Translate

Thursday, January 01, 2026

OUTLOOK EKONOMI POLITIK INDONESIA 2026

*BRIEF UPDATE*
_BDS Alliance_
*Rabu, 31 Desember 2025*

*OUTLOOK EKONOMI POLITIK INDONESIA 2026*

Tahun 2025 memberi satu sinyal keras dalam lanskap ekonomi Indonesia: mesin penerimaan negara sedang tersendat. Pajak, khususnya yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi seperti PPN dan PPh Badan, melemah. Di saat yang sama, pemerintah merancang 2026 sebagai belanja besar dengan defisit terjaga. Pendapatan ditargetkan Rp 3.147,7 triliun, belanja Rp 3.786,5 triliun, defisit Rp 638,8 triliun atau 2,48% PDB, dengan target pertumbuhan 5,4% dan inflasi 2,5%.

Di sinilah soalnya: RAPBN 2026 mengandaikan ekonomi dan penerimaan membaik, sementara data 2025 justru menunjukkan pelemahan di pos-pos pajak kunci. Konsekuensinya, 2026 sangat mungkin menjadi tahun penuh tarik-menarik: antara ambisi belanja dan program prioritas, dengan ruang fiskal yang ketat dan efisiensi belanja pemerintah serta ekstensifikasi pajak yang seluruh dampaknya makin dirasakan publik, khususnya yang paling rentan.

*Konteks Makro 2026: Janji yang Harus Diuji*
Secara politik, angka-angka makro RAPBN 2026 terlihat rapi dan menenangkan: pertumbuhan 5,4%, inflasi terkendali, defisit di bawah 3%. Narasinya jelas: negara ingin tampil ekspansif sekaligus disiplin. Namun secara ekonomi-politik, publik seharusnya membaca angka-angka ini sebagai target, bukan kepastian.

RAPBN berdiri di atas dua prasyarat utama: (i) aktivitas ekonomi — terutama konsumsi dan transaksi — benar-benar pulih dan (ii) penerimaan pajak memenuhi target, bukan hanya lewat pertumbuhan ekonomi, tetapi lewat kepatuhan dan administrasi. Masalahnya, data 2025 memberi lampu kuning pada prasyarat kedua.

*Data 2025: Peringatan yang Tidak Bisa Diabaikan*
Hingga November 2025, realisasi penerimaan pajak Rp 1.634,43 triliun (78,7% dari target Rp 2.076,9 triliun). Lebih mengkhawatirkan lagi, secara tahunan penerimaan pajak netto mengalami kontraksi: 
– PPh Badan turun 9%: indikasi laba sektor usaha melemah atau setidaknya tidak setangguh asumsi awal. 
– PPh Orang Pribadi dan PPh 21 turun 7,8%: sinyal pasar kerja formal dan pendapatan upahan belum benar-benar kuat. 
– PPN dan PPnBM turun 6,6%: karena PPN adalah barometer transaksi, ini menunjukkan konsumsi dan aktivitas ekonomi sehari-hari belum sepenuhnya pulih.

Memang ada pos pajak yang tumbuh — PPh Final, PPh 22, PPh 26 — tetapi secara ekonomi-politik, ini tidak cukup menutup lubang dua mesin utama penerimaan: PPN dan PPh Badan. Implikasinya jelas: target pajak 2026 bisa dipasang tinggi, tetapi realisasinya hampir pasti bergantung pada dua hal yang tak popular: pengawasan lebih ketat dan perluasan basis pajak. Artinya, 2026 berpotensi menjadi tahun di mana intervensi negara dalam urusan kepatuhan pajak makin terasa oleh warga dan dunia usaha.

*Arah Fiskal 2026: Belanja Besar, Ruang Gerak Terbatas*
Secara resmi, postur RAPBN 2026 terlihat kokoh. Namun defisit 2,48% PDB yang "terjaga" tidak otomatis berarti fiskal lapang. Kualitas ruang fiskal ditentukan oleh seberapa ketat belanja rutin, seberapa efektif belanja prioritas, dan — yang paling menentukan — apakah pendapatan benar-benar masuk sesuai target.

