Translate

Saturday, April 10, 2010

Seminar “Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0″

Ditulis pada 08 April 10

Industri radio siaran di negeri ini telah dihadapkan fakta
koeksistensi teknologi analog dan digital, serta oleh pesatnya
kovergensi teknologi informasi, komunikasi, dan penyiaran. Bisa jadi
eksistensi siaran konvensional akan terkubur dimasa yang akan datang.
Tak pelak lagi, reinventing merupakan jawaban bagi entitas industri
radio siaran jika ingin survive menghadapi revolusi dunia radio
siaran. Reinventing itu pada prinsipnya merupakan usaha gotong royong
untuk menemukan kembali nilai dan masa depan radio. Melihat kondisi
seperti ini, langkah reinventing yang efektif adalah dengan mewujudkan
kolaborasi siaran lewat lembaga independen. e-Broadcasting Institute
(eBI) adalah lembaga independen yang menyediakan teknologi dan inovasi
bisnis bagi radio yang akan memanfaatkan kemajuan TIK terkini. Serta
menyiapkan layanan transformasi bagi radio sehingga siarannya dapat
dinikmati pendengar baik secara analog (AM/FM), digital (DAB/IBOC),
Internet & mobile (live streaming dan podcasting), dan social media
(facebook, twitter, dll). Revolusi dunia radio pada saat ini memacu
industri siaran menuju intelligence radio. Begitu juga dengan proses
bisnis dan manajemen harus transformatif. Dunia telah menembus batas
radio konvensional dan mengalami  revolusi dunia radio 2.0.  Jika pada
era radio analog, radio broadcaster harus mengurus semuanya, tetapi
dengan menggunakan inovasi dan teknologi Radio Broadcasting 2.0,
mereka bisa lebih banyak melakukan proses kreasi dan berinovasi dari
sisi konten/materi siaran. Sedangkan yang berkaitan dengan transmisi
sedikit demi sedikit bergeser dan diserahkan kepada pihak lain yang
lebih berkompeten (network operator).

Trend dunia menunjukkan bahwa usaha radio siaran sangat cerah, hal itu
ditunjukkan dengan adanya indikator Radio Listenership di USA yang
mencapai 93%  dan tidak jauh berbeda dengan Eropa, Jepang dan
Australia. Sayangnya terdapat anomali di negeri ini, sehingga
perkembangan radio siaran tidak optimal jauh dibawah potensi rata-rata
dunia. Hal itu disebabkan oleh belum adanya lompatan masal teknologi
serta belum idealnya regulasi yang menyangkut sistem siaran nasional
dan berjaringan. Dari aspek ekonomi,  menurut ZenithOptimedia potensi
belanja iklan dunia mencapai 504 miliar dollar AS, dari jumlah itu
belanja iklan  radio dunia mencapai 39 miliar dollar AS (7,8%). Data
AC Nielsen menyebutkan bahwa belanja iklan media di USA  mencapai  117
miliar dollar AS, sedang belanja iklan radio disana mencapai 16 miliar
dollarAS (13%). Ironisnya terjadi anomali di negeri ini, dimana
belanja iklan media mencapai Rp 48,5 triliun (AC Nielsen), disisi lain
belanja iklan radio hanya mencapai Rp 630 miliar   (1,3%). Diharapkan
hasil teknologi dan inovasi bisnis eBI akan mengatasi anomali tersebut
hingga menuju standar dunia (meningkat 6 kali dari kondisi aktual)

