Translate

Thursday, April 24, 2014

Apa itu virtualisasi ?

APA ITU VIRTUALISASI
Virtualisasi bisa diartikan sebagai pembuatan suatu bentuk atau versi virtual dari sesuatu yang bersifat fisik, misalnya sistem operasi,  perangkat storage/penyimpanan data atau sumber daya jaringan.
Virtualisasi bisa diimplementasikan kedalam berbagai bentuk, antara lain (Harry Sufehmi, Pengenalan Virtualisasi, 20090607) :
  1. Network Virtualization : VLAN, Virtual IP (untclustering), Multilink
  2. Memory Virtualization : pooling memory dari node-node di cluster
  3. Grid Computing : banyak komputer = satu
  4. Application Virtualization : Dosemu, Wine
  5. Storage Virtualization : RAID, LVM
  6. Platform Virtualization : virtual computer
Pembahasan kali ini akan menitikberatkan pada materi platform virtualization alias virtualisasi komputer dan sistem operasi.
APA ITU CLOUD COMPUTING
Cloud Computing adalah sistem komputerisasi berbasis jaringan/internet, dimana suatu sumber daya, software, informasi dan aplikasi disediakan untuk digunakan oleh komputer lain yang membutuhkan. Mengapa konsep ini bernama komputasi awan atau cloud computing? Ini karena internet sendiri bisa dianggap sebagai sebuah awan besar (biasanya dalam skema network, internet dilambangkan sebagai awan) yang berisi sekumpulan besar komputer yang saling terhubung, jadi cloud computing bisa diartikan sebagai komputerisasi berbasis sekumpulan komputer yang saling terhubung.
Cloud computing bisa dianggap sebagai perluasan dari virtualisasi. Perusahaan bisa menempatkan aplikasi atau sistem yang digunakan di internet, tidak mengelolanya secara internal. Contoh cloud computing untuk versi public adalah layanan-layanan milik Google seperti Google Docs dan Google Spreadsheet. Adanya kedua layanan tersebut meniadakan kebutuhan suatu aplikasi office untuk pengolah kata dan aplikasi spreadsheet di internal perusahaan. Contoh cloud computing untuk keperluan non public adalah Amazon EC2 ( Amazon Elastic Compute Cloud ). Amazon menyediakan komputer induk, kita bisa mengirim dan menggunakan
sistem virtual dan menggunakannya dalam jangka waktu dan biaya sewa tertentu.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN VIRTUALISASI
  1. Pengurangan Biaya Investasi Hardware. Investasi hardware dapat ditekan lebih rendah karena virtualisasi hanya mendayagunakan kapasitas yang sudah ada. Tak perlu ada penambahan perangkat komputer, server dan pheriperal secara fisik. Kalaupun ada penambahan kapasitas harddisk dan memori, itu lebih ditujukan untuk mendukung stabilitas kerja komputer induk, yang jika dihitung secara finansial, masih jauh lebih hemat dibandingkan investasi hardware baru.
  2. Kemudahan Backup & Recovery. Server-server yang dijalankan didalam sebuah mesin virtual dapat disimpan dalam 1 buah image yang berisi seluruh konfigurasi sistem. Jika satu saat server tersebut crash, kita tidak perlu melakukan instalasi dan konfigurasi ulang. Cukup mengambil salinan image yang sudah disimpan, merestore data hasil backup terakhir dan server berjalan seperti sedia kala. Hemat waktu, tenaga dan sumber daya.
  3. Kemudahan Deployment. Server virtual dapat dikloning sebanyak mungkin dan dapat dijalankan pada mesin lain dengan mengubah sedikit konfigurasi. Mengurangi beban kerja para staff IT dan mempercepat proses implementasi suatu sistem
  4. Mengurangi Panas. Berkurangnya jumlah perangkat otomatis mengurangi panasnya ruang server/data center. Ini akan berimbas pada pengurangan biaya pendinginan/AC dan pada akhirnya mengurangi biaya penggunaan listrik
  5. Mengurangi Biaya Space. Semakin sedikit jumlah server berarti semakin sedikit pula ruang untuk menyimpan perangkat. Jika server ditempatkan pada suatu co-location server/data center, ini akan berimbas pada pengurangan biaya sewa
  6. Kemudahan Maintenance & Pengelolaan. Jumlah server yang lebih sedikit otomatis akan mengurangi waktu dan biaya untuk mengelola. Jumlah server yang lebih sedikit juga berarti lebih sedikit jumlah server yang harus ditangani
  7. Standarisasi Hardware. Virtualisasi melakukan emulasi dan enkapsulasi hardware sehingga proses pengenalan dan pemindahan suatu spesifikasi hardware tertentu tidak menjadi masalah. Sistem tidak perlu melakukan deteksi ulang hardware sebagaimana instalasi pada sistem/komputer fisik
  8. Kemudahan Replacement. Proses penggantian dan upgrade spesifikasi server lebih mudah dilakukan. Jika server induk sudah overload dan spesifikasinya tidak mencukupi lagi, kita bisa dengan mudah melakukan upgrade spesifikasi atau memindahkan virtual machine ke server lain yang lebih powerful
KERUGIAN PENGGUNAAN VIRTUALISASI
  1. Satu Pusat Masalah. Virtualisasi bisa dianalogikan dengan menempatkan semua telur didalam 1 keranjang. Ini artinya jika server induk bermasalah, semua sistem virtual machine didalamnya tidak bisa digunakan. Hal ini bisa diantisipasi dengan menyediakan fasilitas backup secara otomatis dan periodik atau dengan menerapkan prinsip fail over/clustering
  2. Spesifikasi Hardware. Virtualisasi membutuhkan spesifikasi server yang lebih tinggi untuk menjalankan server induk dan mesin virtual didalamnya
  3. Satu Pusat Serangan. Penempatan semua server dalam satu komputer akan menjadikannya sebagai target serangan. Jika hacker mampu menerobos masuk kedalam sistem induk, ada kemungkinan ia mampu menyusup kedalam server- server virtual dengan cara menggunakan informasi yang ada pada server induk