Jika penerimaan pajak seret, menjaga defisit biasanya ditempuh lewat kombinasi umum: penundaan atau pemotongan belanja/efisiensi (yang sering terasa di layanan dan proyek), pembiayaan yang lebih agresif, atau optimasi kas dan akuntansi antar-pos yang tidak selalu terasa sebagai perbaikan nyata bagi publik.

Pemerintah juga menekankan belanja yang lebih tepat sasaran melalui perbaikan data dan _targeting_. Secara prinsip, ini benar. Namun di lapangan, _targeting_ bukan sekadar soal desain, melainkan kerja politik-administratif: sinkronisasi data, koordinasi pusat-daerah, pengawasan kebocoran, dan respons cepat atas keluhan warga. Seluruh kapasitas pemerintah dan bukan hanya niat kebijakannya akan diuji di 2026.

*Apa yang Mungkin Dirasakan Publik*
Publik tidak akan membaca tabel APBN, tapi mengalami hidup sehari-hari. Negara sudah hampir pasti akan lebih aktif: mengejar kepatuhan pajak, pemeriksaan berbasis risiko diperluas, dan menertibkan administrasi. Ini bisa berarti layanan perpajakan lebih modern/baik, atau jika ternyata bermasalah, friksi kepatuhan meningkat. Apalagi jika layanan publik memburuk (khususnya perlindungan sosial), yang bisa memicu ketegangan sosial. Persepsi keadilan pajak jadi penentu.

Di sisi harga dan daya beli, pelemahan PPN di 2025 adalah sinyal yang patut diawasi. Jika tekanan harga pangan dan energi muncul, pemerintah menghadapi dilema klasik: menahan harga lewat subsidi yang mahal bagi fiskal, atau membiarkan penyesuaian pasar yang mahal bagi legitimasi sosial. Publik tidak menilai APBN dari angka defisit, tetapi dari harga kebutuhan pokok dan ketersediaan kerja (artinya, apakah roda usaha berputar).

Soal lapangan kerja, target makro boleh optimis. Tapi penurunan PPh Badan dan pajak tenaga kerja menunjukkan pemulihan ekonomi belum merata. Ada sektor yang pulih cepat, ada yang belum, dan kesenjangan itu sangat nyata bagi warga.

*Risiko dan Skenario 2026*
Skenario paling mungkin: "stabil tapi ketat". 
- Ekonomi tumbuh moderat, tapi penerimaan pajak di bawah target;
- Pemerintah menjaga defisit dengan pengetatan belanja (efisiensi anggaran);
- Dorongan kepatuhan pajak yang lebih agresif; dan 
- Fokus pada program-program yang paling politis. 
Publik merasakan 2026 sebagai tahun "jalan terus, tapi berat".

Skenario lebih berisiko: "program besar, tekanan sosial besar" 
- Belanja dipaksa tetap tinggi saat pajak seret;
- Proyek-proyek tertunda; 
- Muncul/menguat friksi pusat-daerah karena TKD turun; dan 
- Tekanan biaya hidup bagi masyarakat. 
Narasi "APBN sehat" akan kalah oleh pengalaman nyata hidup warga.

Skenario optimistis: "pemulihan ekonomi"
- Ekonomi dan transaksi bisnis pulih; dan
- Laba usaha meningkat. 
Data 2025 menunjukkan ini tidak mungkin terjadi.

*Membaca 2026 dengan Kepala Dingin*
Pesan utamanya sederhana: RAPBN 2026 memberi sinyal optimisme, tetapi data 2025 menunjukkan fondasi penerimaan yang rentan. Maka 2026 sangat mungkin menjadi tahun di mana negara mendorong kepatuhan pajak lebih keras, memilih prioritas belanja lebih tajam (ada yang diutamakan, ada yang ditunda) dan mempertaruhkan legitimasi pada hal-hal paling dekat dengan warga: harga kebutuhan pokok, bantuan yang tepat sasaran, dan kesempatan kerja.

