Translate

Sunday, September 22, 2013

Kolaborasi, sebuah kompetisi baru..



MANIFESTO

Kolaborasi, Sebuah Kompetisi Baru

January 11 2013 | By Sigit Kurniawan
Sumber Ilustrasi: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwvRlkhl3RS20Gy5ra_0-B2KG4H6nwPTW8237k8BCif_nNw3g5eAFfKrdSfkk7398Gx2lnGd95Z5BBAmkTtQ57e83Pd5fNKCRMGywg6Qcz5sfV2XbP_iaKVSqs6fJE_8EbQuZuhg/s1600/Collaboration.jpg


Era Internet membuka beragam peluang bisnis. Konektivitas antarorang lintas batas membuat peluang-peluang bisnis makin besar. Bisnis saat ini tidak lagi dikuasai oleh pemain-pemain besar yang sudah menggurita. Tapi, dinamika pasar ini juga diramaikan oleh para pemain baru yang berskala lebih kecil. Salah satu cara agar bisnis tetap sustainable di tengah kompetisi yang makin sengit tersebut adalah berkolaborasi.

Kolaborasi ini bisa dilakukan dengan antarpemain lintas kategori untuk saling mendukung dengan produk dan layanan masing-masing atau kolaborasi dengan para kompetitornya. Kolaborasi dengan kompetitor ini populer disebut dengan co-opetition yang merupakan gabungan dari kata "cooperation" dan "competition."

Kebutuhan untuk berkolaborasi ini menandaskan bahwa "kita tidak bisa bermain sendirian" di pasar. Bahkan, merek-merek rakasasa seperti Apple, Samsung, Google, Starbucks, dan sebagainya melakukan aneka bentuk kolaborasi untuk melangsungkan bisnisnya.

Ada satu artikel menarik di Harvard Business Review yang mengupas bagaimana kolaborasi saat ini sudah masuk pada taraf kompetisi. Kolaborasi tidak lagi sebagai strategi bersama untuk membangun kemitraan, tapi strategi berkolaborasi itu sendiri sudah menjadi strategi menghadapi kompetisi. Secara sederhana, hal ini dipahami sebagai kompetisi antarkolaborasi (antar "geng", misalnya). Kolaborasi model inilah yang menjadi pesan dari artikel berjudul "Collaboration is the New Competition" dan ditulis oleh Ben Hecht, President dan CEO Living Cities.

Hecht menawarkan lima langkah dalam membangun kolaborasi yang memiliki pengaruh untuk perubahan sosial. Berikut adalah sadurannya:

1. Mendefinisikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan secara bersama.Sejak awal, pebisnis harus bisa merumuskan apa secara jelas apa yang menjadi tujuan utama dari kolaborasi tersebut. Mereka juga harus bisa mengartikulasikannya dalam langkah-langkah konkret. Pertanyaan kritis yang bisa dilontarkan untuk merumuskan tujuan kolaborasi itu adalah "Apa yang bisa dilakukan dengan kolaborasi yang tidak bisa kita lakukan sendirian?" . Hecht memberi contoh sebuah kolaborasi yang melibatkan penentu kebijakan, perusahaan, yayasan, maupun komunitas organisasi.

2. Melihat kolaborasi dengan pandangan lebih luas. Kolaborasi yang baik terjadi bila mampu merangkum dan melihat tujuan secara lebih luas. Untuk bisa ke sana, orang yang dilibatkan pertama untuk merumuskan visi kolaborasi adalah para petinggi perusahaan atau lembaga. Misalnya, mereka yang menjabat sebagai CEO.

3. Beradaptasi pada data. Kolaborasi antarlembaga atau perusahaan yang berbeda tidak lepas dari masalah. Hal ini tak jarang bersifat kompleks. Tantangan ini membutuhkan pembelajaran kontinu dan inovasi serta penggunaan data real time untuk membantu partisipan dalam memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan dalam kolaborasi tersebut.

4. Berbagi dalam kolaborasi. Di sini, para kolaborator harus mau berbagi apa yang dimiliki masing-masing, baik informasi, metode, dan sebagainya. Mereka harus bisa bekerjasama, saling belajar, dan mendukung. Kerjasama ini sangat dimudahkan dengan kehadiran internet yang menyediakan kanal-kanal untuk konektivitas.

5. Dukungan tim inti. Kemajuan terbaik bisa dicapai ketika tim inti kolaborasi tersebut tetap menjaga dinamika kolaborasi. Misalnya, selalu memberikan semangat, melibatkan dan mengembangkan tim, dan sebagainya.