Translate

Monday, April 30, 2018

Speak with data

*Speak with Data*
@pmsusbandono
30 April 2018

Saya mendengar istilah itu pertama kali kira-kira 25 tahun yang lampau, dalam kesempatan mengikuti suatu pelatihan managemen. Minggu lalu, saya mendengarnya kembali. Kali ini dari seorang tokoh bisnis yang namanya sulit dipisahkan dari perusahaan yang pernah membesarkannya, Astra Group.  Dia adalah Theodore Permadi (TP) Rachmat, pendiri dan CEO dari Triputra Grup.  

TP Rachmat sedang memberikan pesan-pesan kepada kami, para praktisi managemen dan pengurus beberapa Rumah Sakit yang berlokasi di Yogya, Bandung dan Jakarta, tentang bagaimana bisnis dapat bertahan dan memenangkan pertandingan dalam iklim persaingan  yang bukan main ketatnya.  _Track record_  yang ditoreh selama hampir 50 tahun bergelut dalam bisnis lokal mau pun global, membuat pengalamannya sangat layak untuk disimak.

_"Speak with data"_ hanya satu dari tiga syarat penting bagaimana seorang  _leader_ mengelola organisasinya dengan baik dan benar dan menjadi  _the winner_.  Dua yang lain adalah  _"The Next Process is your Customer"_, dan _"Never Blame"_.

Saya tertarik dengan syarat pertama.  Untuk menanamkan pemahaman diri  yang lebih dalam, seusai acara  saya mengeksplorasinya kembali  melalui sumber-sumber lain yang tersedia.  Demikian rangkumannya :

_"Speak with Data"_  banyak dilanggar, tidak hanya oleh para pemimpin, tapi juga anggota-anggota tim; tidak hanya dalam skop organisasi, tetapi juga di kalangan masyarakat luas.

Siapa saja yang berucap, bertindak atau membuat kesimpulan, tanpa dukungan data yang valid, jelas kontra produktif.  Sering malah menggelikan meski tidak lucu.

Ada kisah tentang seorang CEO yang baru saja dilantik, yang ingin memberi pelajaran kepada pekerja yang tidak produktif, malas, atau tidak mendukung obyektif perusahaan yang baru dicanangkannya.

Saat dia melakukan  _Management by Walking Around_, dilihatnya seorang pemuda yang sedang  _leyeh-leyeh_ di sudut pabrik.  Dia tak mengerjakan suatu apa pun.  Peluru yang siap ditembakkan, langsung meluncur lewat larasnya. Sang CEO baru ingin menunjukkan kepada seluruh anggota tim tentang bagaimana dia memimpin.

_"Sudah berapa banyak uang yang kamu kontribusikan untuk perusahaan dalam bulan ini?"_.

_"Satu juta rupiah pak"_.

_"Kamu pemalas!. Teman-teman kamu bisa menghasilkan sepuluh juta dalam seminggu. Ini uang lima juta rupiah. Sejak hari ini jangan lagi berada di kawasan pabrik ini"_.

Merasa puas, sang CEO berteriak kepada mereka yang ada di sekitar kejadian.  _"Ada yang tahu apa yang dikerjakan si pemalas itu sehari-hari?"_.

_"Dia sering mengirim Pizza kemari. Dia kurir restauran sebelah"_.  Salah seorang pekerja menjawab dengan suara lirih sambil ketakutan.

Pesan moral dari kisah fiktif (atau fiksi?) itu adalah : _"Kumpulkan data, sebelum anda mengambil keputusan dan bertindaklah hanya berdasarkan data"_.

Bertindak tanpa data tidak hanya merugikan organisasi atau komunitas atau masyarakat saja, tapi bagaikan bumerang yang menghantam diri sendiri. Sang CEO, selain kehilangan lima juta rupiah juga melunturkan  _trust_  para pekerjanya. Lebih dari itu, semangat kerja tim yang semula baik-baik saja,  anjlog ke titik nadir.

Dengan bantuan teknologi, mengumpulkan data bukan langkah yang sulit. Kini, data dapat diunduh semudah memetik buah mangga dari pohonnya di kala panen. Berucap tanpa data, hanya menggambarkan kemalasan berpikir dan keengganan untuk mengumpulkannya saja. 

Sedikit lebih jauh dari itu, bisa jadi dia sedang berniat tak baik untuk menghantam pesaing atau orang yang tak disukainya. Hanya orang pandir yang berteriak tanpa data atau sengaja menggunakan data yang keliru.  Celakanya, banyak pula yang menjadikannya sebagai rujukan.  Apa pun, itu tindakan kontra produktif yang tak ada untungnya.

Data adalah bahasa universal. Dengan sedikit akal sehat dapat mudah memahami bagaimana suatu data "berbunyi".  Data  tak pernah menipu.  Menggunakan data yang baik dan benar, dapat mencegah kekeliruan dalam memutuskan sesuatu.

Jangan percaya begitu saja terhadap ungkapan hampa tanpa data di belakangnya. Tanpa data, suatu berita mudah tergelincir menjadi fitnah atau hoaks. 

_"In God we trust; all others must bring data"_. (W. Edwards Deming, 1900-1993, Ahli Statistik, Konsultan Managemen