Translate

Sunday, May 10, 2020

Istri kunci suksesnya

Amsal 31:10-12, 25-29 (TB)  Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 
Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. 
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. 
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. 
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. 
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: 
Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. 


Ayat diatas cukup unik. Menggambarkan apa yang kita lihat dan dengar selama ini. Di balik orang sukses, ada istri yang kuat.

Istri yang cantik bukan itu yang utama kita butuhkan, tapi istri yang cakap. Istri yang mendukung tugas dan tanggung jawab suami. 

Saya megingat awal masa pernikahan yang sederhana, awal kehidupan rumah tangga yang biasa saja, kemudian masuk ke dalam masa sulit ketika usaha memburuk, tidak ada pemasukan dan anak baru saja lahir serta memerlukan dana. Masa itu juga harus melayani di gereja karena baru saja diangkat menjadi pelayan jemaat. 

Itulah masa sulit kami hingga semua harus berkorban. Istrilah yang menguatkan, mendukung segala jalan yang coba dipilih. Keterbukaan kepada istri mengenai kondisi kita sesungguhnya juga sangat penting. Saya juga belajar dari pengalaman kawan yang tidak jujur dengan kondisi keuangannya dan istrinya tidak peduli, terus menuntut.

Menghargai istri dimulai dengan kejujuran kita. Istri akan mengerti dan mendukung, dan kita bersama datang memohon kepada Tuhan, memohon jalan keluar yang terbaik. Istri yang baik tidak hanya mengerti tapi juga mendukung. Membantu apa yang bisa dia bantu. 

Mungkin istri kita tidak bisa jualan seperti kita, bekerja seperti kita. Tapi dia menyiapkan segala sesuatu agar kita bisa bekerja. Tangannya cepat dan cakap, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak kita. Itu juga bukan pekerjaan mudah. Suasana rumah, anak-anak bersahaja , akan membuat perasaan kita leboh baik.

Dulu, hampir 3 bulan lebih banyak bekerja di rumah, membuat dokumen dan proposal. Dan keluar hanya untuk bertemu klien. Tiap langkah kami berdoa bersama. Doanya kadang membuat kita tersekat nafasnya, menahan haru. Tapi itulah yang menguatkan kita.

Hargailah istri anda, karena mereka juga salah satu sumber kekuatan kita terutama di kala krisis seperti saat ini.