan seolah hari tidak kompromi berlalu cepat hingga sore hari.
Sore hari, kembali meeting terakhir saya datangi, tempat perkumpulan dan hangout para mantan pejabat masa kejayaan Ibu Mega, dan saya menjumpai beberapa orang di sana. Hangat, akrab - meskipun kami baru kenal, terlibat pembicaraan yang tidak ada habisnya, tentang ini dan itu, bagaimana bisnis masa dulu, dan masa jaman SBY saat ini. Dan yang menarik yang bisa saya garisbawahi adalah betapa komitmen yang besar terhadap pemberantasan korupsi memang benar-benar ada, dan sang komisaris independen dari salah satu BUMN ini benar-benar menyatakan hal tersebut ada dan benar adanya.
Saya pikir tadinya, usaha itu semata wacana, ternyata benar ada, dan memang change management yang harus dilakukan rekan baru saya ini, luar biasa. Tantangan yang besar dan keras, tidak hanya dia hadapi saat ini, tetapi dari beberapa waktu terdahulu pun sudah sangat besar. Dan memang tidak mudah memposisikan dirinya - yang setiap saat harus mempertanggungjawabkan tindakan yang diambilnya - di gedung bundar. Istilah yang mendadak menjadi akrab di telingaku sore ini.
Yang menarik, bukan hanya cerita bagaimana rekan saya ini menghadapi tantangan luar biasa, tetapi juga dukungan SBY yang besar - baik secara pribadi ataupun sebagai Bapak Bangsa ini. Dan ini yang saya hargai.
Di akhir cerita, kembali KKN kami bahas, dan memang, bisnis di Indonesia, hampir semua bisnisnya, mau tidak mau, kembali KKN, kita akan berbisnis dengan orang yang kita kenal, yang kita tahu, kita percaya, dan tidak semua orang kita kenal dengan baik. Oleh sebab itulah, KKN ini penting. Tapi mungkin kita ralat sedikit KKN yang kita inginkan ini, KKN kita ini adalah Kenal Kompeten Network !
Kenal karena inilah rekan bisnis yang kita tahu dengan baik.
Kompeten karena inilah, merekalah yang ahlinya dibidangnya.
Network karena inilah, merekalah yang kita saling kenal, saling tahu dalam jaringan rekan-rekan kita.
Jadi jelas, KKN ya perlu, tapi KKN apa dulu, dan KKN ini ya berbeda. Ada nilainya, ada valuenya, ada tujuannya - win-win, bukan hanya melulu memikirkan kepentingan pribadi yang ujung-ujungnya bisa masuk Gedung Bundar tadi, tapi juga memikirkan apa hasilnya, bagaimana pengembalian uangnya, apalagi kalo pakai uang negara.
Terimakasih kawan baruku, karena telah berbagi.
Salam Entrepreneur Indo !
Meeting demi meeting aku lalui, dan selalu, ide-ide baru keluar dengan sendirinya dalam diskusi-diskusi kami. Dengan mantap, next-step selalu menjadi agenda terakhir pembicaraan saya dengan beberapa client dan rekan, sesekali menyeruput cafelatte yang ada di depanku.
Percakapan menarik mengenai bisnis mobile content dan masa depan bisnis tersebut di Indonesia seolah menghiasi pikiran saya hari ini. Harapan untuk mencapai hal yang lebih baik lagi sedikit banyak timbul dalam ide-ide dan konsep-konsep yang kami bicarakan hari ini, dan seolah hari tidak kompromi berlalu cepat hingga sore hari.
Sore hari, kembali meeting terakhir saya datangi, tempat perkumpulan dan hangout para mantan pejabat masa kejayaan Ibu Mega, dan saya menjumpai beberapa orang di sana. Hangat, akrab - meskipun kami baru kenal, terlibat pembicaraan yang tidak ada habisnya, tentang ini dan itu, bagaimana bisnis masa dulu, dan masa jaman SBY saat ini. Dan yang menarik yang bisa saya garisbawahi adalah betapa komitmen yang besar terhadap pemberantasan korupsi memang benar-benar ada, dan sang komisaris independen dari salah satu BUMN ini benar-benar menyatakan hal tersebut ada dan benar adanya.
Saya pikir tadinya, usaha itu semata wacana, ternyata benar ada, dan memang change management yang harus dilakukan rekan baru saya ini, luar biasa. Tantangan yang besar dan keras, tidak hanya dia hadapi saat ini, tetapi dari beberapa waktu terdahulu pun sudah sangat besar. Dan memang tidak mudah memposisikan dirinya - yang setiap saat harus mempertanggungjawabkan tindakan yang diambilnya - di gedung bundar. Istilah yang mendadak menjadi akrab di telingaku sore ini.
Yang menarik, bukan hanya cerita bagaimana rekan saya ini menghadapi tantangan luar biasa, tetapi juga dukungan SBY yang besar - baik secara pribadi ataupun sebagai Bapak Bangsa ini. Dan ini yang saya hargai.
Di akhir cerita, kembali KKN kami bahas, dan memang, bisnis di Indonesia, hampir semua bisnisnya, mau tidak mau, kembali KKN, kita akan berbisnis dengan orang yang kita kenal, yang kita tahu, kita percaya, dan tidak semua orang kita kenal dengan baik. Oleh sebab itulah, KKN ini penting. Tapi mungkin kita ralat sedikit KKN yang kita inginkan ini, KKN kita ini adalah Kenal Kompeten Network !
Kenal karena inilah rekan bisnis yang kita tahu dengan baik.
Kompeten karena inilah, merekalah yang ahlinya dibidangnya.
Network karena inilah, merekalah yang kita saling kenal, saling tahu dalam jaringan rekan-rekan kita.
