BPK PENABUR Bandung:
*Kami Mendunia, Bukan Jago Kandang*
Albertus. M. Patty
Ada satu penyakit lama pendidikan kita yang tampaknya sangat sulit disembuhkan: bangga pada kandang sendiri.
Sementara dunia di luar pagar sekolah bertransformasi seperti meteor, banyak institusi pendidikan lebih sibuk memoles kandangnya: mengecat pagar, memegahkan gedung, mengganti slogan, dan memotret seragam yang rapi, dan lebih memikirkan 'cuan' seolah itu ukuran keberhasilan institusi pendidikan masa depan.
Lalu datanglah sesuatu yang agak “mengganggu kenyamanan”: Young Change Maker Summit (YCMS) 2026 yang diselenggarakan oleh BPK PENABUR Bandung.
Mengganggu? Ya, karena acara ini diam-diam menampar paradigma lama pendidikan Indonesia.
YCMS bukan bazar ide.
Bukan festival poster ilmiah.
Bukan lomba presentasi PowerPoint dengan animasi terbang kiri-kanan.
YCMS ini arena gagasan yang berkeringat. Di sana, pelajar diminta memikirkan masalah nyata, ciptakan solusi nyata, membuat prototipe nyata, dan membangun dampak nyata. Dari event ini para pelajar dituntut melahirkan berbagai kreatifitas dan inovasi.
Ada inovasi tentang trotoar penyerap air, sistem kualitas udara pintar, hingga solusi mikroplastik berbasis biochar. Para pelajar ini tidak sedang belajar menjadi penghafal rumus. Mereka sedang dilatih dan difasilitasi menjadi arsitek masa depan. Ya, mereka difasilitasi menjadi kreator dan sutradara masa depan.
Di titik ini, saya teringat gagasan Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind. Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan manusia bukan tunggal. Dunia tidak hanya membutuhkan anak yang pandai menjawab soal pilihan ganda, tetapi juga mereka yang mampu:
— mencipta
— berimajinasi
— membaca kompleksitas
— berkolaborasi
— menyelesaikan masalah nyata
Singkatnya: _creative intelligence matters_. Dan event YCMS sedang memupuk itu.
Yang lebih menarik, kehadiran Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Prof Stella memberi sinyal penting: negara melihat bahwa model pendidikan seperti ini bukan kegiatan pinggiran, melainkan arah masa depan. Apresiasinya terhadap inovasi dan visi besar Terhadap BPK Penabur Bandung sebagai penyelenggara memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mendorong pelajar lebih kreatif dan inovatif.
*Mentalitas Inovator*
Prof. Stellla benar. Pada masa kini, sekolah seharusnya tidak sekedar menghasilkan lulusan yang pandai menjawab ujian karena bangsa membutuhkan orang yang kreatif dan inovatif yang mampu menjawab krisis dan perubahan yang sangat cepat. Institusi pendidikan harus bertransformasi. Bukan lagi mendidik generasi 'pengekor' yang berorientasi pada masa lalu, tetapi harus mendidik generasi yang berani berpikir dengan mentalitas inovator demi membangun masa depan yang baik bagi bangsa dan jagat raya.
Melalui event YCMS, BPK Penabur Bandung telah memilih jalan yang tepat. Dan itu patut dipuji.
Tetapi pujian saja tidak cukup.
BPK Penabur Bandung, dan tentu saja BPK Penabur secara umum, tidak boleh puas menjadi institusi elite lokal. Tidak boleh berhenti menjadi “yang hebat di negeri sendiri”. Sudah waktunya berpikir lebih liar, lebih besar, lebih global.
BPK Penabur butuh kaum visioner yang berani membangun forum inovasi Asia dan bahkan dunia, membuat kolaborasi riset lintas negara, mengundang ilmuwan dunia, dan mengirim inovator muda Indonesia ke panggung internasional.
Jadilah seperti burung elang. Ia tidak diciptakan untuk berputar-putar di halaman rumah. Ia diciptakan untuk langit yang luas. Dan pendidikan besar tidak lahir dari mental jago kandang, melainkan dari orang-orang yang memiliki keberanian untuk berkata:
*“Dunia bukan terlalu besar bagi kami; visi kami yang harus diperbesar.”*
Terbanglah semakin tinggi BPK Penabur. Tuhan memberkati.
Bandung,
2 Mei 2026
*Kami Mendunia, Bukan Jago Kandang*
Albertus. M. Patty
Ada satu penyakit lama pendidikan kita yang tampaknya sangat sulit disembuhkan: bangga pada kandang sendiri.
Sementara dunia di luar pagar sekolah bertransformasi seperti meteor, banyak institusi pendidikan lebih sibuk memoles kandangnya: mengecat pagar, memegahkan gedung, mengganti slogan, dan memotret seragam yang rapi, dan lebih memikirkan 'cuan' seolah itu ukuran keberhasilan institusi pendidikan masa depan.
Lalu datanglah sesuatu yang agak “mengganggu kenyamanan”: Young Change Maker Summit (YCMS) 2026 yang diselenggarakan oleh BPK PENABUR Bandung.
Mengganggu? Ya, karena acara ini diam-diam menampar paradigma lama pendidikan Indonesia.
YCMS bukan bazar ide.
Bukan festival poster ilmiah.
Bukan lomba presentasi PowerPoint dengan animasi terbang kiri-kanan.
YCMS ini arena gagasan yang berkeringat. Di sana, pelajar diminta memikirkan masalah nyata, ciptakan solusi nyata, membuat prototipe nyata, dan membangun dampak nyata. Dari event ini para pelajar dituntut melahirkan berbagai kreatifitas dan inovasi.
Ada inovasi tentang trotoar penyerap air, sistem kualitas udara pintar, hingga solusi mikroplastik berbasis biochar. Para pelajar ini tidak sedang belajar menjadi penghafal rumus. Mereka sedang dilatih dan difasilitasi menjadi arsitek masa depan. Ya, mereka difasilitasi menjadi kreator dan sutradara masa depan.
Di titik ini, saya teringat gagasan Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind. Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan manusia bukan tunggal. Dunia tidak hanya membutuhkan anak yang pandai menjawab soal pilihan ganda, tetapi juga mereka yang mampu:
— mencipta
— berimajinasi
— membaca kompleksitas
— berkolaborasi
— menyelesaikan masalah nyata
Singkatnya: _creative intelligence matters_. Dan event YCMS sedang memupuk itu.
Yang lebih menarik, kehadiran Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Prof Stella memberi sinyal penting: negara melihat bahwa model pendidikan seperti ini bukan kegiatan pinggiran, melainkan arah masa depan. Apresiasinya terhadap inovasi dan visi besar Terhadap BPK Penabur Bandung sebagai penyelenggara memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mendorong pelajar lebih kreatif dan inovatif.
*Mentalitas Inovator*
Prof. Stellla benar. Pada masa kini, sekolah seharusnya tidak sekedar menghasilkan lulusan yang pandai menjawab ujian karena bangsa membutuhkan orang yang kreatif dan inovatif yang mampu menjawab krisis dan perubahan yang sangat cepat. Institusi pendidikan harus bertransformasi. Bukan lagi mendidik generasi 'pengekor' yang berorientasi pada masa lalu, tetapi harus mendidik generasi yang berani berpikir dengan mentalitas inovator demi membangun masa depan yang baik bagi bangsa dan jagat raya.
Melalui event YCMS, BPK Penabur Bandung telah memilih jalan yang tepat. Dan itu patut dipuji.
Tetapi pujian saja tidak cukup.
BPK Penabur Bandung, dan tentu saja BPK Penabur secara umum, tidak boleh puas menjadi institusi elite lokal. Tidak boleh berhenti menjadi “yang hebat di negeri sendiri”. Sudah waktunya berpikir lebih liar, lebih besar, lebih global.
BPK Penabur butuh kaum visioner yang berani membangun forum inovasi Asia dan bahkan dunia, membuat kolaborasi riset lintas negara, mengundang ilmuwan dunia, dan mengirim inovator muda Indonesia ke panggung internasional.
Jadilah seperti burung elang. Ia tidak diciptakan untuk berputar-putar di halaman rumah. Ia diciptakan untuk langit yang luas. Dan pendidikan besar tidak lahir dari mental jago kandang, melainkan dari orang-orang yang memiliki keberanian untuk berkata:
*“Dunia bukan terlalu besar bagi kami; visi kami yang harus diperbesar.”*
Terbanglah semakin tinggi BPK Penabur. Tuhan memberkati.
Bandung,
2 Mei 2026