Translate

Friday, April 05, 2019

Teach Your Children to Tell A Story

Teach Your Children to Tell A Story

(Ajarkan anak-anak anda agar mereka mampu bercerita)

Sebut saja Namanya Sean. CEO di sebuah perusahaan start-up di California. Saya bertemu dengan dia seusai dia presentasi di sebuah event internasional.
Tapi saya sengaja mengajak ngobrol dengannya setelah itu. Karena saya terpukau dengan kemampuannya bercerita (story telling).
Pada saat Sean presentasi di depan ratusan orang di Los Angeles waktu itu....
- people listen to him
- people believe in him
- people remember him

Maka saya pun ingin belajar dari Sean. Dan saya bertanya, "Bagaimana presentasi mu begitu memukau dan begitu banyak orang yang terkesima?"
Sean menjawab,"Who did presentation? I did not conduct a presentation. I did a story telling."

Voila! Sekarang saya mengerti mengapa story Sean  begitu menarik ...
Sean meneruskan,"Semua orang sudah alergi mendengarkan presentasi. Semua sudah bosan melihat presentasi. Kita tidak bisa lagi menggunakan presentasi. Kita harus menggantinya dengan story telling (teknik bercerita)"

Dengan presentasi orang akan:
- bosan
- ngantuk
- buka smartphone
- gelisah
- pergi ke toilet

Sementara, siapa yang tidak tertarik dengan cerita , story telling ...
Sejak kecil sebagai manusia, memang kita suka mendengarkan cerita, apakah itu membaca novel, melihat film, melihat theater atau apapun bentuknya.
Makanya banyak leader dan marketing manager yang sudah menggunakan teknik storytelling itu untuk lead team mereka atau untuk tell a story about their brand.
Dengan story telling ...
- orang ingin mendengarkan
- orang ingin mempercayai anda
- orang penasaran ingin mendengarkan kelanjutannya
- orang ingin melakukan apa yang anda sarankan dalam cerita itu

Panteslah orang yang menggunakan story telling akan mencapai objective nya lebih effective dibandingkan yang presentasi.

Dan panteslah perusahaan-perusahaan di Amerika seperti Microsoft, P&G, Nike, Motorola, NASA, Workd  Bank dan masih banyak lagisudah mewajibkan leader-leadernya menggunakan teknik story telling dalam menyampaikan ide dan visinya.

Saya pun bertanya kepada Sean,"How did you develop your story telling ability?"
Dia menjawab,"My father teach me that"
Sean minum sparkling water di depannya kemudian meneruskan.
"Ayah saya dulu banyak menceritakan dongeng (fairy tales) ke saya waktu kecil. Banyak ayah melakukan itu. Bedanya ayah saya meminta saya mendongengkan kembali ke dia, apa yang dia ceritakan ke saya sehari sebelumnya. That's the difference!"

Sean menambahkan ,"In the end of the day it is about practice. Practice, practice, practice!"

Seperti halnya seorang pilot, semakin banyak jam terbang akan semakin hebat kemampuannya.
Bayangkan kemampuan story telling yang dia latih sejak kecil!

Saya jadi membayangkan ayah saya (the best mentor I ever had in my life), yang juga secara teratur bercerita wayang ke saya.
Saya ingat waktu kecil, ayah saya menceritakan adegan akhir perang Barata Yuda. Dia menggambarkan adegan itu dengan sangat hidup, menampilkan karakter karakter yang kuat (Bima, Duryudana, Kresna ...etc). Dan saya pun sangat memvisualisasikan hal itu. Esok paginya saya menceritakan adegan itu ke teman teman saya (waktu itu saya kelas 3 SD). Dan teman teman saya pun suka menagih cerita ke saya pada jam istirahat. Saya dengan senang hati menceritakan itu. Before I know it, ternyata kakak kakak kelas saya ikut mendengarkan. Saya waktu itu klas 3 SD, dan saya sudah mengumpulkan 60 orang sebagai audience saya. Dan seperti halnya Sean, saya juga melakukan itu secara regular, di mana ayah saya adalah sumber cerita saya, dan teman teman saya adalah Audience saya.