Jadi jelas, KKN ya perlu, tapi KKN apa dulu, dan KKN ini ya berbeda. Ada nilainya, ada valuenya, ada tujuannya - win-win, bukan hanya melulu memikirkan kepentingan pribadi yang ujung-ujungnya bisa masuk Gedung Bundar tadi, tapi juga memikirkan apa hasilnya, bagaimana pengembalian uangnya, apalagi kalo pakai uang negara.
Terimakasih kawan baruku, karena telah berbagi.
Salam Entrepreneur Indo !
Kibarkan Bendera Itu !
Sudah lama sekali sepertinya tidak nonton bola di pagi-pagi hari. Setelah seharian bekerja, kemudian pulang ke rumah, beristirahat, tiba-tiba aku bangun, dan menonton pertandingan ini, Portugal vs Slovakia.
Detik-demi detik, aku mengikuti pertandingan ini, dan aku cermati, meskipun Portugal telah unggul 2 - 0, tetap saja ritme pertandingan dan kecepatan mereka melakukan serangan tidak kalah cepatnya dengan lawan yang ketinggalan angkanya.
Hal ini mengingatkan aku sedikit banyak tentang betapa kita tidak boleh menyerah, baik pada waktu memulai, sedang menjalankan ataupun pada saat akan mengakhiri sesuatu pekerjaan. Semangat yang tidak mengenal lelah ini sangat diperlukan, bukan hanya oleh marketing, tim teknis, manajemen, bahkan oleh office-boy sekalipun.
Hari ini, supirku ganti lagi, dan kembali aku membangun semangat baru dengan si sang supir yang akan selalu menemani aku kemana pun aku keliling ibukota ini. Semangat baru yang selalu menyelimuti kita dipacu dari dalam, dari keinginan untuk tetap maju, tetap berkarya, apapun yang kita kerjakan.
Dan semangat ini mengingatkan aku betapa menjadi seorang entrepreneur sangat membutuhkan semangat ini. Dukungan dari keluarga, rekan-rekan dan rekanan bisnis memacu semangat ku untuk mengembangkan terus potensi dan kemampuan serta kerjasama yang selama ini telah aku pupuk puluhan tahun. Dalam hari ini saja, aku menemukan, betapa office-boy yang selama ini melayani di kantor, dengan antusias melihat aku datang dan sigap membantu kebutuhanku setelah satu minggu ini aku absen karena sakit. Tim teknis yang ikut keliling denganku hari ini, juga menunjukkan hal yang sama. Dia bilang, dia jenuh di kantor seminggu ini karena hanya melakukan aktifitas yang rutin. Aku bilang, silahkan saja datang ke site client, karena memang kita punya kewajiban untuk itu. Dan semangat ini membanggakan aku. Demikian juga dengan tim account managerku yang dengan setia melakukan follow up dan mengejar deadline yang aku berikan minggu lalu. Nach, tentu saja tidak ada alasannya untuk aku untuk tidak bersemangat di tengah lingkungan yang bersemangat.
Dukungan yang sama juga aku rasakan dari beberapa rekan yang selama ini memang aktif mendukungku, baik melalui email atau sms. Dan meskipun aku selalu menjual produk dan layanan baru, tetap mereka dengan antusias ingin tahu lebih detail dan menyatakan betapa bagusnya produk dan layanan yang aku miliki saat ini. Dengan adanya dua-bendera yang sedang aku besarkan, aku harapkan bendera yang lebih dahulu aku kibarkan dan sekarang ini sedang menanti angin keras untuk berkibar, ia akan mendapatkan angin untuk berkibar. Demikian juga dengan bendera kecil yang sedang aku naikkan ini, aku harapkan juga angin kecil memeliharanya berkibar. Dan semangat aku untuk mengibarkan bendera ini tidak boleh padam, sekalipun.
Sambil menonton tv, aku kagumi semangat dan perjuangan para pemain tim sepakbola, sekagum aku dengan tim kerja di belakangku yang mendukungku selama ini. Maju terus, kawan.. jangan gentar !
Fanky Christian
Bendera 1 : Padutama.com
Bendera 2 : DayaCiptaMandiri.com
Detik-demi detik, aku mengikuti pertandingan ini, dan aku cermati, meskipun Portugal telah unggul 2 - 0, tetap saja ritme pertandingan dan kecepatan mereka melakukan serangan tidak kalah cepatnya dengan lawan yang ketinggalan angkanya.
Hal ini mengingatkan aku sedikit banyak tentang betapa kita tidak boleh menyerah, baik pada waktu memulai, sedang menjalankan ataupun pada saat akan mengakhiri sesuatu pekerjaan. Semangat yang tidak mengenal lelah ini sangat diperlukan, bukan hanya oleh marketing, tim teknis, manajemen, bahkan oleh office-boy sekalipun.
Hari ini, supirku ganti lagi, dan kembali aku membangun semangat baru dengan si sang supir yang akan selalu menemani aku kemana pun aku keliling ibukota ini. Semangat baru yang selalu menyelimuti kita dipacu dari dalam, dari keinginan untuk tetap maju, tetap berkarya, apapun yang kita kerjakan.
Dan semangat ini mengingatkan aku betapa menjadi seorang entrepreneur sangat membutuhkan semangat ini. Dukungan dari keluarga, rekan-rekan dan rekanan bisnis memacu semangat ku untuk mengembangkan terus potensi dan kemampuan serta kerjasama yang selama ini telah aku pupuk puluhan tahun. Dalam hari ini saja, aku menemukan, betapa office-boy yang selama ini melayani di kantor, dengan antusias melihat aku datang dan sigap membantu kebutuhanku setelah satu minggu ini aku absen karena sakit. Tim teknis yang ikut keliling denganku hari ini, juga menunjukkan hal yang sama. Dia bilang, dia jenuh di kantor seminggu ini karena hanya melakukan aktifitas yang rutin. Aku bilang, silahkan saja datang ke site client, karena memang kita punya kewajiban untuk itu. Dan semangat ini membanggakan aku. Demikian juga dengan tim account managerku yang dengan setia melakukan follow up dan mengejar deadline yang aku berikan minggu lalu. Nach, tentu saja tidak ada alasannya untuk aku untuk tidak bersemangat di tengah lingkungan yang bersemangat.