Ini bukan alasan untuk pesimis, tetapi justru agar kita waspada. Karena pada akhirnya, ekonomi politik bukan soal angka di kertas anggaran, tapi soal siapa menanggung beban penyesuaian dan siapa menikmati hasilnya. (*)

Sunday, December 21, 2025

Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI

*Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI*

Pada suatu sore yang cerah, seorang ayah dan putrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Sang putri, mahasiswa generasi Z yang akrab dengan teknologi, tiba-tiba bertanya, "Ayah, apakah kamu takut AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?" Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung kegelisahan yang kini banyak dirasakan masyarakat di era kecerdasan buatan (AI). Sang ayah, yang pernah menekuni dunia jurnalisme, tersenyum dan menjawab, "Tidak, Nak. Justru yang paling penting sekarang bukan siapa yang bisa menjawab paling cepat, tapi siapa yang bisa bertanya dengan tepat."

Kisah ini bukan sekadar percakapan keluarga. Ia adalah cerminan zaman, di mana kemampuan bertanya menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi.

Di sebuah sekolah di pinggiran kota, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Apa yang ingin kalian ketahui tentang dunia di luar sana?" Awalnya, kelas hening. Namun, setelah beberapa saat, satu tangan kecil terangkat, "Bu, kenapa langit berubah warna saat senja?" Pertanyaan sederhana ini membuka diskusi panjang tentang sains, seni, dan keindahan alam.

Di kantor, seorang karyawan baru bertanya kepada atasannya, "Bagaimana cara terbaik untuk belajar dari kegagalan?" Pertanyaan ini memicu obrolan hangat tentang pengalaman, pembelajaran, dan pentingnya tidak takut mencoba hal baru.

Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa bertanya adalah awal dari pembelajaran, inovasi, dan perubahan. Di setiap sudut Indonesia, dari desa hingga kota, dari sekolah hingga kantor, seni bertanya adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

Di era AI, ketika jawaban bisa didapatkan dalam hitungan detik, justru pertanyaan yang baiklah yang menjadi pembeda. Seperti kata Sam Altman, CEO OpenAI, "Mencari tahu pertanyaan apa yang harus ditanyakan akan lebih penting daripada mencari tahu jawabannya."

Albert Einstein pernah berkata, "Jika saya punya waktu satu jam untuk memecahkan masalah, saya akan menghabiskan 55 menit untuk memahami masalahnya dan hanya 5 menit untuk mencari solusinya." Kutipan ini mengajarkan bahwa inti dari pemecahan masalah bukan pada kecepatan menemukan jawaban, tetapi pada kedalaman kita memahami pertanyaannya. Dalam dunia yang serba cepat, banyak orang terburu-buru mencari solusi tanpa benar-benar memahami akar permasalahan. Padahal, dengan sedikit waktu untuk merenung dan bertanya, solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan bisa ditemukan.

Jeff Bezos, pendiri Amazon, juga menyoroti pentingnya bertanya. Ia berkata, "Saya sering mendapat pertanyaan: 'Apa yang akan berubah dalam 10 tahun ke depan?' Tapi hampir tidak pernah ada yang bertanya: 'Apa yang tidak akan berubah dalam 10 tahun ke depan?'" Dengan fokus pada hal-hal yang tetap konstan, Bezos membangun strategi bisnis yang tahan lama dan relevan bagi pelanggan.

Bayangkan Anda sedang berada di sebuah perpustakaan raksasa, di mana setiap buku, artikel, dan data tersedia hanya dengan satu klik. Namun, tanpa pertanyaan yang jelas, Anda akan tersesat di lautan informasi itu. Inilah tantangan utama di era digital: bukan kekurangan jawaban, melainkan kelangkaan pertanyaan yang bermakna.

Di zaman AI ini kemampuan bertanya adalah senjata yang sesungguhnya. Pertanyaan adalah seni menjelajah pengetahuan, lebih dalam dan luas daripada sekadar menghafal jawaban. Cerita imajinatif Einstein menunggang cahaya menjadi simbol: dengan keberanian bertanya "bagaimana jika", ia melompat ke alam pikiran baru. Hingga kemudian imajinasinya menunggangi cahaya tersebut kelak di kemudian hari menjadi teori yang sangat terkenal di dunia fisika: "teori relativitas". Begitu pula kita: dengan seni bertanya ala Pestalozzi, kita menavigasi kecerdasan buatan dan informasi melimpah, menemukan solusi dan pemahaman yang benar-benar baru. Bertanya bukan lagi akhir cerita, melainkan awal dari petualangan intelektual yang berkelanjutan.