I learn from Sean. Ternyata "bakat" menjadi tidak begitu penting. Yang jauh lebih penting adalah "latihan" dan "kerja keras".
Semakin banyak kita bekeja  keras dan latihan akan semakin bagus kemampuan kita.
Sebaliknya semakin hebat bakat kita, tetapi kalau tidak banyak latihan dan kerja keras ya percuma saja!

Nah, karena saya bertemu Sean, saya jadi ingat bahwa saat ini hampir semua great leader yang saya kenal adalah juga seorang great story teller.
Karena kemampuan mereka untuk membangunkan mindset, vision dan membuat follower mereka bergerak menuju ke satu tujuan yang sama.

Padahal ternyata kemampuan story telling itu ternyata sebaiknya dipupuk sejak kita kecil.
Dan ini tentu mengingatkan tugas kita sebagai orang tua?
Apakah kita menyiapkan mereka sebagai great leaders?
Apalah kita menyiapkan mereka sebagai great story tellers?
Apakah kita memang menceritakan dongeng (fairy tales) kepada anak anak kita?
Apakah kita memang menyuruh anak anak kita untuk menceritakan kembali dongeng dongeng itu?
Apakah kita punya kesabaran untuk mendengarkan mereka?
Jangan jangan kita punya waktu sedikit banget dan anak anak kita menghabiskan seluruh waktu kita dengan gadget mereka?

Ok, masa depan anak anak anda ada di tangan anda sendiri.
Kita masih punya waktu untuk mendidik merekA.
Kita masih punya waktu untuk membentuk karakter mereka.
Kita masih punya waktu agar mereka menjadi great story tellers, which is one of the future requiremeng to become great leaders ....
Lets do our job!

Terus bagaimana kita mendidik anak anak kita menjadi story tellers?
Kita baca dan terapkan yuk beberapa tips di bawah ini ...

1. Tell them stories
Lead by example!
Kalau anda ingin mereka menjadi story teller, anda harus memulai dengan sering sering menceritakan dongeng kepada mereka.
Dongeng apa saja. Fairy Tales . Hans Christian Anderson. Dongeng Nusantara. Sejarah. Cerita motivasi tokoh terkenal.
Ceritakan secara teratur!

2. Ask them to repeat your story
Keesokan harinya bujuk dia untuk menceritakan cerita yang sama kepada anda.
Puji dia. Suruh dia menceritakan pelan pelan. Bantu dia mengingat bagian yang dia lupa.

3. Build a story together
Kadang kadang, ajak dia membuat (mengarang) cerita bersama sama.
Saya melakukan itu sekeluarga, dengan permainan "satu orang satu kalimat".
Saya akan mengucapkan,"Pada suatu hari , seorang pangeran pergi ke hutan"
Istri saya menambahkan,"Pangeran itu bernama William, dia tampan, dan naik kuda putih ke mana mana"
Ilma, anak saya pertama menambahkan,"Hari itu Kudanya berlari menuju telaga"
Nadia meneruskan,"Tetapi ternyata air telaga itu beracun"
Adrian, anak saya yang ketiga menambahkan,"Kudanya mati. Pangeran pun kebingungan di pinggir telaga"
Kembali ke giliran saya lagi," Dari kejauhan, datanglah seekor singa"

Saya rasa di sini anda sudah tahu maksudnya. Build the story together. Bisa dua orang, tiga orang atau lima orang, terserah.
Intinya bagaimana anda membangun sebuah cerita bersama sama.

4. Develop a strong character in the story

Cerita yang bagus selalu diawali dengan seorang karakter yang kuat (Raksasa jahat, pangeran tampan, putri yang baik hati, anjing yang lucu)
Karaker itu akan membuat cerita anda lebih hidup.

5. Visualize the story
Visualisasikan cerita anda. Tambahkan hutan, danau, rumah yang tua, pasar yang ramai, atau airport yang bising.