Dukungan yang sama juga aku rasakan dari beberapa rekan yang selama ini memang aktif mendukungku, baik melalui email atau sms. Dan meskipun aku selalu menjual produk dan layanan baru, tetap mereka dengan antusias ingin tahu lebih detail dan menyatakan betapa bagusnya produk dan layanan yang aku miliki saat ini. Dengan adanya dua-bendera yang sedang aku besarkan, aku harapkan bendera yang lebih dahulu aku kibarkan dan sekarang ini sedang menanti angin keras untuk berkibar, ia akan mendapatkan angin untuk berkibar. Demikian juga dengan bendera kecil yang sedang aku naikkan ini, aku harapkan juga angin kecil memeliharanya berkibar. Dan semangat aku untuk mengibarkan bendera ini tidak boleh padam, sekalipun.
Sambil menonton tv, aku kagumi semangat dan perjuangan para pemain tim sepakbola, sekagum aku dengan tim kerja di belakangku yang mendukungku selama ini. Maju terus, kawan.. jangan gentar !
Fanky Christian
Bendera 1 : Padutama.com
Bendera 2 : DayaCiptaMandiri.com
Friday, June 03, 2005
Start New All Over Again ?
Mungkin ini bukan yang pertama,
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berusaha juga dengan beberapa teman2. Dan menemui jalan buntu, usaha kami hanya bertahan satu tahun.
Semuanya habis-habisan.
Tahun 2002, saya bertemu dengan teman2 yang lain. Dengan harapan baru, kami melangkah. Modal lebih kuat, strategi lebih baik, fokus lebih baik.. tetapi tetap saja, perjalanannya tidak mudah. Oktober ini, tepat kami tiga tahun, ada langkah-langkah mudah, ada langkah-langkah berat..
Beragam perasaan kami lalui, mulai dari sedih luar biasa, bingung, hingga ke senang luar biasa, kagum luar biasa, inilah pengalaman kami sebagai entrepreneur muda..
Dalam bidang kami, tidak hanya kualitas yang diperhatikan tetapi juga keberadaan perusahaan, support, tim.. dan ini kami perhatikan dengan seksama, tetapi tetap toh, tidak semudah yang kami bayangkan. Potensi yang kami temui dimana-mana luar biasa banyaknya. Seolah kami tidak pernah kehabisan potensi dan klien, tetapi memang tidak semuanya berbuah baik. Ada yang begitu close, bisa lewat juga. Ada yang jauh, tau-tau kirim Purchase Order. Uniknya dunia bisnis.
Beberapa tahun berkancah di dunia selain teknikal + marketing, membuat wawasan saya semakin luas, ternyata dunia bisnis ini tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Lebih dituntut kreatifitas, bagaimana menyajikan produk dan layanan kita sebaik mungkin, dengan biaya serendah mungkin, dan dukungan sebaik mungkin.
Dalam beberapa diskusi dengan teman-teman bisnis, ternyata membuat perusahaan yang terdiri dari beberapa orang sedikit banyak sering menjadi kendala di kemudian hari. Dan akhirnya, keluarlah satu-satu dari perusahaan itu, mendirikan dan memandirikan. Saya pikir, ini hal yang wajar, dimana titik kemapanan dan kemandirian inilah yang sebenarnya didambakan setiap orang. Baik perusahaan kecil, besar, bahkan seukuran Microsoft sekalipun.
Sekarang, timbul pertanyaan kecil dalam diri saya, "do i have to start all over again ? "
Simple question, hard to answer. Butuh beberapa hari buat saya untuk menjawab hal itu dengan bijaksana. Bukan hanya karena faktor mandirinya, tetapi sedikit banyak - mengulang semua dari awal... Inilah yang ditakutkan. Butuh waktu 3 bulan bagi saya untuk mengupdate semua relasi, baik yang langsung ataupun tidak langsung untuk mengupdate status pekerjaan, nomor telepon, alamat kantor, email dlsb. Butuh waktu 8 bulan bagi saya untuk mendapatkan client dengan proyek besar, dan perlu waktu berhari-hari bagi saya untuk berjalan kesana kemari memperkenalkan produk dan layanan baru.. Tapi inilah yang ditakutkan.
Saya pikir, kenapa harus takut, saya pernah menjalaninya, dan tidak ada masalah harusnya untuk dijalani kembali. Saya mengingat dengan baik, saya memiliki data yang lengkap mengenai semua relasi saya, baik melalui email, telepon, alamat mereka, kartu nama mereka.. dan selama ini, sebagian besar dari mereka saya jangkau dengan email. Artinya marketing database telah saya bangun selama ini. Jadi tidak ada masalah.
Saya masih ingat benar - karena banyaknya aktifitas marketing melalui email, ada beberapa alamat email yang menganggap email saya sebagai SPAM. Buat mereka, saya harus berikan pengecualian.
Jadi, tidak ada masalah seharusnya untuk memulai segala sesuatunya - kembali dari nol, asalkan semua nya memang kita dokumentasikan dengan baik. Kita tinggal mengupdate mereka dengan data terbaru kita, dan jangan lupa - produk dan layanan kita.
fanky@dayaciptamandiri.com
entrepreneur-indo@yahoogroups.com
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berusaha juga dengan beberapa teman2. Dan menemui jalan buntu, usaha kami hanya bertahan satu tahun.
Semuanya habis-habisan.
Tahun 2002, saya bertemu dengan teman2 yang lain. Dengan harapan baru, kami melangkah. Modal lebih kuat, strategi lebih baik, fokus lebih baik.. tetapi tetap saja, perjalanannya tidak mudah. Oktober ini, tepat kami tiga tahun, ada langkah-langkah mudah, ada langkah-langkah berat..
