Translate

Tuesday, April 16, 2024

Mengukur Nilai Produktifitas Kita

 Tidak terasa, sembilan hari, dan mungkin lebih, bagi beberapa orang untuk mengambil waktu liburan dan mengunjungi keluarga di tanah kelahiran, atau sering kita sebut dengan mudik.

Berapa banyak waktu kita habiskan di jalan semasa mudik? Tergantung dimana tanah kelahiran kita. Tapi saya yakin, banyak yang menggunakan waktu berjam-jam untuk bisa mencapainya.

Dan sekarang kita harus kembali aktif, setelah liburan dan mudik tersebut.

Indonesia belakangan ini mengalami banyak libur, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Saya jadi penasaran, siapa saja negara yang paling produktif.


Forbes Statistica

Data Statistica di atas, berdasarkan jumlah jam kerja. Bila kita bandingkan dengan Indonesia. Maka jumlah jam kerja kita adalah 40 jam per minggu. Rata-rata di Indonesia per tahun adalah 2080 jam per tahun, bila mengikuti undang-undang.

Bila melihat data lainnya, https://www.ceicdata.com/en/indicator/indonesia/labour-productivity-growth menunjukkan jumlah jam kerja kita dalam beberapa tahun terakhir.

CEIC

Namun sebenarnya produktifitas kerja itu bukan dari jam kerjanya, tapi dari hasil atau output pekerjaan kita. Bagaimana mengukurnya untuk perusahaan?

​Paling mudah adalah menggunakan rumusan ini.

SmartsheetBila kita ada di perusahaan, asumsi per bulan mendapatkan 500 juta, dengan 20 karyawannya. Total jam kerja adalah 40 x 4 = 160 jam  per bulan.

Maka 500 juta dibagi 160 jam = Rp. 3.125.000. Dibagi 20 karyawan, maka 156.250 per jam. Ini angka produktifnya.

Mirip ya dengan angka tukang sipil harian, sekitar 150-200 ribu per hari. Maka untuk meningkatkan lagi nilai produktifitasnya, maka tentu harus dikejar angkanya semakin baik lagi.

Berapapun angka produktifitas karyawan di kantor kita. Sekarang ini kita harus meningkatkan kembali angkanya. Karena selama3 bulan pertama di Q1 2024 ini sangat tidak maksimal. Ada pemilu dan rangkaian libur yang panjang. 

Mari semangat terus produktif dalam kantor kita.


Sumber: