Translate

Friday, June 01, 2012

Hidup yang berkelimpahan

Hidup yang berkelimpahan

"Aku datang supaya mereka memunyai hidup dan memunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10b)

Kelimpahan, kata yang digemari banyak orang -- Kristen atau bukan. Kata ini biasanya dikonotasikan kepada kehidupan yang berlimpah dengan materi maupun fasilitas. Apakah demikian maksud Yohanes 10:10 itu?

Pada zaman ini, ayat di atas mudah sekali ditafsirkan lain. Orang yang kurang dalam hal materi maupun fasilitas, secara frontal maupun halus, sering dicap sebagai orang yang tidak diberkati atau tidak mengimani janji Yesus. Bahkan, jika kita jauh dari kecukupan materi ataupun sangat terbatas dalam fasilitas, kita merasa jauh dari kelimpahan yang Yesus maksudkan.

Kelimpahan berasal dari kata limpah, yang secara sederhana berarti luber atau tumpah. Dalam KBBI, kelimpahan berarti tumpah banyak. Konsekuensinya, orang yang hidup berkelimpahan haruslah orang yang kehidupannya tertumpah banyak, meluber ke mana-mana, merasuk ke kehidupan orang lain.

Tujuan kedatangan Yesus supaya kita memunyai hidup dan memunyainya dalam segala kelimpahan, tidak pandang bulu -- kaya maupun miskin, muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan. Kita semua berhak menikmati kehidupan yang berkelimpahan, yaitu kehidupan yang memberi, meluber, dan tertumpah kepada orang lain, sehingga orang lain pun dapat menikmati hidup yang berkelimpahan, yang bersumber dalam pribadi Yesus.

Tiga Tipe Kehidupan

Tiga tipe kehidupan orang percaya dari kacamata hidup yang berkelimpahan.

1. Orang yang Merasa Tidak Cukup

Tipe ini merasa dirinya selalu kurang, merasa harus diperhatikan, minta untuk dibelaskasihani. Kata memberi, menumpahkan, meluberkan kehidupan untuk orang lain merupakan hal yang asing dan momok baginya.

2. Orang yang Merasa Cukup dengan Dirinya Sendiri

Tipe ini merasa cukup dengan dirinya, sehingga tidak memerlukan orang lain. Tipe ini cuek, acuh tak acuh, tidak peka, karena mottonya "Jangan mengganggu aku, karena aku pun tidak mengganggu kamu; Jangan minta tolong apa pun kepadaku, karena aku juga tidak minta tolong kepadamu". Tipe ini alergi dengan kata memberi, menumpahkan, meluberkan dirinya bagi orang lain karena akan mengganggu kemapanan, kenyamanan, maupun kehidupan pribadinya.

3. Orang yang Berkelimpahan

Tipe ini menjadikan dirinya sebagai saluran dan Yesus adalah sumbernya (Yohanes 4:14). Orang ini berusaha untuk memancarkan, meluberkan berkat-berkat, karunia-karunia, dan hidupnya sendiri bagi orang lain. Orang ini menghidupi kehidupan yang memberi, meluberkan, melimpahkan kepada orang lain apa yang diterimanya, sementara ia sendiri terus bergantung pada sumber yang tidak pernah habis, yaitu Yesus Kristus.

Kehidupan yang bagaimanakah yang sedang kita hidupi?

Halangan Hidup Berkelimpahan

Salah satu halangan untuk menikmati hidup yang berkelimpahan adalah masa lalu:

1. yang minim dengan materi dan fasilitas dapat membuatnya selalu merasa kekurangan,

2. yang datang dari keluarga mampu dan mapan dapat membuatnya merasa cukup dengan dirinya, bahkan sering kali dipenuhi kekhawatiran untuk mempertahankan kemapanan dan kecukupan materi yang dinikmatinya, sehingga tidak dapat menikmati kehidupan berkelimpahan yang sesungguhnya,

3. yang diliputi dengan kepahitan dapat menghambat sukacita maupun pengampunan,

4. yang dicekam kemarahan dapat menghalangi ucapan syukur dan kesabaran, atau

5. yang hidupnya selalu menuntut keadilan dan berusaha membalas setiap respons terhadap dirinya, dapat menyumbat kasih.

Masih banyak hal yang dapat menjadi penyumbat, penghambat, dan penghalang bagi kita untuk menikmati hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus, sehingga kita tidak dapat menikmati kelimpahan kasih karunia-Nya, pemeliharan-Nya, sukacita-Nya, oleh karena kita belum menyelesaikan dan berdamai dengan masa lalu kita.

Diambil dari:

Judul Jurnal : Navigator, Volume 7, No. 2 - April 1996 Penulis : Drs. Hari Widodo Penerbit : Navigator, Bandung 1996 Halaman : 1