Translate

Monday, May 18, 2020

Prinsip-prinsip di balik Manifesto Agile

Prinsip-prinsip di balik Manifesto Agile



Kami mengikuti prinsip-prinsip berikut:Prioritas utama kami adalah memuaskan klien
dengan menghasilkan perangkat lunak yang bernilai
secara dini dan rutin.

Menyambut perubahan kebutuhan, walaupun terlambat
dalam pengembangan perangkat lunak.

Proses Agile memanfaatkan perubahan untuk
keuntungan kompetitif klien.

Menghasilkan perangkat lunak yang bekerja
secara rutin, dari jangka waktu beberapa minggu
sampai beberapa bulan, dengan preferensi kepada
jangka waktu yang lebih pendek.

Rekan bisnis dan pengembang perangkat lunak
harus bekerja-sama tiap hari sepanjang proyek.

Kembangkan proyek di sekitar
individual yang termotivasi.

Berikan mereka lingkungan dan dukungan
yang mereka butuhkan, dan percayai mereka
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Metode yang paling efisien dan efektif
untuk menyampaikan informasi dari dan dalam
tim pengembangan perangkat lunak
adalah dengan komunikasi secara langsung.

Perangkat lunak yang bekerja adalah ukuran utama kemajuan.
Proses Agile menggalakkan pengembangan berkelanjutan.

Sponsor-sponsor, pengembang-pengembang, dan pengguna-pengguna
akan dapat mempertahankan kecepatan tetap secara berkelanjutan.
Perhatian yang berkesinambungan terhadap keunggulan teknis
dan rancangan yang baik meningkatkan Agility.

Kesederhanaan--seni memaksimalkan jumlah
pekerjaan yang belum dilakukan--adalah hal yang amat penting.
Arsitektur, kebutuhan, dan rancangan perangkat lunak terbaik
muncul dari tim yang yang dapat mengorganisir diri sendiri.

Secara berkala, tim pengembang berefleksi tentang bagaimana untuk menjadi lebih efektif,
kemudian menyesuaikan dan menyelaraskan kebiasaan bekerja mereka.




The Twelve Agile Manifesto Principles
The Twelve Principles are the guiding principles for the methodologies that are included under the title “The Agile Movement.” They describe a culture in which change is welcome, and the customer is the focus of the work. They also demonstrate the movement’s intent as described by Alistair Cockburn, one of the signatories to the Agile Manifesto, which is to bring development into alignment with business needs.

The twelve principles of agile development include:

Customer satisfaction through early and continuous software delivery – Customers are happier when they receive working software at regular intervals, rather than waiting extended periods of time between releases.
Accommodate changing requirements throughout the development process – The ability to avoid delays when a requirement or feature request changes.
Frequent delivery of working software – Scrum accommodates this principle since the team operates in software sprints or iterations that ensure regular delivery of working software.
Collaboration between the business stakeholders and developers throughout the project – Better decisions are made when the business and technical team are aligned.
Support, trust, and motivate the people involved – Motivated teams are more likely to deliver their best work than unhappy teams.
Enable face-to-face interactions – Communication is more successful when development teams are co-located.
Working software is the primary measure of progress – Delivering functional software to the customer is the ultimate factor that measures progress.
Agile processes to support a consistent development pace – Teams establish a repeatable and maintainable speed at which they can deliver working software, and they repeat it with each release.
Attention to technical detail and design enhances agility – The right skills and good design ensures the team can maintain the pace, constantly improve the product, and sustain change.
Simplicity – Develop just enough to get the job done for right now.
Self-organizing teams encourage great architectures, requirements, and designs – Skilled and motivated team members who have decision-making power, take ownership, communicate regularly with other team members, and share ideas that deliver quality products.
Regular reflections on how to become more effective – Self-improvement, process improvement, advancing skills, and techniques help team members work more efficiently.
The intention of Agile is to align development with business needs, and the success of Agile is apparent. Agile projects are customer focused and encourage customer guidance and participation. As a result, Agile has grown to be an overarching view of software development throughout the software industry and an industry all by itself.

