Translate

Friday, April 05, 2013

"Entrepreneurship" untuk Mengusir Kemiskinan


"Entrepreneurship" untuk Mengusir Kemiskinan

Sebelum mengembuskan napas terakhir, wartawan senior ”Kompas”, Abun Sanda, masih menulis di kantor. Abun Sanda mengirimkan tulisan terakhirnya pada pukul 16.15 melalui surat elektronik. Berikut tulisannya:
Dalam usia 81 tahun, pengembang senior Ciputra semestinya sudah mengambil jalan surut perlahan dan memberikan kesempatan kepada para eksekutifnya untuk menangani pelbagai pekerjaan besar. Akan tetapi, justru pada usia selanjut itu, bagi Ciputra, kesempatan emas untuk menancapkan karya baru. Ia merasa memperoleh energi baru dari Yang Maha Kuasa ketika menggelorakan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) pada usia itu.
Maka, gerakan entrepreneurship ikut ia pacu dengan penuh semangat. Aktivitas sehari-hari program entrepreneurship ia serahkan kepada beberapa anggota stafnya, misalnya Antonius Tanan dan Agung Waluyo. Namun, dalam pemikiran strategis, Ciputra banyak terlibat. Ia bahkan turun sendiri dalam beberapa sesi pengajaran kepada usahawan menengah dan kecil. Ia menemui sendiri sejumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang haus ilmu dari entrepreneur. Para TKI dan usahawan menengah itu mendapatkan ilmu langsung dari Ciputra.
Hal yang mengharukan, Ciputra memenuhi cita-citanya dengan segala keterbatasannya sebagai pria lanjut usia. Ia menenteng sendiri sebuah kursi lipat yang ia gunakan kalau letih berjalan. Ia berhenti melakukan aktivitas, misalnya duduk istirahat, ketika merasa lelah berbicara di depan orang-orang yang ingin mendengar uraian pikirannya. Akan tetapi, ini semua tidak membuat Ciputra surut, bahkan ia makin menggebu.
Apa yang melatari Ciputra mengambil entrepreneurship sebagai tema besar gerakannya kali ini? Dalam beberapa kesempatan, Ciputra menyatakan, bangsa ini amat kaya. Sumber daya manusianya hebat, sumber daya alamnya salah satu yang terbaik di dunia. Apa saja ada di Indonesia. Minyak bumi, gas, batubara, emas, perak, tembaga, hutan tropis terbesar ketiga di dunia, dan tanah yang demikian subur. Negeri ini terbesar dalam produk minyak kelapa sawit (crude palm oil). Kurang apa lagi?
Akan tetapi, Ciputra terperangah, mengapa bangsa ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan kurang dalam hal sumber daya alam, apalagi kalau dibandingkan dengan Indonesia. Namun, ketiga negara itu mampu menjadi negara-negara dengan kemajuan industri mencengangkan. Pendapatan penduduknya berkali-kali lipat dibandingkan Indonesia. Beberapa aspek ini menjadi alasan Ciputra menggalakkan entrepreneurship. Ia keluarkan uang pribadi untuk mendorong program ini berjalan. Belakangan, sejumlah lembaga dan badan usaha membantu programnya.
Ciputra menyampaikan hal tentang entrepreneurship itu dengan bahasa sederhana, yakni bagaimana menjadikan sesuatu yang tidak berguna menjadi berguna. Misalnya, menjadikan sampah menjadi emas serta menjadikan barang murahan menjadi barang dengan nilai ekonomi amat tinggi. Atau mengubah seseorang yang tidak tahu bisnis sama sekali menjadi sangat tahu berbisnis.
Ia mengajarkan cara berbisnis dengan bahasa dan contoh-contoh sederhana. Setelah selesai berbicara dengan Ciputra, banyak TKI atau usahawan kecil mampu melakukan banyak hal. Misalnya, membuka usaha sendiri dengan omzet yang mencengangkan. Membuat warung bakso yang sebelumnya hanya terjual 30 butir per hari menjadi 300 butir per hari. Membuat gudang yang terbengkalai menjadi salon yang sangat laris. ”Anda kalau punya laba bersih Rp 100.000 per hari, jangan dihabiskan semuanya. Kalau bisa pakai hanya Rp 20.000 atau Rp 30.000 per hari. Sisanya pakai untuk dana cadangan atau perbesar modal kerja,” ujar Ciputra.
Kepada para wartawan dan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) pun, Ciputra suka mengampanyekan entrepreneurship ini. Menurut dia, jangan keasyikan dengan iklim enak di zona nyaman. Anda mesti menyiapkan diri, misalnya, apabila terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), Anda tidak berdaya sehingga harus berhenti bekerja, dipensiunkan di usia dini, atau pensiun ketika tiba masa pensiun. Banyak orang kebingungan ketika tidak lagi bekerja. Pendapatan terhenti atau menurun dalam jumlah signifikan.
Seandainya, kata Ciputra, mereka menyiapkan diri dengan baik, misalnya mempunyai usaha yang menghasilkan, mereka tidak perlu bingung. Namun, kalau sama sekali tidak ada penghasilan, pasti bikin pusing. Mereka lalu sakit-sakitan dan meninggal pada usia muda. Oleh karena itu, ayolah, kita gelorakan semangat entrepreneurship. Kita bersama mengusir kemiskinan dan menggantinya dengan kesejahteraan dan kebahagiaan.
Sejumlah lembaga di dalam dan luar negeri mengapresiasi apa yang dilakukan Ciputra dan para stafnya. Beragam penghargaan diberikan kepadanya. Penghargaan terakhir diberikan oleh Channel News Asia, di Singapura, pekan lalu. ”Semangat entrepreneurship memberi saya energi dan elan baru untuk tidak berhenti mengabdi pada bangsa ini,” katanya.