Tidak hanya Einstein sebagai murid yang menjadi warisan dari konsep reformasi pendidikan Pestalozzi, warisan Pestalozzi juga mewarnai karya banyak pemikir dan inovator besar lainnya. Friedrich FrΓΆbel, pendiri taman kanak-kanak, misalnya, mengembangkan metodenya berdasarkan ide-ide Pestalozzi. Begitu pula tokoh-tokoh seperti Maria Montessori dan Jean Piaget, namanya sering disebut dalam aliran pendidikan yang "berada dalam jalur" pemikiran Pestalozzi. Pendidikan kontemporer banyak terinspirasi oleh prinsip Pestalozzi tentang belajar dari pengalaman konkret, sebuah jejak yang masih kita ikuti hingga kini.

Penting untuk disadari bahwa di era Kecerdasan Buatan, jawaban telah menjadi sesuatu yang dapat diproduksi secara massal oleh mesin. Namun, kebijaksanaan yang terkandung dalam sebuah pertanyaan tetap menjadi hak prerogatif manusia. Kita tidak boleh menjadi wadah penampung informasi yang pasif; kita harus tetap menjadi pengamat dunia yang aktif, layaknya siswa-siswa Pestalozzi yang diajak mengamati sungai dan batu di depan mata mereka.

Seni bertanya adalah jembatan yang menghubungkan pengetahuan masa lalu dengan inovasi masa depan. Dari kegigihan Pestalozzi membela hak anak-anak miskin untuk berpikir mandiri, hingga langkah berani para pendiri startup Indonesia yang menantang kemacetan Jakarta, satu hal yang pasti: perubahan selalu dimulai dari seseorang yang berani bertanya "Mengapa?" dan "Bagaimana jika?". Dengan terus bertanya, kita memastikan bahwa kemanusiaan tetap memiliki kedaulatan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.

Untuk tulisan lebih lengkapnya bisa dibaca di link berikut ini
πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡
https://socioinformatics.id/kemampuan-bertanya-kunci-kecerdasan-di-era-ai/

AO

Tangerang Selatan, 21 Desember 2025 

Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027

Founder DCM Group - www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Build Your Talents - www.521talenta.com
Join B2B Community - www.indobitubi.com


Tuesday, December 09, 2025

TERLUPUT DARI BENCANA

*_TERLUPUT DARI BENCANA_*

Firman Tuhan berkata; 
*Walau seribu orang rebah di sisimu,dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.* *Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.* *Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,* *(Mazmur 91:7-9)*

Kisah Nyata: "Gereja yang Selamat Ketika Tsunami Menenggelamkan Kota"

Kisah ini terjadi saat Tsunami Aceh tahun 2004,salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia.

Di sebuah desa kecil dekat Meulaboh,ada sebuah gereja kecil yang sedang mengadakan ibadah Natal pagi.Ketika gempa besar mengguncang,mereka keluar dengan panik. Pendeta mereka berkata: *"Jangan lari ke pantai, lari ke bukit! Ikuti saya* *Tuhan akan menolong kita."* Mereka semua berlari mengikuti pendeta tersebut.

Ketika mereka mencapai bukit kecil, mereka berhenti karena mendengar suara seperti deru pesawat raksasa. Detik kemudian… Air tsunami setinggi gedung tiga lantai menerjang desa mereka.Semuanya hancur.Rumah,jalan, jembatan, seluruh kampung — hilang.

Namun saat air berhenti,ada sesuatu yang membuat semua orang menangis. *Gereja kecil itu — walau berada paling dekat ke garis pantai — tidak hancur.* Air mengelilinginya, tetapi tidak merobohkannya. *Bahkan lebih ajaib lagi,semua jemaat yang mengikuti instruksi pendeta selamat.* Tidak satu pun meninggal.