Tuesday, May 12, 2020

PADA SAAT GENERASI “MILLENNIAL” TERPESONA OLEH GENERASI “KOLONIAL"

PADA SAAT GENERASI "MILLENNIAL" TERPESONA OLEH GENERASI "KOLONIAL"

Selama seminggu ini saya berkabung, saya berduka. Didi Kempot (also known as The Lord of the Broken Heart) meninggalkan kita semua. Selama seminggu saya sibuk menterjemahkan lirik lagu-lagunya ke Bahasa Perancis sambil meresapi makna lagunya.
Yes, saya memang mengidolakan dia. Meskipun saya juga (sangat) menyukai The Queen of Ambyar (Sintya Marisca dengan dance-nya yang santuy itu),

Didi Kempot (nama Kempot berasal dari kelompok pengamen dia berasal, Kelompok Pengamen Trotoar), memang menjadi phenomena baru di negeri ini. Beliau berhasil memikat semua golongan, semua usia (termasuk Millennial), dan bahkan teman-teman saya yang tidak mengerti Bahasa Jawa pun menyukai lagu-lagunya (I still don't understand why). Tetapi mungkin karena Didi menggunakan satu Bahasa universal, Bahasa yang dimengerti semua orang, Bahasa Cinta. Apalagi mereka yang patah hati, hence his royal title as the Lord of The Broken Heart"

Siapa sih yang tidak pernah patah hati? 
Bahasa Inggris "courage" (keberanian) berasal dari bahasa Latin "cuer" atau Bahasa Perancis "Coeur" yang artinya "hati" atau "perasaan". Untuk "jatuh hati" anda harus mempunyai courage (keberanian), karena selalu akan ada resiko "patah hati". Dan mereka inilah yang dengan begitu smart-nya digunakan oleh Didi untuk masuk ke dalam "mass-market" yang diciptakannya. Mas Didi begitu smart, dan berhasil masuk ke kalangan Millennial, menjadi idola mereka.

Ini sebuah tamparan keras bagai para marketing professional yang selalu melakukan dikotomi antara millennial dan colonial. Mereka mengganggap brand yang disukai oleh colonial tidak akan disukai oleh millennial. Saat colonial menggunakan FaceBook, millennial lari ke Instagram. Saat colonial dulu nonton CNN, millennial lari ke MTV. Saat colonial suka sesuatu brand, millennial langsung lari ke brand lain.
Seorang marketer pernah menyampaikan ke saya,"Mereka ini adalah rebeillon, mereka akan membuat identity sendiri, dan menolak menggunakan identity yang digunakan orang tua mereka! Ini sebuah bentuk perlawanan psikologis, sebagai rebeillon"
Dan mas Didi yang berhasil memikat colonial sekaligus millennial pun menampar mereka. Konser-konser mas Didi Kempot di mana-mana dibanjiri oleh anak-anak muda, bahkan diundang khusus dari kampus ke kampus, dengan biaya ratusan juta per malam.

Terima kasih mas Didi, sudah mengajari kami, bahwa sebuah icon, sebuah brand dapat menjadi idola dua golongan manusia, the colonial and the millennial.
Pelajaran ini harus kita terapkan pada brand identity yang kita kembangkan. Lets learn from him, agar kita juga mampu mengembangkan market untuk dua target itu, sekaligus.

What can we do?
Kita perhatikan lima hal ini yang kita bisa pelajari dari The Maestro of Campursari ….

a) FOLLOW YOUR PASSION, FOLLOW YOUR HEART, KNOW YOUR STRENGTH

Jangan ikut-ikutan orang lain . Be Yourself. Mas Didi dibesarkan di keluarga pelawak (ayahnya dan kakaknya adalah pelawak terkenal), tetapi dia memilih untuk follow passion dia, dan di situlah kekuatan dia. Mengarang lagu dan menyanyi.
Sama dengan brand identity kita. Begitu besar godaan untuk meniru dan menyerupai competitor kita, bisa yang lebih besar, bisa yang lebih kecil. DON'T DO IT. Be yourself, and use your strength at your advantage.

b) UNDERSTAND YOUR TARGET MARKET, UNDERSTAND YOUR AUDIENCE

The Lord of Brokenheart, mengerti bagaimana memikat millennial. Dengan mengajarkan, bahwa kalau anda patah hati, bukan berarti anda harus murung dan mengurung diri. Menarilah, menyanyilah dan berjogetlah. " Life isn't about waiting for the storm to pass…It's learning to dance in the rain. "
Dia benar-benar mengerti begitu banyak kaum Millennial yang patah hati, baik yang JONES (jomblo ngenes), maupun yang ditinggalkan pacarnya.
Didi plays very well on that field. Tetapi itu semua karena pemahamannya yang dalam pada kaum Millennial.
That's what we need to do, benar-benar mengerti customer kita. Mengerti apa yang pikirkan, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka katakana, dan apa yang mereka lakukan. Hanya dengan itu kita dapat mengirimkan pesan tentang brand identity kita yang dapat mereka terima dengan baik,

c) ADOPT YOUR PRODUCTS TO ATTRACT THEM, BE PERSISTENT

Apakah kita pikir Mas Didi sukses dari awal? Off course not. Dua album pertamanya (We Cen Yu dan Modal dengkul) gagal total. Persistence is the key of the success. Dia terus menerus mencoba, menyesuaikan diri dengan selera penggemarnya. Hanya pada album ketiga (Stasiun Balapan) akhirnya dia sukses. 
Innovasi tidak ada yang berhasil pada awalnya. You have to through a series of failures before you taste your own success.
Keep innovating, keep trying, adapt and improve again!

