Translate

Saturday, July 05, 2014

Mengamankan eCommerce

eCommerce security is a headache for even the largest organisations, so what steps can you take?

Ecommerce Security: How to Control User Access to Your Environment image ecommercesecurity
Hardly a month goes by without a major breach of security involving an eCommerce retailer or financial services company. Confidential details of 27,000 Barclays bank customers, including; earnings, health and passport information were stolen in February 2014. A month later, details of 4.1 million customers of the three major South Korean telecoms companies were apparently sold to fraudsters.

Security at every step (or click)

Bricks and mortar retailers include security features throughout their stores; security in eCommerce is even more important because the potential losses are higher. If customers lose confidence in an organisation’s ability to keep their details safe, they’ll stop buying – and you’ll face severe penalties for failing to comply with PCI (Payment Card Industry) regulations. IT security should be a fundamental design principle, not an afterthought.
The key to making a Linux system secure is standardisation based on:

1.    A Standard Operating Environment (SOE) designed and configured to include ‘security by default’.
2.    A Standard Operating Environment Management Platform (SOEMP) to maintain quality assurance through consistent and efficient deployment and maintenance.
3.    Best practice systems management processes that establish proper governance to manage the security of existing and future builds.
Management is crucial. LinuxIT uses the FCAPS (Fault, Configuration, Accounting, Performance & Security) framework for network management model for systems management as we believe it helps identify areas for the definition of best practices for Linux.

Identity management

User authentication and authorisation of permissions and roles is a vital part of eCommerce security. With a large number of servers and users, a centralised means of managing user access is required. Several best practice tools are available to allow Linux users to authenticate against an existing directory services infrastructure, such as Centrify, IdM or LinuxIT’s AAA (Authentication, Authorisation and Accounting). Centrify allows organisations secure and audit access to cross-platform systems and applications using Active Directory. AAA provides a highly available secure gateway.

User activity monitoring

Many IT security breaches occur because of sloppy, or malicious behaviour. It can be difficult to guard against an insider physically taking for example customer information, but eCommerce operations can take precautions to ensure their customer data is well protected. Process governance, audit trails and restricting employees’ use of external data storage all reduce risk. In eCommerce environments it is essential to restrict the commands that users can run and record exactly which actions have been performed.

Remember

  • Security breaches are a real threat to eCommerce organisations, leaving them at risk of hefty fines and severe reputational damage.
  • IT security is a huge factor for eCommerce and should be implemented and designed to minimise risk by strictly controlling user access.
  • Organisations should have a Standard Operating Environment (SOE) with a Management Platform designed and configured to include ‘security by default’.
  • Proper governance should be established in order to manage the security of existing and future builds.
  • User access rights can then be applied and managed centrally using platforms such as Centrify or IdM.

Read more at http://www.business2community.com/digital-marketing/ecommerce-security-control-user-access-environment-0933853#FRQYl1dTPRKirgJQ.99

Friday, July 04, 2014

Evaluasi Terakhir Capres, Diperlukan Menko yang Gesit (Rhenald Kasali )


Rhenald Kasali 
@Rhenald_kasali

Tulisan pertama dari dua tulisan

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia leadership mendapatkan ujian yang super berat. Peneliti Richard L. Hughes, Katherine C. Beatty dan David L. Dinwoodie dari Center for Creative Leadership (2014) menemukan sebuah kesimpulan, yaitu “Diperlukan pemimpin yang bertindak, bukan berencana!”

Bertindak itu artinya berkoordinasi, memimpin ke samping. Jadi yang dibutuhkan bukan pemimpin yang pandai berorasi, melainkan bertindak, memeriksa keadaan, lalu menghubungkannya. Kalau ia benar-benar mampu, maka hasilnya mudah dilihat. Kesenjangan kaya-miskin akan menurun, angka keluhan berkurang, buruh tak lagi berdemo karena soal kesejahteraan, dan angka korupsi jauh berkurang (karena pemimpin-pemimpin daerah tak perlu lagi menyuap pejabat pusat demi pembiayaan infrastruktur di daerahnya).

Pandai Belum Tentu Gesit

Mengapa kita perlu pemimpin yang gesit? Jawabannya adalah karena pejabat-pejabat kita terlalu senang berpidato kendati rakyatnya mengantuk, lalu juga senang diperlakukan sebagai pejabat yang didatangi. Kalau tak didatangi mereka mudah tersinggung dan pintu-pintu ekonomi daerah terkunci. Sulit dibuka.

Saya bisa memahami, mengapa para pemimpin daerah banyak yang ditangkap KPK. Sebab, salah satunya, untuk sampai ke meja Menko, surat-surat mereka harus melewati banyak meja dan “orang-orang dekat”.

Tidak sulit untuk mengetahui gerak para penyuap itu. Anda tinggal duduk di kedai-kedai kopi di hotel-hotel berbintang, lalu merapatlah pada meja-meja yang ditempati orang-orang berpakaian safari. Dengarkan suara keluh kesah mereka. Hampir pasti, sebagian di antara tamu-tamu itu ada pemburu rentenya. Ini sudah rahasia umum. Umum sekali.

