Translate

Saturday, August 20, 2016

Judulmu adalah pesaingmu

Bussiness Always Change, sebuah adagium universal yang mesti dipahami seluruh entrepreneur.

Happy Sam, seorang CEO Global Perseroan Mandiri, Malaysia, mengatakan bahwa entrepreneur is how to finding market.
Tentu saja, dalam penerapannya, menentukan pasar tidaklah mudah.

Di sini, Sam, menjelaskan bagaimana menggali peluang bisnis yang tidak memerlukan modal, namun bisa dikerjakan dari rumah. Apakah itu?

teknologi mengubah dan mengajarkan banyak hal. Sam, belajar dari penjualan buku selama berpuluh tahun, kini menyadari bahwa senjakala industri cetak kelak akan tenggelam.

Ya, menjadi entrepreneur E-book adalah peluang bisnis masa depan. Meski belum menjejak di industri penjualan buku, namun bisnis ini ke depan akan menjadi tulang punggung bisnis penjualan buku, setelah dunia cetak benar-benar tenggelam.

Tentu, dengan upaya-upaya marketing yang kreatif. Dua hal yang mesti diperhatikan dalam penjualan E-book, juallah buku yang terkenal dengan target pasar yang jelas.
"Judulmu adalah pesaingmu," kata Sam tersenyum.

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Friday, August 19, 2016

Talent War

*TALENT WAR*
Oleh Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)
Koran SIndo, Kamis 18 Agustus 2016

Ribut-ribut pencopotan Menteri ESDM Archandra Tahar oleh Presiden Joko Widodo menyentak perhatian publik.

Kita semua prihatin. Seandainya saja Archandra, sebelum dilantik menjadi menteri, menyatakan secara terbuka kepada Presiden Jokowi soal kewarganegaraannya, mungkin persoalannya menjadi lain. Ia bisa tidak terpilih, tapi bisa juga ditunda pengumumannya. Namun, nasi sudah jadi bubur.

Dan, Anda tahu di negeri kita, kasus semacam ini pasti membuat heboh. Komentarnya macam-macam.

Di negara kita umumnya masyarakat terbelah dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang "masih hidup di masa lalu" atau masih terperangkap pada mindset masa lalu. Maka, semua komentarnya beranjak pada hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu. Misalnya, selalu terkait dengan masalah keamanan. Bagaimana regulasinya? Kalau salah, ya mesti dihukum. Bukan hanya itu, hukumannya pun diperluas. Ibarat manusia yang merasa, maaf, _insecure,_ menjadi parno sendiri.

Kata seorang teman, orang yang _feel insecure_ tadi, ibarat orang yang selalu curiga pasangannya telah menjalin hubungan dengan orang lain. Makanya di rumah si istri dilarang bergaul, pagarnya dipasang tinggi-tinggi, dan kalau ada orang yang mendekat ia segera menghardik dan mengancam.

Lihatlah mereka bahkan membesar-besarkan masalah. Misalnya, isunya kemudian digeser soal impeachment, karena Presiden Jokowi dianggap melanggar undang-undang dan peraturan.

Kelompok kedua adalah mereka yang sudah hidup di masa depan.  Mereka menempatkan masalah ini dalam bingkai yang lebih besar. Kelompok ini biasanya selalu berpikir untuk mencari solusi guna menyelamatkan kepentingan bangsa. Kepentingan yang lebih besar. Dan sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang feel secure, percaya pada niat baik orang lain.

*Zero Sum Game*

Bicara soal Archandra, saya ingin mengajak Anda untuk melihat kasusnya dari perspektif yang lebih luas. Kita hidup di era persaingan global. Berbagai produk dari luar negeri lalu lalang di depan kita. Begitu bebas. Sebagian jadi pelengkap, tapi banyak juga yang "membunuh" produk-produk kita. Apa saja?

Banyak sekali. Ada tekstil dan batik dari China. Mobil dari India juga sudah masuk. Gadget, semacam ponsel pintar, jangan tanya. Nyaris semuanya produk asing. Juga dari Korea Selatan yang kini mengisi khazanah budaya anak-anak muda kita dengan K-Pop-nya, termasuk sinetronnya.

Itu kalau bicara produk. Belum lagi yang berupa jasa. Dokter asing, sudah masuk. Begitu pula dengan tenaga pendidik. Kalau ada proyek yang didanai lembaga keuangan China, hampir pasti di sana ada tenaga kerja asal negara itu yang bekerja di proyek tersebut.

