Translate

Thursday, December 06, 2018

TERNYATA RUMPUT YANG LEBIH HIJAU ADALAH ...

TERNYATA RUMPUT YANG LEBIH HIJAU ADALAH ...


Malam itu saya dinner dengan dua orang teman lama yang sedang berkunjung ke Jakarta. Sebut saja namanya Sylvie dan Rachel. Dan kami makan malam di sebuah rumah makan Perancis di daerah Senopati.
Pada saat selesai makan malam dan kami masih ngobrol, Rachel sempat mengeluh tentang pekerjaannya. Tiba-tiba terasa membosankan. Apalagi dia sedang tidak cocok dengan bossnya.
Pada saat itulah tiba-tiba tawaran pekerjaan di tempat lain datang.
Rachel berkata,”Bien sure, l’herbe chez les voising sont toujours plus verte que chez nous”
(Tentu saja rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau daripada di halaman kita sendiri!).

Pada saat itu Sylvie langsung menyetop pembicaraan,”Bien sure que non!” (Tentu saja tidak!)
Sylvie menambahkan,”Sudah lama kita mendengarkan konsep yang salah. Rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau daripada di halaman kita sendiri? Pekerjaan orang lain selalu lebih fun daripada pekerjaan kita. Istri orang lain lebih cantik daripada istri kita. Makanan yang teman pesan di restoran selalu kelihatan lebih enak juga. Really? Lets stop this non sense!”

Mungkin cara Sylvie menyampaikan memang agak keras. Tetapi benar juga sih. Kita selalu mendengarkan bahwa “Rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri.”
Kalau kita setuju dengan pernyataan itu berarti mindset kita adalah:
⁃ complain
⁃ powerless (tidak berdaya)
⁃ selalu membandingkan kita denga  orang lain
⁃ tidak mensyukuri apa yang kita miliki atau apa yang kita capai
wah negative banget kan?

Sylvie langsung menambahkan,”Rumput yang lebih hijau adalah rumput yang disirami air setiap hari!”
Kalau rumput anda tidak hijau, siramilah air setiap hari supaya lebih hijau daripada rumput tetangga.
Kalau pekerjaan anda mulai terasa membosankan, lakukan sesuatu agar pekerjaan anda menjadi menarik (do something new, do cross-functional projects, learn something new, find a mentor ...etc..etc).
Kalau anak-anak anda mungkin kelihatan berperilaku kurang sopan atau tidak rajin belajar, lakukan sesuatu yanv menjadi tanggungjawab anda, didiklah dan sayangi mereka!
If your wife does not look pretty, do something to make her look pretty!

Kelihatan jelas di sini kan, dengan melakukan hal hal di atas, mindsetnya sekarang adalah:
⁃ Ownership
⁃ Action oriented (bukannya complain)
⁃ Bersyukur (bukan mengeluh)
⁃ Focus pada diri kita sendiri (bukan membandingkan dengan yang lain)

Di sinilah perubahan mindset itu menjadi penting, agar kita tidak terus menerus complain, tetapi focus pada apa yang kita lakukan (action oriented).

Jadi apa yang harus kita lakukan?

a) Be Gratefull with what you have

Bersyukurlah atas apa yang kita miliki atau kita capai selama ini.
Kita sudah bekerja keras mencapainya. Bersyukurlah, dan ucapkan selamat kepada diri anda sendiri.

b) Build a dream that you want to achieve
Gambarlah cita cita anda berikutnya.
Be ambitious. Be bold. Apa yang masih anda ingin capai di masa depan.

c) Work hard to improve your situation
Focus, focus, focus.
Setelah anda menggambar cita cita anda berikutnya, sekarang waktunya untuk bekerja keras dengan cerdas (work smart and hard!).

d) Relax, enjoy your life and stop comparing yourself with others

Yang penting adalah fokus pada diri anda sendiri.
Jangan membandingkan dengan orang lain.
Semua orang mempunyai kecepatan yang berbeda beda dalam meraih cita-citanya.
Dan jangan lupa, enjoy life and take a break.
Hidup adalah marathon, bukan sprint, jaga stamina, jaga kesehatan, tingkatkan motivasi anda sendiri.

Jadi ingat, rumput yang lebih hijau adalah rumput yang disirami air, setiap hari!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihantomu 

Cybersecurity Policy landscape

Wednesday, December 05, 2018

Upgrade Your Digital Literacy and Digital Mindset for Industry 4.0

Upgrade Your Digital Literacy and Digital Mindset for Industry 4.0

Data Analytics merupakan inti menggerakkannya atau "core enabler" dari Industri 4.0, tanpa memiliki kualitas data yang mumpuni mustahil kita akan berjaya pada industri 4.0. "It's capital mistake to theorize before one has data" – Sherlock Homes, A scandal in Bohemia. Ironisnya penggunaan data untuk pengambilan keputusan di kalangan eksekutif saat ini kurang dari 1% merujuk penelitiannya Mc Kinsey itupun utilitasnya hanya berkisar di 12% saja.

Urusan penyiapan data dengan kualitas baik ini bukan hanya tanggungjawab Divisi atau Departemen Information Technology saja, organisasi mau tidak mau, suka atau tidak suka harus menjadi "data driven" dalam era industri 4.0, dimana pengambilan keputusan yang cepat dan efektif disandarkan dan diperoleh dari data-data yang insightfull dan dapat ditindak lanjuti (actionable).

