Thursday, February 09, 2012

5 Resep Sukses Mark Zuckerberg

Fino Yurio Kristo : detikInet

detikcom - Jakarta, Perjuangan Mark Zuckerberg untuk membuat Facebook menjadi jejaring sosial terpopuler di dunia tentu tidak mudah. Tentu ada resep-resep khusus pria berambut kriwil ini, sehingga dalam usia muda mampu menuai sukses sedemikian tinggi.

Apa saja kira-kira resep sukses pemuda drop out dari Harvard University itu? Berikut 5 di antaranya, seperti diungkapkan oleh David Kirkpatrick, penulis buku The Facebook Effect: The Inside Story of the Company That is Connecting the World:

1. Percaya pada dirimu

Nasehat klasik ini memang sangat penting. Keyakinan diri yang sangat besar serta sifat positif membuat Zuckerberg mampu membangun Facebook dari nol. "Zuckerberg punya keyakinan luar biasa, dia mampu membuat impiannya jadi kenyataan," kata Kirkpatrick.

Kontras dengan citranya yang terlihat arogan di film The Social Network, Zuckerberg sesungguhnya tidak demikian. "Dia hanya seseorang yang sangat percaya diri," ucap Kirkpatrick.

2. Selesaikan tugasmu, jangan menunggu sampai sempurna

Zuckerberg fokus menyelesaikan sesuatu tanpa ditunda atau menunggu sampai sempurna. Jika ada kesalahan, dia berpikir akan selalu bisa memperbaikinya kemudian. Menurutnya, kesalahan adalah hal wajar.

Menurut Kirkpatrick, Zuckerberg memiliki sebuah filosofi tentang hal ini. Filosofi itu berbunyi, "Selesai itu lebih baik daripada sempurna,"

3. Berpeganglah pada visimu, jangan terpengaruh suara miring

"Zuckerberg dulu berada dalam posisi di mana tiap orang di sekitarnya mengatakan dia akan gagal dan apa yang ingin dicapainya terlampau tinggi," kata Kirkpatrick. Zuckerberg memang punya impian besar suatu saat Facebook akan digandrungi banyak orang.

Dia sangat yakin dengan visi itu sehingga menolak Yahoo yang ingin membeli Facebook tahun 2006 dengan harga USD 1 miliar. Visinya terbukti, sekarang Facebook memiliki 800 juta pengguna dan nilainya diprediksi USD 100 miliar.

4. Tidak hidup berlebihan

Siapa sangka sampai sekarang, Mark Zuckerberg masih tinggal di rumah sewaan di dekat kantor pusat Facebook. Penampilannya pun biasa-biasa saja. Padahal jumlah kekayaannya mencapai USD 17,5 miliar.

"Dia tidak pernah berlebihan dan pada akhirnya dia bisa saja memberikan semua uangnya," ucap Kirkpatrick. Ya, Zuckerberg juga dikenal sebagai sosok dermawan. Dia ikut program Giving my Pledge yang menyarankan orang-orang kaya menyumbangkan sebagian besar hartanya.

5. Ikuti passionmu, bukan uang

Kala membangun Facebook, uang bukan tujuan utama Zuckerberg. Dia mengikuti passionnya. Dia sangat bahagia menngoprek Facebook dan menciptakan cara baru untuk membantu orang terkoneksi.

Kesuksesan finansial mungkin akan mengikuti jika seseorang melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan gembira. "Baginya ini bukan tentang uang. Jika Zuckerberg membuat Facebook untuk uang, dia pasti sudah menjualnya beberapa tahun lampau," pungkas Kirkpatrick.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Thursday, February 02, 2012

Aruki Tsuzukeyou (Keep walking)

I want to walk, I want to run with my two legs.
I want to hold your hand, I want to hug u with my both hands.
It is something so simple action, everyone can do it.
Nothing difficult things, but I cannot do it.
However can I believe that it is sure that those people who struggle n striving would obtain happiness one day.
I'm keep walking with my pure mind, keep walking with my soul.
I strive, so you too, do not give it up.
Let's continue, keep walking.

I want to walk, I want to run with my two legs.
I want to hold your hand, I want to hug you with my both hands.
Once feel so sad n continue crying with my tears.
So sad about myself who cannot accept as it is.
However can I believe that.
The time will come one day you feel so happy while continue keep smiling.
I'm keep walking with my pure mind, keep walking with my soul.
I strive, so you too, do not give it up.
Let's continue, keep walking.