Nah persoalannya, mengapa para menteri mendiamkan praktik-praktik ini berlarut-larut? Jawabannya adalah karena mereka membiarkan dikelilingi staf-staf khusus utusan partai politik yang tak memiliki kompetensi yang jelas.

Kalau orang yang hanya bisa membuat selebaran gelap bisa diangkat menjadi deputi bagi seorang staf khusus presiden, berarti kemampuan propaganda masih lebih dianggap istimewa dalam budaya leadership kita saat ini, ketimbang kompetensi untuk kesejahteraan umum. Orang-orang seperti inilah yang sekarang diberi reward berupa jabaran komisaris.

Jadi, pintar bicara saja bukanlah jaminan untuk kesejahteraan kita bersama di masa depan. Ke depan Indonesia memerlukan orang-orang pandai dalam arti sebenarnya, yaitu pandai yang dipakai untuk mencapai tujuan kita bernegara seperti yang diamanatkan konstitusi: masyarakat yang adil dan makmur.

Pintar orasi adalah lagi-lagi propaganda. Pintar bertindak adalah hal yang lain lagi. Ini hanya bisa dilihat dari kerendahatiannya menyambangi orang lain, mengunjungi bawahan, meretas hambatan-hambatan, dan memeriksa apakah betul hambatan-hambatan horizontal-vertikal telah disingkirkan aparat birokrasi dan para pemburu rente.

Cara-cara Baru

Tak banyak pejabat yang paham bahwa dunia telah benar-benar berubah sehingga membentuk sebuah lingkungan kompetitif yang dinamis, bergejolak dan penuh ketidakpastian. Bahkan pemimpin-pemimpin daerah berani membayar upeti demi mendapatkan kepastian bagi percepatan pembangunan infrastruktur di daerahnya.

Di Kalimantan Timur misalnya. Setiap kali Saya menyambangi gubernur, saya lebih senang naik pesawat kecil (Susi Air) dari Balikpapan ke Samarinda. Dari udara saya selalu memandangi ujung-ujung jalan tol yang bergerak lamban sekali. Namun, setiap saya tanyakan pejabat-pejabat di daerah, saya selalu menemukan keluhan yang sama.

“Aneh Pak, ijin membuka jalan tidak keluar-keluar dari kementerian kehutanan. Padahal, jalan untuk para pencuri kayu diberikan.” Itulah keluhan orang daerah. Padahal Kaltim masuk dalam program MP3EI yang menjadi program kesayangan Menko Perekonomian.

Dr. Hendri Saparini, dalam panel diskusi ahli Ekonomi di Kompas pernah menyatakan, “Sayangnya MP3EI tak dimasukkan dalam APBN, sehingga berjalan sendiri-sendiri.”

Jadi ke depan, Bapak-bapak calon presiden renungkanlah ini: Indonesia butuh menko-menko yang gesit. Bahkan menteri-menteri biasa pun harus punya keahlian menjalin hubungan horizontal yang gesit.

Inilah abad di mana “Ketegangan antara internal needsbertabrakan dengan eksternal needs,” tulis Hughes, dkk (2014). Karena itulah memimpin ke samping, menjadi tantangan sendiri yang jauh lebih sulit ketimbang memimpin vertikal ke bawah.

Tulisan kedua dari dua tulisan

Sejatinya, pemimpin itu ingin dikenal sebagai pemimpin yang berhasil. Apalah artinya, kalau sekadar “berhasil menjadi presiden”. Apalagi bila kelak gagal. Bukan cuma cacian, melainkan juga ancaman bagi kedamaian. Sebab pemimpin yang gagal akan menuai konflik internal yang tajam dan pembuatan benteng-benteng pertahanan diri yang berlebihan.

Maka sebelum kegagalan tiba, calon presiden dan pengikut-pengikutnya harus mengubah cara pandang. Dari mengedepankan “kepentingan teman-teman” diubah menjadi "kepentingan umum”. Pasukan pemenangan kampanye mempunyai karakteristik yang tak sama dengan pasukan pemenangan pembangunan.

Sejatinya pula leadership adalah sebuah proses, bukan posisi. Maka jauhi orang yang mengedepankan posisi dan fokuslah pada orang proses. Sejarah mengajarkan, jagoan hebat menang di belakang, bukan yang tertawa di depan. Lantas apa yang bisa mengikat pemimpin?

Landasan Moral

Sejatinya juga, kita tak bisa mengevaluasi capres dari visi-misinya belaka. Dalam ilmu manajemen visi-misi tak pernah terpisah darivalues. Inilah landasan moral: Visi-Misi-Values.

