Translate

Saturday, November 05, 2016

THE MAIN PURPOSE OF THE BUSINESS IS NOT TO MAKE MONEY

THE MAIN PURPOSE OF THE BUSINESS IS NOT TO MAKE MONEY

(Ternyata tujuan utama bisnis itu bukan untuk menghasilkan uang)

Hari itu saya sempat Fitness di Jatomi (Kuningan City) pagi pagi. Dan ternyata di sana saya bertemu seorang teman yang sudah lama tak berjumpa. Sebut saja namanya Hendra.
Jadilah kami akhirnya breakfast dan catch-up di Starbuck di bawahnya.
Ternyata cerita Hendra menarik untuk dibahas....

Tadinya Hendra bekerja sebuah perusahaan manufacturing lokal di kawasan Cikarang.
Pada mulanya perusahaannya berjalan dengan cukup efisien dan cukup menguntungkan.
Kemudian datanglah investor asing yang membeli perusahaan itu.
Dan mulailah pembenahan-pembenahan dilakukan.
Seperti biasa yang dilakukan adalah :
1. Cost efficiency
2. Restructuring (pengurangan jumlah layer manajemen),
3. Product simplification (product locak dihentikan, product global difokuskan).
Sekilas tidak ada yang salah dengan program program itu.
Wajar, siapa sih yang tidak ingin lebih efisien.
Makanya program program itu pun mendapatkan full endorsement dari stakeholders.
Dan mulailah program program itu dijalankan.
Ternyata 9 bulan kemudian hasilnya adalah ....
- customer mulai meninggalkan product mereka
- revenue dan profit turun
- karyawan mengalami demotivasi, banyak yang gerah dan keluar, termasuk Board of Directors nya sendiri....
Bahkan Hendra pun tidak tahan dan akhirnya keluar.
Dan lama lama perusahaan itu sekarang ... hidup segan mati tak hendak.
Masih beroperasi sih, tapi volume turun, revenue turun, profit turun, dan terutama jumlah loyal customer terjun bebas.
Sekarang investor asing itu sedang mencari investor lain yang ingin membeli perusahaan tersebut.

What a tragic story...
Investasi yang seharusnya membawa profit karena prospek yang menjanjikan, ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.

What's wrong?

Kita analisa yuk ....

Pertama kita lihat bahwa bisnisnya pada awalnya cukup baik.
Jadi kalau business transformasi bisa dilaksanakan dengan baik, mestinya hasil akhirnya akan melahirkan performance business yang lebih baik lagi.
Tapi kita lihat dulu, apa yang mereka lakukan pada saat melakukan perubahan ...
1. Cost Efficienc
2. Restructuring
3. Poduct simplifition

Padahal Michael Porter bilang,"The main purpose of the business is not (only) to make money. The main purpose of the business is to create customers "
Dan kalau kita lihat 3 agenda perubahan di atas (cost, organization, product), kok gak ada agenda tentang customer?
Kok gak ada agenda tentang people (employee)?
Pantes aja employee gak happy. Pantes aja customer kabur....

You get the result of what you do.
You take care of your cost efficiency, your cost will be very efficient.
You take care of your structure, your structure will be very good.
You don't take care of your customer, don't complain if (somebody else take care of them) and they will run away.
You don't take care of your employees, don't complain if they are not happy and they run away.

That's what happen when the business think short term and they only focus on creating profit.

Padahal seperti dibilang Michael Porter... The purpose of the business is not (only) to create profit. The purpose of the business is to create (loyal) customers.

Jadi seharusnya profit bukan hal yang pertama yang difokuskan. Focus first on the customers ... then pofit will come.
Dan untuk focus ke customer ternyata management harus focus ke employee.
Hapy employe will create happy customer, and then happy customer will.create happy company (high profit).
Jadi jangan pernah berpikir bisa mencapai high profit kalau anda tidak punya happy customer, dan jangan pernah berharap punya happy customer kalau anda tidak punya happy employee.

Jadi kembali ke perusahaan di mana Hendra bekerja... apa yang harus dilakukan?

Kan everything has to start from the customer...
Jadi inilah yang mestinya dilakukan ...