Anda mau menganggap ini masalah sepele? Saya, jelas tidak. Saya tidak anti produk asing atau jasa asing. Kalau produknya belum ada di negara kita, silakan saja masuk. Juga, kalau keahlian dari tenaga asing tersebut belum kita miliki, saya setuju mereka hadir di sini. Selebihnya kalau produknya sudah ada di sini, atau kita memiliki tenaga kerja dengan kualifikasi tersebut, jangan pakai tenaga kerja asing.
Kita harus menghargai tenaga kerja sendiri. Kalau tidak, mereka bakal lari ke luar. Di dunia olahraga, itu sudah terjadi. Banyak pebulutangkis andal kita yang direkrut untuk melatih di negeri orang. Di Eropa, Amerika Serikat, dan bahkan di Asia. Mereka bahkan diberi kewarganegaraan agar bisa menikmati hari tua yang sehat plus fasilitas publiknya.

Saya ambil satu contoh. Kita punya Juara Dunia 2003, Hendrawan, yang kini melatih tim Malaysia. Kini, atlet-atlet bulu tangkis asal negeri jiran itu bukan hanya mampu menyulitkan atlet-atlet bulu tangkis kita, tetapi juga mengalahkannya.
Itu dari bidang olahraga. Sekarang saya ajak Anda untuk melihatnya dari perspektif ekonomi dan bisnis.

Saya akan mengutip survei yang dilakukan McKinsey & Co. Survei itu melibatkan 77 perusahaan dengan 6.000-an responden. Kesimpulan survei, di era new economy, ajang kompetisi terjadi pada tingkat global. Ketika itu modal bukan lagi persoalan. Ide-ide bisnis berkembang dengan sangat cepat dan kian murah. Dalam kondisi seperti ini, hingga 20 tahun ke depan, sumber daya perusahaan bukan lagi modal, bahan baku, dan bahkan teknologi, melainkan talent. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang pintar, canggih dan melek teknologi, cerdik dan tangkas bekerja.

Ini celakanya. Menurut survei McKinsey & Co., meski permintaan akan talent di dunia bakal terus meningkat, sementara pasokannya justru sebaliknya. Kian menurun. Alhasil, di dunia terjadilah peperangan dalam memperebutkan talent-talent tersebut.

Anda merasakannya? Mungkin tidak, atau belum. Tapi, cobalah bertanya pada korporasi papan atas kita, mereka pasti merasakannya. Pertarungan memperebutkan talent ibarat _zero sum game._ Kalau di luar sana perusahaan lain dapat satu, itu artinya ada satu juga talent kita yang hilang. Kalau di luar sana dapat 10, maka kita pun kehilangan 10.

*Pemasok Talent*
Dan, sementara banyak negara berebut mencari talent-talent tersebut, kita secara tak sadar—atau malah disengaja—lewat berbagai cara, sudah menjadi pemasoknya. Saya tadi sudah memberi contoh dalam bidang olahraga. Dalam  dunia teknologi dan bisnis, itu juga sudah terjadi.

Saya bisa menyebut beberapa contoh. Beberapa nama mungkin sudah familiar di telinga Anda.
Misalnya, Khoirul Anwar yang lahir di Kediri, Jawa Timur. Ia kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Ia ahli dalam bidang telekomunikasi dam pemilik paten dalam sistem telekomunikasi 4G yang berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).

Ada Andrivo Rusydi, 33 tahun, dan Nelson Tansu. Keduanya adalah pakar teknologi nano. Saat ini Andrivo menjadi dosen di National University of Singapore, sementara Nelson Tansu menjadi pengajar di Universitas Lehigh, Amerika Serikat (AS).
Ada nama lama, Sehat Sutardja yang kini menjadi pendiri dan CEO Marvell Technology Group, AS. Lalu, Johny Setiawan yang menjadi penemu planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae. Johny kini memimpin tim peneliti di Max Planc Institute for Astronomy, Heidelberg, Jerman.

Saya masih punya banyak nama lainnya. Hanya, agak kelu untuk menyebutkannya. Betapa tidak. Sementara talent kita banyak dipakai di luar, membuat maju dan sejahtera negara-negara tersebut, kita malah mau menyingkirkan satu talent lagi. Pahit, bukan!

Lalu, mengapa harus nenjadi penonton kalau bangsa-bangsa lain justru mengundang talenta-talenta terbaik dari seluruh dunja sementara kita malah hanya berkomentar sinis karena takut tak kebagian pekerjaan saat mereka pulang atau mereka bekerja buat kita? Saya berharap akan ada banyak orang yang tak lagi picik, sehingga tak lagi terkurung di masa lalu, apalagi menyandera "anak-istrinya" dalam sangkar emas, karena _feel insecure_ tadi.