Nah, kalau kita bandingkan kedua capres, maka kita bisa dibuat bingung. Karena banyak kesamaan jawaban dari sisi logika. Tak heran kalau capres Prabowo Subianto sering  mengucapkan “saya setuju”. Bisa jadi saat menjawab, capres Joko Widodo menjelaskan terlebih dahulu. Atau bisa jadi ia bisa menjelaskan dengan lebih artikulatif karena pengalaman riilnya. Jadi secara logika “banyak kesamaan”.

Dan ini, membuat Anda yang ingin memilih yang terbaik menjadi bingung. Sikap Anda berbeda dengan sikap orang-orang yang fanatik, atau mereka yang telah bersikap. 

Kalau boleh saya usulkan, cobalah evaluasi landasan moral mereka. Ya, values-nya. Kita masih punya waktu untuk menilai, bahkan mengajukan pertanyaan, menitipkannya pada para wartawan/moderator debat. Atau kalau tak bisa juga, lakukan analisis pribadi saja.

Pertama, tanyakan dan periksalah, apakah mereka dikelilingi oleh orang-orang yang punya respek. Mudah kok. Orang-orang yang punya respek tak asal menghina, tidak reaktif. Mereka tidakmencla-mencle, mereka tahu bahwa kampanye ini hanya 40 hari ketimbang 5 tahun di pemerintahan nanti. Jadi harusnya mereka berhitung.

Orang-orang yang tak punya respek berorientasi pada apa yang diucapkan lawan-lawannya, lalu mencari celah untuk menghina. Bukan untuk menguji. Yang dihina pun adalah aspel-aspek emosional, seperti agama, suku, keturunan, istilah, atau hal-hal lain yang bersifat fitnah.

Ingatlah, rakyat tak respek pada pemimpin-pemimpin yang tak punya respek. Orang-orang seperti itu akan sulit melakukan transformasi, karena kehilangan trust.

Kedua, pelajari apakah mereka mencari kebenaran atau pembenaran. Orang-orang yang mencari kebenaran cenderung realistis dan mengakui kesalahan, bahkan tidak mengambil orang-orang yang tak baik dalam teamnya. Sedangkan yang bekerja dengan pembenaran akan selalu membenarkan yang tidak benar, sekalipun itu perbuatan tercela.

Ketiga, adakah kekuatan “uang” di balik semua dukungan yang diberikan? Meski hal ini sulit dibuktikan, kita punya perasaan dan naluri. Uang akan membuat manusia buta terhadap kebenaran, dan berani melacurkan moralitas.

Keempat, “sakit hati”. Apakah pemimpin mau menjauhi dirinya dari kelompok sakit hati? Ingatlah, hanya orang-orang yang “sakit” yang punya kegairahan untuk menyakiti orang lain. Orang-orang seperti ini harusnya dikasihani, diterapi, bukan diberi jabatan. Karena mereka dapat menjadi duri dalam daging.

Kelima, musuh terbesar no 1 bukan no 2, dan musuh terbesar no 2 bukanlah no 1, melainkan no 1 melawan no 1, no 2 melawan no 2. Moral yang harus dibangun kelak, pertama-tama bukanlah moral rakyat atau birokasi pemerintahan, melainkan moral para timses dan pengurus partai politik  masing-masing. Maaf, harus saya katakan, terlalu banyak bakteri dan kuman yang harus dikeluarkan, disucikan dari kalangan internal masing-masing.

Revolusi Mental  

Waktu saya dalami, kandidat no 2 sebenarnya sudah memiliki landasan moral. Revolusi mental adalah landasan moral. Berbeda dengan orang-orang yang menyatakan “revolusi” adalah jargon komunis, saya justru melihat sebagai jargon perubahan. Lagi pula, apa masih ada negeri  komunis yang 100 persen komunis.

Tiongkok saja hanya memasang gambar palu arit namun perilakunya Anda bisa nilai sendiri. Sementara anak emasnya, Vietnam, menyebut dirinya sebagai: “Market  Mechanism under Socialism Leadership.”

Jadi kalau kita mau menganut landasan teori dialektika, maka kita akan gemar konflik karena prinsipnya setiap tesis harus ditentang dengan anti tesisnya. Impiannya, akan terjadi solusi kreatif. Nyatanya, yang terjadi bukanlah perubahan postif, melainkan keributan tiada ujung.

Nah teori perubahan, justru mewaspadai ancaman perubahan perlahan-lahan (evolutif). Sebab perubahan yang perlahan-lahan itu justru berbahaya. Lebih banyak melahirkan kepunahan (seperti yang tengah dialami pasar-pasar tradisional) ketimbang kemajuan.

Perubahan evolutif dalam Darwinian Theorem (bapak teori evolusi) di lain pihak juga melanggar kodrat zaman, karena dunia tengah bergerak ke abad kecepatan dengan teknologi digital. Bayangkan ketika kebocoran besar terjadi, sedangkan perubahan (perbaikan) dibua perlahan-lahan, maka kapal ini akan tenggelam.

Karena itulah landasan moral menjadi sangat penting. Nah lantas apa yang harus dilakukan capres terpilih kelak? 