Gratitude gratitude just simply being alive.

I'm keep walking with my pure mind, keep walking with my soul.
I strive, so you too, do not give it up.
Let's continue, keep walking, keep walking, keep walking.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Monday, January 30, 2012

Mengintip Pekerjaan Pertama para Milyuner dan CEO 'Besar'

Senin, 30/01/2012 07:42 WIB

Mengintip Pekerjaan Pertama para Milyuner dan CEO 'Besar'

Nurul Qomariyah : detikFinance

detikcom - Jakarta, Mereka kini menjadi CEO di perusahaan-perusahaan besar. Tapi siapa sangka dulunya mereka hanyalah seorang tukang masak ataupun tukang pengantar koran. Kerja keras dan nasib baik telah mengantarkan mereka hingga ke posisi puncak.

Siapa yang menyangka CEO Exxon Mobil Rex Tillerson dulunya adalah seorang pengasuh bayi. Atau CEO JP Morgan Chase James Dimon yang ternyata dulunya adalah tukang menggoreng kentang.

Bagaimana para CEO dan milyuner dunia itu merintis karirnya? Berikut berbagai cerita tentang pekerjaan awal para CEO perusahaan-perusahaan besar dunia, seperti dikutip dari CNBC, Senin (30/1/2012).

1. Doug McMillon, President dan CEO of Wal-Mart Stores Inc

Doug McMillon pertama kali bekerja di Wal-Mart pada usia 17 tahun. Ia pertama kali bekerja di gudang Arkansas dengan upah US$ 6 per jam. Saat ini, McMillon menduduki posisi tertinggi di peritel terbesar AS itu. Meski demikian, ia mengaku banyak belajar dari pekerjaan pertamanya itu dan ia masih mengaplikasikannya pengalamannya itu saat memegang posisi puncaknya saat ini.

2. Michael Dell, Dell

Dell Inc, perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Texas dinamakan sesuai dengan pendiri dan CEO-nya, Michael Dell. Dell didirikan pada tahun 1984. Pada tahun 2011, majalah Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$ 15 miliar, sehingga Dell berada di jajaran orang terkaya di dunia. Perusahaannya berada di posisi ke-21 dari daftar Fortune 500.

Michael Dell mulai bekerja dari usia 12 tahun, dengan mencuci piring disebuah restoran China. Upahnya ketika itu adalah US$ 2,3 per jam. Ia sempat dipromosikan menjadi 'busboy' alias tukang bersih-bersih di restoran tersebut. Namun sebelum menikmati kenaikan 'pangkat' itu, ia sudah terpikat oleh sebuah restoran Meksiko. Ia kemudian meninggalkan industri restoran dan mengambil pekerjaan di toko koin dan perangko langka, kemudian mencari pelanggan koran dengna telepon, hingga berusia 16 tahun.

3. John Dasburg, ASTAR Air Cargo

ASTAR Air Carko adalah maskapai kargo berbasis di Miami yang singggah di lebih dari 40 bandara, serta melayani penerbangan untuk Departemen Pertahanan AS. Pada usia 10 tahun, Dasburg mulai mencari uang dengan memangkas rumput-rumput di halaman tetangganya. Namun ia kemudian mengambil terlalu banyak pekerjaan dan menyadari bahwa tidak ada jalan ia mengerjakannya sendiri. Ia kemudian mulai 'mempekerjakan' beberapa temannya, dan mengambil sedikit bagian dari pembayaran.

4. T. Boone Pickens, BP Capital Management

T. Boone Pickens adalah CEO of BP Capital Management. Menurut majalah Forbes, kekayaan Pickens mencapai US$ 1,4 miliar. Ia mulai bekerja sejak usia 12 tahun sebagai pengantar koran di Holdenville, Oklahoma dengan pendapatan 28 sen per hari. Pickens menghargai pekerjaan dengan memberikan perasaan merdeka untuk pertama kalinya.

"Sejak saat itu saya tidak pernah menginginkan orang tua saya memberikan uang. Saya ingin mendapatkan uang sendiri," ujarnya.