Langkah eBI juga telah mendorong terbentuknya elemen-elemen yang bisa
mendongkrak indeks Connectivity Scorecard. Paradigma itu terlihat
dengan beberapa entitas radio siaran  di kota besar, kabupaten dan
yang berada di pelosok daerah (kecamatan) yang telah menggunakan
teknologi dan inovasi bisnis eBI. Ternyata mereka mampu melakukan
transformasi menyongsong revolusi dunia Radio 2.0. Hal itu ditunjukkan
oleh testimoni para pengelola radio siaran  seperti Radio K-Lite
Bandung, Radio Zora Bandung, Radio Antares Garut, Radio Best Garut,
Radio Sukapura Tasikmalaya, Radio Buanajaya Tasikmalaya, Radio RIS
Pangandaran, Radio Rasilima Kuningan, Radio Actari Ciamis, dan
lain-lain. Pada prinsipnya testimoni tersebut menyatakan bahwa mereka
sangat terbantu teknologi dan inovasi eBI dalam melaksanakan siaran,
kinerja tim lebih terarah, lebih memacu untuk terus berkreasi
meningkatkan kualitas siaran. Memudahkan membuat produk siaran.
Memudahkan operasional siaran, baik bagi program director, music
director, news director, traffic, sampai dengan penyiar yang
menyiarkan via on-air. Mereka dapat berkoordinasi dan mengerjakan
tugas cukup dari rumah, sehingga keutuhan team work bisa terjaga.
proses siaran jadi terintegrasi, sehingga tidak kerepotan lagi mencari
bahan-bahan siaran. Selain itu juga dapat meningkatkan kualitas
siaran, dan ramah lingkungan. Mudah mengetahui data pendengar,
mengetahui respon pendengar yang masuk. Mudah mengevaluasi siaran,
dari sebelum siaran sampai pasca siaran termonitor dengan baik.
profesionalisme lebih meningkat, bisa merencanakan siaran,
melaksanakan siaran dan memantau pasca siaran. Siaran jadi mendunia,
sehingga pendengar mereka yang menjadi buruh migran di Malaysia,
Hongkong, Timur Tengah dan dari belahan dunia yang lainnya, masih bisa
proaktif mengikuti siaran radio dari kampungnya. Dari testimoni diatas
bisa ditarik kesimpulan bahwa inovasi dan teknologi Radio Broadcasting
2.0 yang diberikan eBI telah terbukti bisa mentransformasikan proses
bisnis radio siaran, sehingga memunculkan resources, efisiensi, dan
Innovation Driven Economies.

eBI sedang menggalang jaringan. Diharapkan sekurang-kurangnya 1.000
radio dapat bergabung hingga 2012. eBI telah membangun portal
kolaborasi konten radio (www.suararadio.com) yang memiliki kelebihan
bahwa semua radio dapat memuat berita atau kontennya yang ter-update
otomatis dari setiap website masing-masing radio, secara real time
tayang (pod casting), pendengar dapat menyimak berita atau konten
musik, dari gadget-nya di mana pun berada. Kelebihan lain, di
antaranya, pemasang iklan di radio di mana pun berada kini dapat
memantau iklannya real time, maupun melihat archive jam pemutaran
secara nyata. Kecanggihan itu dapat bekerja, karena adanya jantung
aplikasi yang diciptakan menggerakkan, berupa aplikasi RISE (Radio
Broadcasting Integrated System). Aplikasi yang berguna bagi para radio
melakukan otomasi siaran.

Perkembangan Radio 2.0 akan diakselerasi oleh teknologi Cloud
Computing dan kecerdasan buatan (Artificial Intellligence). Inovasi
Radio Broadcasting 2.0 yang tengah dilakukan oleh eBI pada gilirannya
nanti akan mewujudkan Radio Intelligence seperti yang terjadi di
negara maju. Fenomena tersebut terlihat dari proyek Next Generation
Dahsboard. Perkembangan inilah yang untuk selanjutnya ditarget oleh e-
Broadcasting Institute (eBI). Inovasi ke depan akan menuju Next
Generation Radio atau Radio 3.0; yang menginjeksi kecerdasan buatan ke
dalam radio 2.0 : intelligent radio. Bila kini kebanyakan radio siaran
masih menggunakan teknologi manual, atau pun sudah menggunakan sistem
komputer, namun sifatnya masih data base searah. Pada radio 2.0, semua
data dan input data, bisa real times, terintegrasi, bergerak dinamis.
Pada radio 3.0 kelak, sudah dapat diperintah dengan suara kita.

Sekian dan kami ucapkan terima kasih atas kerja samanya. Kepada
rekan-rekan jurnalis dari media cetak maupun elektronik, sekaligus
kami mengundang untuk menghadiri seminar ini.

Seminar "Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0"
Untuk Membangkitkan Industri Kreatif Radio Siaran pada Era
Koeksistensi dan Konvergensi Teknologi.

Tanggal      : 13 April 2010
Pukul           : 08.30 – 15.30 WIB
Tempat       : Aula Barat – Institut Teknologi Bandung

Penyelenggara: Institut Teknologi Bandung (ITB), e-Broadcasting
Institute (eBI), dan didukung oleh PT TELKOM serta Majalah BISKOM
sebagai Media Partner