Translate

Sunday, June 26, 2016

CO-INCIDENCE OF LIFE ?

1. TEMPLE  has 6 letters so does MASJID and CHURCH.

2. GEETA has 5 letters so does QURAN and BIBLE.

3. LIFE has 4 letters so does DEAD.

4. HATE has 4 letters, so does LOVE.

5. ENEMIES has 7, so does FRIENDS.

6. LYING has 5, so does TRUTH.

7. HURT has 4, so does HEAL.

8. NEGATIVE has 8, so does POSITIVE.

9. FAILURE has 7, so does SUCCESS.

10. BELOW has 5, so does ABOVE.

11. CRY has 3 letters so does JOY.

12. ANGER has 5 so does HAPPY.

13. RIGHT has 5 so does WRONG.

14. RICH has 4 so does POOR.

15. FAIL has 4 so does PASS

16. KNOWLEDGE has 9 so does IGNORANCE.

Are they all by Co-incidence?
Plz read full msg
5ive undeniable Facts
of Life :

👉1.
Don't educate 
your children
to be rich.
Educate them
to be Happy.
So when
they grow up
they will know
the value of things
not the price

👉2.

"Eat your food
as your medicines.
Otherwise
you have to
eat medicines
as your food"

👉3.
The One
who loves you
will never leave you
because
even if there are
100 reasons
to give up
he will find
one reason
to hold on

👉4.
There is
a lot of difference
between
human being
and being human.
A Few understand it.

👉5.
You are loved
when you are born.
You will be loved
when you die.
In between
You have to manage...!

If u want to Walk Fast,
Walk Alone..!
But
if u want to Walk Far,
Walk Together..!!

Six Best Doctors in the World-
          1.Sunlight
              2.Rest
          3.Exercise
             4.Diet
   5.Self Confidence
                   &
          6.Friends
Maintain them in all stages of Life and enjoy healthy life

We all are tourists & God is our travel agent who
already fixed all our Routes Reservations & Destinations
So!
Let us Enjoy the "Trip" called LIFE...

See You at the TOP !

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Bangunlah Keyakinan Diri Anda untuk meningkatkan Penghasilan Anda


Bangunlah Keyakinan Diri Anda untuk meningkatkan Penghasilan Anda

Semua yang Anda lakukan untuk meningkatkan keyakinan diri Anda, termasuk berbicara pada diri sendiri secara positif, penguatan dengan visualisasi, motivasi diri, antusiasme dan pelatihan secara individu akan memperbaiki kepribadian Anda dan meningkatkan efektifitas Anda dalam melakukan proses penjualan.

Ada hubungan langsung antara keyakinan diri Anda dan berapa jumlah penghasilan Anda.

Semakin Anda menyukai diri Anda, semakin banyak penjualan yang Anda dapat lakukan dan semakin tinggi penghasilan Anda.

Dikutip dari buku "The Psychology of Selling" Brian Tracy

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Friday, June 24, 2016

NEVER TOO OLD TO DREAM

*And That is How to Cook...*

At age 5 his Father died.
At age 16 he quit school.
At age 17 he had already lost four jobs.
At age 18 he got married.
Between ages 18 and 22, he was a railroad conductor and failed.
He joined the army and washed out there.
He applied for law school he was rejected.
He became an insurance sales man and failed again.
At age 19 he became a father.
At age 20 his wife left him and took their baby daughter.
He became a cook and dishwasher in a small cafe.
He failed in an attempt to kidnap his own daughter, and eventually he convinced his wife to return home.
At age 65 he retired.
On the 1st day of retirement he received a cheque from the Government for $105.
He felt that the Government was saying that he couldn't provide for himself.
He decided to commit suicide, it wasn't worth living anymore; he had failed so much.
He sat under a tree writing his will, but instead, he wrote what he would have accomplished with his life. He realised there was much more that he hadn't done. There was one thing he could do better than anyone he knew. And that was how to cook.
So he borrowed $87 against his cheque and bought and fried up some chicken using his recipe, and went door to door to sell them to his neighbours in Kentucky.
Remember at age 65 he was ready to commit suicide.
But at age 88 Colonel Sanders, founder of Kentucky Fried Chicken (KFC) Empire was a billionaire.
Moral of the story: Attitude. It's never too late to start all over.
MOST IMPORTANLY, IT'S ALL ABOUT YOUR ATTITUDE. NEVER GIVE UP NO MATTER HOW HARD IT GETS.
You have what it takes to be successful. Go for it and make a difference. No guts no glory. It's never too old to dream.