Ia mengaku dengan mencoba menarik uang dari konsumen yang tidak mau membayarnya adalah sebuah pelajaran berharga. Anda harus gigih jika ingin mendapatkan tujuan Anda. Anda tak pernah tahu pekerjaan yang setiap hari Anda kerjakan akan menuntun Anda kemana, jadi Anda harus melakukan apapun untuk hal yang Anda kerjakan," kata Pickens.

5. Terry Lundgren, Macy's

Terry Lundgren adalah CEO of Macy's, Inc. Karirnya dimulai setelah kuliah, ketia ia bekerja untuk Federated Department Stores. Namun sebagai orang yang baru memulai pendidikan, ia merasa kurang yakin dengan apa yang ia kerjakan. Ia pada awalnya ingin belajar ilmu pengobatan hewan, namun setelah setahun dan bekerja menguliti kerang, ia mengubah bisnis utamanya.

Ia bergabung dengan Federated pada tahu 1975 dan bekerja untuk divisi Bullocks Wilshire di Los Angeleas. Pada tahun 2005, ia mengkoordinasi merger antara Federated dan May Department Stores Inc dan pada tahun 2007, entitas baru yang dikenal Macy's Inc berdiri. Dan kini, Macy's masih tetap salah satu peritel terbesar dunia.


6. Clarence Otis, Jr., Darden Restaurants

Clarence Otis, Jr.adalah CEO of Darden Restaurants, sebuah perusahaan berbasis di Florida yang mengoperasikan semacam pembukaan tempat makan malam seperti Oluve Garden dan Red Lobster. Pada tahun 2010, Orlando Sentinel menyebutkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Florida Tengah. Ia mengelola 1.800 restoran dengna pekerja lebih dari 180.000 orang.

Ketika Otis bergabung dengan perusahaan itu sebagai keuangan pada tahun 1995, ia telah memiliki pengalaman di bidang jasa makanan. Pada usia 17 tahun, ia memulai pekerjaan pertamanya di restoran bandara Los Angeles dengan upah US$ 3,5 per jam. Ia mengatakan, melayani banyak orang dengan gaya pikiran yang berbeda-beda mengajarinya cara pendekatan yang berbeda untuk setiap situasi dengan pikiran dan gaya yang segar dan positif.

7. Jack Schuessler, Wendy's International

Wendy's International, Inc. adalah induk dari Wendy's yang merupakan restoran makanan cepat saji dan hamburger terbesar ketiga di dunia. Jack Schuessler telah bekerja di perusahaan itu selama 30 tahun dan sejak 2000 hingga 2006 menjabat sebagai CEO.

Pekerjaan pertama Schuessler adalah mengangkut kotak-kotak dari pabrik di St. Louis dengan upah US$ 2,45 per jam. Ia mengaku pekerjaan awalnya yang berulang-ulang secara moral lebih membunuh sehingga membuatnya sulit termotivasi selama 8 jam per hari. Meski tidak menikmati pekerjaannya, ia mengaku belajar banyak dari pekerjaannya itu. "Tunjukkan, Jika Anda tidak menunjukkan, Anda tidak akan dibayar".

8. Bill Watkins, Seagate Technology

Seagate Technology kini merupakan pembuat drive hard disk terbesar di dunia. Bill Watkins bergabung dengan perusahaan tersebut pada tahun 1996 dan karirnya terus meningkat hingga menjadi Presiden dan chief executing officer. Pada tahun 2004, ia adalah CEO hingga pensiun pada tahun 2009.

Karir Watkins sebelum di posisi puncak cukup unik. Setelah lulus SMA pada tahun 1971, ia bergabung dengan tentara AS dan bekerja sebagai medis di pangkalan Missouri. Setelah meninggalkan pasukan AS, ia berkerja shift malam di rumah sakit jiwa dengan tanggung jawab menangkap pasien yang kabur.

Kemudian ia meninggalkan karirnya dan pergi ke California, sebelum akhirnya bekerja di produsen floppy disk Xidex di Silicon Valey. Sejak itu, ia menekuni pekerjaannya di sektor teknologi.

9. Michael Morris, American Electric Power

Michael Morris adalah CEO American Electric Power, salah satu pembangkit listrik terbesar AS yang menyuplai hingga 10% interkoneksi di kawasan timur AS, dan juga sumber tenaga listrik untuk 38% wilayah AS dan Kanada bagian Timur.