Terlepas sudah ada atau belum, sudah  dirumuskan atau belum, siapapun yang terpilih harus melakukan hal ini: bekerja dengan dasar moral dan integritas, hanya memilih orang-orang yang punya respek dan bermoral, berani memecat anggota kabinet yang melanggar tata nilai yang disepakati, lalu mengikat semua anggota kabinet dengan landasan moral.

Maka, rapat kabinet pertama akan sangat menentukan langkah-langkah selanjutnya. Apakah  memilih berfoto di anak tangga istana dengan pakaian terindah yang dibuat penjahit kenamaan dengan bahan-bahan terbaik, atau cebur-ceburan di waduk Jatiluhur, melakukan team building dan difoto dalam pakaian basah penuh lumpur.

Selamat memilih, dan jangan lupa, nilailah landasan moral mereka baik-baik. Lihat siapa-siapa saja yang tendensinya akan duduk dalam jajaran leadership kedua kandidat. Saya mendoakan saudara akan menemukannya.

Wednesday, July 02, 2014

[DOG] 7 Tahapan Perkembangan Anak Anjing yang Wajib Diketahui oleh Pemilik Anjing



7 Tahapan Perkembangan Anak Anjing yang Wajib Diketahui oleh Pemilik Anjing
Waktu yang paling penting dalam perkembangan anak anjing adalah selama usia tahun pertama, terutama selama usia 3 bulan pertama dalam hidupnya. Dengan memahami tahap perkembangan mereka, kita bisa menyediakan apa yang mereka butuhkan dan pada waktu kapan mereka sangat membutuhkannya sehingga perkembangannya menjadi optimal.

Mari kita lihat tahapan apa saja yang mereka lalui, tetapi sebelumnya ingatlah bahwa tahap-tahap yang akan dibahas berikut ini adalah tahapan anjing secara umum. Setiap anjing mungkin dapat berbeda, ada yang lebih cepat dan ada yang lebih lambat.

Tahap 1: Tahap Transisi (usia 2-3 minggu)

a user uploaded image
Tahap transisi umumnya berlangsung dari usia dua sampai tiga minggu. Pada tahap ini, mata puppy anda akan terbuka dan mereka perlahan-lahan akan mulai merespon terhadap cahaya, gerakan, dan suara disekitarnya. Mereka akan mulai sedikit bergerak, berusaha untuk menggerakkan kakinya dan merangkak. Mereka juga akan mulai mengenali induk dan saudaranya serta setiap benda yang anda tempatkan didekatnya.

Tahap 2: Tahap "hampir" siap melihat dunia (usia 3-4 minggu)

a user uploaded image
Puppy anda akan mulai mengalami perkembangan indera yang cepat selama tahap ini dan penuh waspada terhadap lingkungannya. Mereka akan mulai mengenali anda dan anggota keluarga lainnya. Selama tahap ini, sebaiknya hindari suara keras atau perubahan mendadak karena peristiwa negatif bisa memiliki pengaruh serius pada kepribadian dan perkembangannya. Puppy belajar bagaimana menjadi anjing selama tahap ini, sehingga sangatlah penting bagi mereka untuk tinggal bersama dengan induk dan saudaranya.

Tahap 3: Tahap perkembangan sosial (usia 4-7 minggu)
Dari usia 3-4 minggu, puppy anda akan mulai masa perkembangan sosial paling penting dalam hidupnya. Mereka belajar berinteraksi sosial dengan saudara-saudaranya, belajar bagaimana untuk bermain dan belajar mengendalikan gigitan / menggigit halus tanpa menyakiti (bite inhibition). 

a user uploaded image
Bite inhibition adalah sebuah faktor penting dalam sosialisasi anjing dan biasanya dipelajari sebagai bagian dari perilaku bermain pada anak anjing saat mereka masih bersama induk dan saudaranya. Dengan menggigit satu sama lain selama bermain, anak anjing akan belajar bahwa jika menggigit teman bermainnya terlalu kuat maka akan menghentikan kegiatan bermain mereka.

Pada tahap ini, anak anjing juga akan belajar disiplin. Induk anjing akan menyusui anak-anak anjing dan mulai mengajarkan mereka tentang kepatuhan dasar, termasuk menerima dirinya (si induk) sebagai pack leader. 

a user uploaded image
Anda bisa mulai mengenalkan makanan padat kepada anak anjing mulai dari usia sekitar 4 minggu secara bertahap untuk peralihan dari asi induknya. Terus menangani anak anjing setiap hari, tetapi jangan memisahkan mereka baik dari induk atau saudaranya untuk waktu lebih dari 10 menit per hari. Anak-anak anjing yang dipisahkan dari sarangnya terlalu dini (tempat induk dan saudaranya berada) biasanya akan mengakibatkan anak anjing menjadi gugup, cenderung menggonggong dan menggigit serta lebih sulit untuk disosialisasi dan dilatih. Anak-anak anjing harus bersama induk dan saudaranya setidaknya sampai usia 7 minggu dan lebih bagus lagi jika lebih lama dari itu untuk perkembangan sosial yang optimal dan stabil.