_Rhenald Kasali_
_Founder Rumah Perubahan_

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Selamat HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Sayangnya SDM dan Industri TIK Kita Belum Merdeka

Selamat HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Sayangnya SDM dan Industri TIK Kita Belum Merdeka

Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK) menilai bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai target ekonomi digital masih menjadi kendala besar. Indonesia masih sangat kekurangan SDM yang kompeten untuk mengelola industri TIK. KPTIK menyoroti dua masalah atau isu utama pada dunia TIK di Indonesia. Pertama definisi TIK yang masih carut-marut. Kedua kesiapan SDM untuk menyambut gegap gempitanya pesta-pora dalam industri TIK itu sendiri.

"Banyak definisi salah kaprah soal e-warung, smart city, digital business, dan lain-lain. Semua orang bisa membuat definisi sendiri, padahal belum tentu definisi itu benar. Anehnya tidak ada yang mau teriak soal definisi-definisi ini," ujar Ir Dedi Yudiant, praktisi TIK yang kini menjabat Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK), Kamis (18/8/2016).

Pada saat berkunjung ke Amerika Serikat bulan Februari 2016 lalu, Presiden mengangkat konsep ekonomi digital sebagai topik utama. Nilai potensi ekonomi digital Indonesia pada 2020 akan mencapai 130 miliar dollar AS atau sekitar Rp 169 triliun dengan kurs Rp 13.000 per dollar AS. Jika konsep itu berjalan dengan baik, nilai itu akan tercapai.

"Tapi dengan apa kita akan mencapai itu? Ekonomi digital kan butuh SDM yang banyak, dalam hal ini adalah lulusan SMK yang paling tepat dijadikan operator digital itu. Tapi, kondisi yang ada sekarang ini banyak lulusan SMK belum terserap industri, malah ingin kuliah. Mau kemana mereka setelah lulus bersaing dengan SMA? Di sisi lain, kesiapan guru dan kurikulum yang ssesuai tandar industri TIK masih harus dibenahi. Untuk itu, butuh pelatihan-pelatihan khusus untuk mengejar akselerasi itu,” ujar Dedi.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, ada sekitar 4,4 juta siswa SMK yang bisa menjadi generasi siap pakai. Tenaga kerja lulusan SMK itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pemerintah dalam mewujudkan visi ekonomi digital itu secara cepat, selain ada sumber SDM melalui BLK (Balai Latihan Kerja) dengan menyasar generasi muda tamatan SD/SMP yang merupakan 62%  dari angkatan kerja.

“Apa jadinya ketika Yahoo tiba-tiba menutup layanan emailnya? Apa efeknya jika Gmail pun menutup layanan surat elektroniknya lantaran semua pengguna harus bayar? Bagaimana jika Facebook juga melakukan hal serupa? Apa yang bisa kita lakukan? Hari ini, dalam suasana kita merayakan ulang tahun Kemerdekaan RI, dunia TIK kita ternyata masih belum merdeka. Kita masih tergantung pihak asing," ungkap Dedi lebih lanjut.

Produk asing makin merajalela, sehingga membuat masyarakat Indonesia makin ketergantungan memakainya. Indonesia hanya akan kehabisan waktu jika mengejar capaian produk-produk asing itu, seperti Facebook, Google dan lain-lain yang sudah mencengkeram kuat.

Tapi, itu bukan berarti orang Indonesia tak mampu membuat produk sekelas Facebook atau Google. Lantaran itulah kesiapan SDM Indonesia menjadi persoalan paling utama untuk diprioritaskan.
Untuk tujuan itulah, KPTIK yang didukung hampir semua organisasi di bidang TIK dan para pakar TIK dari segala bidang, mulai software dan hardware, internet, telekomunikasi dan banyak lagi, menggagas berdirinya "Cyber Maestro Center" atau CMC. CMC dirancang sebagai training for trainer dari para "maestro" TIK di bawah koordinasi KPTIK untuk para guru dan pelatih serta generasi muda yang mau masuk ke dunia TIK.

“Butuh dukungan SDM yang kuat di segala bidang untuk membuat sebuah produk startup bisa menjadi viral macam Facebook, Twitter, Google, yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, dan bisa meraup pendapatan. Inilah yang akan kami mulai di CMC" ujar Fanky, Ketua Pokja "Maestro Class & Maestro Teacher Program".