*Ketika tim penyelamat datang, mereka terkejut melihat gereja itu tetap berdiri.* Seorang relawan berkata: *"Air menyapu semuanya… kecuali bangunan itu. Seperti ada tangan besar yang menahannya."*

Salah satu ibu yang selamat berkata sambil menangis: "Saya tahu Tuhan mengarahkan kami. Kalau kami lari sendiri-sendiri… kami pasti hilang."

Kisah ini dicatat oleh beberapa organisasi kemanusiaan sebagai "miracle church" dari Tsunami Aceh.

*_Pesan rohani untuk kita._*
Tsunami menggambarkan situasi hidup yang tiba-tiba datang:
πŸ‘‰1. Masalah yang besar.
πŸ‘‰2. Tekanan berat.
πŸ‘‰3. Kehilangan.
πŸ‘‰4. Badai hidup yang tidak terduga. Kadang datangnya begitu cepat hingga kita tidak sempat siap.

*Namun Tuhan berkata:* *"Ikut Aku - Aku akan melindungimu."*

*Perlindungan Tuhan bukan hanya menghindarkan kita dari bahaya,* *tetapi menyertai kita sebelum,selama, dan setelah badai menerjang.*

*Gereja itu berdiri bukan karena kuatnya bangunan,* *tetapi karena kuatnya penyertaan Tuhan.*

Dan hidup kita juga bisa seperti itu — bahkan ketika gelombang masalah menghantam dari segala sisi,Tuhan bisa berkata: "Sampai di sini saja.Tidak lebih." 

*Air boleh datang, badai boleh naik, tetapi tangan Tuhan lebih kuat dari semua itu.* *Saat engkau mengikuti suara-Nya,* *Tuhan menempatkan engkau di tempat perlindungan-Nya,* *yang tidak bisa dijangkau oleh gelombang apapun.*

*PERLINDUNGAN DAN PENYERTAAN TUHAN SANGAT NYATA BAGI KITA ORANG PERCAYA.*

Firman-Nya berkata; 
*Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui;* *sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi,itu tidak melandanya.* *Engkaulah persembunyian bagiku,terhadap kesesakan Engkau menjaga aku,Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak.Sela.* *(Mazmur 32:6-7)*

*_Selamat beraktivitas,  Salam sehat dan tatap  semangat.Tuhan Yesus Kristus beserta kita,IMANUEL_*.πŸ™πŸ™πŸ™

Monday, October 13, 2025

Gitlab x Cxrus : How to Drive Digital Transformation While Protecting Your Organization

  I'm excited to be speaking at the upcoming GitLab x Cxrus event: Accelerating Secure & Intelligent AI DevSecOps with GitLab Duo happening on October 15, 2025, at MΓΆvenpick Hotel, Jakarta.


As AI becomes increasingly integrated into modern software development, ensuring security and efficiency throughout the DevSecOps lifecycle is no longer optional — it's essential.


In my session, I'll be sharing key insights on:

"How to Drive Digital Transformation While Protecting Your Organization"



This event brings together tech leaders, developers, cybersecurity professionals, and innovators to explore the future of intelligent software delivery.


If you're looking to future-proof your DevSecOps workflows with AI-powered, secure solutions, this is the place to be. Looking forward to great discussions, shared experiences, and building stronger connections across the community.

Sunday, October 12, 2025

PUGI : Workshop PRTG for IoT Monitoring - 15 Okt 2025


Komunitas PUGI (Paessler User Group Indonesia) dengan bangga menyelenggarakan workshop PRTG for IoT Monitoring, sebuah kesempatan  untuk mempelajari bagaimana memantau dan mengelola perangkat IoT dengan lebih efektif menggunakan PRTG.