a user uploaded image
Para ahli mengatakan bahwa waktu terbaik dalam kehidupan anak anjing untuk belajar kemampuan bersosialisasi adalah antara usia 3 dan 16 minggu. Disinilah kesempatan anda untuk memastikan bahwa anak anjing anda tumbuh menjadi anjing dengan kepribadian yang baik. Sangat penting sekali untuk membiarkan anak anjing anda bersama dengan induk dan saudaranya selama mungkin pada tahap ini. Jangan memarahi anak anjing yang main berantem-beranteman, kesalahan pee/pup sembarangan atau mouthing (gigit ringan) karena itu adalah perilaku normal untuk anak anjing pada tahap ini.

Tahap 4: Tahap "Saya takut segalanya" (usia 8 minggu-3 bulan)

a user uploaded image
Tahap ini berlangsung dari usia 8 sampai 3 bulan, dan dicirikan dengan mudah belajar dengan cepat dan juga "periode ketakutan" yang biasa muncul di sekitar usia 8 sampai 10 minggu. Tidak semua, tetapi kebanyakan anjing mengalaminya dan mereka akan terlihat ketakutan akan segala hal yang belum dikenalnya. Pada tahap ini sebaiknya anjing tidak diberikan disiplin yang keras, suara keras atau kejadian yang bisa membuatnya trauma.

Pada tahap ini, kandung kemih dan usus anak anjing anda sudah mulai dapat dikontrol dengan baik dan dia sudah mampu tidur sepanjang malam (akhirnya, anda bisa beristirahat). Anda bisa mulai mengajarinya perintah sederhana seperti: come, sit, stay, down, dll. Leash training bisa dimulai. Sangat penting untuk tidak menjauhkan anak anjing anda dari kontak manusia pada tahap ini, karena dia akan terus belajar perilaku dan tata cara yang akan mempengaruhinya dalam tahun-tahun mendatang.

Tahap 5: Tahap Balita (usia 3-4 bulan)
Pada masa ini anak anjing anda sebagian besar akan bersikap seperti balita. Mereka akan menjadi sedikit lebih mandiri, mungkin akan mulai mengabaikan perintah anda yang baru saja dia pelajari seperti anak kecil yang sedang mencoba untuk menikmati kebebasannya. Hal ini seperti "saya tidak harus mendengarkan anda!". Yang diperlukan disini adalah penguatan yang tegas dan lembut pada perintah dan pelatihan yang diberikan.

Dia mungkin akan mulai menggigit anda, mulai dari menggigit main-main atau bahkan menggigit sebagai upayanya untuk menantang otoritas anda. Sebuah perintah tajam "NO!" atau "No bite!" diikuti dengan beberapa menit mengabaikannya, seharusnya bisa mengatasi masalah ini.

a user uploaded image
Terus bermain dengannya dan mengurusi kebutuhannya setiap hari, tetapi jangan bermain permainan seperti tug of war atau gulat dengannya. Sejalan dengan kekuatannya yang semakin bertumbuh, dia akan berjuang melawan anda untuk melihat siapa yang lebih kuat dan meskipun anda yang menang, pesan yang diterima oleh anjing anda adalah bahwa berkelahi dengan anda adalah sesuatu yang wajar. Dan itu tentu saja bukan hal yang wajar!

Tahap 6: Tahap sedang nakal-nakalnya (usia 4-6 bulan)
Pada tahap ini, anak anjing anda akan lebih menunjukkan kemandirian dan hasrat kemauannya. Anda mungkin akan melihat keinginan untuk menyenangkan anda berkurang dan melihat perilaku-perilaku nakal yang mungkin bisa menguji batas kesabaran anda.
 
a user uploaded image
Pada tahap ini juga, anak anjing akan mengalami siklus tumbuh gigi dan akan mulai mencari sesuatu untuk digigit/dikunyah untuk meringankan rasa sakit dan tekanan yang dirasakannya. Tulang-tulangan anjing beku bisa membantunya menenangkannya selama periode ini.
 
Anak anjing akan mencoba untuk menegaskan "dominasi" atas anggota keluarga lainnya terutama anak-anak. Teruskan melatih kepatuhan dan perintah dasar kepada anak anjing anda namun pastikan untuk tidak pernah melepaskan leash/tali anjing selama waktu tersebut kecuali anda berada di area yang aman. Kebanyakan anak anjing akan mengabaikan perintah untuk kembali atau datang kepada pemiliknya, yang mana hal ini bisa berbahaya. Jika anda membebaskannya di tempat umum tanpa leash kemungkinan cedera atau bahkan bisa berakibat pada kematian pada anak anjing anda, salah satu contoh ditabrak mobil.

Mereka juga akan mulai mengalami perubahan hormon seiring pertumbuhannya menjadi dewasa dan anda mungkin akan melihat tanda-tanda pemberontakan (bayangkan seperti anak remaja). 