1. CUSTOMER
Identify loyal customer mereka siapa, apa yang mereka mau, apa yang customer pengin dari product mereka?
Focus on them!
Set a strategy to make sure that you increase the number of your loyal customers.

2. PRODUCT
Product apa yang menjadi andalan? Product apa yang benar benar mampu "mengambil hati" customer mereka?
Keep that product.
You can always develop and try with new product.
But do not touch the product who bring the cash to you.
Set a strategy combining the "cash cow" product and the "new product" that you need to develop.

3. PEOPLE
Bagaimana membuat karyawan mereka agar semakin termotivasi, merasa memiliki, merasa terus menerus belajar dan berkembang bersama perusahaan?
Set a people strategy to make sure that your employee improve their engagement with the company.

4. EXECUTION DISCIPLINE
Nah... strategy sudah dibikin di atas kan? Dan sudah meliputi 3 aspek, Customer, Product and People.
Jadi sekarang anda harus lead seluruh perusahaan untuk mengimplementasikan dengan disipline.
Dalam arti disipline berarti juga memaksimalkan profit .
Jadi ingat pada akhirnya bisnis pun harus menghasilkan profit. Semaksimal mungkin. Tapi jangan terobsesi dengan profit dan mengesampingkan hal yang lain (customer, product, profit).
Nah... tetapi setelah anda take care of of your customer and product, you need to have the discipline to generate maximum profit (by maximizing the revenue and mininizing the the cost).

5. CONTINUOUS LEARNING

Last but not least, no matter how good your product is, no matter how loyal your customers are, the time will change,  your product may not be relevant anymore, and your customer may not be loyal anymore.
Look at what happened to Sony Walkman, Kodak and Nokia.
So as a company, you will need to continuously observe the trend, watch and learn from the customer behavior and the market.
Based on your learning, you may need to adjust your strategy and adapt to the change that may happen.

Jadi... secara ringkas, ternyata kuncinya kesuksesan bisnis itu adalah dengan tidak terobsesi dengan profit dan uang pada jangka pendek.
Kalau anda benar benar mengurusi customer anda, product anda dan karyawan-karyawan anda, ternyata long term profit akan datang dengan sendirinya.

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto

Mungkinkah Menistakan Agama? - Sarlito Wirawan Sarwono

Subscribe
Mungkinkah Menistakan Agama?
Kamis, 03 November 2016 | 13:00 WIB

Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia

Aksi via LiputanIndonesia.co.id

Demonstrasi dalam rangka membela Tuhan makin banyak. Hal ini membuat saya bertanya, "Mungkinkah membela agama?". Pertanyaan selanjutnya, "Sebegitu lemahkah Tuhan dan Agama sehingga memerlukan pembelaan dari umatnya?"

Pandangan saya mungkin tidak begitu populer, tetapi untuk saya, Islam dan Tuhan tidak perlu dibela. Anak-anak, perempuan, orang yang lemah dan tak berdaya, orang fakir dan yatim piatulah yang patut dibela, dan hal itulah yang sesuai dengan ajaran Islam.

Adanya kewajiban untuk membayar zakat dan sunah untuk bersedekah yang banyak sekali jenisnya, adalah perwujudan perintah agama untuk membela umat yang memang perlu dibantu.

Setiap orang yang membela umat yang lemah dan menjalankan petunjuk-petunjuk Allah untuk berkeadilan, untuk saling menyayangi dan menghormati dan sebagainya, itulah yang disebut Islami, terlepas dia muslim atau bukan.

Karena itulah penelitian oleh Washington University (2011) menemukan bahwa negara yang paling Islami sedunia adalah Selandia Baru, disusul Luxemburg, dan seterusnya, Singapura pada urutan ke 7, AS ke 15, Israel 17, dan Malaysia 33, sedangkan Arab Saudi pada urutan 99, Indonesia 104, dan hampir semua negara OKI berada di urutan lebih rendah dari 100 (dari 208 negara yang disurvei).

Begitu juga sebuah survei oleh Maarif Institute (2015), membuktikan bahwa kota yang paling Islami di Indonesia adalah Denpasar (di samping Bandung dan Yogyakarta).