Beragam perasaan kami lalui, mulai dari sedih luar biasa, bingung, hingga ke senang luar biasa, kagum luar biasa, inilah pengalaman kami sebagai entrepreneur muda..
Dalam bidang kami, tidak hanya kualitas yang diperhatikan tetapi juga keberadaan perusahaan, support, tim.. dan ini kami perhatikan dengan seksama, tetapi tetap toh, tidak semudah yang kami bayangkan. Potensi yang kami temui dimana-mana luar biasa banyaknya. Seolah kami tidak pernah kehabisan potensi dan klien, tetapi memang tidak semuanya berbuah baik. Ada yang begitu close, bisa lewat juga. Ada yang jauh, tau-tau kirim Purchase Order. Uniknya dunia bisnis.
Beberapa tahun berkancah di dunia selain teknikal + marketing, membuat wawasan saya semakin luas, ternyata dunia bisnis ini tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Lebih dituntut kreatifitas, bagaimana menyajikan produk dan layanan kita sebaik mungkin, dengan biaya serendah mungkin, dan dukungan sebaik mungkin.
Dalam beberapa diskusi dengan teman-teman bisnis, ternyata membuat perusahaan yang terdiri dari beberapa orang sedikit banyak sering menjadi kendala di kemudian hari. Dan akhirnya, keluarlah satu-satu dari perusahaan itu, mendirikan dan memandirikan. Saya pikir, ini hal yang wajar, dimana titik kemapanan dan kemandirian inilah yang sebenarnya didambakan setiap orang. Baik perusahaan kecil, besar, bahkan seukuran Microsoft sekalipun.
Sekarang, timbul pertanyaan kecil dalam diri saya, "do i have to start all over again ? "
Simple question, hard to answer. Butuh beberapa hari buat saya untuk menjawab hal itu dengan bijaksana. Bukan hanya karena faktor mandirinya, tetapi sedikit banyak - mengulang semua dari awal... Inilah yang ditakutkan. Butuh waktu 3 bulan bagi saya untuk mengupdate semua relasi, baik yang langsung ataupun tidak langsung untuk mengupdate status pekerjaan, nomor telepon, alamat kantor, email dlsb. Butuh waktu 8 bulan bagi saya untuk mendapatkan client dengan proyek besar, dan perlu waktu berhari-hari bagi saya untuk berjalan kesana kemari memperkenalkan produk dan layanan baru.. Tapi inilah yang ditakutkan.
Saya pikir, kenapa harus takut, saya pernah menjalaninya, dan tidak ada masalah harusnya untuk dijalani kembali. Saya mengingat dengan baik, saya memiliki data yang lengkap mengenai semua relasi saya, baik melalui email, telepon, alamat mereka, kartu nama mereka.. dan selama ini, sebagian besar dari mereka saya jangkau dengan email. Artinya marketing database telah saya bangun selama ini. Jadi tidak ada masalah.
Saya masih ingat benar - karena banyaknya aktifitas marketing melalui email, ada beberapa alamat email yang menganggap email saya sebagai SPAM. Buat mereka, saya harus berikan pengecualian.
Jadi, tidak ada masalah seharusnya untuk memulai segala sesuatunya - kembali dari nol, asalkan semua nya memang kita dokumentasikan dengan baik. Kita tinggal mengupdate mereka dengan data terbaru kita, dan jangan lupa - produk dan layanan kita.
fanky@dayaciptamandiri.com
entrepreneur-indo@yahoogroups.com
Tuesday, May 17, 2005
Terjadilah apa yang tak pernah kau bayangkan!
Terjadilah apa yang tak pernah kau bayangkan!
Oleh: Tema Adiputra
Seorang teman saya yang sekarang posisinya sebagai General Manager di sebuah perusahaan bercerita, dulu di tempat kerja sebelumnya, boss-nya seorang pria ganteng dan atletis (katanya! mirip tokoh Eric Estrada bintang film Chips) memiliki kebiasaan unik. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor si boss itu berdiri di muka cermin, lalu menatap bayangan dirinya terutama wajahnya, dan berkata : kau pasti akan sukses hari ini! Hal itu sudah menjadi rutinitasnya dan memang menjadi pemacu semangat kerjanya hari itu. Dan memang benar kesuksesan pun diraihnya. Seperti yang ditekadkan dan dibayangkannya pada pagi hari dia bercermin itu.
Ya! Ada banyak kiat-kiat yang kita ketahui dari berbagai sumber untuk dapat meraih sebuah keberhasilan. Kita bebas mengikuti petunjuknya dan menerapkannya dalam upaya kita untuk dapat sukses/berhasil. Saya masih ingat seorang Profesor teman saya menganjurkan, mulailah bermimpi/memimpikan apa yang kau ingin capai dalam cita-cita hidupmu, dan lalu mulailah bertindak, mulailah melangkah, sekalipun langkah pertama dimulai hanya dengan setengah langkah. Yang penting mulai melangkah dan berlanjut melangkah. Dan jangan pernah putus asa. Berkomitmenlah! Sang profesor memang telah membuktikan sendiri kiat-kiat itu, dan ia sukses! Apa yang diimpikannya satu persatu tercapai.