Tahap 7: Tahap Remaja (usia 6-18 bulan)
Tahap ini biasanya adalah masa yang menyenangkan dalam hidup anjing anda. Mereka muda, penuh semangat, energik dan dia akan belajar semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi seekor anjing sejati.

a user uploaded image
Pada tahap ini, secara bertahap tambahkan aktifitas anjing anda dan pelatihan. Anda bisa mulai pelatihan yang lebih sulit selama periode ini, seperti herding atau agility training (jika hal ini yang anda dan anjing anda gemari) atau bisa pelatihan lainnya. Jika tidak, perluas aktifitas anjing anda yang melibatkan lebih banyak orang dan binatang lain. Dan juga, memungkinkannya untuk berinteraksi dengan anjing lain yang tidak agresif dan tidak mengancam.

a user uploaded image
Selamat! Anda telah membesarkan anak anjing anda melalui 7 tahap masa perkembangannya dan sekarang anda sudah memiliki anjing dewasa! Hampir terasa seperti membesarkan seorang anak, bukan?


Sumber:
dogbreedz.com

Sunday, June 29, 2014

Berikan value lebih kepada customer Anda

10 Ways to Offer Your Customers More Value image d55e704b c08a 40da 8851 2b05c642cc69 728 600x399
It’s much easier to market to existing customers and get them to buy more than to spend the time, money, and energy nurturing new leads that might not end up converting.
Here’s how you can provide more value to existing customers, turning them into lifelong fans of your brand and increasing your overall sales.
1. Knock Customer Service Expectations Out of the Park
Lucky you. Customers have very low expectations when it comes to being served through your customer service department. Chalk it up to long hold times for phone service and incompetent service reps.

Go beyond expectations to provide fast and effective service. Wean your customer service reps off that canned script and empower them to solve customers’ problems. Consider adding social media or chat to your channels so customers can contact you in the ways they’re most comfortable.
2. Delight them with Gifts
If you’ve ever received an unexpected token of appreciation from a company you do business with, you know the pleasure you experienced. Don’t you want that for your customers? The item doesn’t have to be expensive; it could be anything from a handwritten birthday card to a box of cookies at Christmas. Even an anniversary discount email can work.
3. Give Them the Content They Want
Everyone’s looking for content online, and it’s exhausting trying to find it sometimes. But as a brand, you have the opportunity to provide additional value to your customers by offering free white papers, blog posts, ebooks, and more. HubSpot is well-known for free white papers and research, and you don’t even have to be a customer to access them!
4. Send Emails They WANT to Open
Think about the hundreds of branded emails that flood your inbox each day. Which ones do you actually open, and why do you open them? I’m willing to bet they deliver some sort of valuable content that you care about. The rest is just noise. Knowing who your customers are and the types of content they want can help you deliver more value…and keep them coming back for more.
5. Leverage CRM in a Meaningful Way
There’s so much rich data in small business CRM, and it’s there for the taking. You can use this information to track customer data as well as their behaviors online so that you can respond and take action. If you see a customer recently acquired another company, you can be first in line with your congratulations. If you see a customer talking to your competitors on social, you can step in and see why they’re considering switching providers and potentially nip it in the bud.
7. Be Personal
It’s easy to just lump a company into…well, a company. But your company is made up of lots of interesting people. Customers are people, not companies. Make sure all your messaging, from social media updates to emails, is personal. It’s perfectly acceptable for Sally in customer service to talk about her shared interest in Hunger Games with a customer. When Sally relates to the customer on a personal level, she leaves a far more positive impression of your business.
8. Ask What They Want
What better way to find out how you can effectively market to existing customers than to ask what they want? Send out a survey asking what features they’d like added to your products, or what they would improve about your company if they could. You’ll get valuable feedback you can use to improve your brand.
9. Bundle Products
If you know a customer buys the same product every month, consider sending her a special offer where she can get that product plus an additional one for a slight increase in cost. This is a fantastic way to sell some of those items that aren’t moving out of your inventory and get customers to try other products.
10. Help Your Customers Succeed
This is especially valid in the B2B world, where sometimes customers come to us for one product but don’t realize what else we offer. When you have conversations with customers about their big-picture needs, you often find other ways you can help them. If you can’t help directly, you can bet they’ll appreciate a recommendation to someone who can.
Perceived value goes far beyond just price. People are willing to pay more for your products or services when they see they get more benefits and superior customer service from you.
Image via Shutterstock

Read more at http://www.business2community.com/customer-experience/10-ways-offer-customers-value-0922904#qdSsiGWUEYcXcwMl.99

ManageEngine site24x7 mengubah mobile devices menjadi monitoring

ManageEngine's Site24x7 Turns Mobile Devices into Monitoring Locations
Site24x7 , the cloud infrastructure monitoring service from ManageEngine, has announced the launch of the Site24x7 Mobile Network Poller App . Available immediately, this industry-first app turns Android mobile devices into carrier-specific monitoring locations. In turn, Site24x7 users can now track the performance and availability of mobile apps, mobile-optimized websites, and other online services from the perspective of the mobile users accessing those services via Verizon, AT&T and other wireless carriers' 3G and 4G networks as well as WiFi.