6. Ask them to tell a short stories
Nah, pada waktunya, setelah beberapa kali latihan, sekarang dorong dan bujuklah agar dia mulai menceritakan ceritanya sendiri.
Mulailah dengan menceritakan kepada diri anda sendiri, kepada keluarga, di kelas dan di sekolah.
Dengan prinsip yang sama saya melatih anak anak saya, dan sekarang mereka semua sudah confident dan percaya diri tampil di depan ratusan orang.

7. Reward and compliment them for telling stories

Jangan lupa memberi hadiah. Ingat berani tampil, berani tell a story, berani presentasi juga adalah prestasi. Jangan hanya memberikan hadiah kalau anak anak anda mendapatkan nilai raport yang bagus. Berikan hadiah pada saat mereka berani tampil, meskipun hanya di tengah tengah keluarga, apalagi kalau di depan ratusan orang di sekolahnya.

8. Practice, practice, practice
Latihan, latihan, latihan. Latih sebanyak banyaknya. Di kamar tidur, di sekolah, di acara keluarga.
Carilah kesempatan agar mereka berani tampil. Semakin sering semakin baik !

Just remember, the 8 steps to Teach Your Children To "Tell a Story"

1. Tell them stories
2. Ask them to repeat your story
3. Build a story together
4. Develop a strong character in the story
5. Visualize the story
6. Ask them to tell a short stories
7. Reward and compliment them for telling stories
8. Practice, practice, practice

Salam Hangat 

Pambudi Sunarsihanto

Fanky Christian IT Infrastructure Specialist Smartcityindo.com StartSmeUp.Id Chairman DPD DKI APTIKNAS Vice Chairman ASISINDO Secretary ACCI

The decision frame and out of box thinking

Heat map of key IoT opportunities varies by industry and application

IoT in organizations

Monday, April 01, 2019

THE MAIN PURPOSE OF THE BUSINESS IS NOT TO MAKE MONEY

THE MAIN PURPOSE OF THE BUSINESS IS NOT TO MAKE MONEY

(Ternyata tujuan utama bisnis itu bukan untuk menghasilkan uang)

Hari itu saya sempat Fitness di Jatomi (Kuningan City) pagi pagi. Dan ternyata di sana saya bertemu seorang teman yang sudah lama tak berjumpa. Sebut saja namanya Herman.
Jadilah kami akhirnya breakfast dan catch-up di Starbuck di bawahnya.
Ternyata cerita Herman menarik untuk dibahas....

Tadinya Herman bekerja sebuah perusahaan manufacturing lokal di sini.
Pada mulanya perusahaannya berjalan dengan cukup efisien dan cukup menguntungkan.
Kemudian datanglah investor asing yang membeli perusahaan itu.
Dan mulailah pembenahan-pembenahan dilakukan.
Seperti biasa yang dilakukan adalah :
1. Cost efficiency
2. Restructuring (pengurangan jumlah layer manajemen),
3. Product simplification (product locak dihentikan, product global difokuskan).
Sekilas tidak ada yang salah dengan program program itu.
Wajar, siapa sih yang tidak ingin lebih efisien.
Makanya program program itu pun mendapatkan full endorsement dari stakeholders.
Dan mulailah program program itu dijalankan.
Ternyata 9 bulan kemudian hasilnya adalah ....
- customer mulai meninggalkan product mereka
- revenue dan profit turun
- karyawan mengalami demotivasi, banyak yang gerah dan keluar, termasuk Board of Directors nya sendiri....
Bahkan Herman pun tidak tahan dan akhirnya keluar.
Dan lama lama perusahaan itu sekarang ... hidup segan mati tak hendak.
Masih beroperasi sih, tapi volume turun, revenue turun, profit turun, dan terutama jumlah loyal customer terjun bebas.
Sekarang investor asing itu sedang mencari investor lain yang ingin membeli perusahaan tersebut.

What a tragic story...
Investasi yang seharusnya membawa profit karena prospek yang menjanjikan, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.

What's wrong?

Kita analisa yuk ....