Di CMC inilah Fanky dan para pakar serta praktisi TIK Indonesia, menyediakan ruang maya bagi para guru atau maestro untuk mengisi materi yang dibutuhkan para generasi muda agar mereka bisa memahami industri TIK untuk bekerja dan berusaha di bidang industri TIK.
Ada sekitar satu juta pelajar SMK yang lulus dari sekolahnya setiap tahun. Mereka tidak hanya ada di kota, tapi juga di desa-desa di seluruh Tanah Air. Para pelajar SMK itulah yang perlu disiapkan menjadi operator ekonomi digital Indonesia, selain generasi muda di pedesaan juga bisa diberdayakan.
"Segala hal di sekeliling kita sekarang ini sudah semakin mengarah digital, apapun itu. Mulai dari pesan makanan, transportasi, sampai dengan transaksi keuangan dan bidang lainnya, sudah semakin berbasiskan digital. Sumber penyedia SDM yang paling banyak untuk memenuhi kebutuhan tersebut saat ini adalah SMK dan BLK. Untuk itu para guru dan siswanya harus disiapkan dengan serius, tak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah semata," tukas Fanky.

Tentang KPTIK
KPTIK (Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi) adalah organisasi yang dibentuk untuk membantu memajukan kualitas pendidikan TIK di sekolah, pesantren, BLK (Balai Latihan Kerja), lembaga pelatihan, perguruan tinggi, dan komunitas-komunitas berkumpulnya generasi muda, sehingga nantinya diharapkan kemampuan SDM generasi muda sesuai dengan kebutuhan perkembangan industri TIK masa kini.
Pendiri dan anggota KPTIK adalah hampir semua asosiasi/organisasi TIK di Indonesia, antara lain AINAKI, AOSI, APJII, ATSI, Genta Foundation, APKOMINDO, ASPILUKI, Klik Indonesia, Meruvian, LSP Open Source, APMI, LSP Telematika, LSP Komputer, FTII, dan Onno Center.

The Last Lecture

*Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun buku yang berjudul*
*"THE LAST LECTURE"*
*(Pengajaran Terakhir)* yang menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.""

*KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK,*

terdiri atas 
*--Personality,*
*--Community* and
*--Life.* 

Berikut penjelasannya:

   *A.  PERSONALITY:*

*1*. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

*2.* Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

*3.* Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.

*4*. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.

*5.* Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.

*6*. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur).

*7*. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.

*8*. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.

*9.* Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.

*10*. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak menganggu masa ini.

*11*. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

*12*. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

*13*. Senyumlah dan tertawalah.

*14*. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan.

      *B. COMMUNITY:*

*15.* Hubungi keluarga Anda sesering mungkin

*16*. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain.

*17*. Ampuni setiap orang untuk segala hal

*18.* Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.

*19*. Coba untuk membuat paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.

*20.* Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

*21*. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik

           *C. LIFE:*

*22*. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.

*23.* Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.

*24.* Lakukan hal yang benar.

*25.* Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah.

*26*. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!.

*27.* Yang terbaik belumlah tiba.

*28*. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan.

*29.* Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah pada Tuhan untuk itu.

*30.* Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bersukacita. So, be happy.

Mati tdk menunnggu Tua....Mati tidak menunggu sakit...nikmati hidup....sebelum hidup tidak bisa di nikmati.

*Sahabatku !,*
*Saat membaca dan selesai menyimak semua hal di atas, kami mohon kepada sahabatku  untuk membagikan tulisan ini kepada "orang" yang kita cintai, "teman" sepermainan kita, "teman" kantor, maupun "orang" yang tinggal dengan kita.*

*Pengetahuan ini tidak hanya akan memperkaya kita, tetapi juga orang disekeliling kita*.

*KARENA BAIK HADIR UNTUK MEMBAGI HAL" YANG BAIK...!!

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Thursday, August 18, 2016

COFFEE MORNING TALKSHOW 223 AGUSTUS 2016

Nantikan acara COFFEE MORNING TALKSHOW di RADIO HEARTLINE FM 100.6 - KARAWACI, live dari MAXX COFFEE - BENTON JUNCTION - jam 08.00 - 10.00 WIB, pada hari Selasa, 23 Agustus 2016.
Tema : Kedaulatan Data & Informasi
Narasumber :
1. M. Tesar Sandikapura, ST, MT
(CEO and Founder liteBIG)
2. Richard Kartawijaya
CEO of PT. Graha Teknologi Nusantara (Data Centre)
3. Novel Ariyadi, MPM, CISSP
(ECSolusi - Praktisi Keamanan Informasi)
4. Ardi Sutedja K., Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF)
Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara RADIO HEARTLINE FM - 100.6FM, MAXX COFFEE, dan APKOMINDO DKI JAKARTA.