Monitoring the availability and performance of mobile websites has become a top priority for IT teams who rely on critical monitoring metrics to help ensure mobile device users have the best experience possible. Historically, there was no way to monitor mobile apps and websites from the mobile networks themselves. In turn, IT teams lacked carrier-specific insight on how their apps and websites were actually performing for mobile users. Without mobile network information, tuning and optimizing mobile apps and websites was an exercise in guesstimation.

"Mobile apps are now ubiquitous, so the mobile websites and REST APIs used by native iPhone and Android apps absolutely must be monitored to ensure excellent end- user experience," said Gibu K. Mathew, Director of Product Management at Site24x7. "The new mobile network monitoring capability in Site24x7 will help IT teams monitor status via popular 3G and 4G wireless networks. Additionally, you can monitor response times of APIs that are consumed by these mobile properties."

3G, 4G, WiFi Network Monitoring

The Site24x7 Mobile Network Poller App keeps track of mobile websites, monitoring key metrics like availability, response time and downtime of websites. The app converts an Android mobile device into a monitoring location. Now, in addition to more than its 50-plus global monitoring locations, Site24x7 can use mobile devices running the Site24x7 Mobile Network Poller App as locations from which to monitor websites.

The breakout capability of the Site24x7 Mobile Network Poller App is the ability to monitor via 3G, 4G or WiFi network or via any other connectivity mode present on the mobile device. Users can also set up multiple devices on different service providers to monitor mobile websites.

One immediate use case for the new Site24x7 app involves any company that has its distributor channels use smartphones and tablets to process orders. The Site24x7 Mobile Network Poller App can be downloaded in various, strategic distributor offices and used to monitor website performance. This use case can also be extended to include other branch offices in global locations. Additionally, enterprise specific mobile APIs can be monitored using the app, where users can run it within their corporate network giving additional flexibility of monitoring enterprise mobile services.

Along with mobile websites, users can choose to monitor the end-user experience of mobile apps by tracking the response times of custom APIs.

Easy To Set Up

To set up the Site24x7 Mobile Network Poller App, users simply create a Site24x7 account and download the app on their Android mobile devices from Google Play. Then, users register their Android devices with the Site24x7 account. Finally, users can choose the desired Android device to monitor their websites.

The Android app then runs in the background, on the mobile device, at all times. Once the app gets registered with a Site24x7 account, the device will be shown as a "primary location" or "secondary location" in the Site24x7 console. While adding a website for monitoring, users can now select a newly-added Android device as a location for monitoring.

KPI dalam bisnis ecommerce

Key performance indicators for ecommerce businesses

“In the business world, the rearview mirror is always clearer than the windshield.” – Warren Buffett
For newcomers to ecommerce, part of the learning process is coming to understand the basic statistical framework online retailers use to measure the performance (or non-performance) of a given web store.
The core aspects of a business’ performance that can be measured and reported in numbers are known as the company’s “metrics” or “key performance indicators” and the tool or spreadsheet for capturing and reporting those metrics on a regular basis so that they can be reviewed is known as the “dashboard.”
One of the more satisfying aspects of running an online business in comparison to an offline business is the relative ease of capturing a very wide range of data from sources such as Google Analytics, along with the store’s own internal reporting tools, though the value of building out a dashboard comes from the way that data from different sources can then be related to each other in a single easy-to-comprehend format and location.
Frequently I find that online retailers have a good understanding of the data coming to them though a single tool or channel, but do not have a clear picture of how the data coming to them through various channels relates to each other. Bringing key data from different sources together in one place addresses that, and opens up the potential to see opportunity in the relationship between data from different sources that might otherwise be missed.
Several years ago I was involved in a project where we brought together a massive amount of data from three separate information-rich sources, which up to that time had been viewed largely in isolation from each other. In that instance the sources were QuickBooks, Google Analytics, and a proprietary order management system that the company had designed which had a robust reporting platform. The result was a dashboard that took the form of a single set of spreadsheets combining and relating data from those sources to make analysis and decision-making easier and more reliable.
Reporting dashboards can serve another important function, as well. One danger of having such a rich field of relatable data coming from a variety of sources is information overload. This can take the form of creating metrics that don’t actually reveal valuable and actionable insights, but which do clog-up your reporting tools and make it hard to see the really useful information through the blizzard of less-valuable numbers. Really valuable reporting and management tools are often developed over time as particular metrics are added and subtracted from the dashboard based on their actual use in decision-making.
When I’m designing reporting dashboards for ecommerce projects the particulars of each tool might change a bit depending on the goals, the richness and accuracy of the information sources, and so on. But in general the data captured falls in a few basic categories.

