Translate

Friday, August 07, 2009

puisi WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya
ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya
titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan
Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan
padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa
yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas
sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika
titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu
sebagai musibahkusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai
petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah
derita.Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa
nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih
banyak
rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak
kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.Seolah keadilan dan
kasih Nya harus berjalan seperti matematika :aku rajin beribadah, maka
selayaknyalah derita menjauh dariku, danNikmat dunia kerap
menghampiriku.Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
Kekasih.Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan
matiku hanyalah untuk beribadah..."ketika langit dan bumi bersatu, bencana
dan keberuntungan sama saja"
(Willibrordus Surendra Broto Rendra)