Jika kita bandingkan antara Ahok dengan pemimpin-pemimpin lain yang mengaku Muslim, Ahok jelas bukan malaikat yang tanpa dosa. Namun dia meminta maaf, kalau melakukan kesalahan, dan berterima kasih kalau dibantu. Dia memang berkata kasar, tetapi hanya kepada orang-orang yang tidak bekerja dengan baik.

"Jika kita bandingkan antara Ahok dengan pemimpin-pemimpin lain yang mengaku Muslim, Ahok jelas bukan malaikat yang tanpa dosa. Namun dia meminta maaf, kalau melakukan kesalahan, dan berterima kasih kalau dibantu"

Ibu Risma, Walikota Surabaya, yang diidolakan orang (termasuk saya), sering berkata lebih kasar dari Ahok kepada pegawai yang tidak bertanggung jawab atau pemborong yang ingkar janji. Namun tidak ada yang menggugat Risma. Malah Risma didorong-dorong untuk melawan Ahok di DKI.

Untungnya Mega masih cukup cerdas untuk menunggu sampai saat terakhir dan mengambil keputusan yang tepat. Bandingkan capaian Ahok dengan capaian gubernur-gubernur sebelumnya, yang semuanya muslim. Baru sekarang orang bisa memancing di Kali Ciliwung dan mendapat ikan. Yang sebelumnya, hanya dapat sepatu.

Dulu, banjir di Jalan Thamrin-Sudirman dan Kemang bisa sehari-semalam, sekarang 2-3 jam surut. Beberapa daerah yang dulu langganan banjir, sekarang kering. Jalan-jalan tol, MRT, kereta bawah tanah dibangun terus (padahal di tangan gubernur-gubernur sebelumnya mangkrak semua).

Selama saya bersama tim Prodi Perkotaan, Sekolah Kajian Global dan Srategik Universitas Indonesia, meneliti rusun-rusun di DKI, saya menyaksikan sendiri sudah berapa Kepala Dinas Perumahan distafkan oleh Ahok gara-gara bekerja tidak benar! Distafkan begitu saja, tanpa ampun.

Sudah juga menjadi rahasia umum, walaupun tidak pernah disiarkan di media massa bahwa Ahok mengalokasikan dana untuk perbaikan-perbaikan masjid-masjid di DKI dan sudah banyak takmir masjid se-DKI yang diumrohkan oleh Ahok dengan dana Pemprov DKI.

Dia gusur Kalijodo, tuntas! Tanpa bekas dan tanpa kekerasan, semua menyingkir dengan sendirinya, walaupun sebelumnya ribut-ribut. FPI sendiri yang sering membuat takut masyarakat dengan sweeping-sweeping yang menakutkan, malah tidak pernah sekalipun berhasil menuntaskan masalah lokalisasi.

Sekarang, cobalah bandingkan dengan pemimpin-pemimpin lain yang, misalnya, terkait KPK. 90% mereka muslim, bahkan ada yang perempuan juga. Mereka menghadiri sidang pengadilan lengkap dengan jilbabnya.

Bahkan ada menteri agama dan Ketua PKS juga tersangkut KPK, baik yang mengorupsi pencetakan Al Quran, maupun memanipulasi perdagangan daging sapi. Namun kenapa tidak ada yang mendemo KPK?

"Bubarkan KPK. Tangkap pimpinan KPK, karena telah menzalimi pimpinan dan tokoh Islam!". Bukankah, kalau ditangkapi semua, lama-lama umat Islam kehabisan pemimpin? Di mana logika kita beragama?

Islam Agama Rasional

Akhir-akhir ini Surat Al Maidah ayat 51 menjadi sasaran tembak untuk menuding Ahok sebagai penista agama. Inti surat itu adalah melarang kaum muslim untuk memilih pemimpin yang beragama Nasrani dan Yahudi, karena "sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain".

Maksudnya, setiap golongan sudah ada pemimpinnya masing-masing. Kalau kita memilih pemimpin Nasrani atau Yahudi, kita akan menjadi bagian dari mereka. Bukan bagian dari umat Islam lagi.