^_ IT'S NEVER TOO OLD TO DREAM! _^

Be Enthusiastic, Be Optimistic, Be Positive. Go Encourage Yourself.

GOOD MORNING Fellows ^^ 💪🏻😊

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Thursday, June 23, 2016

BETTER LIFE

Salam 3T - Thankful Thinkful Thursday

KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK

Sudah kita bersyukur pada saat kita menemukan kunci kunci dalam kehidupan?

Apakah kita selalu berpikir bijak sebelum menggunakan kunci kehidupan?

KEPRIBADIAN:

1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui untuk menjadi apa yang telah terjadi.

2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda. Kerjalah smart dan pastikan kita suka apa yang kita kerjakan.

4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna

5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.

6. Jangan iri dengan apapun, siapapun, kapanpun,  Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda

7. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini

8. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci, maafkan, relakan.

9. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak menganggu masa ini

10.Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.  Sayangilah diri kita sebelum menyayangi siapapun.

11. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup

12. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan

KOMUNITAS:
14. Hubungi keluarga Anda sesering mungkin, alokasi waktu yang cukup setiap minggu, setiap bulan berinteraksi dengan keluarga.

15. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain

16.  Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun

17. Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

KEHIDUPAN:

18. Lakukan hal yang benar, baik, bermanfaat

19. Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah

20. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!

21. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan

22.Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah , selalu bersyukur.

23. Ketika kita menyadari no 13. tidak ada di posting ini, jangan merasa t tidak nyaman, just let it go, karena no 13 memang tidak ada 😄.

Be Healthy, Happy, Wealthy
See You at the TOP!

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Sunday, June 19, 2016

Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT

Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT

Menyikapi kontroversi yang muncul dan berkembang di kalangan gereja-gereja dan di tengah masyarakat menyangkut keberadaan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender), Majelis Pekerja Harian PGI menyampaikan beberapa pertimbangan sebagaimana tertera di bawah. Disadari bahwa sikap dan ajaran gereja mengenai hal ini sangat beragam, dan pertimbangan-pertimbangan ini tidaklah dimaksudkan untuk menyeragamkannya. Pertimbangan-pertimbangan ini justru sebuah ajakan kepada gereja-gereja untuk mendalami masalah ini lebih lanjut. MPH-PGI akan sangat berterima kasih jika dari hasil pendalaman itu, gereja-gereja dapat memberikan pokok-pokok pikiran sebagai umpan balik kepada MPH-PGI untuk menyempurnakan Sikap dan Pandangan PGI mengenai masalah ini.