Pertama kita lihat bahwa bisnisnya pada awalnya cukup baik.
Jadi kalau business transformasi bisa dilaksanakan dengan baik, mestinya hasil akhirnya akan melahirkan performance business yang lebih baik lagi.
Tapi kita lihat dulu, apa yang mereka lakukan pada saat melakukan perubahan ...
1. Cost Efficiency
2. Restructuring
3. Poduct simplifition

Padahal Michael Porter bilang,"The main purpose of the business is not (only) to make money. The main purpose of the business is to create customers "

Dan kalau kita lihat 3 agenda perubahan di atas (cost, organization, product), kok gak ada agenda tentang customer?
Kok gak ada agenda tentang people (employee)?
Pantes aja employee gak happy. Pantes aja customer kabur....

You get the result of what you do.
You take care of your cost efficiency, your cost will be very efficient.
You take care of your structure, your structure will be very good.
You don't take care of your customer, don't complain if (somebody else take care of them) and they will run away.
You don't take care of your employees, don't complain if they are not happy and they run away.

That's what happen when the business think short term and they only focus on creating profit.

Padahal seperti dibilang Michael Porter... The purpose of the business is not (only) to create profit. The purpose of the business is to create (loyal) customers.

Jadi seharusnya profit bukan hal yang pertama yang difokuskan. Focus first on the customers ... then pofit will come.
Dan untuk focus ke customer ternyata management harus focus ke employee.
Hapy employe will create happy customer, and then happy customer will.create happy company (high profit).
Jadi jangan pernah berpikir bisa mencapai high profit kalau anda tidak punya happy customer, dan jangan pernah berharap punya happy customer kalau anda tidak punya happy employee.

Jadi kembali ke perusahaan di mana Herman bekerja... apa yang harus dilakukan?

Kan everything has to start from the customer...
Jadi inilah yang mestinya dilakukan ...

a) CUSTOMER
Identify loyal customer mereka siapa, apa yang mereka mau, apa yang customer pengin dari product mereka?
Focus on them!
Set a strategy to make sure that you increase the number of your loyal customers.

b) PRODUCT
Product apa yang menjadi andalan? Product apa yang benar benar mampu "mengambil hati" customer mereka?
Keep that product.
You can always develop and try with new product.
But do not touch the product who bring the cash to you.
Set a strategy combining the "cash cow" product and the "new product" that you need to develop.

c) PEOPLE
Bagaimana membuat karyawan mereka agar semakin termotivasi, merasa memiliki, merasa terus menerus belajar dan berkembang bersama perusahaan?
Set a people strategy to make sure that your employee improve their engagement with the company.

d) EXECUTION DISCIPLINE
Nah... strategy sudah dibikin di atas kan? Dan sudah meliputi 3 aspek, Customer, Product and People.
Jadi sekarang anda harus lead seluruh perusahaan untuk mengimplementasikan dengan disipline.
Dalam arti disipline berarti juga memaksimalkan profit .
Jadi ingat pada akhirnya bisnis pun harus menghasilkan profit. Semaksimal mungkin. Tapi jangan terobsesi dengan profit dan mengesampingkan hal yang lain (customer, product, profit).
Nah... tetapi setelah anda take care of of your customer and product, you need to have the discipline to generate maximum profit (by maximizing the revenue and mininizing the the cost).

e) CONTINUOUS LEARNING

Last but not least, no matter how good your product is, no matter how loyal your customers are, the time will change,  your product may not be relevant anymore, and your customer may not be loyal anymore.
Look at what happened to Sony Walkman, Kodak and Nokia.
So as a company, you will need to continuously observe the trend, watch and learn from the customer behavior and the market.
Based on your learning, you may need to adjust your strategy and adapt to the change that may happen.

Jadi... secara ringkas, ternyata kuncinya kesuksesan bisnis itu adalah dengan tidak terobsesi dengan profit dan uang pada jangka pendek.
Kalau anda benar benar mengurusi customer anda, product anda dan karyawan-karyawan anda, ternyata long term profit akan datang dengan sendirinya.

Salam Hangat, 

Pambudi Sunarsihanto

Fanky Christian
IT Infrastructure Specialist
Smartcityindo.com
StartSmeUp.Id

Chairman DPD DKI APTIKNAS
Vice Chairman ASISINDO
Secretary ACCI