Ayat Al Quran ini sangat logis, masuk akal, dan sesuai dengan teori dasar Sosiologi tentang ­in-group dan out-group dan berlaku untuk setiap kelompok apapun.

Sebagai contoh, kalau massa pelajar sebuah sekolah, misalnya sekolah X, sedang saling lempar batu dan mengayun kelewang dengan massa sekolah yang lain, misalnya sekolah Y, dan tiba-tiba ada sebagian siswa dari selolah X yang menyebrang ke sekolah Y atau sebaliknya dari Y ke X, sudah barang tentu mereka yang menyebrang itu langsung akan dianggap memihak lawan dan akan dijadikan sasaran lemparan batu.

Namun siapa tahu yang menyeberang itu melihat adiknya atau tetangganya sendiri sedang bertempur di pihak sana, padahal sehari-hari mereka saling bergaul, saling bersahabat, dan saling berbincang, kok sekarang jadi bermusuhan?

Boleh jadi yang menyeberang hanya bermaksud melindungi adik atau tetangganya tersebut agar tidak terkena lemparan batu atau sabetan kelewang. Jelas si penyeberang tidak bermaksud untuk berganti kelompok. Karena itu pemahaman tentang  ­in-group dan out-group harus dilakukan secara kontekstual.

Begitu juga dengan surat Al Maidah. Di luar konteks keimanan, tidak ada salahnya kita berteman, bertetangga, bekerja sama, atau bahkan bekerja pada seseorang Nasrani atau Yahudi, atau penganut agama apapun lainnya (Buddha, Hindu dan Konghucu tidak disebut dalam Al Maidah, apakah boleh kita pilih sebagai pemimpin?).

"Di luar konteks keimanan, tidak ada salahnya kita berteman, bertetangga, bekerja sama, atau bahkan bekerja pada seseorang Nasrani atau Yahudi, atau penganut agama apapun lainnya"

Allah tidak menciptakan manusia seragam, seperti Allah menciptakan semua malaikat yang tahunya hanya menyembah Allah, atau seperti Setan yang hanya mau mengikuti hawa nafsunya sendiri. Allah menciptakan manusia sebagai mahluk yang beragam, dan berlain-lainan golongan.

Dalam kondisi yang berbeda-beda, menurut ajaran agama masing-masing, banyak hal yang bisa kita jadikan contoh bahwa umat manusia selalu bisa bekerja sama. Ketika kita naik bus, misalnya, kita ikut saja dan percaya bahwa supirnya mahir dan profesional menjalankan bisnya.

Ketika kita menjadi penumpang bis itu, supirnya adalah pemimpin dari seluruh penumpang harus menaati petunjuk-petunjuknya. Ketika kita naik bis itu, kita tidak bertanya agama supirnya apa, kan? Yang penting kita yakin bahwa dia memang supir, bukan tukang bakso.

Jadi kenapa ketika kita akan memilih gubernur, kita sibuk mengurusi agama calon Gubernur? Kita juga naik motor, menelpon dengan HP, atau membersihkan tangan pakai denga tisu tanpa mau repot-repot mempermasalahkan siapa dan apa agamanya dari orang-orang yang membuat benda-benda itu.

Percaya atau tidak, sajadah-sajadah murah tetapi bagus, yang dijual di Mekkah dan selalu dijadikan oleh-oleh oleh mereka yang baru pulang dari umroh atau haji, adalah buatan Cina, yaitu negara 'kafir' asal-usulnya Ahok.

Ketika Jokowi menjadi calon presiden, dia juga dimusuhi dan dirisak, malah lebih dahsyat lagi ketimbang nasib Ahok yang dianggap non-pribumi dan Nasrani. Namun Jokowi yang pribumi dan muslimpun, difitnah dulu sebagai non-pri (lengkap dengan nama Cinanya) dan Nasrani, untuk kemudian dirusak sebagai non-pri dan Nasrani.

Bahkan pembawaan Capres Jokowi sebagai orang Solo asli, yang selalu adem, tidak pernah ngomong keras, apalagi kasar, tidak menyebabkannya diperlakukan lebih baik dari pada Cagub Ahok, yang orang Bangka-Belitung dan berperangai berangasan.