Sales and Income Data

The point of retailing online is to sell product, and in the end much of the relational data you generate will be based on sales figures. Capturing the total sales in dollars, total number of transactions, and total number of items sold in a given period is basic to much of what follows. Many retailers break out their product sales, sales taxes, and shipping fees to provide more insight on where the revenues are being sourced. Other data to consider might include the portion of the total sales that are due to things like personalization and product enhancements, rather than just sale of the basic physical good.
From this data alone you can easily compute your average order value, and you can compute similar figures for things like average shipping cost. This data can be of value all by itself but as we will see in a minute it can be useful to a larger purpose as well.

Traffic Data

Often sourced from Google Analytics or another similar platform, traffic data refers to the basic metrics of website usage on the part of your shoppers. Google Analytics makes it easy to capture data that relates to characteristics of your visitors, including information about the technology that they use to interact with your site, how visitors found your site, and how they use your site.
The number and percentages of users by channel (paid, organic, direct, referral, social) the overall and channel-specific bounce rate, the depth of engagement of visitors (measured in terms of time-on-site and pages per session), their preferred technology, including browser and operating system, the amount of traffic from mobile devices and the type of mobile devices used, the number of unique vs. repeat visitors, along with other key traffic metrics, can provide a wealth of insight as to how your store is being discovered and used by shoppers.

Conversion Data

Although Google Analytics can provide conversion data itself, the conversion reports are not always accurate, but they are easy to generate yourself from the mix of sales data and traffic data. At the most fundamental level, when people talk about your site’s “conversion rate” they typically have in mind the simple formula of total sessions divided by total number of transactions. But you can produce other conversion-related metrics as well, if you have the data. For example, you might decide to try to measure the conversion as it relates to the number of unique visitors as opposed to session-based conversion.

AdWords Marketing

If you purchase traffic through pay-per-click advertising with Google or Bing/Yahoo, then you’re probably very concerned to see that your ad dollars are being spend intelligently and in proportion to what they are generating for you in terms of sales.
The Google AdWords tools, along with Google Analytics, can provide you useful data that you can also harvest and relate to data from other sources. As with total sales, the basic number here is your total spend in the study period by advertising channel.
Using this data, along with traffic reporting having to do with visitors by channel, you can easily determine what you’re spending on average to generate a visitor to your site.
Much of the hard work of advertising intelligently has to do with really understanding the differences in terms of quality and conversion between visits to your website from different keywords, the costs associated with getting visits from those keywords, and the average order value generated from those visits. But all of that goes beyond the sort of overview data that a good dashboard is likely going to be able to generate for easy digestion.
Rather than go down that road, use metrics to take a longer look at what is going on. Setting aside the details of specific ad groups and campaigns, focus on metrics like (a) the average spend to generate a new user of the site, (b) the average spend to generate a transaction, and (c) the average spend as a percentage of the average order value overall. Although the particulars of what to do about a malfunctioning campaign cannot be deduced from that level of data, an overall awareness of the effectiveness of your paid marketing in relation to other study periods can be determined.
One more thing about all of this. Almost everyone who sells online is getting their traffic from a mix of paid and unpaid sources, and those percentages are changing all the time. You can track the return on investment of your advertising relative specifically to the visitors that your advertising brings to you, but you can also treat your ad spending as simply a general expense and ask yourself – ignoring the particulars of the mix of paid and unpaid sources – what you’re spending on average in the general area of marketing expressed as a percentage of your average sale.

Shipping Cost Metrics

Shipping is a direct expense, like the cost of goods sold. But you might be using a mix of shippers and packaging materials to fulfill orders. Shippers make it very difficult to relate their bills back to shipments made in a particular period, but if the study period is sufficiently large enough (like a month), then the data on your costs will get more accurate just because the pool of packages is large enough to make the data average out a bit. Costs per shipping channel, costs per shipping method, number of packages per channel or method, average packaging costs — these can all be captured fairly easily and added to the dashboard.
At that point, you can quickly see how to figure out if your shipping charges are covering your shipping costs, and also figure out your shipping charges and packaging charges as a percentage of the average order value.

Building a Business Model Around Average Order Value

I’ve brought up the matter of average order value a few times. I’m a big fan of this metric, in part because I use it as a central tool in building and testing business models. If you subtract from your average order value, your average cost of goods sold, your average shipping cost per order, and your average marketing cost per order (treating all orders as if they were the result of paid advertising even though your real sales were probably a mix), then you will see your gross-profit-per-order after all pure variable expenses, treating advertising as a pure variable expense.
That’s the amount of money per order you have to apply to your fixed costs or overhead. If you know that your total overhead is $3,000 per month, and that each order contributes $50 after all pure variable expenses (including ads), then it will take 60 orders per month to get to break-even. If you can get only one order on average per day using that business and advertising model, then the business isn’t going to work.

Conclusion

I’ve left out a number of other areas where you could try to harvest data and relate it to data from other sources. The details of building, testing, and improving your dashboard are, as they say, “left as an exercise for the reader.” But having a centralized reporting framework that provides you a clear and comprehensive basis for comparing your store’s performance from period to period is a critical part of running it professionally