d) START SOMEWHERE, BE READY TO GO EVERYWHERE

Telkomsel harus memulai network pertamanya di Batam , sebelum kemudian mengembangkannya ke Jakarta. Didi Kempot harus migrasi ke Suriname, di mana dia sukses di sana, sebelum akhirnya Kembali ke Indonesia dan semakin sukses!
Innovasi anda tidak harus merajai semua region dan semua kota pada awalnya. Think Big, Start Small, Act Now. Seranglah sebuah kota atau sebuah area atau sebuah segment pasar khusus, berjayalah di sana, pelajari, dan gunakan untuk mendominasi market pada skala yang lebih besar.
Start somewhere, be ready to go everywhere.

e) RESPECT YOUR OWN IDENTITY, IMPLEMENT CONSISTENTLY
The King of Ambyar selalu setia pada identity dia sendiri. Tidak pernah terpikir untuk berganti. Semua orang tahu style lagunya, kata-kata yang digunakan, baju yang dipakai di panggung dengan style yang sama. That's a strong brand identity.
Itulah cara membangun sebuah brand, dengan membuat identity yang kuat, diimplementasikan secara konsisten, terus menerus, setiap hari, setiap lagu, setiap konser.
How strong is your brand? How the people remember your brand? What are your unique combination of characters that would differentiate you from others?
Respect your identity, implement consistently!

Jadi ingat ya, pada saat Brand anda ingin menaklukkan hati "millennial", coba lakukan kelima hal ini:
FOLLOW YOUR PASSION, FOLLOW YOUR HEART, KNOW YOUR STRENGTH
UNDERSTAND YOUR TARGET MARKET, UNDERSTAND YOUR AUDIENCE
ADOPT YOUR PRODUCTS TO ATTRACT THEM, BE PERSISTENT
START SOMEWHERE, BE READY TO GO EVERYWHERE
RESPECT YOUR OWN IDENTITY, IMPLEMENT CONSISTENTLY

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Sunday, May 10, 2020

Istri kunci suksesnya

Amsal 31:10-12, 25-29 (TB)  Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 
Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. 
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. 
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. 
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. 
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: 
Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. 


Ayat diatas cukup unik. Menggambarkan apa yang kita lihat dan dengar selama ini. Di balik orang sukses, ada istri yang kuat.

Istri yang cantik bukan itu yang utama kita butuhkan, tapi istri yang cakap. Istri yang mendukung tugas dan tanggung jawab suami. 

Saya megingat awal masa pernikahan yang sederhana, awal kehidupan rumah tangga yang biasa saja, kemudian masuk ke dalam masa sulit ketika usaha memburuk, tidak ada pemasukan dan anak baru saja lahir serta memerlukan dana. Masa itu juga harus melayani di gereja karena baru saja diangkat menjadi pelayan jemaat. 

Itulah masa sulit kami hingga semua harus berkorban. Istrilah yang menguatkan, mendukung segala jalan yang coba dipilih. Keterbukaan kepada istri mengenai kondisi kita sesungguhnya juga sangat penting. Saya juga belajar dari pengalaman kawan yang tidak jujur dengan kondisi keuangannya dan istrinya tidak peduli, terus menuntut.

Menghargai istri dimulai dengan kejujuran kita. Istri akan mengerti dan mendukung, dan kita bersama datang memohon kepada Tuhan, memohon jalan keluar yang terbaik. Istri yang baik tidak hanya mengerti tapi juga mendukung. Membantu apa yang bisa dia bantu. 

Mungkin istri kita tidak bisa jualan seperti kita, bekerja seperti kita. Tapi dia menyiapkan segala sesuatu agar kita bisa bekerja. Tangannya cepat dan cakap, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak kita. Itu juga bukan pekerjaan mudah. Suasana rumah, anak-anak bersahaja , akan membuat perasaan kita leboh baik.

Dulu, hampir 3 bulan lebih banyak bekerja di rumah, membuat dokumen dan proposal. Dan keluar hanya untuk bertemu klien. Tiap langkah kami berdoa bersama. Doanya kadang membuat kita tersekat nafasnya, menahan haru. Tapi itulah yang menguatkan kita.