Tahun 1982, saat saya masih tinggal sendirian di rumah besar milik abang saya untuk menjagainya, teman yang setia di malam hari adalah sebuah pesawat radio kecil. Sembari membuat tugas dari dosen, atau belajar, saya menyetel radio itu mendengarkan siaran rohani kristen. Saya suka menikmati sajian acara radio rohani tersebut. Sampai pada suatu malam hati saya berkata pada Tuhan : Tuhan saya ingin sekali menjadi penyiar di radio rohani itu, tapi mana mungkin Tuhan, saya tidak tahu seluk beluk dunia radio siaran, dan lagi pula saya mahasiswa sastra. Nah, saya hanya melontarkan sebuah kerinduan dan tidak pernah ada upaya untuk datang ke kantor radio itu karena dilatarbelakangi kontradiktif skill/ketrampilan yang saya miliki saat itu. Jadi hanya pada saat itu saja saya rindukan untuk jadi penyiar tapi tidak berlama-lama memimpikannya. Namun apa yang terjadi kemudian? Dua tahun kemudian, saat saya sedang nongkrong di sekretariat persekutuan mahasiswa kristen di kampus saya, datanglah seorang teman wanita (yang ternyata dia penyiar honorer di radio yang sering saya dengar itu) menghampiri saya sembari berujar: mau nggak kamu melamar posisi peresensi puisi di radio saya? Kamu kan mahasiswa sastra dan sering bikin puisi serta pentas puisi di kampus kita ini. Wah ditantang begitu, tentu saja saya ladeni. Maka mulailah saya berkiprah di stasion radio yang tahun 1982 lalu sempat saya rindukan sesaat. Dari tukang membuat naskah resensi puisi, akhirnya di-test jadi penyiar, lalu jadi penyiar, dan seterusnya tugas-tugas saya di radio itu merambah ke mana-mana sampai dengan berprofesi saat ini sebagai konsultan radio siaran dan menjadi pemandu acara yang direkrut secara khusus oleh lembaga-lembaga kristen maupun gereja yang bersiaran di sebuah stasion radio rohani di Jakarta. Bila merenungkan semua hal ini saat ini maka dalam hidup saya telah terjadi dan terwujud sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Segala pujian hanya untuk Tuhan!
Bagaimana dengan peristiwa berikut ini yang beberapa waktu lalu menimpa saya? Pada tulisan-tulisan saya sebelum ini, ada saya saksikan bagaimana saya dan tim pelayanan mengatasi persoalan keuangan untuk membayar dana shooting camera, akibat ingkar janjinya seorang donatur. Pada akhirnya Tuhan buka jalan bagi kami sehingga seorang pengusaha yang adalah juga pendeta (ibu Pdt.FAS) tergerak hatinya untuk memberi pinjaman uang yang pelunasannya akan kami cicil selama 8 bulan. Wah betapa lega hati kami waktu itu karena telah lolos dari persoalan yang berisiko tinggi. Maka tentu saja saya dan tim bertekad (dengan berdoa khusus) untuk tepat waktu membayar cicilan setiap bulan itu. Kami buktikan! Pada tanggal 7 bulan pertama cicilan, kami datangi kantor ibu itu, dan bertemu sekretarisnya dan lalu menyerahkan uang di amplop sebagai cicilan pertama. Puji Tuhan lagi! Ya, kami bersukacita untuk bulan berikutnya akan membayar tepat waktu. Sekalipun uang itu hasil saweran bersama. Nah kira-kira seminggu sebelum jatuh tempo tanggal bulan cicilan kedua, saya jumpa dengan ibu itu di sebuah pertemuan ministry. Tentu saja saya sedikit kagok namun ibu itu tersenyum dan menyapa saya dengan tidak membicarakan masalah uang tersebut. Sehingga orang banyak di sekitar saya pun tidak tahu menahu urusan ini. Saat bubaran pertemuan ministry itu, ibu yang baik hati ini tiba-tiba menghampiri saya dan berkata, saya ingin bicara sebentar dengan kamu! Lalu kami berdua masuk ke sebuah ruangan dan pintunya saya tutup. Saya pasrah saja, seandainya dia mempersoalkan uang yang kami pinjam itu. Lalu ia berkata: ...hati saya digerakkan Tuhan, uang cicilan yang 7 bulan lagi, tidak perlu kalian lanjutkan pembayarannya! Untuk beberapa detik saya terkesima! Setelah sadar, langsung saya tepuk kening saya dan berkata : Aduhhhhh...! Puji Tuhan! Puji Tuhan! Terima kasih, bu. Terima kasih, bu. Tuhan memberkati ibu dan pelayanan ibu. Sembari berkata begitu tanpa sadar saya tepuk pelan pundak ibu itu sebagai ungkapan sukacita saya. Ibu itu hanya tersenyum penuh ketulusan. Ya! Saya harus berkata apa lagi? Kembali sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, datang menghampiri saya. Terpujilah Tuhan!
Hanya satu kunci jawaban dari hal yang saya alami seperti di atas itu. Tuhan tahu keperluan kita. Bahkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita ke depan. Juga Tuhan mau menunjukkan betapa berkuasanya Dia. Betapa dia selalu memiliki rencana yang terbaik untuk kita. DIA tahu isi doa kita yang paling dalam yang tak mampu kita ungkapkan dan kita pikirkan. DIA sangat menghargai seruan kita. Seorang bapak pendeta pernah memberikan ayat Firman Tuhan berikut ini untuk saya renungkan : (I Korintus 2 : 9) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.
Jakarta, 10 Mei 2005
Tema Adiputra
Oleh: Tema Adiputra
Seorang teman saya yang sekarang posisinya sebagai General Manager di sebuah perusahaan bercerita, dulu di tempat kerja sebelumnya, boss-nya seorang pria ganteng dan atletis (katanya! mirip tokoh Eric Estrada bintang film Chips) memiliki kebiasaan unik. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor si boss itu berdiri di muka cermin, lalu menatap bayangan dirinya terutama wajahnya, dan berkata : kau pasti akan sukses hari ini! Hal itu sudah menjadi rutinitasnya dan memang menjadi pemacu semangat kerjanya hari itu. Dan memang benar kesuksesan pun diraihnya. Seperti yang ditekadkan dan dibayangkannya pada pagi hari dia bercermin itu.