Morris memulai karirnya pada uais 11 tahun sebagai pengantar koran di Toledo Blade, Ohio dengan pendapatan US$ 5 per hari. Ia meyakini pekerjaannya itu membuatnya memiliki perilaku yang baik dan juga untuk industri. Kini, ia menerapkan kualitas tersebut untuk pekerjanya dan mempromosikannya setelah itu.

10. Susan Story, Gulf Power Company

Gulf Power Company adalah sebuah perusahaan elektrik yang berbasis di Florida. Mereka melayani 400.000 konsumen di wilayah seluas 7.000 mil persegi mulai dari Florida, Alabama hingga Teluk Meksiko.

Ia memulai pekerjaannya dengan menuliskan pengumuman untuk pernikahan, pertunangan. Ia mengaku pekerjaannya itu memberikan peluang untuk melihat tanggung jawab lain selain pekerjaan utamanya.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Mulai ngajar lagi

Setelah cukup lama vakum dari sekolah minggu, akhirnya saya mulai kembali mengajar kelas Pra Remaja meskipun dengan daftar mengajar tak rutin. Mungkin juga sehubungan dengan 'masa persiapan pensiun penatua' yang sedang saya jalani, maka saya cukup enjoy juga berada di sana,Sudah cukup lama dari tahun 2009 saya memutuskan untuk memilih fokus ke dalam pelayanan penatua, meski telah dijalani dari tahun 2004, kerumitan membagi waktu antara mengajar dan melayani bidang penatua menjadi tantangan tersendiri.Selama tidak mengajar, saya banyak memperhatikan bagaimana orang lain mengajar, khususnya di gereja GKI HI yang selama ini menjadi tumpuan anak-anakku ke sekolah minggu. Dibandingkan dengan GKI BT yang selama ini saya berada di sana, saya mengamati beberapa hal penting.Sekolah Minggu dapat berkembang bila mendapat perhatian dari para Pendeta.Tidak dapat disangkal, kepengurusan yang ada di sekolah minggu memang dibentuk oleh Majelis Jemaat yang notabene juga ada para Pendeta di dalamnya, tapi ternyata Sekolah Minggu memerlukan perhatian lebih dari pada itu. Keterlibatan para istri pendeta dalam mengajar akan membuat hal menarik, dan tentu saja memudahkan komunikasi dan interaksi dengan para pendeta pada umumnya. Demikian pula, keterlibatan para Pendeta dalam kegiatan-kegiatan Sekolah Minggu, tidak hanya pada saat persiapan-persiapan Sekolah Minggu, tapi juga dalam berbagai kegiatan, para Pendeta ditantang untuk terlibat aktif dalam membina dan mendampining para calon jemaat-jemaat dalam lingkungan sekolah minggunya ini. Ini adalah aset dan tidak boleh dilupakan begitu saja dari perhatian para pendeta.Saya yakin, saya melihat potensi ini agak kurang di lingkungan GKI BT, sehingga akhirnya kami di bidang pernah memutuskan untuk melibatkan 'tenaga kategorial' yang akan membantu menjembatani, menbina secara langsung, melakukan mentoring, melakukan pastoral kepada para guru sekolah minggu, pengurus dan jemaat komisi anak. Tapi ternyata, cara ini tidak sepenuhnya benar. Para tenaga kategorial ini, meskipun mereka memiliki hati dan melakukan 'pekerjaan' dan pelayanannya dengan maksimal, tetap saja masih memerlukan perhatian para pendeta, dan tidak hanya pertemuan rutin dan saling update, tapi lebih bagaimana jemaat anak mengenal sosok dan mengagumi para pendetanya. Mungkin terdengar aneh, tapi sedikit banyak, saya belajar mencari sosok dan mengagumi para pendeta pada waktu saya kecil dan mengikuti sekolah minggu.Mungkin tiap gereja memiliki perhatian yang berbeda.Memang benar, tiap gereja memiliki fokus pelayanan dan sedikit banyak tergambar dalam visi dan misi gerejanya masing-masing, tapi toh tetap saja, pelayanan sekolah minggu tidak bisa dianggap enteng. Perlunya keberadaan pendeta mendampingi dan hadir di tengah-tengah pelayanan komisi anak sepertinya tidak dapat dikesampingkan. Beberapa hal yang saya catat dalam pengalaman saya dari tahun 2004, diantaranya