Translate

Thursday, July 30, 2026

Ibu Yang Masakin Buat Pembunuh Anaknya

*"Ibu Yang Masakin Buat Pembunuh Anaknya"*


Namanya Ibu Sumiati. Usianya 58 tahun. Sehari-hari berjualan sayur di pasar Medan.

Tahun 2018, anak satu-satunya, Rina, yang saat itu berusia 19 tahun, meninggal dunia setelah ditabrak sepeda motor.

Pengendara yang menabrak kabur. Tiga hari kemudian, pelakunya tertangkap.

Namanya Adit. Usianya 21 tahun. Seorang mahasiswa. Rina meninggal di tempat.

Adit kemudian divonis 5 tahun penjara.

---
Enam bulan setelah vonis. Ibu Sumiati datang ke lapas membawa rantang.

Petugas bertanya,
"Bu, mau menjenguk siapa?"

"Adit."

Seisi lapas mungkin bertanya-tanya. Keluarga korban datang menjenguk pelaku?

Di dalam, Ibu Sumiati duduk berhadapan dengan Adit. Adit kurus. Tangannya gemetar. Kepalanya tertunduk. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ibu Sumiati.

"Maaf, Bu..."

Ibu Sumiati membuka rantang.
Ada sayur lodeh.
Ikan goreng.
Sambal.
Nasi hangat.

Lalu ia berkata,
"Makan, Nak. Pasti makanan di sini nggak enak."

Adit menangis.
"Bu... saya yang membunuh anak Ibu..."

Ibu Sumiati memegang tangannya.
"Iya, Nak. Ibu tahu. Tapi kalau Ibu membenci kamu, Rina tidak akan hidup kembali. Kalau Ibu menyayangi kamu, mungkin masih ada satu orang yang bisa diselamatkan."

---
Tiap minggu. Selama 5 tahun.
Hujan.
Panas.
Lebaran.
Ibu Sumiati tidak pernah absen. Ia datang membawa masakan. Duduk selama 30 menit. Dan bercerita tentang Rina.

"Rina dulu suka lodeh ini. Kalau Rina marah, mukanya begini... Nak, dulu kamu kuliah apa?"

Awalnya Adit hanya diam.
Tahun pertama...
Tahun kedua, Adit mulai bercerita.
Tahun ketiga, Adit meminta diajari berdoa.
Tahun keempat, Adit dibaptis di dalam lapas.

---
Hari Adit bebas.
Yang menjemputnya?
Ibu Sumiati. Ia membawa baju baru. Dan kue.

Seorang wartawan bertanya,
"Bu, kenapa Ibu mau memaafkan?"

Ibu Sumiati menjawab sambil menggandeng tangan Adit,
"Lima tahun lalu ada yang mengambil anak saya. Hari ini Tuhan memberi saya anak lagi. Rugi kalau saya tolak."

---
Kini Adit bekerja di sebuah bengkel. Setiap Minggu, ia pergi ke makam Rina. Membawa bunga. Membersihkan makamnya. Lalu pergi ke rumah Ibu Sumiati.

Mereka makan bersama. Di meja makan Ibu Sumiati ada dua foto.

Satu foto Rina.
Satu lagi foto Adit saat wisuda di lapas.

Di bawahnya tertulis:
"Dua anakku.bSatu di surga, satu lagi Tuhan titip."

---
Yang paling membuat hati remuk...

Tahun lalu, Ibu Sumiati jatuh sakit. Kanker.
Siapa yang merawatnya?
Adit. 24 jam.
Memasakkan makanan.
Menyuapi.
Menjaga.

Ketika Ibu Sumiati hampir meninggal, ia berbisik,
"Nak... terima kasih ya sudah menjadi jawaban doa Ibu. Dulu Ibu berdoa: Tuhan, ambil sakitku, gantikan dengan anakku."

"Tuhan menjawab: Aku kasih kamu anak baru."

Adit menangis dalam pelukannya.
"Bu, aku janji. Aku akan hidup untuk dua orang sekarang. Untuk diriku sendiri... dan untuk Rina."

---
Pengampunan bukan berarti kita tidak pernah terluka.

Pengampunan bukan berarti kita harus melupakan.

Dan pengampunan bukan berarti apa yang terjadi menjadi benar.

Tetapi pengampunan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan luka menguasai seluruh hidup kita.

Seperti yang tertulis:
_"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis." (Roma 12:15)_

Ibu Sumiati tetap kehilangan Rina. Tetap merindukannya. Tetap membawa luka itu.

Namun, ia memilih untuk tidak menanam kebencian di dalam hatinya.

Ia memilih untuk memasakkan sayur lodeh bagi orang yang telah memberinya luka paling dalam. Memberikan yang terbaik kepada seseorang yang pernah memberikan hal terburuk dalam hidupnya.

Dan mungkin, di situlah kita melihat bahwa Tuhan bisa mengubah tempat yang paling gelap menjadi ruang pemulihan.

Dua orang akhirnya sama-sama dibebaskan.

Satu dari penjara.
Satu lagi dari kebencian.

Sahabat....

Jujur, saya menangis membaca kisah ini.

Karena pengampunan seperti yang dilakukan Ibu Sumiati bukanlah hal yang mudah.

Kita sering berkata,
"Aku sudah memaafkan, tapi jangan pernah datang lagi dalam hidupku."

Namun Ibu Sumiati berkata,
"Aku memaafkanmu. Sini... makan dulu."

Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa hati manusia yang terluka pun masih bisa memilih kasih.

Marilah kita mengingat Firmwn Tuhan,
_Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:15)_

Dan semoga kita semua belajar untuk menyerahkan luka-luka kita kepada Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati. 🙏

Sumber cerita dari ibu Ester Hotnida Siregar 

#pengampunan