Ya! Ada banyak kiat-kiat yang kita ketahui dari berbagai sumber untuk dapat meraih sebuah keberhasilan. Kita bebas mengikuti petunjuknya dan menerapkannya dalam upaya kita untuk dapat sukses/berhasil. Saya masih ingat seorang Profesor teman saya menganjurkan, mulailah bermimpi/memimpikan apa yang kau ingin capai dalam cita-cita hidupmu, dan lalu mulailah bertindak, mulailah melangkah, sekalipun langkah pertama dimulai hanya dengan setengah langkah. Yang penting mulai melangkah dan berlanjut melangkah. Dan jangan pernah putus asa. Berkomitmenlah! Sang profesor memang telah membuktikan sendiri kiat-kiat itu, dan ia sukses! Apa yang diimpikannya satu persatu tercapai.
Tahun 1982, saat saya masih tinggal sendirian di rumah besar milik abang saya untuk menjagainya, teman yang setia di malam hari adalah sebuah pesawat radio kecil. Sembari membuat tugas dari dosen, atau belajar, saya menyetel radio itu mendengarkan siaran rohani kristen. Saya suka menikmati sajian acara radio rohani tersebut. Sampai pada suatu malam hati saya berkata pada Tuhan : Tuhan saya ingin sekali menjadi penyiar di radio rohani itu, tapi mana mungkin Tuhan, saya tidak tahu seluk beluk dunia radio siaran, dan lagi pula saya mahasiswa sastra. Nah, saya hanya melontarkan sebuah kerinduan dan tidak pernah ada upaya untuk datang ke kantor radio itu karena dilatarbelakangi kontradiktif skill/ketrampilan yang saya miliki saat itu. Jadi hanya pada saat itu saja saya rindukan untuk jadi penyiar tapi tidak berlama-lama memimpikannya. Namun apa yang terjadi kemudian? Dua tahun kemudian, saat saya sedang nongkrong di sekretariat persekutuan mahasiswa kristen di kampus saya, datanglah seorang teman wanita (yang ternyata dia penyiar honorer di radio yang sering saya dengar itu) menghampiri saya sembari berujar: mau nggak kamu melamar posisi peresensi puisi di radio saya? Kamu kan mahasiswa sastra dan sering bikin puisi serta pentas puisi di kampus kita ini. Wah ditantang begitu, tentu saja saya ladeni. Maka mulailah saya berkiprah di stasion radio yang tahun 1982 lalu sempat saya rindukan sesaat. Dari tukang membuat naskah resensi puisi, akhirnya di-test jadi penyiar, lalu jadi penyiar, dan seterusnya tugas-tugas saya di radio itu merambah ke mana-mana sampai dengan berprofesi saat ini sebagai konsultan radio siaran dan menjadi pemandu acara yang direkrut secara khusus oleh lembaga-lembaga kristen maupun gereja yang bersiaran di sebuah stasion radio rohani di Jakarta. Bila merenungkan semua hal ini saat ini maka dalam hidup saya telah terjadi dan terwujud sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Segala pujian hanya untuk Tuhan!
Bagaimana dengan peristiwa berikut ini yang beberapa waktu lalu menimpa saya? Pada tulisan-tulisan saya sebelum ini, ada saya saksikan bagaimana saya dan tim pelayanan mengatasi persoalan keuangan untuk membayar dana shooting camera, akibat ingkar janjinya seorang donatur. Pada akhirnya Tuhan buka jalan bagi kami sehingga seorang pengusaha yang adalah juga pendeta (ibu Pdt.FAS) tergerak hatinya untuk memberi pinjaman uang yang pelunasannya akan kami cicil selama 8 bulan. Wah betapa lega hati kami waktu itu karena telah lolos dari persoalan yang berisiko tinggi. Maka tentu saja saya dan tim bertekad (dengan berdoa khusus) untuk tepat waktu membayar cicilan setiap bulan itu. Kami buktikan! Pada tanggal 7 bulan pertama cicilan, kami datangi kantor ibu itu, dan bertemu sekretarisnya dan lalu menyerahkan uang di amplop sebagai cicilan pertama. Puji Tuhan lagi! Ya, kami bersukacita untuk bulan berikutnya akan membayar tepat waktu. Sekalipun uang itu hasil saweran bersama. Nah kira-kira seminggu sebelum jatuh tempo tanggal bulan cicilan kedua, saya jumpa dengan ibu itu di sebuah pertemuan ministry. Tentu saja saya sedikit kagok namun ibu itu tersenyum dan menyapa saya dengan tidak membicarakan masalah uang tersebut. Sehingga orang banyak di sekitar saya pun tidak tahu menahu urusan ini. Saat bubaran pertemuan ministry itu, ibu yang baik hati ini tiba-tiba menghampiri saya dan berkata, saya ingin bicara sebentar dengan kamu! Lalu kami berdua masuk ke sebuah ruangan dan pintunya saya tutup. Saya pasrah saja, seandainya dia mempersoalkan uang yang kami pinjam itu. Lalu ia berkata: ...hati saya digerakkan Tuhan, uang cicilan yang 7 bulan lagi, tidak perlu kalian lanjutkan pembayarannya! Untuk beberapa detik saya terkesima! Setelah sadar, langsung saya tepuk kening saya dan berkata : Aduhhhhh...! Puji Tuhan! Puji Tuhan! Terima kasih, bu. Terima kasih, bu. Tuhan memberkati ibu dan pelayanan ibu. Sembari berkata begitu tanpa sadar saya tepuk pelan pundak ibu itu sebagai ungkapan sukacita saya. Ibu itu hanya tersenyum penuh ketulusan. Ya! Saya harus berkata apa lagi? Kembali sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, datang menghampiri saya. Terpujilah Tuhan!
Hanya satu kunci jawaban dari hal yang saya alami seperti di atas itu. Tuhan tahu keperluan kita. Bahkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita ke depan. Juga Tuhan mau menunjukkan betapa berkuasanya Dia. Betapa dia selalu memiliki rencana yang terbaik untuk kita. DIA tahu isi doa kita yang paling dalam yang tak mampu kita ungkapkan dan kita pikirkan. DIA sangat menghargai seruan kita. Seorang bapak pendeta pernah memberikan ayat Firman Tuhan berikut ini untuk saya renungkan : (I Korintus 2 : 9) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.
Jakarta, 10 Mei 2005
Tema Adiputra
Friday, May 06, 2005
Re-Igniting Your Jaded Employees' Passion for Work
Re-Igniting Your Jaded Employees' Passion for Work
Every business can have a management slump. But what do you do with apathetic employees who are having trouble recovering from broken promises and never-realized visions? Try this plan.
April 05, 2005
By Stever Robbins
Editor's note: This article was originally published in Harvard Business School's Working Knowledge.
Q: I'm interested in motivating long-term employees who have fifteen-plus years with my company. This group has heard all the visions of transient managers who were unfortunately only furthering their own careers, and they've become apathetic to improving their own lot, space or environment. I’m keen to hear the latest thoughts on whether it’s possible for these people to shift their thinking and practices.
A: Current wisdom says, "Hire for attitude and train for skills." That's because humans are stubborn and don't like change. Well, that’s not exactly true: We like change when other people are changing to make our lives easier. That's why social change takes a generation--the old mindset has to die off to make room for the new. But all is not hopeless. When attitudes are just a reaction to the work environment, people can change. Fix the situation, show them it's fixed, and let the change begin!
People get cynical and apathetic for good reason. Scandal after scandal reveals golden parachutes, endless perks and upper managers making millions without linking pay and performance. Jim Collins says in his book Good to Great that there's even evidence that the worse the leader, the more he or she takes home.
But let's assume you and your management team are prepared to be accountable, will accept a pay level the rank-and-file consider reasonable, and genuinely want to create a new company culture.
Do as I Do
Start with action, not words; people want results, not promises. You'll have to start by delivering change that's in their best interest, and back up your action with words, not the other way around.
A good place to start is by making a visible sacrifice for the company's common good. You might consider cutting your own pay, bonus and raise--especially if you've had layoffs recently. Give it back to the people who made it: your employees. Increase their benefits, hire back some laid-off workers or boost salaries. The role model here is Aaron Feuerstein, CEO of Malden Mills, who in 1995 kept 3,000 employees on the payroll after a fire leveled the business. His belief was that his responsibilities extended to employees and the community as well as to shareholders.
Next, give everyone a sense that showing up for work could make their lives better. At first, they won't be able or willing to believe you. You'll have to combat their lack of emotion with added emotion. Find the emotional connection people have with the company.
Some research indicates that people are most motivated when challenged to use their strengths to reach goals they think are doable. (See Authentic Happiness by Marty Seligman.) Find emotionally important goals by asking, "What's important about the work you do?" When they answer, ask, "What's important about that? What will that do?" a few times. Their answers will reveal values and passions. If they reply, "for the pay" and don't connect with any further goals, they may have no job passion to awaken. If someone's never had job-related hopes, dreams or aspirations, he or she probably won't develop them mid-career. (Significant emotional and spiritual events might do it, but that's a bit beyond the scope of this column. Business research suggests it's easier to change skills than attitudes, so your best bet may be to start hiring people with a more engaged attitude.) Watch people's faces: If they become animated or talk with longing in their voice, you've tapped into something real.
Now ask them to stay in that passion and describe their perfect job. Have 'em go wild. If the past culture has been especially oppressive, you'll probably be amazed at how unwild their dreams actually are. Things like "having a desk with three drawers" may be a big deal. Ask them, "What one thing can I do to help you move closer to that dream?"
Listen very, very carefully to the answer; you're at a critical moment. They're telling you how you can send an emotional message, not just a verbal one. Whatever they say to do, just do it. Say, "I appreciate your sharing that. I'll keep it in mind." Don't promise anything; they've learned that promises get broken. Just quietly get it done. Then check back and ask about next steps. As soon as possible, have them suggest what they can do to drive the change further.
Beware the temptation of self-promotion! Don't crow about how responsive you're being. It's no big deal. Choose small things and take visible actions that people find meaningful. Actions are what people want, not words. They'll notice, and the word will spread that you're a leader who actually makes life better, rather than issues empty promises.
Once you've taken action and people have evidence that things can be different, it's time to encourage them to step up and do their part. Once they start going, your job is supporting them and helping them align their actions with the direction of the overall company.
This isn't an easy process. If people are truly happy in their work environment, don't expect them to embrace change. But if the apathy comes from bad leadership and unchanging drudgery, you can change that, and they'll get it once you start demonstrating that you're truly different.
Help the Change Take Root
Be vigilant! People will have trouble adapting to you. Even if they're psyched to take the reins, they may need help coping. I worked with a secretary who dreamed of becoming a project manager. When given her first project, she discovered she didn't know how to step up and lead. In meetings, she deferred to senior people out of sheer habit, even when the responsibility was hers as project manager. We worked to help her define her role and to acquire the project management skills to master the position. As a leader, you foster change that may push people into new territory. Be sensitive, and be prepared to intervene and help insure their success.
As people take charge, they might charge right in someone else's face. Look out for turf battles, injured egos, feelings of exclusion and other potential hot spots. When war looks likely, step in and help the participants negotiate a settlement. Get them together, help them find common goals (or remind them of the team's common goals), and then give them the responsibility for working out their differences. Be available as a resource, but get them in the habit of behaving like mature adults. Once you've tapped their motivation, it's up to you to help them grow to work as a strong team that produces solid, substantial results.