Jadi dengan sangat akan terpaksa bahkan dipaksa para manajer, eksekutif dan pengelola perusahaan dituntut memiliki ketermelekan soal data (Data Literacy), pola pikir digital (Digital Mindset) untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi pada industri 4.0 seperti dikatakan Einstein : ""No problem can be solved from the same level of consciousness that created it." Perusahaan tidak akan bisa survive dalam industry 4.0 ketika dikelola para "Digital Dinosaur's" tentunya yang menggunakan pola lama atau kuno untuk memecahkan problem yang terjadi saat ini dan masa depan.
Persoalan Penyiapan data dan analytics untuk menyongsong era industri 4.0 adalah tanggung jawab dari seluruh lapisan dan jajaran pengelola korporasi, tidak hanya Departemen IT atau Riset dan pengembangan saja. Oleh karenanya diperlukan IT for non IT Trainings, Data Science for non-programmers and IT, hal ini merupakan yang wajar karena pendahulunya sudah berada terlebih dahulu seperti Finance for non Finance, HR for non HR Training.

Apa inti dari IT for non IT Trainings, Data Analytics for non-programmers and IT adalah membangun "Ketermelekan data" (Data Literacy) sehingga mereka sadar data itu dihasilkan oleh siapa, diperlukan untuk apa dan oleh siapa" sehingga mereka bisa mendapatkan insight jika terdapat kualitas yang buruk akan berdampak fatal kepada tujuan organisasi. Kedua membangun "mindset digital" yang didasarkan pada dua hal yakni "digital know-how" dan "digital usage", diharapkan peserta akan memiliki bekal pengetahuan yang mumpuni dan memiliki kemauan untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai efektifitas kerja yang optimal. Ketiga membekali peserta mampu membangun "Actionable Insight" dari sekumpulan data yang dimiliki untuk "automatic self-improvement" yang teramat dipentingkan dalam era industry 4.0.

Sangatlah tidak mungkin kita bisa mengembangkan "driverless car", mobil pintar tanpa supir ketika data-data pada gps atau mapsnya tidak tepat bahkan akan menimbulkan bahaya, bisa dibayangkan jika data-data yang terdapat di aplikasi go-jek, go-food tidak tepat, dilain pihak bagaimana Netflix dapat membangun "customer experiences" dengan memanfaatkan data pelanggannya dengan memberikan guidance atau sistem rujukan yang sesuai dengan preferensi dari pelanggannya yang tentunya pasti dibangun atas data-data yang akurat. Kembali ke perusahaan atau organisasi bagaimana jadinya ketika para pengelola, eksekutif dan manajer justru menyangsikan dan tidak percaya akan data yang dimilikinya, tidak mau menggunakan data yang dimilikinya karena sadar bahwa data itu tidak sesuai dengan kenyataan, yang pada akhirnya keputusan mereka banyak disandarkan pada keputusan intuitif, emosional, dan subyektif dan itu terjadi pada industri 4.0?

Siapkan diri anda untuk menjawab tantangan industry 4.0 dengan data literacy dan digital mindset yang mumpuni salah satunya dengan mengikuti Training IT for non IT atau Data Analytics for non-Programmers and IT Background.

Depok, 5 Desember 2018

Heru Wiryanto.

Fanky Christian
IT Infrastructure Specialist
Smartcityindo.com
StartSmeUp.Id

Chairman DPD DKI APTIKNAS
Vice Chairman ASISINDO
Secretary ACCI

Sunday, December 02, 2018

Peluang Sukses Anda

The Mutual Mentoring

The Mutual Mentoring

Yesterday, my mentor celebrated his 70th birdthday.
We knew each other in Singapore, then we meet frequently in Beijing, Jakarta and Singapore.

I admire Bob. He is a fighter, a learner and a thought leader.
He was born in USA, studied in California, live in America, Germany, France, China and Singapore. Both of us develop mutual respect, mutual appreciation and mutual interest . We are excited to meet each other. We talk about life, family, future trends and human development.
I learn a lot from Bob. He is one of the thought leader in Human Development. He set up the first Apple University in Europe.  He wrote more than 10 books that are published in 3 different languages. 
Yet, why is he so excited to meet me?

Bob told me,"Because I also learned so much from you! You move from one country to another and you switch job from one industry to another. You shared your challenges, your effort and your achievement. While as a mentor, I try to help you, actually I also learned a lot from you."

Eureka! That's what I call "mutual mentoring".
 A lot of people , business leaders, HR team, young talents complain because the mentoring is not working.
We always find a gap of motivation between mentor and mentee.
Perhaps it is because the benefit is not mutual.
Perhaps it is because the mentee get much more benefits than the mentor.
The mentee learn a lot, while the mentor does not understand what he will get from the relationship (other than ticking the box and trying to improve his/her image as a good leader).

Perhaps , if we make it a mutual mentoring, both mentor and mentee will understand the benefits and will be motivated (and even excited) to meet and learn from each other.

Often, we pair a senior leader and a young talent into a mentoring relationship.
But tell them that while the senior leader need to play the role of a mentor, the young talent can also play his part and share the updated knowledge. The world is changing, the millenial are much more digital and connected. The young talents need to learn as much as they can , grab the knowledge as much as they can and share the knowledge.
They can share about digital marketing, data analytic, circular economy, sustainability, industry 4.0 ... etc.
The (senior mentor) need to be open mind, and be willing to learn from the other.
And voila! By building this mutual mentoring relationship, you improve the motivation and engagement from both sides.

In summary ...
⁃ Build the mentoring relationship between 2 persons with complementary skills or experiences (not substitute)
⁃ Make sure both sides are willing to share their knowledges and experiences
⁃ Everyone (especially the senior leader) have to be open mind in learning new knowledge from the mentee
⁃ Monitor the progress, follow-up and improve a long the way to ensure that the mutial learning happen

This is one of a lot of things that I learned from my mentor, my friend and my mentee, Bob.

Happy Birthday, Bob.
I am honored to be your friend.

Warm regards

Pambudi