Jadi, sebetulnya bukan Ahok yang menista agama Islam, tetapi pihak-pihak yang menuduh Ahok sebagai penista Islam lah, yang sedang menista Ahok. Tentu saja karena Ahok manusia biasa, bukan malaikat, apalagi Tuhan, ia bisa saja sewaktu-waktu dinista oleh siapa saja dan di mana saja.

Namun Islam sebagai agama yang rasional, bukan lah agama tukang menista. Islam yang rahmatan lil alamin, adalah agama yang penuh damai, dan penuh pemaafan.

Inilah yang akhir-akhir ini, di era teknologi informasi dan globalisasi yang sangat rentan akan suasana penuh konflik dan fitnah ini, timbul ketertarikan yang makin lama makin kuat dari orang-orang yang tergolong intelektual, yang mencari pesan-pesan spiritual yang menyejukkan hati, untuk makin mendalami Islam dan mengupas sisi-sisi baiknya dari agama kita-kita yang muslim, sedangkan di antara yang non-muslim makin lama makin banyak yang berkonversi untuk menjadi muslim.

Di sisi lain, kondisi umat Islam sendiri di Indonesia sangat awam, tidak kritis dan tidak kreatif, mudah terpengaruh dan sangat emosional. Mereka ini sangat mudah diprovokasi, karena mereka bermain dengan emosi.

"Di sisi lain, kondisi umat Islam sendiri di Indonesia sangat awam, tidak kritis dan tidak kreatif, mudah terpengaruh dan sangat emosional"

Maka ketika Ahok dilantik jadi gubernur, kaum pembenci Ahok yang mengatas namakan Islam, juga melantik "Gubernur" mereka sendiri, lengkap dengan seragam putih-putih dan peci hitam, diiringi dengan pekik takbir yang akhirnya lenyap begitu saja dibawa angin lalu.

Dari Rasional Menjadi Rasionalisasi

Inilah yang sekarang terjadi. Karena umat yang mayoritasnya adalah awam dan tidak kritis, Islam mudah sekali diintervensi dari agama yang rasional (mencari kebenaran), menjadi agama rasionalisasi (mencari pembenaran).

Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan Prof. Dr. Amien Rais, tokoh akademik, Guru Besar ilmu politik dari UGM yang kemudian menjadi politisi, mendirikan partai PAN, dan pernah menjadi Ketua MPR.

Sebagai Ketua MPR dan penggagas Poros Tengah, Amien Rais pernah menggagalkan Megawati untuk menjadi Presiden RI, walaupun  PDIP adalah pemenang Pemilu 1999 dengan perolehan kursi terbanyak di DPR, yaitu dengan memanfaatkan berbagai dalil agama Islam dari Al Qur'an dan Hadist yang intinya adalah mengharamkan umat Islam untuk memilih perempuan sebagaai pemimpinnya, termasuk sebagai presiden. Maka Gus Dur, yang digadang-gadang oleh Amien Rais, sukses dilantik menjadi Presiden RI keempat.

Namun tidak sampai dua tahun kemudian (dari periode masa jabatan yang seharusnya lima tahun), Ketua MPR Amien Rais, berulah lagi, yaitu ingin menjatuhkan (meng-impeach) presiden Abdurahman Wahid.

Lagi-lagi, mantera yang digunakannya adalah ayat-ayat suci Al Qur'an dan hadist-hadist Nabi, yang kali ini sengaja dipilihkan yaitu yang membolehkan perempuan jadi presiden, menjadi pemimpin, karena presiden bukan pemimpin agama. Suatu argumentasi yang sama sekali jauh dari rasional, tetapi sangat bermuatan rasionalisasi (mencari pembenaran).

Jadi benarlah apa kata suatu hadist, yaitu bahwa kalau kita mau duduk diam manis saja, seluruh dunia akan berubah menjadi lebih Islami dengan sendirinya, seperti kasus Selandia Baru dan kota Denpasar yang keduanya dibuktikan paling Islami di samping Ahok yang sudah Islami, walaupun belum Islam. Masyarakat-masyarakat itu sendiri yang akan mengislamkan dirinya sendiri.

"Jadi benarlah apa kata suatu hadist, yaitu bahwa kalau kita mau duduk diam manis saja, seluruh dunia akan berubah menjadi lebih Islami dengan sendirinya"

Sarlito Wirawan Sarwono

Media Sosial dan Pengendalian Diri

*Media Sosial dan Pengendalian Diri*
By ants 🐜 051116

Saya tidak sangka, ternyata *media sosial bisa digunakan untuk menilai pengendalian diri seseorang*.

Caranya? Simak ini.
Media sosial, seperti Facebook, WA dll, semata mata *hanyalah sebuah alat*.

Sama seperti pisau,
Di tangan koki ahli, bisa melahirkan maha karya makanan.
Di tangan penjahat, bisa melahirkan banyak kejahatan.

*Media Sosial*
Di tangan orang yang dewasa dan punya pengendalian diri tinggi, menjadi *alat kebaikan*. Yang disebarkan adalah berita baik yang menyejukkan, memotivasi dan menginspirasi.

Di tangan orang yang belum dewasa dan punya pengendalian diri rendah, menjadi *alat kejahatan*. Menyebarkan provokasi, kebencian dan rasa takut.

Beberapa waktu lalu, saya pernah iseng berdebat dengan seseorang yang tidak dikenal di FB. Awalnya okay, lama lama saya merasa, ada yang aneh.
Saya cek akunnya, ealah, ternyata anak ABG, paling usia 15-16 tahun.

Dari pengalaman itu, saya belajar, kalo di medsos, *kita tidak tahu lawan bicara kita*. Bisa jadi dia seorang profesor, bisa jadi dia anak bau kencur dengan pemahaman dan pendidikan yang rendah.

*Tertipu anak ABG*
Karena kita tidak tahu dengan jelas, siapa lawan bicara kita, ada baiknya, sebelum menjalin komunikasi dan menyebarkan BC dari media sosial, *kita cek kebenarannya*.
Jangan asal BC tanpa sumber yang jelas, ternyata setelah di cek, sumber aslinya adalah anak ABG yang iseng iseng buat issue ga jelas.

Bagaimana *cek kebenarannya?* Gampang.
*Google aja*. N kalo kredibel, pasti ada di website website yang kredibel juga.
Kalo ga ada, kemungkinan hanya hoax.

*Menilai pengendalian diri seseorang*
Gampang aja. Cek aja apa yang dipostingnya,
Apakah memotivasi, menginspirasi dan menyejukkan?
Atau memprovokasi, menebarkan kebencian dan ketakutan.

*Sebuah pepatah*.
Pepatah berkata, _birds of the same feather,_ _flock together_
Burung yang berbulu sama, akan nongkrong bareng.

Artinya, teman sepergaulan kita, akan menentukan keberhasilan atau kegagalan kita.
*Kita mau bergaul dengan siapa?*
Golongan dengan pengendalian diri tinggi, atau rendah?
*Pilihan di tangan kita*

Ants 🐜051116

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Thursday, November 03, 2016

Panduan Hidup Dimasa kini

PHD
Panduan
Hidup
Dimasa kini

1. SENJATA yang paling berbahaya adalah "LIDAH".

2. KEBIASAAN yang paling merusak adalah "KUATIR".

3. PERASAAN yang paling tidak berguna adalah "Tidak Percaya Diri".

4. KEGAGALAN yang paling melumpuhkan adalah "ALASAN" yang di "BUAT - BUAT".

5. KONDISI yang terburuk adalah Jika KITA tidak mempunyai "HARAPAN".

6. PAKAIAN yang paling indah di dunia adalah "SENYUMAN".

7. SUKACITA yang terbesar adalah "BERAMAL".

8. PEKERJAAN yang paling memuaskan adalah "BERBUAT KEBAJIKAN".

9. KOMPUTER yang paling hebat adalah "PIKIRAN MANUSIA".

10. ENERGI yang terbesar adalah dorongan "SEMANGAT HIDUP".

11. OBAT TIDUR yang paling mujarab adalah "PIKIRAN" yang "DAMAI".

12.DUA KATA yang penuh kekuatan adalah "SAYA BISA".