Pengantar
1. Manusia adalah gambar dan citra Allah yang sempurna. Sebagai citra Allah yang sempurna, manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.
2. Allah menciptakan manusia, makhluk dan segala ciptaan yang beranekaragam dan berbeda-beda satu sama lain. Kita hidup dalam keanekaragaman ras, etnik, gender, orientasi seksual dan agama. Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita terima dengan sikap positif dan realistis.
3. Bersikap positif dan realistis dalam keanekaragaman berarti kita harus saling menerima, saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain. Bersikap positif dan realistis terhadap keanekaragaman yang Allah berikan berarti kita berupaya memahami dan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada. Bersikap positif dan realistis terhadap kenekaragaman berarti kita melawan segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah. Sebaliknya kita berupaya mendialogkan segala perbedaan itu tanpa prasangka negatif. Bersikap positif dan realistis berarti kita menjaga dan memelihara persekutuan manusia yang beranekaragam ini agar mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, bagi segala makhluk dan bagi bumi ini.
Titik Tolak
4. Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan ciptaan Allah yang sangat dikasihi-Nya.
5. Keberadaan manusia dengan kecenderungan LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu. LGBT bukan produk kebudayan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita dan secara sosio-antropologis LGBT ini sudah sejak dulu diakomodasikan dalam budaya beberapa suku di dalam masyarakat kita.
6. Ketika kita menghadapi persoalan moral, salah satu masalah terbesar muncul dari cara kita melakukan interpretasi terhadap teks Kitab Suci. Penafsiran terhadap teks Kitab Suci yang tidak mempertimbangkan maksud dan tujuan dari teks yang ditulis oleh para penulis Kitab Suci berpotensi menghasilkan interpretasi yang sama sekali berbeda dari tujuan teks itu ditulis. Berkenaan dengan LGBT, Alkitab memang menyinggung fenomena LGBT, tetapi Alkitab tidak memberikan penilaian moral-etik terhadap keberadaan atau eksistensi mereka. Alkitab tidak mengeritisi orientasi seksual seseorang. Apa yang Alkitab kritisi adalah perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk yang dilakukan kaum heteroseksual, atau yang selama ini dianggap ‘normal’. Pesan utama ceritera penciptaan Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28; 2:18, 21-24), misalnya, adalah tentang cikal bakal terjadinya institusi keluarga dan bahwa manusia diberi tanggungjawab untuk memenuhi dan memelihara bumi. Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBT.
7. Ada beberapa teks lain dalam Alkitab yang diinterpretasikan secara kurang tepat sehingga ayat-ayat itu seolah menghakimi kaum LGBT. Padahal melalui interpretasi yang lebih akurat, kritikan Alkitab dalam ayat-ayat tersebut justru ditujukan pada obyek lain. Contohnya: Alkitab mengeritisi dengan sangat keras ibadah agama kesuburan (menyembah Baal dan Asyera, Hakim-hakim 3:7; 2Raja-raja 23:4) oleh bangsa-bangsa tetangga Israel pada masa itu, yang mempraktekkan semburit bakti yaitu perilaku seksual sesama jenis sebagai bagian dari ibadah agama Baal itu (Ulangan 23:17-18); demikian juga terhadap penyembahan berhala Romawi di zaman Perjanjian Baru (Roma 1:23-32). Alkitab juga mengeritisi sikap xenofobia masyarakat Sodom terhadap orang asing dengan cara mempraktekkan eksploitasi seksual terhadap mereka yang sesama jenis. Tujuannya adalah mempermalukan mereka (Kejadian 19: 5-11 dan Hakim-hakim 19:1-30). Oleh karena itu bagian-bagian Alkitab ini tidak ditujukan untuk menyerang, menolak atau mendiskriminasi keberadaan kaum LGBT. Teks-teks Alkitab lainnya, yang sering dipakai menghakimi kaum LGBT adalah Imamat 18:22; 20:13; 1Kor 6:9-10; 1Tim 1:10). Apa yang ditolak dalam teks-teks Alkitab itu adalah segala jenis perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif, yang dilakukan oleh siapa pun, atas dasar apa pun, termasuk atas dasar agama, dan ditujukan terhadap siapa pun, termasuk terhadap perempuan, laki-laki dan anak-anak.