Stever Robbins is an authority on overwhelm in the workplace. A veteran of nine startups (can you say: overwhelm to the max?) over 25 years, Stever co-designed the "Foundations" segment of Harvard's MBA program. He is the author of It Takes a Lot More than Attitude to Lead a Stellar Organization, and has appeared on CNN-fn and in the Wall Street Journal, Investors Business Daily and Harvard Business Review. Stever and his monthly newsletter can be found at http://SteverRobbins.com/.
Every business can have a management slump. But what do you do with apathetic employees who are having trouble recovering from broken promises and never-realized visions? Try this plan.
April 05, 2005
By Stever Robbins
Editor's note: This article was originally published in Harvard Business School's Working Knowledge.
Q: I'm interested in motivating long-term employees who have fifteen-plus years with my company. This group has heard all the visions of transient managers who were unfortunately only furthering their own careers, and they've become apathetic to improving their own lot, space or environment. I’m keen to hear the latest thoughts on whether it’s possible for these people to shift their thinking and practices.
A: Current wisdom says, "Hire for attitude and train for skills." That's because humans are stubborn and don't like change. Well, that’s not exactly true: We like change when other people are changing to make our lives easier. That's why social change takes a generation--the old mindset has to die off to make room for the new. But all is not hopeless. When attitudes are just a reaction to the work environment, people can change. Fix the situation, show them it's fixed, and let the change begin!
People get cynical and apathetic for good reason. Scandal after scandal reveals golden parachutes, endless perks and upper managers making millions without linking pay and performance. Jim Collins says in his book Good to Great that there's even evidence that the worse the leader, the more he or she takes home.
But let's assume you and your management team are prepared to be accountable, will accept a pay level the rank-and-file consider reasonable, and genuinely want to create a new company culture.
Do as I Do
Start with action, not words; people want results, not promises. You'll have to start by delivering change that's in their best interest, and back up your action with words, not the other way around.
A good place to start is by making a visible sacrifice for the company's common good. You might consider cutting your own pay, bonus and raise--especially if you've had layoffs recently. Give it back to the people who made it: your employees. Increase their benefits, hire back some laid-off workers or boost salaries. The role model here is Aaron Feuerstein, CEO of Malden Mills, who in 1995 kept 3,000 employees on the payroll after a fire leveled the business. His belief was that his responsibilities extended to employees and the community as well as to shareholders.
Next, give everyone a sense that showing up for work could make their lives better. At first, they won't be able or willing to believe you. You'll have to combat their lack of emotion with added emotion. Find the emotional connection people have with the company.
Some research indicates that people are most motivated when challenged to use their strengths to reach goals they think are doable. (See Authentic Happiness by Marty Seligman.) Find emotionally important goals by asking, "What's important about the work you do?" When they answer, ask, "What's important about that? What will that do?" a few times. Their answers will reveal values and passions. If they reply, "for the pay" and don't connect with any further goals, they may have no job passion to awaken. If someone's never had job-related hopes, dreams or aspirations, he or she probably won't develop them mid-career. (Significant emotional and spiritual events might do it, but that's a bit beyond the scope of this column. Business research suggests it's easier to change skills than attitudes, so your best bet may be to start hiring people with a more engaged attitude.) Watch people's faces: If they become animated or talk with longing in their voice, you've tapped into something real.
Now ask them to stay in that passion and describe their perfect job. Have 'em go wild. If the past culture has been especially oppressive, you'll probably be amazed at how unwild their dreams actually are. Things like "having a desk with three drawers" may be a big deal. Ask them, "What one thing can I do to help you move closer to that dream?"
Listen very, very carefully to the answer; you're at a critical moment. They're telling you how you can send an emotional message, not just a verbal one. Whatever they say to do, just do it. Say, "I appreciate your sharing that. I'll keep it in mind." Don't promise anything; they've learned that promises get broken. Just quietly get it done. Then check back and ask about next steps. As soon as possible, have them suggest what they can do to drive the change further.
Beware the temptation of self-promotion! Don't crow about how responsive you're being. It's no big deal. Choose small things and take visible actions that people find meaningful. Actions are what people want, not words. They'll notice, and the word will spread that you're a leader who actually makes life better, rather than issues empty promises.
Once you've taken action and people have evidence that things can be different, it's time to encourage them to step up and do their part. Once they start going, your job is supporting them and helping them align their actions with the direction of the overall company.
This isn't an easy process. If people are truly happy in their work environment, don't expect them to embrace change. But if the apathy comes from bad leadership and unchanging drudgery, you can change that, and they'll get it once you start demonstrating that you're truly different.
Help the Change Take Root
Be vigilant! People will have trouble adapting to you. Even if they're psyched to take the reins, they may need help coping. I worked with a secretary who dreamed of becoming a project manager. When given her first project, she discovered she didn't know how to step up and lead. In meetings, she deferred to senior people out of sheer habit, even when the responsibility was hers as project manager. We worked to help her define her role and to acquire the project management skills to master the position. As a leader, you foster change that may push people into new territory. Be sensitive, and be prepared to intervene and help insure their success.
As people take charge, they might charge right in someone else's face. Look out for turf battles, injured egos, feelings of exclusion and other potential hot spots. When war looks likely, step in and help the participants negotiate a settlement. Get them together, help them find common goals (or remind them of the team's common goals), and then give them the responsibility for working out their differences. Be available as a resource, but get them in the habit of behaving like mature adults. Once you've tapped their motivation, it's up to you to help them grow to work as a strong team that produces solid, substantial results.
Stever Robbins is an authority on overwhelm in the workplace. A veteran of nine startups (can you say: overwhelm to the max?) over 25 years, Stever co-designed the "Foundations" segment of Harvard's MBA program. He is the author of It Takes a Lot More than Attitude to Lead a Stellar Organization, and has appeared on CNN-fn and in the Wall Street Journal, Investors Business Daily and Harvard Business Review. Stever and his monthly newsletter can be found at http://SteverRobbins.com/.
Subscribe to:
Posts (Atom)