Ikuti pembahasannya pada :

Hari, Tanggal : Rabu, 15 Oktober 2025

Jam : 14.00 - 16.00  WIB 


Lokasi : Kopi Nako Abdul Muis

Jl. Abdul Muis No.20, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota 10160


Narasumber :

1. Ajie Nugroho, PRTG Indonesia Team

2. Fanky Christian, Founder Komunitas PUGI



Note : Slot Terbatas hanya 20 Orang


Tingkatkan kemampuan Anda dalam mengelola perangkat IoT! Daftar Sekarang : https://s.id/PUGI15okt25


#PRTG #Paessler #PUGI #Komunitas #Workshop #IoT #Monitoring

 



 

Saturday, August 02, 2025

Memimpin Dari Belakang



Memimpin dengan Keberanian
"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi." (Yosua 1:9)

Menjadi pemimpin kristiani adalah sebuah panggilan. Kalau Tuhan memberi kepercayaan, kita baru bisa menjalankan kepemimpinan dengan keteguhan hati. Kalau bukan Tuhan yang memanggil, kita berpotensi memimpin dengan hati galau dan tidak memiliki kemantapan hati. Mengambil keputusan yang salah dapat terjadi pada siapa saja. Namun, kalau Tuhan menyertai, hikmat Tuhan juga akan menyertai. Asal kita peka akan kehendak-Nya. Selain itu, kita juga perlu menjalankan kekuasaan dengan adil dan tulus.

TUHAN MEMINTA SETIAP PEMIMPIN UNTUK MENEGUHKAN HATI.
SEBAGAI PEMIMPIN, WAJIB KIRANYA TERUS BERPAUT KEPADA TUHAN.

-----

Konsep "memimpin dari belakang" dalam Alkitab bukanlah istilah eksplisit, tetapi prinsipnya terlihat dalam gaya kepemimpinan Yesus dan para tokoh Alkitab. Ini adalah gaya kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan, membimbing tanpa mendominasi, dan memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh. Berikut penjelasannya:


---

1. Yesus: Pemimpin yang Melayani

Yesus menunjukkan kepemimpinan yang berbeda dari dunia. Ia memimpin dengan kerendahan hati dan menekankan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan.

Markus 10:42-45

> "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya."
Yesus menegaskan bahwa kepemimpinan bukan tentang kuasa di depan, tetapi kerendahan hati yang mendorong orang lain maju.



Yohanes 13:14-15

> "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu."
Membasuh kaki adalah contoh memimpin dari belakang: memberi teladan dengan tindakan rendah hati.





---

2. Gembala yang Baik: Menuntun dan Mengawal

Dalam gambaran gembala, pemimpin terkadang berada di depan untuk menunjukkan arah, tetapi sering juga berada di belakang untuk memastikan semua domba selamat.

Mazmur 23:6

> "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku…"
Dalam bahasa Ibrani, "mengikuti" juga mengandung arti mengejar dari belakang, menunjukkan Tuhan hadir untuk menjaga dari belakang.



Yesaya 52:12

> "...TUHAN sendiri berjalan di depanmu, dan Allah Israel menutup barisanmu."
Artinya, Tuhan memimpin sekaligus mengawal dari belakang, memastikan umat-Nya tidak tertinggal.





---

3. Mendorong Orang Lain Bertumbuh

Memimpin dari belakang berarti memberi ruang bagi orang lain untuk melangkah di depan, sambil menuntun mereka agar tidak tersesat.

2 Timotius 2:2

> "Apa yang telah engkau dengar dari padaku … percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain."
Paulus mendorong kepemimpinan regeneratif: mendorong murid menjadi pemimpin, bukan selalu tampil di depan.



Efesus 4:11-12

> "…untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus."
Tugas pemimpin rohani adalah mempersiapkan orang lain untuk maju, bukan menjadi pusat perhatian.





---

4. Ciri-ciri Memimpin dari Belakang (Model Alkitabiah)

1. Mendahulukan pelayanan daripada kekuasaan.


2. Memberi teladan diam-diam, bukan pamer prestasi.


3. Mendorong orang lain bertumbuh, bukan mencuri peran mereka.


4. Mengawal dan melindungi agar tidak ada yang tersesat atau tertinggal.


5. Mengandalkan Tuhan sebagai pemimpin utama, bukan ego pribadi.




Fanky Christian

Sekjen APTIKNAS (Asosiasi TIK Nasional) 2022-2027
Direktur Kolaborasi Industri Indonesia Artificial Intelligence Society
Founder DCM Group - www.dayaciptamandiri.com
Check our next events at www.eventcerdas.com
Build Your Talents - www.521talenta.com
Join B2B Community - www.indobitubi.com


Wednesday, July 30, 2025