Rekomendasi
8. PGI mengingatkan agar kita semua mempertimbangkan hasil-hasil penelitian mutakhir dalam bidang kedokteran dan psikiatri yang tidak lagi memasukkan orientasi seksual LGBT sebagai penyakit, sebagai penyimpangan mental (mental disorder) atau sebagai sebuah bentuk kejahatan. Pernyataan dari badan kesehatan dunia, WHO, Human Rights International yang berdasarkan kemajuan penelitian ilmu kedokteran mampu memahami keberadaan LGBT dan ikut berjuang dalam menegakkan hak-hak mereka sebagai sesama manusia. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengacu pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993) bahwa LGBT bukanlah penyakit kejiwaan. LGBT juga bukan sebuah penyakit spiritual. Dalam banyak kasus, kecenderungan LGBT dialami sebagai sesuatu yang natural yang sudah diterima sejak seseorang dilahirkan; juga ada kasus-kasus kecenderungan LGBT terjadi sebagai akibat pengaruh sosial. Sulit membedakan mana yang natural dan mana yang nurture oleh karena pengaruh sosial. Meskipun demikian, bagi banyak pelaku, kecenderungan LGBT bukanlah merupakan pilihan, tetapi sesuatu yang terterima (given). Oleh karena itu, menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa, karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat. Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.
9. Gereja, sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai “Tubuh Kristus”. Kita harus memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual.
10. PGI menghimbau gereja-gereja agar mempersiapkan dan melakukan bimbingan pastoral kepada keluarga agar mereka mampu menerima dan merangkul serta mencintai keluarga mereka yang berkecenderungan LGBT. Penolakan keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang LGBT berpotensi menciptakan gangguan kejiwaan, menciptakan penolakan terhadap diri sendiri (self-rejection) yang berakibat pada makin meningkatnya potensi bunuh diri di kalangan LGBT.
11. Selama ini kaum LGBT mengalami penderitaan fisik, mental-psikologis, sosial, dan spiritual karena stigamatisasi agama dan perilaku kekerasan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Mereka menjadi kelompok yang direndahkan, dikucilkan dan didiskiriminasi bahkan juga oleh negara. Gereja harus mengambil sikap berbeda. Gereja bukan saja harus menerima mereka, tetapi bahkan harus berjuang agar kaum LGBT bisa diterima dan diakui hak-haknya oleh masyarakat dan negara, terutama hak-hak untuk tidak didiskriminasi atau dikucilkan, perlindungan terhadap kekerasan, hak-hak untuk memperoleh pekerjaan, dan sebagainya. Para pemangku negara ini harus menjamin agar hak-hak asasi dan martabat kaum LGBT dihormati! Kaum LGBT harus diberikan kesempatan hidup dalam keadilan dan perdamaian.
12. PGI menghimbau agar gereja-gereja, masyarakat dan negara menerima dan bahkan memperjuangkan hak-hak dan martabat kaum LGBT. Kebesaran kita sebagai sebuah bangsa yang beradab terlihat dari kemampuan kita menerima dan menolong mereka yang justru sedang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, PGI sadar bahwa gereja dan masyarakat Indonesia belum bisa menerima pernikahan sesama jenis. PGI bersama dengan warga gereja dan segenap warga masyarakat masih memerlukan dialog dan percakapan teologis yang mendalam menyangkut soal ini.

Penutup
13. LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kitalah yang mempersoalkannya. Kitalah yang memberinya stigma negatif. Oleh karena itu dibutuhkan sikap yang matang, rendah hati, rasional serta kemampuan bersikap adil dalam menyikapi kasus ini. Kita harus menjauhkan diri dari kecenderungan menghakimi atau menyesatkan siapa pun. Sebaliknya, kita harus belajar membangun persekutuan bangsa dan persekutuan umat manusia yang didasarkan pada kesetaraan dan keadilan.
14. Demikianlah pernyataan pastoral ini kami sampaikan pertama-tama kepada gereja-gereja di Indonesia, dan juga kepada masyarakat Indonesia seluruhnya. Kiranya gereja-gereja terus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan kaum LGBT.

Jakarta, 28 Mei 2016
a.n Majelis Pekerja Harian PGI