Translate

Tuesday, July 28, 2009

Membangun Sikap yang benar terhadap uang

Bagaimana seharusnya kita membangun sikap yang benar terhadap uang ?

  1. Merasa puas dengan apa yang kita miliki.
    Ini sangat penting, bukan berarti kita berhenti berusaha 'mencari uang', merasa puas disini adalah ucapan syukur dengan apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita, dan menganggap semua yang kita terima adalah berkat dari Tuhan. Ini menjadi penting karena kerap kali kita lebih yakin dengan diri kita sendiri, kemampuan kita sendiri, dan merasa bahwa kita dapat memiliki banyak hal.

  2. Akui bahwa banyak hal yang jauh lebih penting daripada uang
    Uang bukan segalanya. Mungkin dengan uang kita bisa membeli segalanya, tapi ternyata dalam perjalanan hidup kita, kita merasakan 'aman' lebih penting, nyaman lebih penting, kesehatan sangat penting -- tidak bisa dibeli dengan uang. Perasaan damai jauh lebih penting daripada jumlah uang yang besar yang kita miliki. Perasaan diperhatikan orang terdekat kita tidak bisa digantikan dengan uang. Wah, banyak sekali yang tidak bisa diberikan oleh uang. Tidur nyenyak sangat penting, sengsara sekali apabila punya uang banyak, tetapi tidak bisa tidur nyenyak.

  3. Jika Tuhan memberkati kita secara materi, jangan lupakan Dia
    Jujur saja, gampang sekali khan lupa Tuhan pada saat kita punya banyak uang. Tuhan tidak butuh uang kita, tetapi orang lain, banyak orang butuh uang kita. Bagaimana hidup kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain, demi Tuhan, ini yang sangat penting.

  4. Meskipun semua kekayaan kita hilang, itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan
    Kita memiliki semua atas perkenan Tuhan. Apabila Dia tidak mengijinkan, seberapa berat kita berusaha, kita tidak akan mendapatkannya. Saya ingat benar, banyak pekerjaan-pekerjaan besar, yang saya sangat harapkan mendatangkan keuntungan besar, tetapi apabila Tuhan tidak berkenan, ya pastilah saya tidak akan mendapatkannya, atau apabila saya mendapatkannya, tidak ada damai sejahtera, tidak ada keuntungan yang besar yang diperoleh, sehingga akhirnya semua membuat saya sadar, untuk selalu bertanya dahulu kepada Tuhan, apakah benar ini kehendakMu ya Tuhan? Kekayaan, ketenaran, posisi yang kita ada sekarang, semua karena perkenan Tuhan. Karena itu, seyogyanya, kita mengingat dan melibatkan Dia senantiasa, dalam segala hal, mulai dari awal hingga akhirnya.

  5. Jangan iri terhadap kekayaan orang lain
    Lebih mudah iri melihat keberhasilan orang lain, melihat jumlah rumah dan mobil yang dimilikinya, melihat posisi dan ketenaran yang dimilikinya. Tetapi ternyata, apabila kita selidiki dengan seksama, kerap kali, dia pun ingin seperti kita. Lebih mudah bagi orang sederhana berjalan kesana kemari tanpa harus kuatir akan banyak hal. Lebih mudah bagi orang yang tidak punya banyak uang untuk tetap berkeringat dan menjadi sehat. Lebih mudah bagi orang yang menggantungkan hidupnya kepada Tuhan dan setiap kali bertanya besok saya makan apa ya Tuhan, dibandingkan dengan orang yang makanannya selalu melimpah di meja makannya. Lebih mudah bagi orang sederhana untuk terlelap dalam tidur dan mimpinya, dibandingkan dengan orang yang punya milyaran uang yang dititipkan di bank dan safe deposit box. Mereka pun iri dengan kita karena mudahnya hidup yang kita lalui. Oleh karena itu, jangan mengukur segala sesuatunya dengan uang.

  6. Sadari budaya materialisme dalam masyarakat kita
    Ini yang susah diubah dari masyarakat kita, Indonesia. Dimana potensi materialisme sangat besar. Orang akan dianggap sukses apabila bekerja dengan mapan, memiliki mobil apalagi mobil berkelas, memiliki rumah di lingkungan terpandang, menjadi anggota khusus dalam suatu komunitas, memiliki posisi dan ketenaran tertentu di masyarakat. Materialisme ini adalah budaya yang mendasarkan segala sesuatunya pada materi atau benda. Lihatlah tayangan iklan di media televisi kita yang menggambarkan kehidupan materilistis, konsumtif. Jangan lagi dibandingkan isi sinetron dan film Indonesia. Sangat berbeda dengan masyarakat pada umumnya, sehingga kita memandangnya pun sangat tinggi. Ubahlah pola pandang dan pikir kita, agar kita tidak melulu memandang segala sesuatunya dengan materi, dengan uang.