13. Aset yang terbesar adalah "KEMULIAAN HATI.

14. Alat Komunikasi yang paling Hebat adalah "PIKIRAN BERSIH".

15. Hadiah yang paling berharga adalah " Menemukan
Friendship
Funtastic knowledge
Fast,feasible synergy collaboration
With You.

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

Wednesday, November 02, 2016

Presiden Jokowi : Kerukunan Dalam Keanekaragaman Aset Berharga Bangsa Indonesia

Presiden Jokowi : Kerukunan Dalam Keanekaragaman Aset Berharga Bangsa Indonesia


Keutuhan dan kerukunan antar masyarakat harus terus dijaga, mengingat kerukunan di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pertemuannya dengan sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 1 November 2016 di Istana Merdeka Jakarta, sekira pukul 11.00 WIB, diselenggarakan guna menjalin tali silaturahmi antar pemerintah dengan ulama dan umaro seluruh Indonesia. Mengawali sambutannya, Presiden Joko Widodo mengucapkan terima kasih atas kesediaan para ulama untuk datang memenuhi undangannya ke Istana.

"Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas kedatangan para ulama. Biasanya saya yang sowan mendatangi satu persatu, silaturrahmi ke pondok-pondok pesantren, para ulama, tapi kali ini saya yang ingin mengundang untuk ke istana," ujar Presiden Joko Widodo dalam sambutan pembukanya

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Joko Widodo mengharapkan agar para ulama mampu meneduhkan suasana dengan nasihat dan seruan guna menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap berdiri kokoh dan maju.

"Nasihat yang penuh kesejukan dan penuh kedamaian juga sekarang ini sangat dinanti-nanti dari para ulama," imbuhnya.

Sebab, Presiden Joko Widodo meyakini bahwa ulama merupakan penerus nabi dan tugasnya membawa kabar yang baik, menjaga umat memberikan peringatan, memberikan tuntunan pada umat dan kita semuanya.

Menutup sambutannya, Presiden Joko Widodo berharap para ulama turut berperan serta menjaga Indonesia agar berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal dan terbebas dari ancaman perpecahan.

"Kami berharap bahwa ulama juga berani mengambil sikap tegas bahwa antara Islam dan keIndonesiaan bukan harus dipertentangkan, tetapi marilah kita bersama-sama kita jaga, kita pelihara, kita perjuangan keIndonesiaan kita," tutup Presiden Joko Widodo.

Para Ulama Sepakat Pilkada Damai

Menghadapi hajatan besar pilkada serentak tahun 2017, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mengatakan, para ulama menyepakati himbauan Presiden untuk menyelenggarakan pilkada secara damai.

"Menghadapi pilkada damai, kami juga sepakat dengan apa yang diimbau Presiden supaya dilakukan dengan damai, tidak ada konflik, dan masing-masing calon supaya siap untuk menang maupun kalah, sehingga apabila sudah selesai, tidak ada lagi konflik yang terjadi," ujar Ma'ruf Amin kepada wartawan usai pertemuan.

Kepada Presiden, para ulama juga menyepakati untuk siap membela negara dan tetap mengupayakan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kita memang siap untuk membela negara dan bagi kami NKRI final dan kita tidak akan memberikan toleransi kepada siapa saja yang akan memecah belah bangsa ini," imbuh Ma'ruf Amin.

Terkait isu kemungkinan adanya demonstrasi, para ulama juga menyerukan kepada pihak yang melakukan demonstrasi, untuk mengikuti peraturan, dilakukan secara santun, damai, dan tidak anarkis.

"Kita sepakat dengan pernyataan presiden, bahwa di negara, republik ini bahwa demonstrasi tidak dilarang sepanjang sesuai dengan peraturan dan tidak menimbulkan kerusakan dan juga jangan terprovokasi," kata Ketua MUI tersebut.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Ma'ruf Amin juga sempat membahas mengenai permasalahan yang menyangkut Gubernur DKI Jakarta tentang pernyataannya di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Menurut Ma'ruf Amin, isu tersebut kini bergulir dan berkembang menjadi tidak menentu dan menjadi masalah bagi khalayak. Untuk itu, pihaknya menyetujui bahwa masalah tersebut dapat diproses secara terhormat dan proporsional melalui proses hukum.