Hargailah istri anda, karena mereka juga salah satu sumber kekuatan kita terutama di kala krisis seperti saat ini.

Saturday, May 09, 2020

Jadi Pengajar

Ibrani 5:12 (TB)  Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. 


Menjadi pengajar ? Mungkin orang hanya berpikir tentang profesi guru, dosen, dan berbagai pengajar resmi lainnya. 

Kenyataannya, dalam seluruh kehidupan kita, kita adalah pembelajar, dan seharusnya kita juga bisa menjadi pengajar.

Pengajar artinya memberikan ajaran, sesuatu hal yang mungkin orang lain perlukan, orang lain ingin tahu, orang lain ingin pelajari. Ini fungsi sebagai pengajar. Mungkin juga tidak semua hal dapat diajarkan. Tapi dengan menceritakan, menjelaskan ulang kembali, menuliskan ulang kembali, dan sekarang ini, merekamnya kembali, membuat kita sendiri semakin mengerti dengan baik. 

Dalam masa pandemi sekarang ini, tidak banyak hal yang bisa kita lakukan. Kami dalam tim kantor menggunakan kesempatan ini untuk belajar, mempelajari banyak hal. 

Selain itu juga, kami meminta tim kami untuk menjelaskannya ulang, di rekam dalam video, dan kami publikasikan di youtube. Senang rasanya, ada kebanggaan baru. Mereka yang tidak pernah berbicara banyak, ternyata ada yang lancar sekali menjelaskan dalam video.

Menjadi pengajar saat ini memang kelihatannya tidak sulit. Banyak anak millenial sekarang ini merekam berbagai konten, dan membagikannya untuk banyak orang, dalam banyak platform.

Maka bagi kita,      umat Kristen, pengikut Kristus, Tuhan kita sendiri adalah pengajar. Dia memberikan teladan untuk kita, menjadi pengajar  . Apapun posisi kita sekarang ini, kita telah diberikan kemampuan untuk mengajar, dan menjadi pengajar. Bagikan talenta kita, ilmu kita, apa yang kita miliki, karena itu adalah hakekat kita, sebagai manusia, ciptaan Allah,sang Pengajar Agung.


Friday, May 08, 2020

Tindakan

Lukas 10:35-37 (TB)  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"



Pernah meminta tim kita untuk melakukan tugasnya, tapi tidak dikerjakannya. Itulah pentingnya tindakan, aksi, hal yang nyata.

Kita bisa saja berteori tentang banyak hal. Tapi kalau tidak ada tindakan, hal yang nyata, semua percuma. 

Tindakan juga diperlukan untuk mewujudkan kasih. Apa yang kita kerjakan berdasarkan kasih, dan Tuhan sudah mengajarkannya. 

Di masa pandemi ini, semua merasakan kesulitan. Itulah sebabnya kita memerlukan kasih dan tindakan. Kasih memperkuat dan diperkuat oleh Firman Tuhan yang kita dengar, baca , dan rasakan setiap saat. Tindakan menyempurnakannya.


Monday, May 04, 2020

Temukan solusi-solusi untuk membantu perusahaan anda di ASCI 8 Mei 2020

Temukan berbagai solusi untuk membantu perusahaan anda di masa pandemi ini, di acara
APTIKNAS Smart City & IoT Solutions during Covid-19 Pandemic

Segera register ke : https://www.eventcerdas.com/registrasipeserta.php?id=134
Tempat terbatas

#smartcity #IoT #aptiknas #eventcerdas #kotacerdas #kotacerdasindonesia




Sunday, May 03, 2020

Tanpa Mudik Lebaran Tetap Asik - APTIKNAS

Pengurus Asosiasi Pengusaha TIK Nasional dan Ketua kami Ir. Soegiharto Santoso - Hoky  mempersembahkan :

"Tanpa Mudik Lebaran Tetap Asik"

Terima kasih kepada pak Dedy Budiman M.Pd yang telah meluangkan waktunya untuk menggali bakat terpendam para Pengurus APTIKNAS, ternyata ada yg punya Bakat Penyanyi kaya Raisa, Rocker, Koplo, Kpop Fanky Christian  dan ada yang ternyata Gak bisa nyanyi kayak saya...hahaha.

Jangan Denger suara sumbang saya tapi liat semangat kami semua Pengurus APTIKNAS, untuk mengingatkan Rekan2 semua agar bersama putuskan penyebaran Covid-19 di Indonesia, jadi jangan mudik ya.

Bisa liat Videonya di YouTube berikut ini.: