Translate

Sunday, September 01, 2019

Perbedaan antara RPO dan RTO


Manfaat teknologi cloud yang kita rasakan hingga sekarang memang memberikan dampak yang signifikan. Tak heran jika teknologi yang satu ini banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang seperti bisnis dan finansial. Cloud yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan lebih banyak data dengan storage yang lebih besar, juga bisa diandalkan untuk askes data sewaktu-waktu. Tentunya cara ini jauh lebih menguntungkan daripada harus menyimpan data secara konvensional di hardware tertentu, bukan?
Selain karena alasan kepraktisan tersebut, satu lagi manfaat yang ditawarkan cloud tetapi tidak pada penyimpanan konvensional, yakni adanya fitur disaster recovery. Fitur ini tentu dibutuhkan oleh siapa saja, mengingat data adalah hal penting demi kelangsungan perusahaan. Seperti yang kita tahu bahwa bencana bisa datang sewaktu-waktu maka penting untuk melindungi data Anda sehingga fitur disaster recovery ini amat Anda perlukan.
Berbicara mengenai disaster recovery, ada dua istilah yang pasti sering muncul yakni Recovery Point Objective (RPO) dan Recovery Time Objective (RTO). Karena mirip, maka tak jarang keduanya dianggap sama, namun sebetulnya berbeda. Berikut perbedaannya.
Recovery Time Objective
Ketika bencana melanda dan mengakibatkan seluruh data hilang, maka secara otomatis data center Anda akan berusaha untuk memulihkan diri dari bencana tersebut untuk bisa melangsungkan fungsi IT nya kembali agar bisa berjalan normal. Nah, waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing produk layanan untuk pemulihan ini berbeda-beda. inilah yang dimaksud dengan recovery time objective.
Jadi dengan kata lain, recovery time objective adalah upaya melakukan pengaturan waktu terkait berapa lama sebuah layanan produk dapat berjalan normal kembali setelah bencana terjadi. Seperti kata pepatah, waktu adalah uang, maka semakin cepat sebuah layanan untuk melakukan recovery maka akan semakin baik. Apalagi bagi perusahaan besar. Setiap detik sangat berarti, bukan?
Tentu saja, hal ini akan berimbas pada harga yang harus Anda bayar. Semakin cepat Anda menginginkan layanan tersebut untuk pulih maka semakin mahal biaya yang harus Anda bayar. Misalnya Anda ingin suat layanan bisa berjalan kembali lima jam setelah bencana terjadi, maka Anda harus membayar berkali-kali lipat lebih mahal daripada dibanding pemulihan yang memerlukan waktu lima hari misalnya.
Hal ini disebabkan karena semakin singkat waktu yang diminta, maka akan semakin banyak sumber daya yang diperlukan sehingga berimbas pada biaya yang lebih mahal untuk pengadaan sumber daya tersebut.
Recovery Point Objective
Lain lagi dengan recovery point objective. Meskipun hal yang satu ini sering dianggap sama dengan recovery time objective, namun jauh berbeda. Jika RTO lebih berorientasi pada lamanya waktu pemulihan bencana, maka RPO lebih ke datanya. Recovery point objective merupakan waktu maksimal yang bisa ditoleransi saat terjadi kehilangan data.
Misalnya saat terjadi bencana, kira-kira berapa banyak kehilangan data yang bisa Anda toleransi? Apakah dua jam data, atau satu hari data, atau satu minggu data? Kapasitas data dalam waktu hitungan hari tersebut yang disebut dengan RPO. Cukup berbeda dengan RTO, bukan? RPO ini berhubungan erat dengan frekuensi backup yang Anda lakukan. Lamanya waktu RPO mempengaruhi jadwal backup berkala Anda. Misalkan waktu RPO yang Anda tentukan adalah 24 jam, maka Anda harus melakukan backup setiap 24 jam sekali dan jika lebih sedikit, maka artinya Anda juga harus lebih seiring melakukan backup.

Itulah tadi perbedaan RTO dan RPO. Keduanya sama-sama penting untuk kelangsungan bisnis Anda sehingga pertimbangkan baik-baik saat akan menentukan RTO dan RPO pada layanan yang Anda akan pakai.
Photo credit: pxhere.com

Info maka maksimal rto yang diijinkanarti rto dan rpopersamaan antara recovery point objective dan recovery time objective