Tuesday, April 22, 2014

Merancang Konten Marketing



Marketer Harus Mahir Merancang Konten Marketing

Marketing.co.id – Konten marketing adalah penggunaan informasi relevan dan berharga untuk menarik pelanggan potensial. Tidak hanya menarik, informasi ini jika dikerjakan dengan benar akan mampu merangkul target audience dan menghasilkan keuntungan bagi bisnis Anda.
Konten marketing dapat digunakan sebagai cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan pelanggan tanpa menjual. Misalnya, sebuah artikel yang bagus dapat memasarkan produk atau jasa dengan cara yang tidak mengganggu konsumen.
Konten marketing sepertinya sudah jamak digunakan oleh banyak bisnis sekarang ini. Bisnis telah menggunakan konten untuk memberikan nilai tambah kepada pelanggan sejak ratusan tahun yang lalu. Misalnya  Jell-O – sebuah merek milik Kraft Foods yang berbasis di Amerika.
Ketika berbicara pada acara yang digelar oleh British Interactive Association – ahli media sosial dari Twitter, cloud, dan marketing agency AKQA – menunjukkan bagaimana marketer harus berinvestasi lebih dalam menentukan strategi konten mereka untuk berhubungan dengan konsumen.
Sebuah laporan dari Content Marketing Association menemukan baru 21% pemasaran yang menggunakan konten marketing. Hampir tiga perempat (73%) dari mereka yang ditanyai percaya bahwa mereka akan meningkatkan atau mempertahankan anggaran konten marketing di 2013.
“Dasar pemikiran konten marketing adalah untuk mengurangi kendala konsumen dalam mendapatkan pesan secara menyeluruh,” kata John Webb, Marketing Director Rockspace dan mantan marketer Rockstar Games dikutip Marketingweek.co.uk
Namun karena brand seolah-olah mendefinisi ulang jati dirinya melalui konten marketing tersebut, mengakibatkan konsumen merasa dibombardir dan pada akhirnya memunculkan sikap penolakan. Bisa jadi hal ini terjadi karena kemampuan produsen konten yang menurun.
Webb menyarankan para marketer merekrut mantan wartawan yang memiliki kemampuan berburu cerita yang memiliki tujuan sejalan untuk menyatukan data dan elemen konten untuk menciptakan kampanye pemasaran yang sukses.
Menurut Ron Peterson, Director of Social AKQA, membuat konten yang dirancang untuk membangun popularitas adalah juga tentang menanamkan mindset (pola pikir) konten yang melampaui fungsi komunikasi pemasaran seluruh organisasi.
Peterson menambahkan, “Jika Anda melihat sebuah merek membuat konten dengan baik, mereka telah jauh melampaui repurposing iklan TV untuk YouTube.”
“Konten yang yang berjalan baik sebenarnya dirancang untuk (media) sosial dan bukan hanya yang berbentuk video, bahkan kualitas respon terhadap pertanyaan di Twitter pun termasuk di dalamnya. Ini semua tentang bagaimana memiliki proses berpikir yang kuat dan strategis,” katanya lagi.
Anda mungkin dapat memperoleh inspirasi dari merek-merek produk olahraga seperti DC dan Billabong. Keduanya tidak selalu memiliki anggaran besar seperti halnya Nike atau Adidas, tapi mereka mampu membuat konten secara teratur dan dibagikan kepada ribuan konsumen.
Sementara itu Dara Nasr, Head of Agency Sales Twitter Inggris mengatakan, marketer harus melihat konten yang lebih luas melampaui kampanye inti/tunggal.
 “Hal-hal yang dilakukan dengan baik (di media sosial) akan mampu berbicara lebih baik ketimbang hal-hal yang dipos ulang. Namun hal yang terpenting dari ini adalah berada di sana dan hadir.”
Nasr mencontohkan O2, di mana merek tersebut dengan jenaka merespon pelanggan kasar yang marah karena pemadaman jaringan atau pertukaran (foto) lucu antara buruh dan Demokrat Liberal sebagai cara merek mendekati konten melampaui promosi tertentu dan menyematkannya ke dalam komunikasi sehari-hari mereka.

7 hal dalam membuat Konten marketing



Saat ini sebuah konten marketing sudah sangat mudah untuk ditemui. Contohnya ketika kita membaca sebuah newsletter, Google Alerts atau ketika kita mengunjungi sebuah situs berita. Perkembangan teknologi dan munculnya sosial media juga sudah mengeliminasi kebutuhan akan channel distribusi secara tradisional bagi sebuah konten marketing. Kita tentu saja tidak hanya ingin bisa membuat konten yang bagus dan bisa menampilkannya untuk audiens yang tepat. Kita tetap membutuhkan kreatifitas dan kemampuan yang cukup untuk bisa membuat sebuah konten yang terbaik. Berikut ini adalah pelajaran untuk membuat sebuah konten marketing yang diminati:

1. Desain adalah hal terpenting

Sebuah konten marketing bukan hanya harus mementingkan isi. Namun sebuah desain juga akan sangat berpengaruh terhadap daya tarik dari konten tersebut. Jangan berhemat saat membuat desain sebuah konten marketing. Audiens akan mencari sebuah konten yang menarik untuk terus dan terus dilihatnya. Gunakanlah sebuah gambar dengan resolusi terbaik, dan digabungkan dengan pemilihan teks yang menarik. Tidak perlu membuat sebuah desain yang berlebihan. Anda hanya perlu membuat sebuah desain yang sederhana namun mampu meninggalkan kesan yang lama kepada audiens.

2. Masukan konten multimedia

Sama halnya dengan berinvestasi dalam sebuah desain. Ketika Anda sudah mulai membuat sebuah desain yang menarik untuk konten marketing. Anda bisa menyisipkan sebuah konten multimedia didalamnya. Anda bisa mengkombinasikan sebuah video, slideshow, foto dan bahkan playlist dalam blog atau website Anda yang berisi sebuah konten. Hal ini akan menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi audiens.

3. Buat sehalus mungkin

Tujuan membuat sebuah konten marketing, memang untuk menghasilkan penjualan. Namun konten marketing yang baik, harus mampu membuatnya sehalus mungkin dan tidak terlihat seperti sedang menjual. Fokusnya kali ini adalah mengedukasi, menghibur, dan mengantarkan nilai konsumen kepada keinginannya untuk membeli. Jangan langsung membuat sebuah konten yang terlihat seperti sedang menjual. Audiens akan sangat malas untuk melanjutkan membaca konten marketing tersebut.

4. Ciptakan keseimbangan

Sebuah konten tidak akan berhasil tanpa ada campur tangan dari audiens. Ikutsertakan audiens Anda untuk membuat sebuah konten marketing yang baik. Harus ada sebuah keseimbangan antara konten yang dibuat secara professional dan konten yang dibuat oleh user. Anda bisa meminta sebuah feedback kepada audiens tentang konten marketing Anda. Lalu anda bisa menyisipkan saran dari para audiens untuk membuat sebuah konten yang mereka ingin lihat.

5. Jangan membuat sebuah jalan buntu

Ketika Anda membuat sebuah konten, jangan biarkan audiens menunggu Anda menjelaskan hal lainnya. Di dalam sebuah konten marketing, Anda bisa membuat sebuah link – link ke halaman yang lain dari kalimat – kalimat di konten Anda. Hal ini bukan hanya akan mengedukasi audiens, namun bagi sebuah blog atau website, ini akan menaikkan jumlah traffic website atau blog Anda. Dan itu akan sangat membantu bagi pemasaran konten Anda. Jangan biarkan audiens hanya membaca sebuah halaman tanpa tahu fungsi lebih dalamnya. Izinkan audiens untuk melihat lebih dalam tentang isi konten marketing Anda.

6. Mudah untuk sharing

Saat Anda membuat sebuah konten yang luar biasa, Anda sudah pasti memiliki banyak pengunjung di situs atau blog. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mendapatkan pengunjung lebih banyak dari yang sekarang. Manfaatkan tombol share untuk bisa membagikan konten marketing Anda dengan lebih mudah. Anda bisa menyisipkan tombol share sosial media, seperti Facebook, Twtitter, Google+ dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat konten Anda dilihat dari manapun. Sebuah tombol ‘like’ dibawah sebuah konten, memungkinkan akan mengundang lebih banyak pembaca dan juga pengunjung situs Anda.

7. Media offline masih sangat berguna

Sebuah strategi pemasaran yang diminati saat ini adalah dengan memanfaatkan media online yang ada. Kita bisa mendapatkan banyak pengunjung, fans dan peminat produk kita hanya dengan melalui sosial media. Namun itu tidak akan memunculkan sebuah komunikasi berkelanjutan, jika kita tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan para konsumen kita. Anda bisa mulai berkomunikasi secara langsung dengan konsumen. Hal ini bertujuan untuk bisa mendekatkan diri dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Anda bisa mulai mengikuti sebuah event offline yang ada. Anda juga bisa mengikuti sebuah komunitas atau organisasi, yang memiliki banyak pengikut. Anda harus menyeimbangkan antara pemasaran secara online dan juga offline.
Good Luck :-)

25 Tools yang membantu Konten Marketing Anda.


25 Alat Yang Dapat Membantu Konten Marketing Anda

January 07 2014 | By Ben Mukti W.
Konten marketing membantu merek untuk meraih customer dengna menciptakan konten yang relevan dan bernilai bagi customer. Untuk mengerjakan itu semua, pastilah Anda membutuhkan bantuan. Entah itu untuk menganalisa, mengetahui info terbaru, atau bahkan mendapatkan insight terbaru mengenai dunia marketing.
Untuk itu, dapat dilihat pada gambar di bawah yang diambil dari The Social Media Strategies Summit. Dalam gambar di bawah terdapat lima kategori, termasuk content curation, content creation, finding writers, content promotion dan juga alat untuk menganalisa dan melacak data.
Untuk daftar lengkapnya, simaklah gambar berikut.

Monday, April 21, 2014

5 cara untuk membuat budaya Customer-centric



5 Steps To Create And Sustain Customer-Centric Culture

My latest report, 5 Steps To Create And Sustain Customer-Centric Culture, is now live on Forrester.com. The report answers the question I hear most often from clients: What are the steps in the process to actually transform organizational culture to be customer-centric? We interviewed companies that have successfully completed this transformation, and companies that are in the midst of that process right now. We learned that there are five steps companies must take to create and sustain customer-centric culture:
Step 1: Secure Executive Support (No, Really). We do not want to sugarcoat this step. Customer experience professionals who don't already have commitment from their executives need to either get it or give up their hopes of transforming their organization's culture. Every successful transformation we studied began with a customer experience epiphany by a CEO or COO. If that realization hasn’t happened yet, CX pros can help create the spark of inspiration with executives. For example, Brad Smith, the Chief Customer Officer at Sage North America, established a program where executives sign up to spend time in the call center or join sales teams on customer visits. And he created a new leadership routine of bringing customer stories to their monthly meetings.  His goal was to get senior leaders to see the importance of customer focus.
Step 2: Build A Customer Experience Team To Lead The Transformation. Once executives believe in the idea of cultural transformation, the first thing they do is assemble a team to lead the effort. Art Antin, the founder and COO at VCA Animal Hospitals created the client experience team to drive VCA’s transformation. CX teams must collaborate with key colleagues from across the organization and ensure that the entire organization takes ownership for the transformation.
Step 3: Create A Shared Understanding Of The Intended Experience. Companies must ensure that all employees understand the experience they’re supposed to deliver. That means sharing the vision for the intended experience with them. Cleveland Clinic went so far as to train all 42,000 employees in its patient experience principles. Other companies have created and shared a customer experience charter or vision statement that describes the key attributes of their intended experience. Companies should also collect and share customer success stories as a way of providing tangible examples to employees of expected behaviors.
Step 4: Rally And Align All Employees To The Cultural Transformation. Once employees know what they need to do, CX pros need to motivate them to do it. At this step, reinforcement is critical. Companies must feature their CX principles consistently in corporate communications, and remind employees of their contributions to the overall experience. Safelite AutoGlass went even further. It created a People Powered pledge, detailing its commitment to providing employees with a great work environment that would make it easier for them to deliver great customer experiences.
Step 5: Embed Customer Experience Principles Into The Organization. The final step in creating customer-centric culture is also where companies should start to consider how they’ll sustain customer-centricity over time.  This means providing training, and ongoing guidance and coaching. Companies should also update employee competency models to include CX principles. For example, Saskatchewan Government Insurance (SGI) defined six levels of escalating proficiency for customer-driven focus. Each level includes detailed descriptions of the desired behaviors and examples how they should sound. For example, new employees should “provide consistent customer experiences” and must “take personal responsibility” to get promoted. To be eligible for the assistant vice president (AVP) and VP levels, employees must “create customer strategies and inspired others to be customer focused.”
For more details about how companies can transform their cultures to be customer-centric, read the full report. And please share your comments and questions below.