"Presiden mengatakan bahwa beliau sudah memerintahkan ini untk diproses dan beliau tidak akan intervensi terhadap masalah ini," ujarnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, Ketua Umum MUI yang juga Rais Am PB NU K.H. Dr. Ma'ruf Amin
dan Rais Am PBNU, Ketua Umum PB NU K.H Said Aqil Siroj, Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haerdar Nashir, M.Si, dan sejumlah pengurus lainnya.

Jakarta, 1 November 2016
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin

Tuesday, November 01, 2016

Sumpit Keharmonisan Rumah Tangga

🎎 Sumpit Keharmonisan Rumah Tangga

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

1. Sumpit harus sepasang ( Suami istri bekerja sama saling mendukung ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

2. Sumpit harus sama panjang ( saling menghormati).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

3. Yang satu bergerak, yang satu diam ( saling melengkapi ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

4. Apapun rasanya, selalu diambil bersama ( beban dipikul bersama).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

5. Sumpit terbuat dari bahan yang sama ( banyak persamaan dan keseimbangan ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

6. Sumpit adalah Kesetiaan, warisan leluhur.

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

7. Sumpit adalah Kesederhanaan ( bentuknya sederhana ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

8. Sumpit adalah Anti Keserakahan ( mengambil makanan sedikit saja ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

9. Sumpit adalah Anti Kekerasan ( bahan dari kayu ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

10. Sumpit adalah Kesadaran Keterbatasan ( bisa makan isi tdk bisa makan kuahnya ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

11. Sumpit adalah Keterikatan ( krn sepasang, harus kerja sama ).

☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒☘🍒

Dalam hidup berumahtangga harus menciptakan keseimbangan seperti sumpit bergerak selaras dan harmonis mengambil makanan yang lezat sehingga dalam kehidupan berumah tangga akan dilimpahi rejeki yang berlimpah dan penuh
💑

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com

MENUJU MASA TUA

*Bagus dibaca ulang*

*"MENUJU MASA TUA"*

*1. Sisa umur ini pendek,*
"selagi selera.....makanlah"
"selagi layak........pakailah"
"Selagi manfaat......belilah"
"Selagi bisa........berbagilah"
"Silaturahmi......lakukanlah"
*Nikmati hidup apa adanya.*

*2.* Dulu kita berusaha, utk memiliki. Kini saatnya untuk melepas, harta, tahta, anak, istri semua akan kembali kepada-NYA. *Bahagia terletak pada   keikhlasan.*

*3.* Sehari berlalu, umur berkurang, berbuat baiklah karena *kita tidak tahu kapan akan dipanggil.*

*4.* Hidup ini sangat singkat dalam sekejap kita mulai tua dan *pasti masuk pusara..*

*5.* Jangan tengok ke atas akan selalu kurang, tengok ke bawah bisa merasa cukup dan sykuri apa adanya pasti bahagia. *Bersyukurlah..*

*6.* Yang terbaik adalah berbuat  baik, membantu orang lain, *Jangan  menyakiti, latih diri dgn berbaik sangka , agar sehat lahir batin.*

*7.* Kasih orang tua tidak ada batas. Sadarlah, bila anak sakit, orang tua bagai teriris, bila orang tua sakit anak cuma tengok dan bertanya.
Anak-anak memakai uang orang tua seperti keharusan, tetapi orang tua memakai uang anak pasti rikuh. *Cukupilah diri sendiri jangan berharap pemberian anak.*

*8.* Rumah orang tua adalah rumah anak, tetapi rumah anak bukanlah rumah orang tua. *Sadarilah.*

*9.* Orang tua selalu mendoakan anak, tapi anak jarang  mendoakan orang tua. Maka *bekali kubur kita dgn amal yg banyak, jangan bergantung pada doa anak.*

*10.* Kebaikan dan keburukan sebagai ujian dan tdk akan berakhir sampai kita mati. *Sikapi dg syukur dan sabar.*

*SELAMAT MENYAMBUT & MENIKMATI  "HARI TUA SAUDARA~2KU"*

👴👵 👴👵 👴👵

Fanky Christian
fankychristian.blogspot.com