adalah sosok pimpinan dan kepemimpinan sekolah minggu yang perlu asistensi ketat. Kemudian juga bagaimana memastikan para guru sekolah minggu mengajarkan hal yang tepat dan baik sesuai dengan ajaran gereja. Dan kepastian kesetiaan para guru sekolah minggu untuk bergereja yang menjadi panutan jemaatnya.Tiap gereja juga memiliki cara sendiri menangani hal ini. Ada yang menganggapnya remeh dan membiarkan saja sekolah minggu berjalan dengan pimpinan Tuhan, ada juga yang sangat menjaga ajaran dan prosedur dalam menjalan sekolah minggu. Semua ini akan kembali kepada apa yang dinamakan 'perhatian' tadi.Apabila gereja yang memiliki perhatian untuk menjadi berkat bagi masyarakat dalam arti luas, seyogyanya mempertimbangkan untuk memiliki dan membina para kader-kadernya dengan maksimal, mulai dari usia dini, dan ini ada di sekolah minggu. Bagaimana sekolah minggu juga menjadi saluran ide, pembentukan pikiran dan opini serta kekuatan moral untuk mendukung ide besar gereja selalu menjadi tantangan sendiri.Memang sekolah minggu memiliki kurikulum yang telah menjadi garis besar pembinaan gereja secara umum, tetapi kekuatan untuk memasukkan ide visi dan misi gereja setempat juga menjadi hal yang harus diperhatikan.Ada saatnya kita lelah.Pada saat-saat tertentu, saya melihat, rekan-rekan pengurus komisi anak seringkali merasakan lelah. Lelah bukan karena mereka tidak suka dengan pelayanan komisi anak mereka, tetapi lelah menghadapi birokrasi. Langkah pemotongan akses birokrasi dalam gereja juga menjadi point tersendiri yang pernah saya tangani. Ketidakefektifan toh tetap saja terjadi. Peran penatua pendamping, tenaga kategorial, bahkan mungkin pendeta komisi sekalipun, dengan mudah dibuat di atas kertas, tapi sangat sulit dikontrol dan dilaksanakan.Saya pernah merasakan capek sendiri pada waktu mengurus komisi-komisi sedemikian banyak dengan beragam permasalahan dan intrik di dalammya, tapi dibalik kelelahan, ada kesegaran. Ada semangat baru untuk bangkit dan memperbaikinya. Dulu saya sempat berpikir, mungkin lebih baik jadi penatua, sehingga saya bisa membantu memperjuangkan ide dan gagasan komisi anak, tapi pernah saya terjebak sebaliknya, sayalah yang mengontrol ide dan gagasan dengan amat ketat sehingga seolah tidak bergerak, sehingga akhirnya saya sadar, saya pada waktu itu merasakan lelah, dan lelah itu wajar. Bahkan Tuhan sendiri pun mengambil waktu untuk tidur dan beristrirahat, tetapi setelahnya, kekuatan doa dan kuasaNya pulih dan mampu menghentak angin ribut di sekitarnya.Mulai lagiMungkin ini bisa menjadi langkah panjang, bisa juga menjadi langkah pendek pelayanan selanjutnya. Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan. Selama di hati kecil ini, masih ada kerinduan untuk melihat mata-mata kecil itu merindukan Firman Tuhan, membimbing dan mengajar mereka menyanyi memuji Tuhan, mengenalkan kasih Tuhan kepada mereka, membagikan bagaimana kasih Tuhan begitu nyata dalam hidup saya, sangat lah mungkin pelayanan sekolah minggu menjadi pelayanan saya seumur hidup, tinggal menunggu saja, dimanakah Tuhan akan menempatkan saya, apakah tetap di GKI BT ataukah pindah ke GKI HI . Semuanya kembali kepada kehendakNya.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com

Wednesday, January 25, 2012

10 skills for developers to focus on in 2012

By Justin James | January 23, 2012, 10:57 AM PST

Software development had a few years of relative calm. But now the rollercoaster is back on track and it's picking up speed, as HTML5 gains a foothold and Windows 8 threatens to significantly change the Windows development landscape. If you want to stay ahead of the curve, you should consider learning at least a few of these 10 software development skills.

