Translate

Thursday, August 17, 2006

Nasionalisme apa?

Nasionalisme apa?

17 Agustus 2006, pagi hari ini aku memulai dengan mencari obat untuk anakku, si Vicky yang lagi sakit batuk. Berkeliling di pagi ini, seharusnya banyak toko sudah mulai buka, tetapi hari ini tidak ada yang buka. Cuma satu apotik, dan puji Tuhan, cukup lengkap, sehingga obat yang aku cari aku temukan di sana.
Kenapa semua tutup? Ooo rupanya hari ini, hari libur krn tujuh-belasan. Istilah yang akrab di telinga kita, karena setiap tanggal 17 agustus inilah kita memperingati kemerdekaan, hidup merdeka sebagai negara, dan kali ini tepat 61 tahun yang lalu.

Topik persekutuan pemuda minggu lalu pun membahas soal nasionalisme. Sang pembicara, Pdt. Ferry dari GKI Terate, mengangkat suatu hal yang berbeda. Dia mengambil topik tentang apa yang kau perbuat untuk sesamu, engkau melakukannya untuk Aku. Terbesit kebingungan menghubungkan antara kepedulian dengan nasionalisme. Tetapi begitu mencari akar-nya dari kepedulian, yaitu kasih, terutama kasih kepada sesama, maka barulah kebersamaan, rasa memiliki secara bersama, terutama sebagai satu bangsa, satu negara, barulah bisa berujung kepada nasionalisme. Perenungan yang cukup menarik, yaitu bagaimana kita hidup berdampingan sebagai satu bangsa, satu negara, merasakan kepedulian, saling memperhatikan bersama, seperti teladan yang Yesus berikan.

Menyimak pemberitaan beberapa hari ini, terkait dengan pengiriman teman-teman muslim ke negara Libanon, untuk ikut berperang (bukan membantu menangani korban perang!), maka kembali saya mempertanyakan, apakah ini rasa nasionalisme yang selama ini kita bangun. Apakah upacara bendera di senin pagi, menghormati bendera merah putih, menyanyikan lagu merah putih, menghafal Pancasila, dan bahkan berdoa mensyukuri kemerdekaan yang kita acapkali lakukan itu, menghasilkan nasionalisme seperti ini? Nasionalisme yang luntur-kah ini?

Begitu salah satu kampung berpenduduk mayoritas Kristen terkenal rudal Israel, maka beberapa teman terusik, dan berkata siap berperang. Wallah.. ini apa? Apa yang terjadi dengan kita? Di satu pihak ada kepedulianyang tadi kita bahas, terutama untuk sesama kita, dan khususnya saudara kita seiman. Sebuah perasaan yang memang tidak dapat dibantah, tidak perlu dibuang, tetapi harus tetap dipupuk, dan saat ini isu global bahkan telah menjadi isu lokal, perhatian kita kepada kepedulian rakyat Libanon adalah suatu hal yang baik. Kemudian, kalo kita semua berangkat berperang untuk rakyat Libanon, tetapi kita sendiri tidak mau peduli, tidak merasa bangga dengan menjadi rakyat Indonesia, apakah kita tidak malu?

Saya sangat setuju, bahwa nasionalisme sudah bukan hanya soal cinta negara. Saya tersinggung pada waktu transit di Singapore beberapa tahun lalu, orang di depan saya berkata menunjuk orang lain (yang notabene adalah bos saya) dan berkata bahwa dia mirip teroris, apalagi berasal dari Indonesia. Ampun!.. negara saya ini apakah sarangnya teroris. Mentang-mentang bos saya botak, keturunan Arab bertubuh tinggi kekar. Indonesia kita ini sudah dianggap apa? Negara besar tapi keropos. Negara yang luasnya luar biasa, tetapi dianggap sebelah mata, bahkan tidak diperhitungkan.

Dan saya sangat setuju, apabila nasionalisme yang kita miliki, kita harus arahkan ke hal-hal yang lebih positif. Peduli terhadap sesama, mungkin itulah yang selama beberapa tahun inikita alami. Coba lihat, gempa semalam, pagi-pagi sudah beredar kotak sumbangan. Longsor kemaren, hari ini bantuan berdatangan. Tapi sekarang kelihatan, ternyata sumbangan yang demikian besar dan banyak dimobilisasi, bahkan oleh banyak pihak besar, tak urung sampai juga kepada mereka yang membutuhkan. Luar biasa. Terpuruk, dan semakin terpuruk.

Jadi, sekarang mau bilang apa? Nasionalisme seperti apa yang harus kita miliki, sehingga kita ini tidak hanya mencintai negara kita, berusaha bangkit dan bangun dari ketiarapan kita selama ini, dengan saling berbagi, saling peduli kepada sesama kita. Saya tidak tahu lagi harus bilang apa, apakah ini kesalahan lingkungan masyarakat kita, apakah ini kesalahan sistem pendidikan kita, ataukah ini semua memang kesalahan yang disengaja.

Jadi sekarang, dengan nasionalisme yang seperti sekarang ini, berapa lama lagi Indonesia yang besar dan luas ini akan berdiri. Berapa lama lagi kita akan dipecah-pecah, tidak hanya dengan suku, mulai marak dengan lokasi, apalagi dengan agama. Semua ini malah tidak menjunjung nasionalisme, melainkan semakin membuat kita semua terkotak-kotak.

Mudah-mudahan pengamatan salah seorang mengenai Indonesia yang sedang memasuki kurva J, kurva yang menunjukkan kebangkitan kembali, ini tidak hanya soal ekonomi, tidak hanya soal korupsi, tetapi juga kebangsaan dan nasionalisme. Saya ingat benar, salah seorang teman dari Korea Selatan, dengan bangga menunjukkan foto-foto pada waktu wajib militer yang pernah dialaminya. Dia mengatakan, bahwa sampai sekarang pun, Korea adalah negara-nya, meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia. Bandingkan dengan warga negara kita yang tinggal di negeri lain, yang berkata, memang enak tinggal di Indonesia, tetapi jauh lebih nyaman tinggal di negara asing. Begitukah Indonesia kita? Begitukah nasionalisme yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita ?

Salam merdeka!

Fankychristian.blogspot.com
17Aug2006, 11.00am