1: Mobile development

If you don't think it is worth your time to learn mobile development, think again. Global shipments of Android phones in 2011 are almost equal to PC sales. Add in the other big-name mobile devices (iPhones, iPads, and even the "dying" RIM devices), and what you see is that mobile devices now dwarf PCs in sales. What does this mean? If you make your living from software that can run only on a PC (which includes Web sites that don't work or are hard to use on mobile devices), now is the time to learn mobile development.

2: NoSQL

I appreciate a well-designed relational database schema as much as the next person, but they just are not appropriate for every project. We've been using them even when they aren't the best tool because the alternatives haven't been great. The last few years have seen the introduction of a wide variety of NoSQL database systems. And now that major service vendors (like Amazon and Microsoft) support NoSQL as well, there is no technical limitation on their use. Are they right for every project? No. Are they going to replace traditional databases? In some projects, and for some developers, definitely. This is the year to learn how to use them, as they will only become more prevalent in the year to follow.

3: Unit testing

We've seen unit testing go from being, "Oh, that's neat" to being a best practice in the industry. And with the increasing use of dynamic languages, unit testing is becoming more and more important. A wide variety of tools and frameworks are available for unit testing. If you do not know how to do it, now is the time to learn. This is the year where it goes from "resume enhancement" to "resume requirement."

4: Python or Ruby

Not every project is a good fit for a dynamic language, but a lot of projects are better done in them. PHP has been a winner in the industry for some time, but Python and Ruby are now being taken seriously as well. Strong arguments can be made for Ruby + Rails (or Ruby + Sinatra) or Python + Django as excellent platforms for Web development, and Python has long been a favorite for "utility" work. Learning Python or Ruby in addition to your existing skillset gives you a useful alternative and a better way to get certain projects done.

5: HTML5

HTML5 is quickly pulling away from the station. The impending release of IE 10 is the last piece of the puzzle to make the full power of HTML5 available to most users (those not stuck with IE 6 or IE 8). Learning HTML5 now positions you to be on the forefront of the next generation of applications. Oh, and most mobile devices already have excellent support for it, so it is a great way to get into mobile development too. And don't forget: HTML5 is also one route for UI definitions in Windows 8!

6: Windows 8

Windows 8 should be released sometime in 2012, unless the schedule slips badly. While Windows 8 may very well get off to a slow start, being the top dog in an app store is often based on being the first dog in the race. The first mover advantage is huge. It is better to be in the Windows 8 app store at launch time than to take a wait-and-see approach. Even if Windows 8 sales disappoint, it's better to be the only fish in a small pond than a fish of any size in a big pond, as recent app sales numbers have shown.

7: RESTful Web services

While I personally prefer the convenience and ease of working with SOAP in the confines of Visual Studio, REST is booming. Even Microsoft is starting to embrace it with OData. JSON really was the final straw on this matter, relegating SOAP to be for server-to-server work only. Unless your applications can run in isolation, not knowing REST is going to hold you back, as of 2012.

8: JavaScript

Before the Windows 8 Developer Preview, it was easy for non-Web developers to look at JavaScript as a Web-only language. No more! JavaScript is now a first-class citizen for native desktop and tablet development, thanks to the Metro UI and WinRT API in Windows 8. XAML + C# or VB.NET may be a good way for you to get things done, but if you want to maximize what you can get out of your knowledge, HTML5 and JavaScript are the best bet. They give you Web and Metro/WinRT, and you can also use them for some of the cross-platform mobile systems out there, like Appcelerator's Titanium product.

9: jQuery

If you are going to do any kind of Web development where you are working directly with HTML, jQuery is becoming a must-know skill. While there are plenty of credible alternatives, jQuery is quickly turning into the de facto tool for rich UIs with HTML.

10: User experience

Other than getting that first mover advantage in new app stores, there is little to differentiate many applications on a feature basis; it's a crowded field. User experience, on the other hand, is a different story. Creating a great user experience is not easy; it starts before anyone even downloads your application and continues through to the uninstall process. In the age of instant $0.99 and free app downloads, and ad-supported Web apps, the barriers to switching to another application are mighty low. If your user experience is poor, do not expect much business.
build-access-manage on www.dayaciptamandiri.com